Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Keselamatan Untuk Semua

Ayat bacaan: 1 Timotius 2:4
======================
“yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.”

keselamatan untuk semua, doa syafaatSudah dinasihati berkali-kali, tapi tetap saja bandel. Sudah diingatkan tetap saja membangkang. Pernah mengalami hal seperti itu terhadap seseorang yang tidak juga mau berubah meski sudah ditegur berulang kali? Saya sudah berulang kali bertemu dengan orang yang mengeluhkan hal ini terhadap salah seorang anggota keluarganya. Malah ada yang pernah berkata, “biarkan saja, saya sudah bosan mengingatkan..terserah deh kalau memang mau rusak, rusak saja..” Ada orang-orang yang mengira bahwa kasih karunia Tuhan hanya berlaku bagi sebagian orang tertentu, atau pada batas tertentu. Kalau sudah sedemikian sesat, percuma didoakan. Atau ada pula yang hanya terpusat pada kalangan sendiri, merasa tidak perlu mendoakan saudara-saudaranya yang berbeda. Benarkah demikian? Firman Tuhan tidak berkata demikian. Kedatangan Kristus ke dunia ini bukanlah untuk menebus dosa sebagian kalangan tertentu saja. Yesus hadir di dunia dan melakukan misiNya untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, tanpa terkecuali, termasuk untuk the sinnest of sinners, orang-orang yang paling jahat sekalipun. Terlebih justru untuk orang-orang seperti inilah Yesus mau merelakan diriNya untuk menjalani serangkaian penderitaan yang mengerikan hingga mati di atas kayu salib. Karena Tuhan tidak mau satupun dari manusia ini untuk berakhir sia-sia dalam penyiksaan. Apa yang Tuhan mau sebenarnya jelas, Dia mau semua manusia diselamatkan.

Kuasa doa sungguhlah besar. Apalagi jika doa itu dipanjatkan dengan iman yang kuat oleh orang benar. (Yakobus 5:16b). Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang berada di luar jangkauan Allah. Selama masih ada kesempatan untuk berubah selagi masih hidup di dunia ini, peluang keselamatan tetap terbuka bagi siapapun. Menghadapi orang yang sulit memang tidaklah gampang. Mungkin kita sudah lelah menasihati namun mereka tidak peduli. Tapi sudahkah mereka anda doakan secara rutin? Saya percaya Tuhan mendengar doa-doa yang kita panjatkan dengan tulus sepenuh hati. Saya percaya pemulihan bisa terjadi lewat doa orang percaya. Jika kebenaran masih membentur “blank spot” kepada sebagian orang, kita bisa berperan sebagai pengantar yang membuat “sinyal” kasih karunia Tuhan mampu menjangkau mereka, siapapun itu, meski yang paling jahat sekalipun.

Paulus mengingatkan agar kita jangan melupakan pentingnya berdoa syafaat, menaikkan permohonan dan ucapan syukur untuk orang lain. “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang”. (1 Timotius 2:1). Semua orang tanpa terkecuali, termasuk pula untuk para pemimpin. (ay 2). Tetap dukung doa para pemimpin kita agar mereka memiliki roh yang takut akan Tuhan sehingga mereka bisa bekerja dengan maksimal dan benar demi kesejahteraan bangsa atau rakyat yang berada di bawah kepemimpinannya. Paulus mengatakan hal yang demikianlah yang berkenan kepada Juru Selamat kita (ay 3), “yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. (ay 4). Lihatlah dalam serangkaian pesan Paulus ini tercantum kata semua orang. Bukan hanya orang percaya yang perlu didoakan, tapi semua orang pun perlu, karena Allah menghendaki tidak hanya satu-dua atau sekelompok, tapi semua orang bisa memperoleh kesempatan untuk selamat dan mengetahui kebenaran. Siapa Paulus sebelum bertobat? Dia dengan besar hati mengakui siapa dia di masa lalu. “aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.” (1 Timotius 1:13) Bukan hanya seorang penhujat, penganiaya dan ganas, tapi ia pun mengakui bahwa ia adalah orang yang paling berdosa. The sinnest of sinners. Tapi untuk orang-orang seperti dialah sesungguhnya Yesus datang ke dunia ini. “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” (ay 15). Dan kasih karunia Tuhan itu pun diterima oleh Paulus dengan melimpah dengan iman dan kasih dalam Kristus. (ay 14). Intinya Paulus menjadikan dirinya sebagai contoh. Jika Paulus yang begitu kelam masa lalunya, the worst of sinners, bisa diselamatkan dan menerima kelimpahan kasih karunia Allah, maka siapapun orangnya dengan berbagai latar belakang masa lalu yang terburuk sekalipun bisa menerimanya juga.

Firman Tuhan berkata bahwa siapapun yang menerima Kristus merupakan ciptaan baru, manusia baru (2 Korintus 5:17), yang akan terus menerus diperbaharui untuk semakin mengenal gambar Tuhan, yang telah menciptakan kita semua menurut gambar dan rupaNya sendiri. (Kolose 3:10). Ini berlaku untuk semua orang tanpa terkecuali. “dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” (ay 11). Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Christ is all and in all, everything and everywhere, to all men, without distinction of person. Karena itulah kita orang-orang yang sudah diselamatkan wajib memiliki “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” untuk bisa menjangkau saudara-saudara kita yang masih belum mengenalNya. Karena bagi merekapun sebenarnya keselamatan disediakan Allah seperti halnya bagi kita.

Tuhan meminta kita untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa (Matius 28:19), dalam versi Markus dikatakan kepada segala mahluk (Markus 16:15). Kita diminta untuk menjadi garam dan terang (Matius 5:13-16), bahkan diminta untuk bercahaya terang seperti matahari (13:43) bagi dunia, yang artinya secara universal, kepada siapapun karena merekapun layak untuk mendapatkan anugerah keselamatan. Kasih karunia Kristus sungguh tidak terbatas dan mampu menjangkau siapa saja meski yang paling sesat sekalipun. God can save anyone. Karena itulah kita harus terus ingat untuk memanjatkan doa permohonan, syafaat dan ucapan syukur bagi semua orang. Kuasa doa sesungguhnya besar, dan Tuhan mendengar doa anak-anakNya yang berasal dari hati yang tulus. Allah begitu mengasihi semua manusia sehingga Dia rela mengaruniakan AnakNya untuk turun ke dunia ini, agar semua orang bisa memperoleh kesempatan untuk selamat dari kebinasaan dan beroleh hidup yang kekal. Tidak akan pernah sia-sia doa yang kita mohonkan, pada suatu saat nanti anda akan melihat bagaimana indahnya kuasa Tuhan menjamah dan mengubahkan hidup mereka.

Don’t pray only for yourself, but pray for everyone, because God cares about them too

Perabot Emas

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:20
======================
“Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.”

perabot emas,pot tanah liat“Saya memang sudah ditakdirkan seperti ini..” kata seorang siswa saya pada suatu kali. Dia berkata demikian karena merasa sulit untuk memahami pelajaran dan sulit percaya bahwa ia pun memiliki peluang untuk sukses sama seperti teman-temannya, sama seperti anda dan saya. Apa yang ia percaya adalah sebentuk suratan takdir yang sudah digariskan kepada masing-masing orang. Ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang sukses, ada yang gagal, ada yang mujur, ada yang sial. Jika memang demikian, maka kita tidak perlu berusaha lagi, karena toh dengan duduk di rumah seharian kekayaan akan datang dengan sendirinya kalau itu takdir kita, bukan? Apakah benar seperti itu? Apakah Tuhan itu memang pilih kasih? Tidak, Tuhan itu Maha Adil dan kasih setiaNya tak terbatas, kekal selama-lamanya. Bagaimana dengan hak kita sebagai ahli waris Kerajaan sebagai anak-anak Tuhan? Apakah anda merasa ditakdirkan untuk memperoleh kebesaran di Kerajaan Allah, atau anda puas hanya sekedar lolos dari lubang jarum? Apakah anda percaya bahwa anda sebenarnya dikehendaki Tuhan untuk menjadi perabot dari emas dan perak, bukan sekedar pot kecil tanah liat saja?

Tuhan tidak pernah membeda-bedakan anak-anakNya. Siapapun kita, apapun latar belakang kita, tinggi rendahnya pendidikan kita, semua kita yang percaya mendapat kesempatan sama untuk menjadi ahli waris. Firman Tuhan berkata “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” (Roma 8:15). Dengan demikian, “jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (ay 17). Mari kita lanjutkan dengan membaca isi surat Paulus kepada Timotius. “Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.” (2 Timotius 2:20). Dalam Kerajaan akan terdapat perabot emas, perak hingga perabot kayu dan pot tanah liat, tapi itu bukanlah takdir yang diinginkan Tuhan. Apa yang diinginkan Tuhan adalah semua kita bisa menjadi perabot dari emas dan perak! Kita sendirilah yang menentukan kita ingin menjadi jenis yang mana. Perabot emas atau pot tanah liat, pilihannya terserah kita. Semua tergantung kita.

Apa yang harus kita lakukan untuk itu? Ayat selanjutnya memaparkan caranya. “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (ay 21). Agar bisa masuk ke dalam kategori perabot emas dan perak, yang notabene dikatakan dipakai untuk maksud yang mulia, caranya adalah dengan menyucikan diri. Hidup suci, hidup kudus, hidup murni, sampai kita dianggap layak untuk dipakai dalam setiap pekerjaan yang mulia. Setiap kita telah ditugaskan untuk melakukan tugas yang digariskan Kristus dalam Amanat AgungNya. Tapi dipakai atau tidak, itu semua tergantung diri kita sendiri, apakah kita mau taat kepadaNya dan memilih untuk hidup kudus atau tidak.

Ada banyak anak-anak Tuhan yang sudah puas sekedar menjadi perabot dari kayu dan tanah. Mereka kekurangan syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi perabot emas dan perak. Mereka tidak memiliki cukup kesetiaan, tidak cukup pengabdian. Mereka tidak memisahkan diri dari pengaruh-pengaruh yang mencemarkan. Mereka tidak bersedia berpaling dari hal-hal duniawi untuk berjalan terus bersama Tuhan. Dalam kelanjutan ayat di atas, Paulus melanjutkan dengan memberikan beberapa perilaku yang menyebabkan ketidaklayakan ini. Mengejar nafsu orang muda (ay 22), melakukan hal-hal yang dicari-cari, bodoh dan tidak layak alias tidak ada gunanya, sia-sia (ay 23), membiarkan emosi menguasai diri (ay 24), dan tidak membuka kesempatan bagi orang lain untuk bertobat (ay 25).

Hari ini hendaklah kita membulatkan tekad yang akan bisa mengubahkan kita menjadi perabot emas. Caranya adalah dengan menyucikan diri. Kita menyucikan diri dengan mematikan segala kedagingan yang melekat pada kita. “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka)”. (Kolose 3:5-6). Lalu, “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.” (ay 8-10). Perhatikan ayat selanjutnya, ini berlaku untuk siapapun itu. “dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” (ay 11). Ingatlah bahwa Kristus telah menebus siapapun manusia tanpa terkecuali. Jika terasa sulit, ijinkanlah Roh Kudus bekerja atas diri kita, memproses kita hingga mampu terlepas dari segala keinginan duniawi dan bisa melangkah tegak di jalan Tuhan. Roh Kudus tinggal di dalam orang-orang percaya (Roma 8:11) dan akan terus bekerja untuk menyucikan kita. (Roma 15:16).

Mulailah lakukan itu dari sekarang. Waktu sudah sangat larut. Kemuliaan Tuhan sesungguhnya tercurah di atas bumi ini, dimana kemuliaan itu tidak akan pernah menetes dari perabotan kayu atau pot tanah liat. Kemuliaan Tuhan tercurah melalui perabot-perabot emasNya, dan itulah yang sesungguhnya menjadi panggilan atau takdir Tuhan buat kita semua, buat anda dan saya.

Jadilah perabot emas yang layak dipakai Tuhan untuk maksud mulia

Tidak Akan Pernah Jatuh

Ayat bacaan: 2 Petrus 1:10
=====================
“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.”

tersandung, jatuhApakah anda pernah tersandung lalu terjatuh? Seorang anak kecil yang melintas di depan rumah saya sore ini tersandung selagi berjalan di atas permukaan jalan yang berbatu-batu. Ketidakhati-hatiannya membuatnya terjerembap jatuh. Untung dia tidak mengalami masalah apa-apa. Ia langsung bangkit dan berjalan lagi meski agak sedikit terpincang-pincang di awalnya disertai wajah yang agak meringis. Kita semua pernah mengalami hal ini. Bukan hanya di jalan terjal, berbatu, tapi terkadang di jalan yang mulus itu bisa terjadi. Jalan mulus bisa membuat kita tidak waspada, sehingga ketika ada sebentuk benda yang tidak kita lihat menghalangi langkah kita, kita pun bisa tersandung karenanya. Tersandung bisa sepele, tapi bisa pula menjadi berat jika ekses yang diakibatkan ternyata mencederai kita secara serius. Teman saya di SMA pernah tersandung begitu selesai bermain basket. Posisi jatuhnya ternyata cukup berakibat fatal. Ia kehilangan beberapa gigi karena mulutnya tepat menghantam permukaan keras di mana ia jatuh. Adik saya sempat sobek bibirnya karena jatuhnya menghantam ujung meja. Di sisi lain, kita seringkali tersandung dan bisa kembali melanjutkan langkah kita seperti halnya si anak.

Jatuh bangun dalam iman pun dialami oleh banyak orang. Bahkan ada orang yang sudah begitu sering jatuh bangun sehingga mereka sudah sulit menerima bahwa mereka sebenarnya direncanakan untuk tidak pernah jatuh. Tuhan sebenarnya sudah menjanjikan bahwa kita anak-anakNya tidak akan pernah tersandung dan jatuh. Firman Tuhan berkata bahwa ada sesuatu yang dapat membuat kita tetap berdiri tegak dan terhindar dari kejatuhan ini. Apa itu? Ketekunan. Ketekunan untuk berusaha lebih serius lagi atas panggilan dan pilihan Allah atas diri kita. Paulus menggambarkannya demikian: “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” (2 Petrus 1:10). Kata tersandung dalam versi bahasa Inggris dijelaskan dengan “stumble or fall.” Tidak hanya tersandung, tapi juga terjatuh. Kata ketekunan atau keseriusan, kerajinan untuk berusaha keras untuk lebih sungguh-sungguh ini memiliki arti yang sangat penting. Kita perlu tahu bahwa kita tidak akan pernah dapat menghayati hidup yang penuh kemenangan tanpa adanya ketekunan ini.

Panggilan dan pilihan Allah, ini dijelaskan oleh Petrus di awal perikop. “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” (ay 1). Sejalan dengan ini, Paulus menulis rincian yang lebih jelas. “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Roma 8:30). Sejak semula Allah telah memilih dan menentukan panggilanNya. Inilah yang harus kita teguhkan dengan sungguh-sungguh, jangan disepelekan dan tidak diperhatikan. Bersungguh-sungguh artinya tidak sekedar menjalankan. Bersungguh-sungguh ada pada level di atasnya. Tekun berdoa, rajin beribadah, bisa dilakukan hanya karena rutinitas, sesuatu yang sudah terpola dari keluarga, atau alasan-alasan duniawi lainnya. Bersungguh-sungguh artinya melakukan lebih dari itu, dengan menyadari dengan sepenuhnya, mendasarkan setiap doa, pujian, penyembahan, perenungan dan sebagainya dari hati yang paling dalam yang memandang Tuhan dengan kasih tulus dan murni. Seperti apa bentuknya? Petrus menjabarkannya seperti ini: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” (2 Petrus 1:5-7). Lihatlah rantai yang terjalin dalam ayat-ayat ini. Itulah bentuk usaha sungguh-sungguh untuk lebih meneguhkan panggilan dan pilihan yang telah ditetapkan Tuhan sejak semula.

Petrus, Paulus dan murid-murid lainnya tahu bahwa kita tidak akan mampu hidup dengan iman ala kadarnya. Kita tidak bisa hidup dengan mengabaikan nilai dan prinsip kekristenan dan berharap dapat tetap diselamatkan. Dan kita pun tidak bisa melakukannya setengah-setengah. Di satu sisi kita taat, di sisi lain kita langgar. Di saat tertentu kita patuh, tapi di saat lain kita mengabaikannya. Tidak, ini tidaklah menggambarkan sebuah kesungguhan. Yakobus berkata “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” (Yakobus 2:10). Kita tidak akan bisa berdiri teguh tanpa membaca alkitab sepanjang minggu. Tidak akan pernah cukup jika kita hanya mengandalkan kebaktian seminggu sekali di gereja saja, lalu hidup sepenuhnya tanpa Tuhan selama seminggu penuh. Itu tidak akan pernah cukup. Jika kita termasuk dalam golongan ini, tidaklah heran jika kita terus saja tersandung, terjatuh dan lagi-lagi gagal.

Tuhan berfirman: “Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan, akan engkau buktikan salah. Inilah yang menjadi bagian hamba-hamba TUHAN dan kebenaran yang mereka terima dari pada-Ku, demikianlah firman TUHAN.” (Yesaya 54:17). Yes! Inilah bagian dari kebenaran yang seharusnya kita terima. Kita seharusnya dicanangkan untuk tidak pernah tersandung dan terjatuh. Never stumble or fall. Berusaha sungguh-sungguh untuk meneguhkan panggilan dan pilihan kita akan membawa kita naik ke level yang lebih tinggi, dimana semua berkat Tuhan berada. “Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” (2 Petrus 1:11). Ini janji Tuhan bagi kita semua. Jika demikian, haruskah kita terus tersandung dan terjatuh? Firman Tuhan berkata: “Sekali-kali tidak!” (Roma 11:11). Jika kita ingin bertahan menghadapi hari-hari yang sulit yang akan terus datang, kita semua membutuhkan iman yang dewasa, sebentuk iman yang dapat memindahkan gunung. Dan caranya tidak lain adalah dengan lebih sungguh-sungguh lagi menyerahkan diri kita kepada Firman. Jika kita sudah melakukannya, berusahalah untuk lebih baik dan lebih rajin lagi daripada sebelumnya. Paulus berkata: “Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.” (1 Tesalonika 4:1). Rajinlah untuk memastikan bahwa panggilan dan pilihan atas kita tetap teguh. Dan lihatlah, tidak peduli betapa pun sulitnya keadaan, kita tidak perlu jatuh.

Hindari tersandung dan jatuh dengan lebih bersungguh-sungguh lagi bertekun memenuhi pilihan dan panggilan Tuhan

Incoming search terms:

Jadi Teladan

Ayat bacaan: Titus 2:7
==================
“dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu”

jadi teladan, keteladananMeski bukan merupakan singkatan, guru sering diasosiasikan sebagai yang digugu dan ditiru. Artinya guru selalu diposisikan sebagai sosok yang patut diteladani oleh anak-anak muridnya dari berbagai aspek. Menjadi seorang guru tidaklah cukup hanya mengajar saja, karena fungsi sebagai pendidik belumlah tercakup dengan sempurna lewat transfer ilmu saja. Jauh lebih dari mengajar ilmu, seorang guru juga harus memperhatikan mengenai pengajaran moral, etika, tata krama dan lain-lain, yang akan sangat berguna bagi perkembangan moral dan mental si anak. Dan tidak cukup sampai disini, guru pun dituntut untuk memberi keteladanan lewat sikap, tindakan dan perbuatan mereka. Jika apa yang mereka ajarkan berbeda dengan sikap yang mereka tunjukkan di sekolah, maka bisa-bisa tidak ada satupun murid yang baik perilakunya.

Menjadi teladan, itu artinya menjadi sosok yang patut ditiru, dijadikan panutan oleh orang lain, atau menjadi role model. Dunia selalu dan akan selalu haus akan keteladanan. Tidak akan ada batas maksimal dari masa ke masa. Dalam sejarah dunia kita menemukan banyak teladan, dalam alkitab pun demikian. Dari masa lalu ada banyak teladan, di masa sekarang pun banyak, dan di masa depan nanti akan ada lagi teladan-teladan yang bisa kita jadikan panutan untuk menjadi orang yang lebih baik. Pertanyaannya, apakah kita sudah siap dan sanggup menjadi teladan? Mengapa harus kita, tidakkah cukup orang lain saja yang kita teladani? Alkitab mencatat bahwa kita semua diminta untuk tampil menjadi teladan-teladan dalam banyak hal mulai dari perbuatan baik hingga iman. Ayat bacaan hari ini menyatakan salah satu firman Tuhan yang mengingatkan kita untuk selalu berusaha untuk menjadi teladan terutama dalam hal berbuat baik.“Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu” (Titus 2:7). Kita bisa melihat disini bahwa transfer ilmu dan memberi pengajaran secara teoritis saja tidak akan pernah cukup. Kita harus meningkatkan level kita pula hingga kita bisa menunjukkan apa yang kita ajarkan melalui perbuatan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak hanya teori, namun praktek itu penting. Semua yang kita ajarkan hanyalah teori kosong, buta atau bohong jika kita hidup bertentangan dengan apa yang kita ajarkan/wartakan.

Berulang kali Yesus mengingatkan kita untuk meneladani Dia. Yesus mengajarkan banyak hal tentang kasih, tapi Dia tidak berhenti sampai pada pengajaran saja, melainkan menunjukkan pula lewat sikap hidupNya secara nyata. Lihatlah sebuah contoh dari perkataan Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk merendahkan diri kita menjadi pelayan dan hamba dalam Matius 20:26-27. Yesus berkata: “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (ay 28). Apa yang diajarkan Yesus telah Dia contohkan pula secara nyata. Pada kesempatan lain, Lalu pada kesempatan lain Yesus berkata: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yohanes 15:12). Yesus mengasihi kita sebegitu rupa sehingga Dia rela memberikan nyawaNya untuk menebus kita semua. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (ay 13). Yesus pun telah membuktikan langsung lewat karya penebusanNya. Inilah sebuah keteladanan yang sejati.Ini baru dua contoh dari banyak pesan Yesus agar kita tampil meneladani sosoknya dan kemudian menjadi teladan pula bagi banyak orang.

Kepada Timotius, Paulus mengingatkan pula mengenai pentingnya keteladanan dalam pelayanan. “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12) Lihat bahwa masalah menjadi teladan tidak hanya urusan orang-orang tua atau dewasa saja, tapi sejak muda pun kita sudah dituntut untuk bisa menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita dalam berbagai hal. Perbuatan baik dalam ayat bacaan hari ini digambarkan Paulus dengan menjaga perkataan, menjaga tingkah laku, terus mengasihi, berlaku setia dan hidup suci/kudus. Lebih jauh lagi, Yesus pun mengingatkan kita agar menjadi teladan bagi banyak orang dimana Tuhan dipermuliakan. Terang Tuhan yang ada pada diri kita hendaklah bisa dipancarkan hingga bercahaya bagi banyak orang.“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16) Ini pun bentuk gambaran dari bentuk keteladanan.

Tidak ada jalan lain bagi kita selain harus terus berusaha menjaga kehidupan kita, tindakan, perbuatan dan tingkah laku kita sesuai dengan firman Tuhan. Ingatlah bahwa apapun yang kita perbuat akan selalu mendapat perhatian orang lain, dan tentunya oleh Tuhan sendiri. Apakah kita bisa menjadi terang yang bercahaya bagi banyak orang, garam yang memberi rasa kepada dunia yang tawar, atau kita malah menjadi batu sandungan bagi orang lain, semua itu tergantung dari sejauh mana kita mau belajar menjadi teladan. Melakukan segala firman Tuhan yang telah kita baca secara nyata lewat perbuatan kita. Tuhan seperti apa yang kita pertontonkan kepada orang banyak? Tuhan yang penuh kasih, tidak memandang hina siapapun, tidak meninggalkan yang menderita, tidak membeda-bedakan orang, atau Tuhan yang eksklusif, pilih kasih, egois, kasar, penuh kecurigaan dan lain-lain? Apapun yang kita jalani saat ini, ingatlah selalu bahwa kita tidak hidup untuk diri sendiri saja. Ada orang lain di sekitar kita, ada lingkungan di sekeliling kita yang butuh warna cerah, butuh keteladanan. Siapkah kita untuk memberkati orang lain dan mewarnai dunia dengan perbuatan-perbuatan penuh kasih yang mencerminkan Tuhan secara benar? Jika demikian, jadilah teladan yang sejati.

Jadilah teladan sejak usia muda dimana Tuhan selalu dipermuliakan lewat perbuatan-perbuatan kita

Ketaatan

Ayat bacaan: Lukas 5:5
==================
“Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

ketaatanMasalah ketaatan adalah masalah yang mungkin mudah untuk dijalankan ketika kita sedang dalam keadaan tenang, tapi bisa menjadi sulit ketika kita berada dalam kesesakan. Kenyataannya ada banyak orang yang tergiur dalam berbagai godaan ketika berada dalam keadaan tertekan dan terjatuh ke dalam beragam alternatif yang mengarah pada kejahatan di mata Tuhan, atau bahkan kepada pilihan-pilihan yang jelas-jelas bertentangan dengan firman Tuhan sendiri. Tidak ada satupun manusia yang senang hidup menderita. Jika bisa tentu kita ingin hidup kita selalu lancar tanpa masalah. Namun dalam kehidupan kita tidak akan pernah selamanya berada dalam keadaan tenang. Ada waktu dimana kita mengalami kesulitan, dan disana sebenarnya iman kita diuji. Mampukah kita terus taat, tetap bersabar dan mempercayakan sepenuhnya kepada Tuhan, atau kita justru terjatuh akibat ketidaksabaran kita? “Ah, sekali-kali kan tidak apa-apa, Tuhan mengerti kok..” kata seorang teman pada suatu ketika di kala ia sedang terlilit hutang dan memutuskan untuk korupsi “secukupnya” untuk menutupi itu. Atau lihatlah ketika ada seorang teman lainnya yang kehilangan barang berharganya, ia segera pergi menuju paranormal, karena menurutnya antara ketaatan dan usaha untuk menemukan kembali itu beda urusannya. Hari ini saya ingin mengajak teman-teman sekalian untuk melihat sepenggal kisah yang dialami Simon Petrus ketika masih berprofesi sebagai seorang nelayan.

Pada saat itu Simon ternyata sedang mengalami kesulitan. Sepanjang malam ia berusaha membentangkan jalanya di laut tapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Sebagai nelayan ia tentu tahu kapan waktu yang terbaik untuk menangkap ikan, yaitu di malam hari. Aneh rasanya jika ada nelayan yang pergi melaut di pagi hari. Di pagi itu para nelayan baru saja turun dari perahu mereka dan sedang mencuci jala mereka dengan tangkapan nihil. Simon pun mengeluh kepada Yesus mengenai hal ini. Yesus berkata: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” (Lukas 5:4). Apa yang dikatakan Yesus tentu aneh bagi seorang nelayan yang tahu persis bahwa pagi bukanlah waktu yang ideal untuk menjala ikan. Tapi sungguh menarik melihat apa jawaban Simon. “Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” (ay 5). Simon berkata kira-kira begini: malam saja kami mencoba dengan keras kami tidak menangkap apapun, apalagi pagi.. tapi jika Yesus yang menyuruhnya, aku akan menuruti.” Dan itulah yang dilakukan Simon. Ia memilih untuk taat sepenuhnya, tanpa banyak tanya, tanpa berbantah-bantah dan bertolak kembali ke tengah dan menebarkan jalanya. Kita tahu apa yang terjadi kemudian. “Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.” (ay 6). Akankah Petrus bisa memperoleh ikan sebegitu banyak hingga jalanya terkoyak jika ia tidak taat? Tentu ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Tapi pilihan yang dia ambil adalah untuk percaya dan taat sepenuhnya tanpa banyak tanya sehingga ia pun menuai berkat Tuhan.

Dari kisah ini kita melihat bahwa ketaatan akan mendatangkan mukjizat. Ketaatan merupakan sebuah kunci dari terjadinya pemulihan. Yesus bisa saja memberikan langsung ikan langsung pada saat itu juga, tapi ternyata Yesus ingin melihat terlebih dahulu sampai sejauh mana ketaatan dari seorang nelayan kawakan bernama Simon Petrus. Dan ketaatannya itulah yang akhirnya mendatangkan mukjizat baginya. Jika menilik perjalanan bangsa Israel pada Perjanjian Lama, maka kita akan melihat bahwa ketidaktaatan bangsa ini kemudian justru membuat mereka harus mengalami banyak kesulitan. Mereka harus mengalami masa penjajahan tidak kurang dari 430 tahun, dan harus pula melewati masa padang gurun selama 40 tahun lamanya. Ini semua harus mereka alami akibat ketidaktaatan mereka. Sedikit saja mengalami kendala, mereka akan segera bersungut-sungut, mengeluarkan sindiran dan ejekan, mengeluh, mengomel bahkan sempat berkata ingin kembali lagi ke Mesir. “dan mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” (Keluaran 14:11-12). Inilah bentuk ketidaktaatan dari bangsa Israel yang masih sering pula kita lakukan hingga saat ini.

Ketaatan sungguh penting dan merupakan kunci penting untuk terjadinya pemulihan dalam hidup kita. Dalam keadaan seperti apapun kita tetaplah dituntut untuk taat dan setia sepenuhnya kepaa Tuhan. Dia mampu melepaskan kita pada waktunya, Dia akan selalu bisa melakukan hal-hal yang mustahil sekalipun, seperti halnya yang terjadi pada Petrus, namun dari sisi kita dituntut sebuah bentuk ketaatan yang sepenuhnya. Ketaatan dianggap Tuhan sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5:2). Bentuk ketaatan penuh bisa kita teladani dari sosok Yesus sendiri. “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:8). Inilah bentuk keteladanan dari Yesus sendiri yang bisa kita jadikan sebuah cerminan bagaimana kita seharusnya taat kepada Tuhan. Ketaatan Yesus kepada kehendak Tuhan hingga akhir membuat kita semua diselamatkan. Dan karenanya sudah sepantasnya jika kita pun harus taat penuh kepadaNya agar kita semua dilayakkan untuk memperoleh keselamatan kekal sepenuhnya seperti yang dijanjikan Tuhan. “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” (Ibrani 5:9-10). Ada waktu-waktu dimana kita diijinkan Tuhan untuk masuk ke dalam kesulitan. Jangan patah semangat, jangan menyerah, jangan putus pengharapan, tapi jadikanlah itu sebagai sebuah momentum untuk membuktikan iman kita. Tetaplah taat, percayalah sepenuhnya, maka pada saatnya apapun yang kita alami saat ini akan dipulihkan Tuhan dengan luar biasa.

Jadikan ketaatan sebagai kunci dari proses pemulihan

Syukur Bukan Saya…

Ayat bacaan: Roma 12:15
=====================
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”

syukur, empati, simpatiBeberapa waktu yang lalu ada kebakaran menimpa sebuah rumah tidak jauh dari rumah saya. Tidak saja membakar habis seluruh rumah hingga menjadi puing, namun musibah itu juga menghilangkan nyawa sang ibu. Berita mengenai kebakaran itu diberitahukan oleh seorang pemuda yang sedang dalam perjalanan menuju ke lokasi. Ia berkata, “syukurlah bukan rumah saya yang kena..” Saya sempat tertegun sejenak. Memang bukan rumahnya yang kena, tapi bagaimana kita bisa mensyukuri keuntungan sendiri di atas kesusahan orang lain? Tanpa sadar kita seringkali mengeluarkan kalimat yang secara tidak langsung mengarah kepada hal yang demikian. Ketika melihat seseorang kecopetan, kita mungkin berkata, “aduh syukur bukan saya yang kena…” Apalagi jika melihat musuh atau saingan jatuh. Kata-kata seperti “syukurin, rasakan..” atau yang kasar-kasar sering keluar dengan spontan.

Kita memang patut bersyukur atas penyertaan Tuhan atas diri kita, yang menghindarkan kita dari kejadian-kejadian buruk, namun kita harus menjaga agar jangan sampai kita mengabaikan orang lain yang tertimpa masalah. Jangan sampai mensyukuri keuntungan kita di atas kesusahan atau musibah yang menimpa orang lain. Bentuk kasih yang dianugerahkan Tuhan kepada kita bukanlah bentuk kasih yang hanya terfokus kepada diri sendiri saja, namun juga tertuju kepada sesama kita, lewat berbagai bentuk seperti simpati, empati, rasa sepenanggungan, kepedulian dan sebagainya. Alangkah keterlaluannya jika kita mengaku sebagai anak-anak Allah namun kita mengabaikan orang-orang lain yang tengah tertimpa musibah karena kita terlalu sibuk mensyukuri diri sendiri. Apa yang diajarkan firman Tuhan adalah begini: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15).

Dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Lukas 18:9-14) kita bisa melihat contoh yang mirip mengenai hal ini. Dalam perumpamaan ini Yesus menceritakan seorang Farisi dan pemungut cukai yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Orang Farisi yang merasa paling suci karena menguasai benar hukum Taurat berdoa seperti ini: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;” (ay 11). Ia pun kemudian menyombongkan dirinya lebih lagi. “aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” (ay 12). Tapi si pemungut cukai yang statusnya di masyarakat waktu itu sebagai orang berdosa yang tidak layak dikasihi bereaksi berbeda. “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” (ay 13). Dan mana yang dibenarkan Allah? Yesus menutup perumpamaannya dengan: “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (ay 14). Bentuk syukur orang Farisi ini adalah bentuk syukur di atas penderitaan orang lain, dan ini tidak benar di mata Tuhan. Bagaimana mungkin kita bisa bersyukur melihat orang-orang yang tertimpa masalah, termasuk masih terbelenggu dosa, ketika Yesus sendiri datang justru untuk menyelamatkan semua orang yang berdosa, termasuk kita di dalamnya?

Lihatlah bagaimana reaksi di Surga. Malaikat dikatakan bersukacita, bersorak sorai bukan ketika melihat mereka yang sesat binasa, namun justru ketika ada orang yang bertobat, bahkan satu orang sekalipun. “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Lukas 15:10). Kita sebagai anak-anak Allah pun seharusnya berprinsip sama. Ketika ada orang yang mengalami masalah, tertimpa musibah atau kejadian buruk, seharusnya kita memberikan simpati, berempati menolong mereka semampu kita, meringankan beban mereka dan jangan malah berpusat pada keuntungan diri sendiri dan bersyukur di atas penderitaan mereka. Turut sepenanggungan, menangis dengan orang yang menangis, dan mengulurkan tangan. Ini termasuk ketika orang-orang yang jahat kepada kita ditimpa kejadian buruk. Kristus mengajarkan kita untuk tidak membenci musuh, apalagi mendendam, tapi sebaliknya kita harus mengasihi dan berdoa bagi mereka. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Bukannya merasa senang dan bersyukur atas kemalangan seteru kita, tapi justru kita diperintahkan untuk menolong ketika mereka tertimpa masalah. “Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” (Roma 12:20).

Sebagai pengikut Kristus, hendaklah kita hidup dalam kasih Kristus. Dan aspek-aspek kasih Kristus yang seharusnya memenuhi diri kita termasuk mengenai simpati, empati, turut sepenanggungan, kepedulian dan seterusnya. Kita harus mampu keluar dari kepentingan dan kesenangan diri sendiri lalu turut merasakan kesusahan orang lain. Senang melihat orang susah, atau sebaliknya susah melihat orang senang, itu bukanlah sikap anak-anak Tuhan. Ingatlah “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:2). Mengucap syukur atas hal-hal yang baik dalam diri kita itu benar, tapi jangan sampai karena terlalu sibuk mengucap syukur lalu kita lupa untuk menunjukkan rasa turut sepenanggungan kepada sesama kita yang tengah tertimpa masalah.

Jangan bergembira atas kemalangan yang menimpa orang lain

Ramal Meramal

Ayat bacaan: 1 Tawarikh 10:13-14a
============================
“Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap TUHAN, oleh karena ia tidak berpegang pada firman TUHAN, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah, dan tidak meminta petunjuk TUHAN.”

peramal, ramal, dukun, okultismeSekali-kalinya menonton TV, saya menjadi heran sendiri. Begitu banyak iklan-iklan yang jelas-jelas menganjurkan orang untuk percaya ramal meramal dengan begitu bebasnya. Ketik reg spasi a, spasi b, dan sebagainya. Berbagai praktek ramalan dan perdukunan saat ini sudah dikemas secara menarik sehingga terkadang tidak lagi terlihat secara nyata sebagai sebuah okultisme. Praktek-praktek perdukunan pun tumbuh subur dimana-mana. Ketika begitu banyak kedok dukun palsu terkuak, banyak pasien yang menjadi korban pelecehan seksual dengan berkedok dukun, tetap saja orang tidak kapok-kapoknya pergi ke dukun. Ironisnya, di kalangan kita sendiri pun ada yang masih percaya pada hal-hal seperti ini. Di satu sisi ke gereja, di satu sisi berdoa, tapi di sisi lain pergi bertanya atau meminta kepada roh-roh leluhur. Saya pernah menanyakan kepada seseorang mengapa dia menjalani dua hal yang bertentangan ini, dan ia pun berkata bahwa keduanya tidak bersangkut paut. “Tuhan ya Tuhan, apa hubungannya dengan meramal masa depan dan bertanya pada kakek sendiri?” jawabnya. Masalahnya kakeknya sudah tidak lagi menghuni dunia ini. Apa kata Alkitab mengenai hal ini?

Mari kita lihat bagaimana kelakuan bangsa Israel yang keterlaluan. Mereka sudah berulangkali mengalami dan menyaksikan sendiri bagaimana mukjizat demi mukjizat turun atas mereka. Betapa baiknya Tuhan yang berulang kali menyelamatkan mereka, menuntun mereka secara langsung, bahkan begitu sabarnya dengan terus menerus mengingatkan mereka setiap kali mereka sesat. Namun mereka masih juga berperilaku jelek. Ketika Tuhan begitu baik kepada mereka, mereka terus saja memberontak. Ketika menghadapi masalah, bukannya pergi kepada Tuhan, namun mereka malah pergi ke peramal-peramal untuk meminta petunjuk. Hal ini jelas menyakiti hati Tuhan, maka Tuhan pun mengingatkan dengan tegas. “Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.” (Ulangan 18:10-11). Tuhan menganggap hal ini sebagai sebuah kekejian. “Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu.” (ay 12).

Melakukan kekejian bagi Tuhan tentulah ada konsekuensinya. Inilah yang dialami oleh Saul. Jika kita baca kisahnya dalam 1 Samuel 28, pada saat itu Saul tengah ketakutan menghadapi serangan bangsa Filistin. Ia sempat bertanya pada Tuhan, namun ia merasa tidak mendapat jawaban secepat yang dia inginkan. (ay 6). Lalu Saul yang tidak sabar pun memutuskan untuk mencari dukun wanita yang sanggup memanggil arwah. (ay 7). Apa yang dilakukan Saul merupakan kekejian di hadapan Tuhan. Kesalahannya fatal dan akibatnya pun fatal. Daud akhirnya harus mati dengan tragis. Alkitab mencatat hal ini secara jelas dalam 1 Tawarikh. “Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap TUHAN, oleh karena ia tidak berpegang pada firman TUHAN, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah, dan tidak meminta petunjuk TUHAN.” (1 Tawarikh 10:13-14a).

Dijawab Tuhan dengan segera atau tidak, itu adalah mutlak keputusan Tuhan. Yang pasti apa yang Tuhan sediakan adalah segala sesuatu yang terbaik bagi kita. Termasuk kapan waktu yang terbaik untuk memberikannya kepada kita. Dia jauh lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita lebih dari kemampuan kita dalam memutuskan apa yang terbaik bagi kita. Seringkali ketidaksabaran berbuah malapetaka, salah satunya dengan pergi kepada peramal atau dukun. Ada banyak orang yang hari-hari ini lebih percaya pada seorang peramal atau dukun daripada kepada Tuhan. Ketika usaha atau toko sepi pengunjung, ketika karir jalan di tempat, ketika jodoh tidak kunjung datang, orang akan rela merogoh kantongnya mengeluarkan uang sebesar apapun untuk datang kepada dukun/peramal atau orang pintar. Mencari hari baik, tanggal baik, memasang berbagai jimat yang ditanam di sekitaran rumah atau tempat usaha dan sebagainya, menanam berbagai benda di dalam tubuh, dan sebagainya, semua itu dilakukan dengan tenang. Padahal Tuhan menganggap hal ini sebagai sebuah kekejian. Ketidaksabaran kita bisa dimanfaatkan iblis yang terus mengaum-aum mencari mangsa untuk menjebak kita. Padahal biar bagaimanapun janji Tuhan akan digenapi kepada orang-orang yang terus hidup taat akan firmanNya. Lihat apa kata Pemazmur. “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” (Mazmur 46:2).Alkitab mencatat begitu banyak kisah tentang bagaimana Tuhan sanggup mengubah segala sesuatu secara gemilang tepat pada waktunya. Kita melihat begitu banyak hidup diubahkan bahkan hingga hari ini kepada orang-orang yang terus hidup dalam pengharapan dengan taat. If that could happen to them, it could also happen to us too. Sekali kita terjerumus ke dalamnya kita akan sulit lepas. Dan ada konsekuensi yang menunggu atas segala kekejian yang kita lakukan kepada Tuhan yang telah begitu baik pada kita. Ketika kita menghadapi persoalan, datanglah menghadap ke hadiratNya, dan percayalah dengan pengharapan penuh bahwa Tuhan sanggup melepaskan kita dari berbagai belenggu masalah. Berhati-hatilah dan jangan tergoda untuk bermain-main dengan kuasa kegelapan dan okultisme. Teruslah hidup kudus dan teruslah berusaha melatih diri untuk semakin teguh hidup dalam kebenaran. “Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di hadapan TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 18:13).

Bermain-main dengan kuasa gelap adalah kekejian di mata Tuhan yang bisa mendatangkan konsekuensi fatal

Motivasi Yang Salah Dalam Memberi

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:3
========================
“Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.”

motivasi yang salah dalam memberi, mengharap berkat, pamrih“Saya sudah rajin menolong orang. Saya rajin memberikan persepuluhan. Saya sudah berusaha setia pada Tuhan. Tapi mengapa hidup saya masih sulit?” Pernahkah anda merasa hal seperti ini? Seorang teman pernah menanyakan hal ini kepada saya pada suatu ketika. Jika hanya melihat sepintas saja kita bisa menuju pada anggapan bahwa Tuhan tidak adil. Hanya menuntut kita tapi alpa dalam memberi. Apakah benar demikian? Saya percaya tidak. Saya percaya bahwa Tuhan adalah sosok yang sangat berkomitmen terhadap janjiNya. Dia adalah Allah yang penuh kasih setia kepada anak-anakNya. Ketika malam ini saya teringat akan pertanyaan itu, ada sebuah kata yang timbul dalam hati saya, yaitu motivasi. Apa yang menjadi motivasi kita dalam menolong? Apa yang mendasari motivasi kita dalam memberi dan setia pada Tuhan? Sudahkah kita memiliki motivasi yang benar atau kita masih mendasari motivasi terhadap hal-hal yang hanya berdasarkan kebutuhan atau hanya sesuai dengan ukuran kita pribadi?

Ada banyak orang terjerumus dalam motivasi yang melenceng ketika mereka melakukan firman Tuhan. Mereka terjebak dalam pemikiran yang salah, misalnya mengukur hubungan dengan Tuhan lewat hukum sebab akibat. Sebab saya memberi, akibatnya Tuhan akan memberi dua kali lipat. Sebab saya baik, Tuhan akan 100 kali lebih baik. Motivasinya didasarkan atas egoisme untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan, bukan untuk memuliakan Tuhan di atas segalanya. Memberi atau menolong, setia dan rajin beribadah, bukan atas dasar kerinduan untuk mengasihi Tuhan, namun fokusnya untuk mengharap berkat berlipat ganda. Ini motivasi yang salah. Paulus mengingatkan jemaat Korintus, “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” (1 Korintus 13:3). Meski besar yang kita beri, bahkan nyawa kita sekalipun, jika motivasinya salah, bukan atas dasar kasih, baik kasih kepada Tuhan maupun kasih terhadap sesama, maka semua itu hanya akan berakhir sia-sia. Ini sebuah pelajaran penting yang disampaikan Paulus kepada para jemaat Korintus. Pola pikir yang salah bisa menciptakan motivasi  yang keliru.

Selain bentuk motivasi memberi agar mendapat berkat berlipat ganda di atas, ada beberapa bentuk lain dari motivasi yang salah. Misalnya ada orang yang memberi agar tidak dihukum Tuhan, memberi agar tidak dilemparkan ke neraka, memberi agar hidup mereka tidak susah, atau ada pula yang memberi agar terlihat hebat di mata orang lain. Mengenai hal yang terakhir ini, Yesus mengingatkan kita dengan jelas. “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Matius 6:2). Orang-orang munafik akan selalu bertindak seolah-olah mereka paling benar dan terus memamerkan perbuatan baiknya. Orang-orang seperti ini menurut Yesus sudah mendapatkan upahnya secara utuh. Tuhan jelas menentang perbuatan seperti itu.

Tuhan merindukan sebuah kedekatan/keintiman dengan manusia. Itu jauh bernilai ketimbang hal-hal lain, yang dengan sendirinya akan hadir ketika kita terus berada dalam hadiratNya. Jika Tuhan sudah menganugerahkan anakNya yang tunggal bagi kita agar kita selamat, tidaklah sulit bagiNya untuk mengangkat kita dari keterpurukan dan memastikan diri kita ada dalam pemeliharaanNya. Motivasi-motivasi yang salah akan membuat usaha kita tidak lagi berkenan di hadapan Tuhan dan malah bisa membuat kita kehilangan semua itu. Ketahuilah bahwa Tuhan itu adil. Nyanyian Musa menyebutkan “Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.”(Ulangan 32:4). Musa menyadari kesempurnaan pekerjaan Tuhan berikut keadilanNya. Dalam Perjanjian Baru kita membaca “Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.” (Ibrani 6:10). Tuhan sungguh adil. Dia tidak akan lupa pada apa yang kita perbuat secara sukarela karena kita mengasihiNya, sebaliknya Dia pun tidak akan lupa jika kita memiliki motivasi yang melenceng dalam memberi atau menolong orang lain.

Ketika kita melakukan sesuatu, apapun itu, lakukanlah itu untuk memuliakan Allah. (1 Korintus 10:31). Inilah motivasi yang benar. Kerinduan kita untuk memberi adalah didasarkan semata-mata karena kita mengasihi Tuhan, seperti halnya Tuhan mengasihi kita, dan bukan karena pamrih atas hal-hal pemenuhan kebutuhan kita, kebanggaan duniawi dan sebagainya. Selain itu ingat pula bahwa bukan menurut kita, tapi waktunya Tuhan-lah yang terbaik bagi kita. Yang penting untuk kita lakukan adalah terus giat bekerja di ladangNya, jangan putus pengharapan, terus mengasihi orang lain dan tidak melewatkan saat-saat kita intim dengan Tuhan baik secara pribadi, bersama keluarga maupun bersama saudara-saudara seiman, terus memberi dengan sukarela dan sukacita, bukan karena mengharap sesuatu namun semata-mata karena kita mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu. Tuhan siap mencurahkan segalanya bukan kepada orang yang royal memberi dengan motivasi yang salah, namun kepada anak-anakNya yang terus mencari dan memandangNya dengan penuh kerinduan. Malam ini marilah kita periksa diri kita, apakah kita sudah memiliki motivasi yang benar atau belum dalam memberi, karena motivasi yang kita miliki akan sangat menentukan dalam perjalanan hidup kita.

Motivasi yang salah dalam memberi membuat segalanya sia-sia

Kesepian

 Ayat bacaan: Mazmur 25:16
=====================
“Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas.”

kesepian, sendirianDunia yang semakin lama semakin penuh ini membuat kita kadang sulit untuk mencari tempat kosong. Hampir di setiap sisi kita bertemu dengan orang lain dengan berbagai corak dan ragam masing-masing. Mungkin kita punya keluarga besar, punya banyak teman, tinggal di lingkungan padat, namun ada saat-saat kita merasa kesepian. Bukan hanya ketika mengalami masalah dalam kehidupan kita, tapi rasa kesepian ini bisa muncul bahkan di saat kita sedang tidak mengalami masalah apapun. Rasa kesepian itu bisa begitu menyakitkan, sepertinya tidak ada yang peduli pada kita, tidak ada yang menyayangi kita. Saya dulu sering mengalami hal ini, dan dulu sering berkata demikian: “in the end we are alone afterall..” Tapi benarkah demikian? Apakah kita ditakdirkan untuk kesepian, sendirian di tengah kerumunan manusia yang begitu banyak jumlahnya di dunia ini? Saya percaya tidak. Tuhan menjadikan Hawa sebagai pendamping Adam yang sepadan, karena Tuhan menganggap tidaklah baik bagi manusia untuk hidup sendirian. Artinya Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk hidup kesepian. Bahkan Roh Kudus pun Dia turunkan pada kita, agar kita punya Penolong dan Pembimbing dalam menentukan langkah kita menuju kehidupan kekal. Namun mengapa kesepian tetap menerpa kita?

Kesepian yang paling berat adalah ketika kita terpisah dari Tuhan. Demikian firman Tuhan: “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2). Dosa memisahkan kita dengan Allah. Kita tidak lagi mendengar suaraNya, merasakan penyertaanNya, hubungan kita menjadi hancur ketika kita tidak lagi taat padaNya, dan hadirlah sebuah kesepian yang berat, dimana kita tidak lagi merasakan kehadiranNya dalam hidup kita. Atau mungkin kita terlena dengan aktivitas duniawi sehingga mengabaikan waktu-waktu untuk berada bersamaNya. Kita terlena hingga melalaikan Tuhan. Seberapa jauh kita meninggalkanNya? Seberapa jauh dosa kita membuat Tuhan menyembunyikan diriNya dari kita? Tuhan tidak pernah berniat meninggalkan kita. Kalaupun hubungan kita terputus, itu karena adanya hal-hal yang menghalangi hubungan kita dari Tuhan yang masih harus dibereskan terlebih dahulu. Yesus sudah menyelesaikan semuanya secara lunas di atas kayu salib 2000 tahun yang lalu. Bertobat, mengakui dosa dan berjanji untuk tidak lagi mengulangi adalah solusi untuk mengatasi hal ini. Tuhan itu setia dan adil. Dia akan dengan gembira menyambut kita dan mengampuni kita, menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yohanes 1:9). Kemudian ingatlah bahwa kita harus senantiasa meluangkan waktu untuk berhubungan dengan Tuhan, baik lewat saat teduh, doa-doa kita, pujian/penyembahan, membaca firman Tuhan dalam Alkitab dan lain-lain. Ini hal-hal penting yang bisa membuat kita untuk kembali merasakan kehadiranNya.

Terkadang kita lupa bahwa Tuhan sebenarnya senantiasa berada bersama kita. Beratnya himpitan persoalan, atau mungkin timbunan dosa-dosa kita, atau tidak membangun hubungan dengan Tuhan secara teratur, atau mungkin terlalu malas mengisi diri dengan firman Tuhan, semua ini akan membuat kita kesulitan untuk mengetahui janji Tuhan, dan akan dengan gampang memposisikan kita pada sebuah sudut yang kosong. Kita pun kesepian. Apa yang sebenarnya dikatakan Tuhan? Secara luar biasa Tuhan menjanjikan demikian: “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.”(Ulangan 31:8). Dalam Mazmur kita lihat demikian: “Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.” (Mazmur 139:5). Artinya Tuhan tidak pernah dengan senang hati meninggalkan kita. Dia selalu setia untuk menuntun kita, menyertai kita hingga akhir jaman.

Pada saat-saat tertentu, atau akibat hal-hal tertentu, kita bisa mengalami kesepian. Ketika hal ini menyerang, ingatlah akan penyertaan Tuhan yang sungguh luar biasa. Benahi diri kita agar kita bisa merasakan penyertaanNya, isi hati kita selalu dengan firman-firman Tuhan, sehingga kita tidak akan merasakan kesepian lagi. Ayat bacaan hari ini menggambarkan bagaimana doa dipanjatkan pada Tuhan ketika berada dalam kesengsaraan, penindasan atau kesulitan lainnya. Pada suatu saat Daud merasa kesepian dalam menghadapi masalah sehingga ia berkata: “Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas.” (Mazmur 25:16). Daud tau bahwa Tuhan sanggup mengeluarkan dirinya dari bahaya. (ay 15). Daud tahu tangan Tuhan tidak pernah kurang panjang untuk mengangkatnya keluar dari masalah, selayaknya kita pun menyadari demikian. Pemazmur menyatakan begini: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” (Mazmur 46:2). Lihatlah bahwa kita sesungguhnya tidak sendirian dalam sepi. Tuhan selalu ada menyertai kita semua. Yesus pun berjanji untuk menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman. (Matius 28:20).Tuhan adalah Allah yang penuh kasih setia tak berkesudahan yang tidak akan senang untuk meninggalkan kita. Kita tidak akan pernah dibiarkanNya sendirian menjalani hidup ini. Seperti yang tertulis dalam Mazmur 139:5 di atas, kita tahu bahwa Tuhan mengurung kita dari depan dan belakang Tuhan hadir bersama dengan pergumulan kita. Tuhan pun memberkati dengan tanganNya sendiri ke atas diri kita.

Jika ada diantara teman-teman yang saat ini merasa kesepian, ingatlah bahwa Tuhan tidak meninggalkan anda sendirian. Dia selalu ada bersama-sama dengan anda dan saya. Apapun masalah yang anda hadapi saat ini, percayalah tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk melepaskan anda dari masalah. Dan Dia ada, menyertai kita sampai akhir. Dengan mengetahui janji-janji Tuhan ini, kita pun akan sadar bahwa kita tidak akan pernah dibiarkanNya sendiri kesepian, karena Dia adalah Allah yang peduli dan penuh kasih setia sampai selama-lamanya. We’re never alone afterall. Praise the Lord, for the Lord is good!

Kita tidak akan kesepian sebab Tuhan selalu beserta kita

Tinggalkan Masa Lalu

Ayat bacaan: Kejadian 19:26
=====================
“Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.”

menoleh ke belakang, dibelenggu masa lalu, di bawah bayang bayang masa laluSebuah pertanyaan hadir di hati saya hari ini. Mengapa ada orang yang selalu gagal dalam hidupnya? Ada yang sudah berulang kali didoakan namun tetap saja mereka sulit bangkit. Ada orang yang saya benar-benar saya kenal mengalami hal ini. Hidupnya statis dalam segala keterbatasan, jika tidak disebut kekurangan. Padahal dia hidup baik dan rajin membaca firman Tuhan setiap hari. Apakah Tuhan tidak memberkatinya? Apakah janji Tuhan hanya berlaku bagi sebagian kecil orang yang terpilih? Saya yakin tidak, karena janji Tuhan berlaku bagi semua orang. Lantas apa yang menyebabkan? Ayat bacaan hari ini hadir dalam hati saya. Salah satu penyebabnya ada dalam ayat ini.

Salah satu penyebab orang sulit bangkit adalah ketika mereka terbelenggu masa lalu. Dalam ayat mengenai kisah Sodom dan Gomora kita melihat bagaimana istri Lot yang seharusnya ada dalam rencana penyelamatan Tuhan ternyata berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Apa yang terjadi? Dia berubah menjadi tiang garam. Kita fokus kepada kata “menoleh ke belakang”. Menoleh ke belakang maksudnya adalah dikuasai masa lalu, dihantui berbagai hal traumatis, kegagalan atau timbunan dosa-dosa di masa lalu. Ada juga orang yang mengalami kepahitan akibat disakiti orang terdekat, kejadian-kejadian buruk dalam berbagai hal, yang begitu berat, sedemikian rupa sehingga mereka yang mengalami ini menjadi terus terikat dengan bayang-bayang masa lalunya. Mereka menjadi sulit maju, karena mereka terikat dengan hal-hal traumatis yang pernah terjadi. Ada yang jadi statis, tidak bertumbuh, tidak berkembang, jalan di tempat, tidak sedikit pula yang akhirnya  malah terperosok semakin dalam. Istri Lot sebenarnya ada dalam rencana Tuhan untuk diselamatkan, namun ia memilih untuk menoleh ke belakang. Sebuah pilihan yang membawa konsekuensi fatal, ia berubah seketika menjadi tiang garam.

We have to start to move forward, we really have to do it now. Ingat iblis sang pendakwa akan selalu menuduh anda dengan segala hal di masa lalu untuk memperlambat anda, menghentikan anda, bahkan memundurkan anda ke belakang. Iblis sangat tidak suka jika anda maju. Yesus mengingatkan hal yang sama. Mari kita lihat kisah mengenai seseorang yang mau mengikuti Yesus namun memilih untuk berlama-lama. “Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.”(Lukas 9:61). Apa jawab Yesus? “Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”(ay 62). Tuhan rindu setiap kita untuk maju. Dia rindu untuk mencurahkan berkat-berkatNya, namun bayang-bayang masa lalu kerap membuat kita selalu menoleh ke belakang, dan dengan demikian gagal mencapai janji-janji Tuhan.

Surat Paulus kepada jemaat di Filipi juga sempat berbicara mengenai hal yang sama. Sepertinya Paulus menyadari tendensi manusia untuk selalu berada dalam bayang-bayang masa lalunya, hingga ia merasa perlu untuk mengingatkan. “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14). Dia memberi contoh, bahwa walaupun dia telah melayani Tuhan, dia tetap harus fokus untuk melupakan segala masa lalunya, seburuk apapun, dan fokus pada tujuan yang hendak dicapai di depan. Kita tidak akan bisa maju jika selalu berada dalam belenggu masa lalu kita yang kelam. Kita perlu benar-benar mengerti bahwa Tuhan begitu mengasihi kita. Dia tidak mau kita hidup terikat dalam dosa, problema kehidupan dan hal traumatis di masa lalu. Apa buktinya? Jika Tuhan tidak perduli, untuk apa Tuhan repot-repot menganugrahkan Kristus, AnakNya yang tunggal untuk memerdekakan kita dari segala dosa, kutuk dan kuk perhambaan warisan masa lalu? Berhentilah menoleh ke belakang, dan raihlah janji-janji Tuhan, yang penuh rancangan damai sejahtera, hidup yang berkelimpahan dan penuh berkat. Lihatlah ayat berikut ini: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan 3:22-23). Apa yang disediakan Tuhan adalah berkat yang tiada habisnya dan selalu baru setiap pagi. Jika demikian, untuk apa kita terus mengingat-ingat masa lalu? Bukankah artinya kita menjadi orang yang bodoh jika masih saja terkubur dalam masalah di waktu lalu, padahal Tuhan mencurahkan rahmatNya yang baru setiap pagi?

Tuhan menyediakan pengharapan baru bagi kita yang telah ada di dalam Kristus. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”(2 Korintus 5:17). In Christ, we are the new creation. Semua telah ditebus Kristus dengan lunas di atas kayu salib. Dan kita sekarang bisa menatap hari depan yang cerah, penuh pengharapan dari Tuhan. Tidak ada lagi belenggu masa lalu, kecuali kita yang mengijinkan dan menginginkan trauma masa lalu itu untuk terus hadir bersama kita, menghambat kita untuk bertumbuh dan maju. Today it’s time to let all your past go. Let’s stop looking back to the past, let’s move forward. Let’s move on with all hope and glory!

Menoleh ke belakang akan menghalangi kita untuk menerima janji-janji Tuhan yang telah Dia sediakan