Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

26 spt

Yang terkecil di antara kamu sekalian dialah yang terbesar."
(Za 8:1-8; Luk 9:46-50)
” Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk 9:46-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Anak-anak kecil hemat saya lebih suci daripada orang dewasa atau orangtua. Dalam hidup beriman atau beragama yang terbesar dan terhormat adalah yang tersuci, bukan yang kaya akan harta benda atau uang, ilmu pengetahuan atau pengalaman, dst.. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan para orangtua dan guru/pendidik, yang setiap hari bersama dan bergaul dengan anak-anak untuk mengasihi dan melayani sebaik mungkin sehingga anak-anak kelak tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas secara spiritual. Marilah anak-anak kita didik dan dampingi dalam ‘cintakasih dan kebebasan’ dan untuk itu hendaknya jangan pernah melecehkan atau merendahkan anak-anak, entah dengan memarahi atau menjelek-jelekkannya. Jika anak-anak kelak tidak tumbuh-berkembang menjadi pribadi yang cerdas secara spiritual berarti yang salah adalah para orangtua atau pendidik/guru. Dalam warta gembira hari ini kita juga dingatkan agar tidak merasa direndahkan atau disaingi ketika ada orang yang berbuat baik seperti kita atau meniru perbuatan baik kita. “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia di pihak kamu”, demikian sabda Yesus. Bersyukurlah dan berterima kasihlah jika ada orang-orang yang meniru karya atau perbuatan baik atau pelayanan kita bagi sesama. Jika ada orang yang meniru cara hidup dan cara bertindak kita yang baik berarti karya missioner, pewartaan atau ‘dakwah’ kita melalui perilaku sebagai penghayatan iman sukses atau berhasil karena rahmat dan anugerah Tuhan.
·   Sesungguhnya, Aku menyelamatkan umat-Ku dari tempat terbitnya matahari sampai kepada tempat terbenamnya, dan Aku akan membawa mereka pulang, supaya mereka diam di tengah-tengah Yerusalem. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran.” (Za 8:7-8). Kutipan ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi kita sebagai umat beriman atau beragama. Kita semua dipanggil untuk menjadi umat beriman ‘dalam kesetiaan dan kebenaran’, artinya kapanpun dan dimanapun kita diharapkan menjadi orang-orang yang setia pada iman, panggilan dan tugas pengutusan serta melakukan apa yang benar, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama kebahagiaan atau keselamatan jiwa manusia. Sebagai suami-isteri hendaknya saling setia satu sama lain dalam hidup bersama dan saling mengasihi, sebagai pelajar setia belajar, sebagai pekerja setia bekerja, sebagai imam setia menjadi imam, dst… Tanda bahwa kita setia antara lain kita senantiasa melakukan apa yang baik, benar, menyelamatkan dan membahagiakan; kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun tidak akan pernah mengganggu orang lain atau menjadi beban bagi orang lain, melainkan menjadi  fasilitator untuk berbuat baik dan benar.
” Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu, bila TUHAN sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya, sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka. Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN,” (Mzm 102:16-19)   
Ign 26 September 2011

Penyingkapan Tuhan

Ayat bacaan: Matius 16:17
====================
“Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.”

penyingkapan TuhanBetapa hausnya manusia akan pendidikan. Kita dilahirkan bagai kertas kosong, dan semua orang akan berusaha untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Para orang tua akan selalu berupaya untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka dengan sebaik-baiknya. Dan hidup ini pun merupakan sebuah perjalanan yang seharusnya diisi dengan proses pembelajaran. Selama hidup seharusnya kita tidak berhenti belajar. Itu adalah sebuah kata bijak yang tentu sudah sering kita dengar. Dari luar, kita serap ke dalam, sehingga kita terus mengisi diri kita dengan ilmu pengetahuan sebanyak mungkin. Itulah jenis pengetahuan yang diketahui kebanyakan orang. Tetapi apakah hanya itu? Sesungguhnya tidak. Dalam Kerajaan Allah ada sebuah jenis pengetahuan lain. Bentuknya bukan seperti ilmu pengetahuan yang biasa kita pelajari, yang diperoleh dari luar ke dalam, melainkan dari dalam ke luar. Inilah apa yang disebut dengan pengetahuan singkapan atau revelation knowledge.

Mari kita lihat ketika Yesus menyinggung hal ini pada suatu kali kepada murid-muridNya. “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Matius 16:15). Di antara para murid, Petruslah kemudian yang menjawab dengan singkat dan tegas: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (ay 16). Mendengar jawaban Petrus, “Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” (ay 17). Dengan kata lain, Yesus mengatakan bahwa apa yang dikatakan Petrus bukanlah bearsal dari pengetahuan melalui indra jasmaninya, bukan melalui pelajaran-pelajaran yang ia peroleh di sekolah atau lainnya, tetapi ia menerimanya langsung dari Bapa. Ini adalah sebuah bentuk penyingkapan yang berasal dari Bapa, dari dalam ke luar.

Singkapan-singkapan Tuhan mengenai rahasia KerajaanNya bisa diberikan kepada kita, dan itu akan mampu mengubah banyak hal dalam hidup kita. Seperti apa yang dikatakan Yesus kepada Petrus selanjutnya: “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (ay 18). Tetapi penyingkapan ini tidaklah datang dengan begitu saja. Kita perlu terlebih dahulu memiliki hati dan sikap yang mau diajar atau dibentuk. Paulus mengingatkan pula bahwa kita seharusnya membiarkan Allah untuk membuat pribadi kita menjadi baru agar kita mampu mengetahui kemauan Tuhan. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Kita perlu pula terus mengisi diri kita dengan firman Tuhan dan membiarkan Roh Tuhan berdiam (dwell) di dalam diri kita. Sebab kita harus menyadari bahwa penyingkapan ini hadir kepada kita dari Roh Kudus yang berdiam dalam kita. “Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. (1 Korintus 2;9-10).

Alkitab juga menyatakan bahwa hikmat Tuhan memang tersembunyi dan rahasia. Tetapi semua itu disediakan Tuhan untuk kita orang-orang percaya. “Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita.” (1 Korintus 2:7). Tapi perhatikanlah bahwa semua itu disembunyikan bukan dari kita, melainkan untuk kita. Itu pernyataan Allah yang membuktikan bahwa Dia memang ingin kita untuk memilikinya. Itulah sebabnya Tuhan memberikan pengetahuan singkapan atau revelation knowledge ini untuk memperlengkapi kita, anak-anakNya dengan hikmat surgawi, memberikan kita rahasia-rahasia yang berasal dari KerajaanNya. Akan tetapi sekali lagi ingatlah bahwa semua itu tidak akan datang begitu saja. Itu tidak akan datang pada kita ketika kita terlalu sibuk menikmati dunia dan melupakan untuk membangun hubungan dengan Tuhan.

Jika kita merindukan pengetahuan penyingkapan ini kita harus menempatkan diri kita pada sikap yang tepat untuk menerimanya. Renungkan Firman, rajin berdoa dan terus bersekutu dengan Tuhan, mengizinkan Roh Kudus untuk tinggal dan diam di dalam diri kita, itu semua penting untuk kita camkan agar kita bisa menerima berbagai singkapan langsung dari Tuhan. Tuhan siap untuk menyingkapkan rahasia-rahasiaNya kepada anda saat ini. Siapkah anda menerimanya?

Pengetahuan singkapan yang berasal dari Tuhan akan memperlengkapi kita untuk menjadi berbeda dengan dunia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

12 Mei – Kis 17:15.22-18:1; Yoh 16:12-15

“Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran”

(Kis 17:15.22-18:1; Yoh 16:12-15)

 

“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku.” (Yoh 16:12-15), demikian Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Semakin belajar atau semakin banyak yang dipelajari pada umumnya juga semakin banyak yang tidak atau kurang diketahui, itulah hukum bagi siapapun yang terus menerus belajar atau bersikap mental belajar sepanjang hidup/hayat. Maka pada umumnya orang yang belajar terus menerus juga akan rendah hati serta berterima kasih dan bersyukur atas berbagai ilmu, pengetahuan, keterampilan dst…yang telah diterimanya melalui siapapun yang telah berbuat baik kepadanya. Orang yang demikian ini juga sering dimintai tolong orang lain untuk membagikan apa yang dimilikinya, dan karena yang dibagikan adalah ilmu, pengetahuan, keterampilan dst.. maka semakin dibagikan semakin diperkaya lagi. Orang yang bersikap mental belajar senantiasa terbuka terhadap aneka macam kritik, saran, pertanyaan, dst. dan disikapinya sebagai ‘yang akan memimpin ke dalam seluruh kebenaran’ , artinya semua tanggapan menjadi tantangan dan ajakan untuk terus belajar tanpa henti sampai mati. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua; marilah bersikap mental belajar terus menerus sepanjang hidup/hayat, dan  kepada anak-anak sedini mungkin dibiasakan sikap mental belajar ini antara lain dengan teladan konkret dari orangtua. Kepada mereka yang sedang bekerja, entah tugas pekerjaan apapun, kami harapkan menghayati sikap mental belajar selama bekerja, maka ketika diberi jenis pekerjaan baru yang belum pernah diketahui atau dijumpai hendaknya diterima dengan rendah hati alias dikerjakan dengan sepenuh hati seraya membuka diri atas bantuan orang lain yang baik hati. Kita semua mendambakan kebenaran dan rasanya kebenaran akan kita peroleh jika kita saling belajar dan mengajar atau terus menerus belajar.

·   "Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.” (Kis 17:32), demikian ejekan seseorang kepada Paulus yang membicarakan perihal kebangkitan orang mati.  Orang-orang Atena pada waktu itu memang unggul dalam berfilsafat alias kecerdasan otak namun lemah dalam hal kecerdasan spiritual; mereka tidak percaya akan kebangkitan orang mati, yang memang merupakan misteri, tak terpahami hanya dengan akal atau otak saja. Hanya mereka yang sungguh beriman percaya akan kebangkitan orang mati. Beriman berarti mempercayakan diri pada ‘sesuatu yang tak kelihatan’, termasuk yang akan datang, yang sama sekali belum kita ketahui. Dalam lingkungan hidup yang lebih didominasi oleh semangat materialistis saat ini kiranya sebagai orang yang sungguh beriman juga akan memperoleh ejekan atau cemoohan sebagaimana dihadapi oleh Paulus. Demikian juga orang-orang yang lebih berpikir logis alias mengandalkan otaknya saja pada umumnya juga dengan mudah melecehkan atau merendahkan mereka yang sungguh beriman. Ketika memperoleh ejekan atau cemoohan yang menyakitkan tersebut hendaknya tidak perlu ditanggapi, melainkan diamkan saja serta doakan mereka atau kalau memang tidak kuat sama sekali , tinggalkan saja sebagaimana Paulus juga meninggalkan orang-orang Atena yang tidak menerima pewartaannya. Dengan kata lain suatu saat kita memang harus berani menyadari dan menghayati diri sebagai yang lemah, rapuh dan serba terbatas, lebih-lebih ketika menghadapi masalah, tantangan atau hambatan yang sulit diatasi. Masing-masing dari kita toh tak mungkin mengerjakan atau mengatasi segala sesuatu, apa yang kita kerjakan hanyalah bagian kecil dari keseluruhan, maka baiklah kita tetap rendah hati dalam fungsi, jabatan atau kedudukan apapun.

 

“Hai raja-raja di bumi dan segala bangsa, pembesar-pembesar dan semua pemerintah dunia; hai teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda! Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit. Ia telah meninggikan tanduk umat-Nya” (Mzm 148:11-14a)

 

Jakarta, 12 Mei 2010

Sst..Saya Sedang Ujian

Ayat bacaan: Amsal 24:10
====================
“Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”

menghadapi ujianKebutuhan akan pendidikan begitu penting dalam hidup kita. Ada banyak orang yang tidak berhenti mengenyam pendidikan dalam hidup mereka karenanya. Setelah SD,SMP, SMA, kuliah dan lulus S1, kemudian melanjutkan lagi ke S2 bahkan S3 dan seterusnya. Ada juga yang mengambil berbagai kursus keterampilan atau bahasa di luar pendidikan formalnya. Ayah saya berprofesi sebagai seorang dokter. Beberapa tahun terakhir dia tertarik dengan metode akupuntur, pengobatan dengan sistem tusuk jarum yang merupakan pengobatan tradisional yang sudah berabad-abad, berasal dari negeri Cina. Sistemnya tentu berbeda dengan apa yang dipelajari dalam dunia medis modern, sehingga untuk mampu menguasainya orang dituntut untuk belajar lagi selama sekian tahun. Beberapa bulan yang lalu ayah saya baru saja menghadapi ujian di Jakarta, itu di usianya yang hampir 70 tahun! Begitulah banyak di antara kita yang selalu haus akan ilmu pengetahuan dan ketrampilan, yang pastinya akan banyak berguna dalam meniti kehidupan. Ayah saya selalu mengatakan “orang yang berhenti belajar adalah orang yang sudah selesai hidup.” Saya setuju dengan hal itu. Selama kita masih hidup, kita harus terus belajar. Belajar untuk memperoleh pendidikan, juga belajar mengenai kehidupan. Itu mengenai memperlengkap tubuh dan jiwa. Roh kita pun harus terus diisi Firman Tuhan agar terus bertumbuh. Umumnya sebuah proses belajar, ada ujian-ujian yang harus kita lewati agar bisa naik kelas. Selalu memusingkan dan cukup menyita pikiran jika menghadapi ujian memang, namun ujian itulah yang bisa membawa kita untuk naik kelas.

For me, everyday is a test. Saya selalu menganggap setiap jengkal kehidupan ini sebagai sebuah ujian. Saya tidak mau berhenti belajar untuk terus menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi. Saya yang sekarang harus berbeda dengan saya esok, dan saya esok harus berbeda dengan saya seminggu lagi, dan seterusnya. Itu sudah menjadi tekad saya. Tidak saja dalam bersikap, bertingkah laku, tidak saja dalam hal ilmu, tapi juga dalam mendalami “surat-surat” Tuhan bagi manusia yang terkandung dalam Alkitab. Saya menikmati hidup, tapi saya juga menghadapinya dengan serius. I think life is really fun, I love to play, but I don’t wanna just play around and forget to learn. Begitu kira-kira. Ujian-ujian kehidupan bisa ringan, bisa juga berat, dan seperti halnya ujian lainnya, kita bisa lulus dan bisa gagal. Bagaimana kalau gagal, haruskah kita menyerah? Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menyikapi sebuah kegagalan dan belajar dari kegagalan itu untuk mencapai sukses luar biasa lain kali. Kesempatan untuk berhasil akan selalu ada selama masih hidup. Itu pasti.

Dalam menghadapi berbagai ujian dalam hidup kita lewat segala macam permasalahan, kita selalu diingatkan agar jangan sampai hilang pengharapan, patah semangat dan menyerah. Saya melihat sebuah hal yang menarik dari ujian-ujian kehidupan. Lewat cara menyikapi ujian-ujian permasalahan itulah kita akan tahu sampai dimana kita kenal Yesus, sampai dimana iman kita. Jika kita gampang menyerah, itu artinya kita belum mampu untuk percaya sepenuhnya kepada kuasa Kristus. Kita belum kenal betul pribadiNya yang luar biasa, yang jauh melebihi masalah terberat apapun dalam hidup kita. Lihatlah apa yang tertulis dalam Amsal. “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10). Ujian demi ujian yang kita hadapi akan mampu membawa kita ke level yang lebih tinggi. Despite of the outcome, either you win or lose, either you succeed or fail, jika kita menyikapinya dengan benar, tetap dalam pengharapan yang tidak pernah padam di dalam Kristus, kita akan mendapatkan hasil luar biasa dalam pertumbuhan iman kita. Lihatlah apa yang dihadapi tokoh-tokoh Alkitab. Mereka bertemu dengan ujian-ujian yang sungguh berat, yang bagi logika manusia kelihatannya tidak masuk akal. Tapi mereka berhasil membuktikan bahwa percaya sepenuhnya pada Tuhan akan membawa hasil luar biasa. Daud ketika masih sangat muda harus bertemu dengan Goliat. Itu ujian yang tidak main-main dan beresiko nyawa sebagai taruhannya. Tapi Daud sukses, dan dari sanalah Daud kemudian dikenal. Abraham mengalami ujian yang sungguh berat. Menanti janji Tuhan begitu lama di usia yang sangat lanjut, dan ketika ia memperolehnya, ia diminta mengorbankan anaknya. Tapi Abraham percaya pada Tuhan, dan ia melalui ujian dengan sukses gemilang. Ia pun disebut bapa orang beriman lewat serangkaian ujian tersebut. Ujian boleh datang, namun cara kita menyikapinyalah yang akan membuat perbedaan.

Mari kita lihat apa kata Yakobus. “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:2-4). Hadapi ujian dengan kebahagiaan, dengan sukacita, karena kita tahu ujian-ujian itu akan menghasilkan buah dalam hidup kita. Kita tidak akan bisa bertumbuh dan naik level apabila kita tidak menghadapi ujian apa-apa. Jangan sampai kita tawar hati dan patah semangat, hilang pengharapan dan kemudian menyerah. Don’t give up! Kita tidak akan memperoleh hasil apa-apa selain kegagalan dengan tawar hati. Bukannya baik, malah hanya akan menambah masalah. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22). Maka tepat jika Yakobus menyarankan agar kita menghadapi ujian dengan kegembiraan, apalagi jika kita menyadari ada hal-hal luar biasa yang dapat kita petik dari berbagai ujian hidup itu. Tanpa ujian, kita akan berjalan di tempat, atau malah makin merosot. Karenanya, hadapilah ujian dengan penuh ungkapan syukur. Jangan lari dari masalah, tapi hadapilah dengan tegar sambil terus berpegang teguh pada Tuhan. Jangan tawar hati. Itu akan mendatangkan penyakit dan banyak masalah baru. Katakan “Sst.. saya sedang ujian..” ketika masalah datang, dan hadapilah dengan baik sehingga anda bisa naik ke level selanjutnya dengan hasil gemilang.

Ujian adalah sarana untuk naik ke level berikutnya

Do Something Today!

Ayat bacaan: Matius 25:26
=====================
“Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?”

jangan menunggu, melipatgandakan talenta, do something, lakukan sesuatuTugas saya adalah mengajar teknik web dan grafik desain. Saya memberikan ilmu yang siap pakai bagi para siswa. Itu tugas utama saya. Tapi dalam berbagai kesempatan saya merasa perlu untuk memberikan nasihat. Nasihat seperti apa? Saya melihat ada banyak orang yang hanya duduk menunggu walaupun mereka sudah dibekali ilmu pengetahuan,keterampilan bahkan sekedar kemampuan yang cukup untuk bisa berbuat sesuatu. Tidak ada modal, tidak ada kesempatan, belum ada perusahaan yang memanggil dan sebagainya, selalu saja menjadi alasan orang untuk terus menunggu dan menunggu. Ketika orang selesai kuliah, mereka fokus hanya pada mencari lowongan kerja dan memasukkan lamaran. Selama tidak ada yang memanggil, mereka pun hanya terus menanti tanpa berbuat sesuatu. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya dengan apa yang sudah mereka punya, mereka sudah bisa mulai untuk melakukan sesuatu. Kemarin saya memberi sebuah contoh pada siswa saya. Saya mengajak mereka keluar untuk melihat rumput di halaman, dan mengajak mereka berpikir apa yang dapat mereka hasilkan dari sepetak rumput tersebut. Mereka mulai berpikir dan ternyata mampu memberi jawaban beragam. Mereka bisa beternak, mereka bisa memotong rumput, bisa menanam bagian-bagian yang gundul dan sebagainya. Ada begitu banyak peluang namun sedikit yang mampu melihat, apalagi menangkap peluang dan mengolahnya menjadi sesuatu yang menghasilkan.

Perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14-30 memberi sebuah gambaran jelas mengenai hal ini. Ada seorang tuan yang hendak bepergian ke luar negeri, dan dia mempercayakan hartanya pada hamba-hambanya. Seorang diberikan lima talenta, seorang lagi dua, dan seorang lagi satu, sesuai dengan kesanggupannya. Sekembalinya sang tuan, para hamba pun dipanggil. Yang mendapat lima talenta ternyata bisa menggandakannya menjadi sepuluh, yang mendapat dua telanta mampu menggandakannya menjadi empat. Dan keduanya pun mendapat jawaban yang sama. Mereka dianggap baik dan setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, dan kepada mereka akan diberikan tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar lagi. Mereka pun layak untuk masuk dalam kebahagiaan tuannya. Seorang lagi yang mendapat satu talenta ternyata hanya menanamnya, tidak menggandakan, malah menuduh tuannya sebagai manusia yang kejam. (ay 24). Tuannya pun menyebut sang hamba yang satu ini sebagai orang yang jahat dan malas. (ay 26). Perhatikan kata jahat. Apakah dia mencuri uang tuannya? Tidak. Apakah dia korupsi? Tidak. Apakah dia menggunakan uang tuannya untuk berbuat dosa? Tidak. Namun dia diganjar kata jahat. Hamba satu ini jahat, karena dia tidak setia. Dia tidak memanfaatkan apa yang telah dipercayakan kepadanya untuk berbuat sesuatu. Dia tidak menghargai tanggung jawab yang diberikan. Mungkin dia menganggap satu talenta itu sangat sedikit dibanding kedua temannya, dan dia merasa diperlakukan dengan tidak adil. Hamba dengan satu talenta tidak menyadari bahwa satu talenta pun, meski sedikit, namun tetaplah sebuah talenta yang bisa dilipat gandakan. Maka hukumannya pun jelas. “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (ay 30).

Tuhan memberikan kelimpahan kepada orang yang tahu memanfaatkan talentanya, mengolahnya menjadi sesuatu yang berhasil. “Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” (ay 29). Orang yang bisa melakukan pekerjaan kecil dengan baik dengan tanggung jawab penuh akan diberi hingga berkelimpahan, dan sebaliknya. Ingatlah bahwa kepada kita semua telah diberikan talenta, menurut kesanggupan kita. Jika mendapat talenta kecil, mulailah dari perkara kecil, maka Tuhan akan melimpahkan perkara-perkara yang lebih besar lagi hingga berkelimpahan. Tidak ada alasan untuk bersungut-sungut, malas-malasan dan berlindung di balik berbagai alasan, karena , sekali lagi, talenta tetaplah talenta, yang bisa kita pakai untuk berbuat sesuatu. Tuhan telah memberikan segala sesuatunya cukup bagi kita untuk mulai melakukan sesuatu. Tuhan sangat tidak suka pada pemalas. Dalam Amsal kita melihat hal yang sama, bahwa Tuhan memberkati orang yang rajin. “Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga.” (Amsal 12:27), “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan.” (Amsal 13:4).

Dalam melayani Tuhan pun demikian. Kita telah diberikan kemampuan, waktu dan kesempatan yang cukup banyak selama kita masih ada dalam dunia ini. Maka kita juga harus melayani Tuhan selama masih ada waktu dan kesempatan, kemudian harus mampu melipatgandakan, mengembangkan talenta yang sudah Dia berikan dan menggunakannya dengan baik. Seseorang tidak harus menjadi pendeta utnuk melayani, tidak harus menjadi worship leader, tidak harus hafal Alkitab luar kepala, tidak harus berkotbah dimana-mana, untuk melayani. Sebuah perbuatan yang didasarkan atas kerinduan untuk melayani Tuhan dengan tulus karena mengasihiNya, sebesar atau sekecil apapun, sangatlah Dia hargai. Dan Tuhan siap memberkati dengan melimpah-limpah. Tuhan memberikan kita talenta bukan untuk disimpan dan ditimbun, tapi untuk pelipatgandaan dan digunakan dengan sebaik-baiknya untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai, baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. So, don’t just sit and wait, do something today.

Setiap orang telah dibekali talenta yang cukup untuk bisa mulai melakukan sesuatu

Orang Bijak Mendengar

Ayat bacaan: Amsal 1:5
=================
“baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan”

bijak mendengar, rajin bertanyaSekian lama melakukan wawancara dengan berbagai musisi baik dalam negeri, asia dan manca negara, dari yang mulai menapak karir hingga yang sudah sangat terkenal, saya menemukan satu kepuasan dalam melakukan itu. Apa yang membuat saya puas? Saya puas karena saya bisa mengajukan pertanyaan, dan jawaban dari mereka menambah pengetahuan saya. Saya menjadi tahu lebih banyak soal perkembangan musik di luar, perjuangan bagaimana mereka bisa mencapai sukses dan sebagainya. Selalu saja ada hal yang saya tidak tahu sebelumnya, dan saya sampai pada satu kesimpulan: semakin banyak yang saya tahu, semakin banyak pula yang saya tidak tahu. Karenanya semakin banyak wawancara, semakin besar pula keinginan saya untuk tahu lebih banyak lagi. Sebelum melakukan wawancara, saya pun biasanya mempersiapkan diri dengan mengenal calon narasumber saya terlebih dahulu. Biasanya saya memanfaatkan internet untuk mencari tahu siapa mereka sebenarnya, hal-hal penting dalam karir mereka, hingga latar belakang lagu-lagu yang mereka bawakan jika ada. Hasilnya? Saya berhasil menghindari pertanyaan-pertanyaan klise seperti: “sudah berapa album?” , “albumnya sudah dirilis belum?” ,  “lagi sibuk apa?” dan sebagainya. Puji Tuhan, sejauh ini semua musisi yang pernah saya wawancarai menyatakan rasa puas dan senang, karena menurut mereka saya beda dengan kebanyakan wartawan yang kerap kali mengajukan pertanyaan klise yang membosankan. Betapa senangnya mereka ketika mengetahui orang yang bertanya mengenal mereka, jenis musik yang mereka bawakan dan pola permainan mereka. Dan saya pun bisa menggali sisi-sisi teknik maupun seluk beluk lainnya dengan lebih mendalam.

Salomo mengingatkan bahwa agar menjadi bijak, hendaklah kita mau mendengar dan senantiasa haus akan ilmu pengetahuan. Selanjutnya orang yang bijaksana hendaknya selalu punya bahan pertimbangan yang luas dan tidak terlalu cepat menyimpulkan sesuatu hanya menurut pendapatnya sendiri. Masih ada begitu banyak hal yang belum kita ketahui, yang dapat menambah pengetahuan kita akan segala sesuatu, dan akhirnya bisa menjadikan kita sebagai orang dengan wawasan pemikiran luas serta bijaksana. Ketika menghadapi suatu persoalan, kita akan mampu melihat dari berbagai sisi dengan lebih tenang. Terkadang kita hanya ingin mendapat jawaban yang cepat, tapi sesungguhnya untuk membuat hidup menjadi lebih kuat, kita membutuhkan lebih banyak lagi hikmat yang bisa kita peroleh dengan banyak mendengar dan mau tetap belajar. Tidak ada orang yang sudah tahu segalanya. Kita masih harus terus belajar selama kita masih mampu untuk itu. Jangan pernah gengsi untuk bertanya kepada orang lain. Kemudian dengarkan lawan bicara dengan baik, dan berilah kesempatan pada mereka untuk mengungkapkan ide, pola pikir, kebiasaan, pengalaman, nasihat, tips, trik dan lain-lain.

Ada kalanya kita perlu menyampaikan pendapat, ada kalanya kita harus diam dan memberi kesempatan pada orang lain untuk berbicara. Di saat kita diam dan mendengar, disana kita menghargai mereka dan memiliki kesempatan untuk menyerap dan memahami hal-hal baru. Memasang gengsi terlalu tinggi atau bersikap sok tahu hanya akan merugikan kita sendiri. Terhadap suara Tuhan pun demikian. Jangan berdoa hanya satu arah, hanya menjadikan doa sebagai sarana untuk menyampaikan berbagai keinginan dan permintaan ini-itu saja, tapi pakailah doa sebagai saat-saat indah dalam hubungan dengan Tuhan, dimana kita mendengarkan apa kata Tuhan, pesan, nasihat maupun teguran dengan hati yang lapang. “…”Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (Ibrani 4:7). Ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan terus berbicara mengingatkan diri kita agar jangan sampai tersesat dan terjatuh, baik lewat hati nurani, nalar ataupun dari pengalaman kita sendiri atau orang lain. Jangan sampai kita lalai,melewatkan banyak kesempatan untuk bertumbuh dan menjadi orang bebal. “Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya.” (Amsal 1:32). Miliki roh yang peka agar kita selalu bisa mendapat berbagai masukan dari hal disekeliling kita maupun dari orang lain. Ketika kita berpura-pura tahu segalanya, disitulah kita melewatkan kesempatan untuk ditambahkan.

Belajarlah dengan mendengar lewat hati yang lunak