Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Menunda Berbuat Kebaikan

Ayat bacaan: Amsal 3:27
===================
“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.”

menunda perbuatan baik“Don’t put off till tomorrow what you can do today.”
Ini adalah sebuah kalimat bijak klasik yang tidak lagi asing bagi kita. Lewat kalimat ini kita diajak untuk tidak menunda-nunda untuk melakukan apa yang bisa kita kerjakan saat ini juga. Tapi manusia agaknya memang hobi menunda. Mengerjakan tugas di saat terakhir sudah menjadi kebiasaan sebagian besar siswa. SKS dipelesetkan menjadi “Sistim Kebut Semalam” yang menggambarkan bagaimana mereka menghadapi ujian hanya dengan belajar mendadak satu malam sebelumnya. Dalam banyak hal kita terbiasa untuk menunda-nunda untuk melakukan sesuatu, dan pada akhirnya kita sendirilah yang akan kalang kabut. Jika untuk kepentingan kita sendiri kita sudah terbiasa melakukannya, apalagi dalam hal memberi. Selalu saja ada alasan yang kita kemukakan untuk menghindari kewajiban kita untuk menolong orang lain. Tidak punya cukup uang, belum sanggup membantu dan sebagainya. Mungkin kita tidak berada dalam kelimpahan, tetapi bukankah seringkali dengan jumlah yang sedikit saja kita bisa memberi kelegaan kepada mereka yang hidup dibawah kemiskinan? Atau bahkan sedikit perhatian dan kepedulian kita, menjadi “shoulder to cry on” saja sudah sangat membantu bagi mereka yang membutuhkan? Kata sanggup atau tidak sering menjadi hal yang subjektif, karena pada satu sisi saya melihat ada banyak orang yang hidup pas-pasan tetapi masih mau berusaha untuk menolong orang lain, tapi di sisi lain orang yang kaya tetap saja merasa masih kurang.

Firman Tuhan hadir lewat Amsal Salomo. “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27). Ayat selanjutnya berkata “Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,” sedangkan yang diminta ada padamu.” (ay 28). Ketika kita bisa berbuat baik, sudah sepantasnya kita tidak menunda-nunda untuk melakukan itu. Kebaikan tidak hanya berbicara mengenai sedekah atau sumbangan, tetapi bisa hadir lewat berbagai hal. Perhatian, kasih sayang, kesabaran, dukungan moril, meluangkan sedikit dari waktu kita dan sebagainya, itupun merupakan bentuk dari kebaikan. Ketika kita memiliki hal itu, meski sedikit, kita sudah bisa melakukan sesuatu yang akan sangat bermakna bagi orang lain yang membutuhkannya, dan pada situasi demikian kita tidak seharusnya menunda-nunda untuk melakukan sesuatu. Jangan tunda untuk melakukan sesuatu untuk orang-orang yang membutuhkan, jangan mengelak, jangan mengaku tidak mampu padahal kita sebenarnya tahu bahwa kita mampu untuk melakukannya.

Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, kita bukanlah diselamatkan OLEH perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan UNTUK melakukan perbuatan baik. Surat Paulus kepada jemaat Filipi pasal 2 mengingatkan kita akan hal ini. Firman Tuhan berkata “..hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:3b-4). Mengapa harus demikian? Karena sebagai pengikut Kristus kita seharusnya mencerminkan pribadi Kristus. Penghiburan kasih, kasih mesra dan belas kasihan, itu semua ada dalam Kristus. (ay 1). Dan sebagai pengikut Kristus, kita seharusnya sepikir dan seperasaan denganNya juga. Kita melihat sendiri dalam alkitab bagaimana Yesus terus bekerja untuk melakukan kehendak Bapa tanpa menunda apapun. Jika Yesus melakukan seperti itu, mengapa kita sebagai pengikutNya justru hobi menunda-nunda untuk melakukan kebaikan?

Kerelaan memberi sebagai salah satu aspek dari perbuatan baik merupakan cerminan kedewasaan rohani kita. Orang yang imannya dewasa akan terus berusaha memberi, sebaliknya yang masih belum akan cenderung mengambil atau meminta. Alkitab mencatat perkataan Yesus seperti ini: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34). Yesus begitu mengasihi manusia sehingga Dia rela menanggung segala dosa-dosa kita untuk ditebus dengan cara yang sungguh mengenaskan. Dia bahkan memberikan nyawaNya untuk keselamatan kita. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13) kata Yesus, dan Dia sudah membuktikan itu secara langsung dengan karya penebusanNya di atas kayu salib. Mengacu kepada firman Tuhan itu, seharusnya kita terus berusaha untuk mencapai sebuah tingkatan seperti apa yang telah dilakukan Yesus untuk kita, para sahabatNya. Jika nyawa kita pun seharusnya siap untuk diberikan, mengapa kita sulit sekali untuk mengeluarkan sedikit dari tabungan kita, usaha kita, tenaga atau waktu kita untuk melakukan kebaikan bagi sesama?

Gereja mula-mula dalam Kisah Para Rasul menggambarkan semangat kebersamaan yang saling bantu. “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.” (Kisah Para Rasul 2:45). Mereka tidak mementingkan diri sendiri, tetapi justru dengan senang hati berbagi dengan saudara-saudaranya. Semua adalah kepunyaan bersama, itu adalah semangat luar biasa yang sudah sangat jarang kita temui sekarang. Ayat selanjutnya berkata “dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” (ay 45). Apa yang menjadi hasilnya? Para jemaat dikatakan “disukai semua orang”, dan Tuhan pun terus memberkati dengan menambah jumlah mereka dengan lebih banyak lagi orang yang diselamatkan. (ay 47). Kita harus berhenti bersikap kikir, berhenti untuk merasa diri selalu berkekurangan. Apa yang seharusnya kita lakukan adalah bersyukur, dan mempergunakan berkat yang kita peroleh dari Tuhan untuk memberkati sesama kita.

Aspek memberi kebaikan merupakan hal yang sangat penting di mata Tuhan untuk kita lakukan. Begitu pentingnya hingga Tuhan berkata “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40). Kita rasanya tidak akan mampu membayar kebaikan Tuhan dengan harta milik kita,berapapun besarnya, tetapi jika kita ingin membalas kebaikan Tuhan, Alkitab menganjurkan kita untuk melakukannya melalui berbuat kebaikan  kepada orang lain yang membutuhkan. Kita pun seharusnya mampu mencapai sebuah tingkatan seperti apa yang dikatakan Paulus: “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35).

Tuhan begitu peduli pada kita. Dia sudah mengasihi kita dengan kasih yang begitu luar biasa besarnya. Sekarang giliran kita, apakah kita mampu menyalurkan kasih Tuhan yang ada dalam diri kita itu lewat kepedulian kita terhadap sesama? Apakah kita sudah melakukan perbuatan baik kepada mereka yang membutuhkan atau kita masih terus menunda-nunda untuk melakukannya dengan berbagai dalih? Janda miskin yang hanya memiliki harta dua peser dalam Markus 12:41-44 mungkin masuk dalam kategori tidak sanggup dalam penilaian kita, tetapi ternyata ia masih sanggup memberi dari kekurangannya. Mari periksa diri kita, adakah sesuatu yang mampu kita berikan hari ini kepada mereka yang kesulitan, mereka yang sebenarnya berhak menerimanya? Jika ada jangan tunda lagi, lakukan hari ini juga.

Don’t wait till tomorrow what you can do today

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Pilih Sedih atau Tertawa?

Ayat bacaan: Pengkotbah 7:3
=====================
“Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega.”

sedih atau tertawaMana lebih baik, bersedih atau bergembira? Saya yakin jika ini ditanyakan kepada orang, hampir semua jawaban akan memilih untuk bergembira. Saya coba tanyakan kepada seorang teman, dan ia menjawab “hanya orang bodoh yang lebih memilih untuk sedih.” Tidak ada satupun orang yang mau berada dalam kesedihan dalam hidupnya. Kalau bisa hidup ini paling enak jika hanya berisi kegembiraan. Penuh canda tawa, tanpa masalah dari awal hingga akhir. Tetapi benarkah itu? Alkitab ternyata menyatakan justru sebaliknya. Dan ini bisa kita lihat dalam kitab Pengkotbah. Dibuka dengan judul perikop “Hikmat yang benar”, yang berisikan beberapa hikmat esensial yang penting untuk kita ingat, salah satu ayatnya berbunyi kontroversial. “Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega.” (Pengkotbah 7:3).

Bersedih itu dikatakan lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram akan membuat hati lega. Tidakkah ini terdengar aneh? Mungkin aneh bagi kita yang menganggap sebuah kesedihan itu hanyalah sesuatu yang menyiksa, tetapi sesungguhnya ada banyak hal yang bisa kita peroleh dibalik sebuah kesedihan. Dalam bahasa Inggris dikatakan “Sorrow is better than laughter, for by the sadness of the countenance the heart is made better and gains gladness.” Ada sesuatu dibalik kesedihan yang bisa membuat hati kita lebih baik dan mampu beroleh sukacita. Demikianlah bunyi firman Tuhan mendobrak paradigma yang selama ini kita anggap benar. Dan ayat ini sudah ditulis lewat orang yang paling berhikmat yang pernah ada di muka bumi ini, yaitu Salomo.

Jika kita membaca ayat selanjutnya, kita akan mendapati ayat yang berbunyi lebih aneh lagi. “Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.” (ay 4). Dimana kita lebih suka berada? Di rumah duka atau pesta? Tentu kita lebih memilih berada dalam sebuah pesta meriah, penuh dengan sajian makanan lezat, musik dan keceriaan. Tetapi firman Tuhan berkata justru sebaliknya. Hanya orang bodohlah yang lebih memilih tempat bersukaria ketimbang berada di rumah duka. Ini mungkin sulit untuk kita terima jika tidak kita pikirkan. Tetapi marilah kita melihat mengapa kedua ayat ini lebih menganjurkan kita untuk bersedih dan berada di dalam rumah duka.

Apa yang kita pikirkan ketika pesta? Kebanyakan dari kita tentu lebih tertarik kepada makanan yang disajikan. Apa isi dari stal-stal disamping meja prasmanan yang penuh dengan sajian utama, musiknya bagus atau tidak dan sebagainya. Sebaliknya, berada di rumah duka seringkali membawa sebuah perenungan bagi kita, bahwa hidup ini sesungguhnya singkat saja. Life is short! Pemazmur menulis “Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang lewat.” (Mazmur 144:4). Seperti itulah singkatnya. Berapa lama? Alkitab berkata masa hidup kita tujuh puluh tahun, dan jika kuat, delapan puluh tahun. (90:10). Tujuh puluh tahun, kalau mujur, 80 tahun. That’s it. Dibanding kehidupan kekal setelahnya sungguh sangat singkat. Alangkah sia-sianya jika masa hidup yang singkat itu kita buang tanpa diisi dengan sesuatu yang berguna, terutama untuk menabung demi kehidupan yang kita tuju selanjutnya. Betapa kita seringkali terlena dan lupa akan hal ini ketika kita sedang berada dalam keadaan senang. Tetapi berada di rumah duka biasanya akan membawa perenungan bagi kita bahwa hidup ini sesungguhnya singkat, hanya bagai angin, hanya bagai bayang-bayang yang berkelebat. Itulah sebabnya dikatakan lebih baik berada di rumah duka ketimbang di rumah bersukaria.

Dalam kesedihan kita bisa belajar banyak. Kita bisa belajar untuk lebih kuat, lebih tegar, kita bisa belajar mengandalkan Tuhan lebih dari segalanya, kita bisa belajar lebih sabar dan tabah. Ini adalah hal-hal yang jarang bisa kita peroleh lewat kegembiraan. Kegembiraan seringkali membawa kita terlena dan lupa kepada hal-hal yang esensial atau penting dalam kehidupan yang singkat ini. Ada banyak hal di balik sebuah bentuk kesedihan yang akan mampu membuat kita bertumbuh lebih baik dan lebih kuat. Karena itu ketika Tuhan mengijinkan kita untuk masuk ke dalam keadaan sedih, janganlah bersungut-sungut dan menuduh Tuhan sedang berlaku kejam kepada kita. Justru disaat seperti itulah kita sedang dilatih untuk lebih baik lagi, sedang diajar untuk mengalami peningkatan baik dari segi iman maupun sikap dan perilaku kita sebagai pribadi.

“To everything there is a season, and a time for every matter or purpose under heaven”, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkotbah 3:1). Ada berbagai “musim” dalam hidup kita yang mau tidak mau harus kita hadapi. Termasuk salah satunya dikatakan “ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari.” (ay 4). Ada saat dimana kita bisa bergembira, tetapi ada pula saat dimana kita masuk ke dalam waktu untuk menangis dan meratap. Ini bukanlah waktu dimana Tuhan sedang bertindak kejam dan senang menyiksa kita. Ketika kita sedang berada dalam sebuah kesedihan, disanalah kita bisa belajar banyak dan sadar bahwa kita seharusnya mengisi hidup kita yang singkat ini dengan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama maupun bagi masa depan kita. Jangan sia-siakan waktu bersedih hanya dengan mengeluh dan menangis, tetapi pakailah masa-masa itu untuk melakukan perenungan secara menyeluruh. Sadarilah bahwa ada banyak pelajaran yang bisa kita petik di balik sebuah kesedihan. Karena itu, jika Tuhan mengijinkan saya dan anda untuk berada dalam keadaan bersedih, bersyukurlah untuk itu.

Firman Tuhan berkata “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18) Kita seharusnya bersyukur bukan hanya ketika semua baik-baik saja, tetapi juga ketika kita sedang mengalami sebuah kesedihan. Dibalik sebentuk kesedihan ada banyak manfaat yang bisa membuat kita menjadi lebih baik lagi termasuk di dalamnya mengalami pertumbuhan iman. Ada waktu dimana kita bersedih, pakailah itu sebagai momen untuk memperbaiki diri dan kembali menyadari esensi dari sebuah kehidupan yang dipercayakan Tuhan kepada kita, sehingga ketika waktu untuk tertawa datang kita tidak akan terlena melupakannya. Apakah anda sedang berada dalam “musim” sedih hari ini? Jika ya, jangan patah semangat, jangan putus asa, tetapi bersyukurlah untuk itu.

Ada banyak pelajaran yang dapat kita petik dibalik sebuah kesedihan

Lebih Baik Bersyukur

Ayat bacaan: Roma 12:18
=======================
“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”

lebih baik bersyukurMake the world as a better place. Impian menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih nyaman pasti menjadi impian semua orang. Kita menyesalkan berbagai peperangan, perselisihan, pertikaian yang terjadi di mana-mana, sementara kita lupa bahwa kita pun sebenarnya punya andil yang tidak kalah penting dalam membuat dunia ini menjadi lebih nyaman atau semakin buruk untuk ditinggali. Bagaimana bisa? Bukankah kita tidak berperang dengan orang lain? Mungkin kita tidak sedang berperang melawan orang, itu benar, tapi secara tidak sadar kita seringkali dengan mudahnya memupuk kebencian terhadap orang lain. Kita mudah marah dan gampang mengeluarkan kata-kata yang penuh dengan caci maki, menghujat atau mengomentari orang lain dengan sinis. Kita mudah untuk merasa iri terhadap kesuksesan orang lain, bahkan tidak sedikit orang yang berlaku kasar kepada istri dan anak-anaknya sendiri. Alasan stres kerja, tekanan di kantor dan sebagainya bisa jadi dipakai sebagai alasan pembenaran tindakan yang sama sekali tidak baik ini. Kita lebih mudah mengkritik ketimbang memuji. Kita lebih mudah untuk sinis ketimbang dengan tulus mengakui kelebihan orang lain. Jika demikian, bagaimana mungkin kita bisa memimpikan sebuah tatanan dunia yang ramah, damai dan penuh kasih, jika kita sendiri tidak bisa melakukan sesuatu untuk itu?

Sesungguhnya pesan Tuhan begitu jelas bagi kita. Apapun alasannya, kita selalu dianjurkan untuk berdamai. Dan ini berlaku untuk kita jalankan kepada siapapun tanpa terkecuali. Firman Tuhan berkata: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18). Dengan semua orang. Bukan hanya kepada saudara/saudari seiman, tetapi semua orang, termasuk dengan orang yang berbeda, orang yang sulit, bahkan orang yang menyinggung atau menyakiti kita sekalipun. Karena berdamai dengan orang baik tentu gampang, tapi untuk bisa tetap menjaga perdamaian dengan orang yang sulit untuk diajak akur, itulah yang sulit, dan justru itu yang harus mampu kita lakukan. Mengapa demikian? Sebab tidak ada tempat bagi pemarah, pendendam, sirik, iri hati dan hal-hal jeleknya dalam kasih, hal esensial yang menjadi inti dasar dari kekristenan. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7).

Dalam Efesus kita menjumpai firman Tuhan yang berbunyi: “Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono–karena hal-hal ini tidak pantas--tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. (Efesus 5:4). Ya, bukankah jauh lebih baik bagi kita untuk mengucap syukur ketimbang mengeluarkan kata-kata sia-sia atau hujatan, cacian dan makian? Harus kita sadari bahwa memang dari mulut yang sama bisa keluar keduanya. Dan Alkitab dengan tegas mengingatkan kita bahwa apa yang keluar dari mulut kita berasal dari hati. “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” (Lukas 6:45). Dalam kesempatan lain Yesus kembali berkata: “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.” (Matius 15:18). Oleh karena itulah untuk mencegah diri kita untuk terus dikuasai kebencian, iri hati dan emosi, kita harus mampu menjaga hati kita. Mengucap syukur, menaikkan pujian kepada Tuhan, akan membuat hati kita senantiasa dalam kondisi sejuk sehingga yang keluar dari mulut kita pun bukan lagi hal-hal jelek yang mampu membuat kita semakin jauh dari kata damai terhadap orang-orang di sekeliling kita.

Jika diantara kita ada yang terbiasa untuk berbicara kasar, membiarkan diri dikuasai kebencian dan iri hati, mulailah mengubah kebiasaan itu sekarang juga. Bila ada orang yang menyakiti, merugikan atau merintangi anda di kantor, di sekolah atau di mana saja, dan itu mulai membuat anda tergoda untuk segera mencabik-cabik mereka, mengumpat dengan kata-kata kasar atau mendendam, segera kuasai diri anda. Luangkan waktu sesegera mungkin untuk mengucap syukur dan memuji Tuhan. Segera pikirkan segala kebaikan Tuhan. Segera penuhi hati anda dengan ucapan syukur, dan itu akan selalu mampu membuat anda tenang kembali dan terhindar dari kebencian kepada siapapun, termasuk kepada orang yang menyakiti anda secara langsung. Adalah penting bagi kita untuk terus menjaga hati kita agar tetap dalam kondisi yang tepat di mata Tuhan. Tidak heran jika pesan Paulus pun mengingatkan hal ini. “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” (Kolose 4:2). Mari kita senantiasa melatih lidah kita untuk menaikkan pujian, mengisi hati kita selalu dengan kebaikan Tuhan yang mampu membuat mulut kita mengeluarkan ucapan syukur dalam situasi dan kondisi apapun. Hidup berdamai tidak akan sulit lagi bagi kita, meski ketika berhadapan dengan orang-orang yang luar biasa sulit sekalipun. Ingin dunia menjadi tempat tinggal yang nyaman? Mulailah dari diri kita sendiri.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)

Going the Extra Mile

Ayat bacaan: Matius 5:41
========================
“Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.”

mil keduaDalam bekerja kita sering berhadapan dengan deadline, yaitu masa dimana apa yang kita kerjakan harus sudah rampung. Ini adalah realita yang akan dihadapi ketika seseorang masuk ke dalam dunia pekerjaan profesional, dan hal ini selalu saya tekankan kepada para siswa-siswi saya. Dan saya pun melatih mereka agar serius memandang deadline lewat syarat pengumpulan tugas yang tepat waktu, tidak molor sedikitpun. Tidak semua siswa patuh terhadap hal ini, karena seperti kebiasaan banyak manusia, mereka selalu bersantai-santai dahulu, kemudian kalang kabut mengerjakan ketika waktu sudah mepet. Akibatnya seringkali tugas itu belum rampung pada saatnya. Ketika seharusnya tugas itu sudah dikumpulkan, mereka kedapatan masih sibuk mengerjakan.

Sudah menjadi sifat kebanyakan manusia untuk tidak serius mengerjakan sesuatu sejak awal. Kesibukan dan keseriusan baru akan muncul ketika deadline sudah mepet, dan akhirnya apa yang dikerjakan pun seringkali tidak sempurna alias hanya seadanya, ala kadarnya. Padahal firman Tuhan menegaskan bahwa kita haruslah melakukan segala sesuatu dengan serius. Tidak hanya serius, bahkan dikatakan bahwa kita harus melakukan lebih dari yang seharusnya. Dan inilah yang dikenal dengan sebutan “going the extra mile”.

Yesus berkata “Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.” (Matius 7:41). Bagi kita mungkin berjalan satu mil saja sudah berat, kalau bisa setengahnya saja atau tidak usah sama sekali. Tetapi Tuhan menginginkan kita untuk melakukan lebih dari itu, menambah satu mil lagi.

Bagaimana caranya? Ada banyak contoh yang mungkin bisa kita pakai sebagai bentuk aplikasi dari going extra mile ini. Misalnya jika dahulu mencuri, setelah menerima Yesus bukan saja berhenti mencuri, tetapi tingkatkan hingga memberi. Jika dahulu mudah marah dan membenci, sekarang bukan saja berhenti membenci dan mengurangi emosi, tetapi tingkatkan hingga bisa mengasihi. Ini baru dua contoh dari sekian banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai aplikasi nyata dari going extra mile dalam kehidupan kita sehari-hari.

Mengapa kita harus berjalan lebih dari yang diharuskan? Ayat 48 memberikan alasannya. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”. Untuk menjadi sempurna kita tidak bisa setengah-setengah, tidak cukup melakukan ala kadarnya, tetapi keseriusan yang sungguh-sungguh haruslah menjadi gaya hidup kita. Tanpa itu niscaya kita tidak akan pernah bisa menjadi sempurna. Salah satu gambaran yang jelas mengenai going extra mile ini bisa kita lihat dalam hal menghadapi musuh, seperti yang tertulis dalam Lukas 6:27-36. Perhatikan firman Tuhan berikut: “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.” (ay 32-34). Kalau kita puas dan berhenti sampai disitu saja, lantas apa bedanya kita dengan orang lain? Ada seruan penting yang harus kita ingat bahwa dalam perjalanan hidup kita ini, kita harus berjalan menuju kesempurnaan seperti halnya Bapa. We are going towards it, and for that we are told to walk extra mile.

Dalam Efesus kita bisa melihat aplikasi dalam dunia pekerjaan. “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.” (Efesus 6:5-7). Jangan cuma rajin ketika diperhatikan, atau ketika diiming-imingi bonus saja, tetapi lakukanlah apapun yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan. Ini contoh lain dari menjalani mil kedua. Bagaimana dalam hal rohani? Kita sudah diselamatkan, oleh karena itu kita harus menjaga diri kita agar tetap berjalan dalam koridor firman Tuhan, sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Tetapi kita tidak berhenti disana, karena seharusnya kita pun terpanggil untuk peduli kepada keselamatan orang lain. Membawa orang yang tersesat kembali kepada Tuhan, membawa jiwa-jiwa untuk bertobat, memberi kepada yang membutuhkan dengan sifat murah hati berdasarkan kasih dan sebagainya. 

Terlalu cepat puas dengan usaha ala kadarnya tidak akan pernah membawa kita untuk menapak ke arah kesempurnaan seperti yang dikehendaki Tuhan. Melakukan sesuatu setengah-setengah tidak akan membuat kita mampu menjadi terang di dunia. Yesus mengajarkan murid-muridNya termasuk kita untuk mau berjalan lebih, to go the extra mile. Dan inilah yang seharusnya membedakan kita dari kehidupan orang dunia. Ketika mil pertama mengacu kepada kewajiban, mil kedua itu mengacu kepada kasih. Orang-orang yang berjalan hingga mil kedua adalah orang yang mau melakukan lebih dari sekedar kewajiban dan meneruskannya dengan melakukan atas dasar kasih. Siapkah anda? Let’s move on to the next mile!

1 mile is not enough, we have to take the next step towards the next one

Memberitakan Firman

Ayat bacaan: 2 Timotius 4:2
========================
“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”

memberitakan firmanSebuah stiker bertuliskan “The way, the truth, the life..Jesus” tertempel di kaca belakang sebuah mobil yang tepat berada di depan saya. Sepanjang kemacetan pun mata saya tertumpu pada stiker yang berukuran cukup untuk bisa dibaca oleh pengendara di belakangnya. Betapa simpelnya, pikir saya, untuk mewartakan Injil seperti ini. Si pemilik hanya menempel sebuah stiker yang menyampaikan firman Tuhan seperti yang tertulis dalam Yohanes 14:6, dan stiker itu akan berbicara banyak kepada siapapun yang melihatnya tanpa memerlukan si pemilik untuk repot-repot menginjili orang secara langsung. Seringkali kita punya ribuan alasan untuk menolak memberitakan kabar gembira kepada orang. Segala keterbatasan pun akan mudah kita berikan. Takut, tidak tahu caranya, tidak mengerti terlalu banyak, tidak pintar ngomong, sudah terlalu sibuk dan lain-lain. Padahal sebuah cara yang sangat sederhana seperti apa yang dibuat pemilik mobil di depan saya pun sebenarnya bisa menjadi sebuah cara untuk menyampaikan firman Tuhan.

Sebuah pesan Paulus yang amat penting disampaikan kepada Timotius. “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2 Timotius 4:2). Mengacu kepada pesan ini, kita bisa melihat bahwa tugas untuk menyampaikan firman itu bukanlah hanya di saat kita punya waktu saja, atau ketika memungkinkan, tetapi harus senantiasa mengikuti hidup kita. Baik atau tidak baik waktunya, kita harus selalu siap sedia. Dan pesan ini penting adanya, karena sesaat sebelum Tuhan Yesus naik ke Surga, Dia pun menyampaikan sebuah Amanat Agung yang wajib dilaksanakan oleh semua orang yang beriman kepadaNya. “Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20). Lihatlah bahwa kita tidak melakukannya sendirian, tetapi ada penyertaan Tuhan yang memampukan kita untuk melakukan itu. Bukan bisa atau tidak, tapi bersedia atau tidak, itulah yang penting.

Sebuah contoh menyampaikan firman Tuhan pada saat yang bagi kita dianggap sebuah waktu yang sungguh tidak tepat bisa kita baca dalam Kisah Para Rasul. Mari kita lihat ketika Paulus dan Silas dipenjara setelah mengalami siksaan sebelumnya. Dalam keadaan kesakitan, mereka dipasung dan diletakkan dalam ruang penjara terdalam. Bukankah itu adalah saat yang sangat tidak baik untuk mewartakan firman Tuhan? Kita mungkin akan meratap kesakitan, menggigil kedinginan atau gemetar ketakutan jika itu terjadi pada diri kita. Tetapi perhatikan apa yang dilakukan Paulus dan Silas pada waktu itu. “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.” (Kisah Para Rasul 16:25). Yang terjadi selanjutnya sungguh ajaib. Sebuah gempa hebat terjadi, dan mereka pun lepas dari belenggu. Mukjizat malam itu tidak berhenti sampai disitu saja, karena kemudian kita mengetahui terjadi pertobatan kepala penjara dan seisi rumahnya. Si kepala penjara bertanya apa yang harus ia perbuat agar selamat. “Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” (ay 31). Paulus dan Silas pun kemudian menyampaikan firman Tuhan kepada seluruh keluarga kepala penjara. “Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya.” (ay 32), dan memberi diri mereka dibaptis. (ay 33). Dari kisah ini kita bisa melihat bagaimana firman Tuhan itu sanggup menyelamatkan dan memerdekakan, dan itu hadir pada saat yang sulit, dimana kita akan beranggapan bahwa itu bukanlah saat yang tepat.

Di pundak kita semua pesan yang sama ini telah disematkan. Baik atau tidak baik waktunya, kita harus selalu siap sedia menyampaikan kebenaran firman Tuhan. Ketika kita memikirkan betapa sulitnya atau mungkin berbahayanya menjadi duta Kerajaan Allah untuk menyampaikan berita keselamatan, kita bisa belajar dari keteladanan yang ditunjukkan oleh Paulus dan Silas ini. Caranya pun bisa seribu satu macam. Mungkin kita tidak bisa berkotbah, tapi mungkin kita bisa menulis. Jika tidak bisa menulis, kita bisa menyanyi, dan sebagainya. Sekedar menyampaikan kesaksian bagaimana sukacitanya hidup yang selalu berada dalam lindungan Tuhan pun bisa menjadi berkat buat banyak orang. Bahkan seharusnya terang Kristus bisa tercermin dari cara hidup kita, tingkah laku, perkataan, perbuatan dan gaya hidup kita, dan itupun bisa menjadi cara tersendiri untuk menyatakan bagaimana luar biasanya ketika kasih Kristus berada dalam diri kita. Apa yang menjadi tugas kita adalah menyampaikan firman Tuhan, dan biarkanlah firman itu kemudian berjalan sendiri dengan kuasaNya untuk menjangkau jiwa-jiwa. Sebab Tuhan berkata: “Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” (Yesaya 55:10-11). Mari kita perhatikan orang-orang disekeliling kita hari ini. Adakah yang membutuhkan penghiburan dan siraman firman Tuhan? Sudahkah kita peduli kepada mereka? Tetaplah siap sedia untuk memberitakan firman, meski waktunya baik ataupun tidak.

Firman Tuhan tidak akan kembali sia-sia, mari berkati lebih banyak orang lagi dengan firman Tuhan

Seribu Satu Cara

Ayat bacaan: Yesaya 55:8-9
=======================
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

seribu satu cara TuhanRumah saya terbilang cukup jauh dari kota. Beberapa ruas jalan akan diliputi kemacetan pada jam-jam tertentu, sehingga waktu tempuh pun menjadi semakin panjang. Tapi ada banyak jalan alternatif yang terus saya temukan sejak pindah hingga hari ini, sehingga saya bisa menghindari kemacetan dengan melewati beberapa ruas jalan kecil yang mungkin tidak diketahui banyak orang. Hari ini pun sama, saya melewati jalan-jalan alternatif tersebut agar tidak terjebak kemacetan di jalan utama. Dan ketika itulah saya berpikir, seandainya manusia saja punya banyak alternatif untuk mengatasi sebuah masalah, apalagi Tuhan. Apa yang Dia sanggup sungguh jauh lebih besar dari kemampuan nalar atau logika kita. Dan itu sudah terbukti berabad-abad pada begitu banyak orang yang tidak lagi terhitung jumlahnya. Miracle, atau keajaiban akan sangat mudah ketika berada di tangan Tuhan.

Ketika saya membaca ayat bacaan diatas hari ini: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8-9), saya mengerti bahwa ayat ini berbicara sangat besar. Ini adalah ayat yang menunjukkan betapa besarnya Allah yang tidak akan mampu terselami dengan kemampuan akal kita yang begitu terbatas. Kita boleh hebat dengan menciptakan teknologi dan terus berkembang maju di segala bidang, tapi tetap saja kita tidak akan pernah mampu mencapai tingkat seperti Tuhan. Kita tahu bahwa Tuhan selalu rindu untuk memberkati dan menolong anak-anakNya, itu benar, dan kita harus tahu pula bahwa Tuhan punya seribu satu cara untuk menggenapinya. Acap kali cara yang dipakai Tuhan itu ajaib, tidak pernah terpikirkan oleh kita, tidak terselami, bahkan tidak mampu dipecahkan dengan akal logika kita.

Lihatlah beberapa contoh yang terdapat di dalam Alkitab. Coba lihat bagaimana Tuhan menolong Elia lewat burung-burung gagak yang membawa roti dan daging setiap pagi dan petang ketika ia berada di sungai Kerit. (1 Raja Raja 17:1-6). Lalu lihatlah bagaimana Tuhan menolong seorang janda yang terjerat hutang lewat sedikit sisa minyak yang ia miliki. Tuhan sanggup mengisi bejana-bejana hingga melimpah, lalu menyuruh perempuan itu untuk pergi menjual minyak untuk menutupi hutangnya. Bahkan begitu melimpah sehingga si janda masih memiliki sisa uang yang bisa ia pakai untuk menghidupi dirinya dan anak-anaknya. (2 Raja Raja 4:1-7). Masih ingatkah anda dengan kisah Perkawinan di Kana dimana Yesus mengatasi masalah kehabisan anggur hingga berlimpah-limpah? (Yohanes 2:1-11), atau mengenai penggandaan lima roti dan dua ikan yang dimiliki seorang anak kecil untuk memberi makan lebih dari 5000 orang? (Matius 14:13-21). Ini baru beberapa contoh saja, karena ada ratusan contoh di dalam Alkitab yang mencatat bagaimana bervariasinya perbuatan ajaib yang dilakukan Tuhan untuk menolong dan memberkati anak-anakNya. Hingga hari ini pun berbagai mukjizat yang ajaib masih bisa kita saksikan. Orang sakit disembuhkan, rumah tangga atau diri seseorang dipulihkan dan sebagainya, bahkan orang mati yang bangkit kembali pun masih juga terdengar hingga hari ini. Tuhan sanggup, lebih dari sanggup menolong anak-anakNya dengan seribu satu cara sampai kapanpun.

Paulus menuliskan kepada jemaat Roma seperti berikut: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Roma 11:33). Tidak ada satupun manusia, sepintar apapun, yang akan sanggup mengukur cara-cara yang dipakai Tuhan. Paulus pun melanjutkan “Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” (ay 34). Alangkah sia-sianya jika kita terus menerka-nerka bagaimana Tuhan sanggup menolong kita untuk lepas dari masalah yang tengah kita gumuli hari ini. Alangkah ironisnya jika kita merasa putus asa bahwa masalah kita tidak akan mampu terpecahkan. Kita bisa memakai logika kita yang paling muktahir untuk menganalisa problema yang tengah kita hadapi hari ini, dan mungkin logika kita berkata bahwa apa yang kita alami tidak lagi memiliki pemecahan atau jalan penyelesaian, namun di tangan Tuhan tidak ada yang mustahil! Segalanya mungkin, dan Tuhan bisa memakai orang-orang atau hal-hal yang tidak pernah terpikirkan bagi kita untuk menjadi saluranNya dalam menolong atau memberkati kita. Kita tidak akan pernah bisa mengukur Tuhan. Jarak antara kemampuan logika kita dan kemampuan Tuhan itu bagaikan bumi dan langit, tidak terselidiki, tidak terselami.

Berabad-abad yang lampau Pemazmur sudah menyadari hal itu. Pemazmur berkata: “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu.” (Mazmur 77:12-13). Dan kabar baiknya, keajaiban Tuhan itu masih berlanjut hingga hari ini, dan akan terus terjadi sampai kapanpun. Jika demikian, mengapa kita harus gentar menghadapi masalah seberat apapun yang tengah menghimpit kita hari ini? Teruslah hidup dalam pengharapan dan kepercayaan penuh dalam Tuhan. Lakukan bagian kita, dan pada saatnya nanti Tuhan akan bertindak dengan cara-cara yang ajaib, yang tidak terselami atau tidak terselidiki, tidak terbayangkan dan tidak terpikirkan oleh kita. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!” (Wahyu 15:3b).

God can bless us in many creative ways

Kesesuaian antara Perkataan dan Perbuatan

Ayat bacaan: Efesus 6:4
=====================
“Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

kesesuaian antara perkataan dan perbuatanAdalah lebih mudah untuk menjadi pengajar namun tidak gampang untuk menjadi pendidik. Maksud saya begini. Ketika kita menjalani profesi sebagai pengajar, yang diperlukan adalah kemampuan kita untuk mentransfer ilmu kepada anak didik kita. Jika proses itu berhasil menambah ilmu mereka, maka proses mengajar itu pun dikatakan sukses. Namun sebagai pendidik ada banyak lagi proses yang harus kita cermati. Kita harus tahu betul karakter dan sifat masing-masing anak, mengetahui kelemahan-kelemahan mereka dan berusaha menambalnya. Selama pengalaman saya menjadi dosen saya melihat bahwa seringkali proses mendidik ini lebih ditekankan kepada faktor diluar kurikulum pelajaran. Ada banyak anak yang sebenarnya tidak bermasalah dengan kemampuan menyerap ilmu, tetapi mereka bermasalah dari segi mental dan keberanian. Tidak jarang yang harus dibenahi justru di sektor ini karena kemampuan mereka sering terhambat oleh faktor non teknis. Satu lagi yang sangat penting untuk diperhatikan sebagai pendidik adalah bagaimana agar apa yang kita katakan dan ajarkan itu selalu selaras atau sejalan dengan sikap, perilaku atau perbuatan kita sendiri. Bagaimana mungkin orang mau mendengarkan nasihat kita jika kita sendiri tidak melakukannya? Kesesuaian antara perkataan dan perbuatan adalah sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pendidik. Menjadi teladan itu wajib bagi pendidik.

Kemarin saya sudah menyinggung bagaimana untuk mendisiplinkan anak yang sesuai dengan firman Tuhan. Tuhan ingin kita mendidik anak-anak kita dengan caraNya. Ketika Tuhan menghajar kita demi kebaikan kita dan bukan karena ingin menyiksa, ketika Tuhan menghajar kita karena Dia mengasihi kita, seperti itu pula kita seharusnya mendidik anak-anak kita. Jika hukuman terpaksa diberikan maka berikanlah, tetapi ingat bahwa dasarnya harus karena kasih, demi kebaikan mereka dan bukan karena kita hanya ingin menjadikan mereka sebagai pelampiasan amarah kita. Satu hal penting lainnya yang seringkali dilupakan oleh para orang tua adalah sinkronisasi atau kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Ada begitu banyak orang tua yang hanya tahu memerintah tetapi hidup mereka sendiri tidaklah mencerminkan apa yang mereka ajarkan kepada si anak. Sebuah contoh kecil, jika seorang ayah mengajarkan anaknya agar jangan menyakiti teman-temannya, tetapi di sisi lain ia terus saja berlaku kasar kepada istri dan anak-anaknya, bagaimana mungkin si anak bisa memahami apa yang diajarkan? Kebingungan akan melanda mereka, dan mungkin juga marah karenanya. Dan biasanya, orang-orang yang kerap berlaku kasar terhadap orang lain adalah orang-orang yang kehidupan masa kecilnya dalam rumah tangga penuh dengan kekerasan pula. Berbagai dalih dengan mudah dikeluarkan oleh orang tua dengan menyepelekan anaknya. “Ah, tahu apa kamu.. kamu masih kecil!” Atau perkataan yang membenarkan perbuatan salah dan memaksakan anak untuk menerima semuanya mentah-mentah. “Saya kan orang tuamu, terserah saya dong! Kamu harus nurut!” Sesungguhnya sikap seperti ini bukanlah gambaran yang dikehendaki Allah untuk dilakukan oleh para orang tua.

Firman Tuhan berkata “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4). Ini adalah dasar penting bagi para orang tua, karena seringkali sadar atau tidak kita sebagai orang tua melupakan faktor kesesuaian antara perkataan dan perbuatan kita. Ini bisa mendatangkan kebingungan bagi anak-anak kita, dan mereka pun bisa marah karena hal tersebut. Kebencian, dendam, kepahitan, semua ini bisa tumbuh dalam diri mereka sejak kecil jika kita tidak menjaga sikap, tingkahlaku dan perbuatan kita ditengah mereka. Apa yang kita ajarkan haruslah sesuai dengan perilaku kita. Menjadi contoh nyata merupakan keharusan bagi setiap orang tua. Bukan hanya berhenti sampai mengajarkan moral, budi pekerti dan kerohanian, tetapi kita harus pula siap untuk menjadi teladan dari itu semua. Hanya dengan demikianlah anak akan mampu menyerap semuanya dan hidup dengan keteladanan orang tuanya hingga masa tua mereka nanti.

Sebenarnya bukan hanya dalam hal mendidik anak saja, tetapi dalam segala hal kita haruslah menyamakan perkataan dan perbuatan kita, termasuk dalam hal rohani. Kita bisa berkoar-koar memiliki iman, tetapi jika gaya atau cara hidup kita tidak mencerminkan apa yang kita katakan, bagaimana mungkin orang bisa percaya? Dilihat orang rajin berdoa panjang-panjang, tetapi kita hidup dalam kecemasan, kecurigaan atau kesinisan. Rajin beribadah namun isi perkataan kita hanyalah iri hati dan hujatan. Seharusnya tidak seperti itu, karena firman Tuhan berkata iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20) bahkan mati. (ay 26). Sebelum kita mulai mendidik anak-anak kita atau menjadi terang dan garam bagi sekeliling kita, kita harus terlebih dahulu mencermati apakah diri kita sudah menggambarkan apa yang ingin kita sampaikan mengenai kebenaran.

Alkitab berulang kali menyinggung soal pentingnya mempraktekkan atau melakukan kebenaran-kebenaran firman Tuhan yang telah kita baca atau dengar dalam kehidupan sehari-hari. Membaca itu baik, mendengarkan itu baik, merenungkan itu lebih baik lagi, tetapi yang lebih penting adalah melanjutkan apa yang telah kita baca, dengar dan renungkan itu dengan aplikasi nyata dalam kehidupan kita. Dalam surat Yakobus kita bisa membaca demikian: “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” (Yakobus 1:25). Sebagai orang tua, marilah kita membenahi diri untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan dan menjadi teladan bagi anak-anak kita. Berhentilah mencari pembenaran-pembenaran di hadapan mereka ketika berbuat salah, dan mari didik mereka dengan kasih, seperti halnya Tuhan mendidik kita dengan kasihNya yang sempurna. Masa depan mereka sangat tergantung dari bagaimana sikap hidup kita. Siapkah anda menjadi orang tua teladan di mata mereka?

Sesuaikan perkataan dan perbuatan kita agar selalu selaras dan jangan sampai membingungkan anak-anak kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Berdoa dengan Ucapan Syukur

Ayat bacaan: Filipi 4:6
=======================
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

berdoa dengan ucapan syukurBagaimana kehidupan yang kita jalani setelah memasuki bulan ke 4 di tahun 2010 ini? Bagi sebagian orang hidup di tahun ini mungkin lebih berat dibanding tahun sebelumnya. Setiap tahun hidup semakin sulit, dan pada kenyataannya memang dunia tidak pernah dikatakan akan menjadi semakin mudah. Seribu satu tekanan terus membebani kita, seribu satu masalah datang silih berganti bahkan menyerbu beriringan, dan kekhawatiran pun biasanya menjadi bagian hidup kita yang sulit terpisahkan. Sekali lagi, hidup tidaklah mudah. Kita selalu harus berjuang untuk mampu bertahan hidup di dunia yang sulit ini, apalagi bertahan menghadapi berbagai hal yang siap menghancurkan iman kita. Tapi haruskah kita terus hidup dibawah tekanan kekhawatiran? Tuhan tidak menginginkan satupun dari kita untuk merasakan itu. Tuhan tidak menginginkan kita untuk masuk ke dalam pola kehidupan dunia yang penuh dengan kecemasan. Apa yang diinginkan Tuhan adalah agar kita tidak takut, tidak khawatir, tidak perlu cemas, karena Allah siap menjadi tempat kita berlindung. Dia siap mendengar dan menjawab doa-doa kita. Tapi ada satu kunci yang seringkali kita lupakan, yaitu mengisi doa-doa kita dengan ucapan syukur.

Firman Tuhan yang saya jadikan ayat bacaan hari ini berbicara jelas mengenai hal tersebut. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6). Mengapa hal ini penting untuk diingat? Karena pada kenyataannya ada banyak di antara kita yang lupa untuk mengisi doa-doa kita dengan ucapan syukur. Mungkin kita memang memulai doa kita dengan ucapan terima kasih, tapi seberapa banyak yang benar-benar menghayati ucapan syukur itu secara sungguh-sungguh? Seringkali kita hanya sekedar terbiasa mengucapkannya sementara isi pikiran kita sudah langsung penuh dengan daftar permintaan sejak awal kita mulai berdoa. Tuhan tidak menginginkan yang seperti itu. Dia ingin kita terlebih dahulu percaya lewat iman kita. Dia ingin kita memulai doa kita tanpa diselimuti perasaan khawatir, lalu mengangkat permohonan kita dengan rasa percaya yang penuh, dan hanya itu yang memungkinkan kita untuk mampu mengisi doa dengan ucapan syukur yang sesungguhnya. Tuhan ingin rasa sukacita dalam diri kita tidak hilang dalam keadaan apapun, dan rasa sukacita itulah yang memampukan kita untuk bisa menaikkan puji-pujian dan rasa syukur kita.

Sukacita. Seperti apa sukacita itu? Ada banyak orang yang mengaitkan sukacita dengan kondisi yang tengah dialami saat ini. Tekanan, problema kehidupan, permasalahan dan pergumulan akan membuat sukacita berkurang atau malah hilang sama sekali. Sebaliknya hidup yang sedang tenang akan membuat kita mampu bersukacita. Itu bukanlah sukacita yang sebenarnya. Alkitab jelas berkata seperti ini: “Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!” (Nehemia 8:11b). Artinya, sukacita yang sesungguhnya bukanlah yang berasal dari apa yang kita alami, melainkan berasal dari Tuhan. Sukacita karena Tuhan, itulah yang menjadi perlindungan kita. Bukannya kita harus kehilangan sukacita karena tertimpa beban, namun justru sukacita itu seharusnya mampu memberikan sebentuk kekuatan tertentu yang memampukan kita bertahan bahkan keluar sebagai pemenang di tengah kesulitan apapun. Itulah sukacita yang sesungguhnya, dan itulah yang memampukan kita untuk terus mengucap syukur dengan tulus dan sungguh-sungguh dalam penghayatan penuh dalam doa kita, meski situasi dan kondisi sulit sekalipun tengah berkecamuk dalam hidup kita.

Itulah ucapan syukur yang dikehendaki Tuhan untuk hadir dari hati, memenuhi pikiran dan keluar dari mulut kita dalam berdoa menaikkan permohonan. Itulah yang memungkinkan kita untuk menerima jawaban dari Allah. Bukan sekedar ucapan syukur biasa, tetapi sebuah ungkapan syukur yang berasal dari hati terdalam kita, yang dipenuhi sukacita dan dihayati secara sungguh-sungguh. Naikkan dengan penuh ucapan syukur, dan jangan lupa pula, lakukan dalam nama Yesus. Sebab firman Tuhan berkata “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” (Kolose 3:17). Lalu kita pun diingatkan untuk “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” (4:2). Jangan pernah berhenti, putus asa atau hilang harapan. Teruslah bertekun dan tetaplah siaga sambil mengucap syukur kepada Allah, teruslah lakukan demikian hingga tiba saatnya dimana tangan Tuhan sendiri yang akan turun mengangkat anda keluar dari masalah dan mengabulkan permohonan-permohonan anda.

Kita tidak perlu khawatir meski berada dalam kondisi seperti apapun, karena kita punya Allah yang setia dan penuh belas kasih. Berada dalam himpitan masalah sekalipun bukan berarti kita harus cemas, karena sesungguhnya Tuhan tidak pernah sekalipun meninggalkan kita menghadapi itu semua sendirian. Rest your worries on Him. Tuhan mendengar dan siap mengabulkan permohonan kita. Tapi nyatakanlah itu dengan ucapan syukur yang sesungguhnya. Penuhi diri kita terlebih dahulu dengan iman yang disertai rasa percaya sepenuhnya, jangan biarkan sukacita Allah yang sejati hilang dari diri kita, lalu berdoalah. Betapa pentingnya ucapan syukur dalam hidup kita, bukan saja ketika hidup tengah tenang, tapi terlebih ketika guncangan demi guncangan tengah membuat kita terlempar kesana kemari. Itulah yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Tidak ada perkara mustahil untuk dilakukan Tuhan bagi kita orang percaya. Imanilah itu, dan berhentilah khawatir. Tetaplah bersukacita, penuhi doa anda dengan ucapan syukur yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Berhentilah memusingkan masalah dan mengisi doa hanya dengan sederet daftar permintaan, gantilah dengan ucapan syukur yang tulus dari hati. Percayalah bahwa Tuhan siap untuk mengabulkan permintaan anda, yang tersulit sekalipun.

Kecemasan menghambat doa kita, karena itu gantilah dengan ucapan syukur yang tulus yang berasal dari hati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Kerendahan Hati Yosua

Ayat bacaan: Yosua 3:10
=======================
“Lagi kata Yosua: “Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu..”

sombong, rendah hati“Bisa apa mereka tanpa saya?” kata seorang dosen di tempat saya mengajar pada suatu ketika. Ia sedang kesal karena merasa dikecewakan oleh kampus di tempat kami sama-sama mengajar. Memang ia merupakan salah satu dosen yang baik dalam mengajar, dan saya pun menyayangkan terjadinya peristiwa yang membuatnya kecewa seperti itu. Terkadang ketika kita kesal atau emosi, kita lupa untuk mengontrol kata-kata yang keluar. Seperti teman dosen ini, memang dia kecewa, tapi kata-kata yang keluar tidaklah baik untuk dikatakan. Ketika kita diberkati dengan talenta tertentu yang bisa membuat kita tampil baik dalam pekerjaan, adalah pantas jika kita syukuri. Namun jangan lupa, bahwa semua itu merupakan anugerah dari Tuhan dan bukan karena kehebatan diri kita sendiri. Kenyataannya ada banyak orang yang lupa diri ketika sudah sukses, dan mengira bahwa kehebatannyalah yang membuat semua itu terjadi. Tentu saja kita bekerja keras, berusaha dan belajar untuk bisa mencapai suatu tingkatan tertentu yang baik, tapi jangan lupa bahwa semua itu tetap merupakan berkat dari Tuhan. Memang apa yang dikatakan teman dosen saya itu merupakan luapan kekesalan, tapi jika tidak hati-hati, kita bisa terjerumus ke dalam kesombongan yang sama sekali tidak disukai Tuhan.

Nasihat untuk rendah hati telah berulang kali diingatkan kepada kita. Kepada jemaat Efesus firman Tuhan disampaikan lewat Paulus seperti ini: “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2). Kepada jemaat Filipi dikatakan “..tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri” (Filipi 2:3). Kepada jemaat Kolose berbunyi seperti ini: “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” (Kolose 3:12). Ada banyak lagi nasihat untuk rendah hati, dan ini penting bagi kita, karena “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6, 1 Petrus 5:5). Ada banyak orang yang terjatuh dalam dosa kesombongan setelah sukses, karenanya ketika kita mulai menapak naik, nasihat untuk rendah hati ini harus selalu kita ingat.

Berbicara mengenai kerendahan hati, kita bisa belajar salah satunya lewat sikap Yosua. Apa yang terjadi pada Yosua tidaklah kecil. Ia ternyata dipilih Tuhan untuk melanjutkan kepemimpinan Musa atas bangsa Israel. Ketekunan, kesetiaan dan imannya sudah teruji sejak semula ketika ia masih menjadi abdi Musa. Lalu Yosua pun dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa. Ini sebuah kehormatan yang sangat besar. Yosua bisa menjadi sombong karenanya, tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda kesombongan sama sekali.

Mari kita lihat sepenggal kisah ketika Yosua hendak memimpin bangsa Israel untuk menyeberangi sungai Yordan. (Yosua 3:1-17). Sebelum memasuki sungai Yordan, Tuhan berbicara kepada Yosua. “Dan TUHAN berfirman kepada Yosua: “Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau.” (ay 7). Tuhan menyatakan kepada Yosua bahwa sama seperti ketika Tuhan menyertai Musa untuk melewati Laut Merah, demikian pula Tuhan akan menyertai Yosua dalam memimpin bangsa Israel dalam menghadapi sungai Yordan. Setelah Yosua menerima pesan Tuhan itu, ia pun segera menyampaikan hal tersebut kepada bangsa Israel. Tapi perhatikan apa yang dikatakan Yosua kepada bangsa Israel. “Lagi kata Yosua: “Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu dan bahwa sungguh-sungguh akan dihalau-Nya orang Kanaan, orang Het, orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori dan orang Yebus itu dari depan kamu.” (ay 10). Perhatikan, Yosua tidak berkata “lihatlah hari ini kamu semua akan melihat bagaimana Tuhan membesarkan namaku, meninggikan aku ditengah-tengah kamu sekalian..” Yosua tidak berkata, “akulah yang terpilih, lebih tinggi dari kalian semua, dan jika kalian selamat itu semua berkat saya.” Tidak, sama sekali tidak. Apa yang dikatakan Yosua adalah “Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu.” Meski Yosua mungkin berhak mengulangi pesan Tuhan itu kepada bangsa yang dipimpinnya, tapi ia tidak melakukan itu. Yosua bersikap rendah hati dan menyadari betul bahwa bukan karena hebat atau kuat kuasanya bangsa Israel akan bisa melewati sungai Yordan, melainkan karena penyertaan Tuhan. Yosua memusatkan perhatian bukan kepada dirinya sendiri melainkan kepada Tuhan. Fokusnya hanyalah Tuhan satu-satunya yang dimuliakan dalam segala peristiwa yang pernah, sedang dan akan terjadi. Yosua memilih untuk tidak merebut apa yang menjadi hak Tuhan. Selanjutnya Yosua pun menjelaskan secara rinci bagaimana mereka harus menyeberang (ay 11-13), dan itu dia lakukan untuk menunjukkan bahwa apa yang akan terjadi bukanlah kebetulan semata, atau bukan karena kehebatan bangsa Israel atau dirinya sendiri, melainkan karena ada kuasa Tuhan yang bekerja untuk melindungi dan menyelamatkan mereka.

Ketika kita diberkati dan mengalami peningkatan, bersyukurlah kepada Tuhan. Berikan kemuliaan hanya bagiNya dan jangan merebut hak Tuhan dengan memegahkan diri sendiri. Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita dengan jelas “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5). Dan lewat Paulus firman Tuhan berkata: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” (1 Korintus 1:31). Bahkan jauh sebelumnya hal ini pun sudah diingatkan. “Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” (Yeremia 9:23-24). Tanpa Tuhan kita bukanlah apa-apa, karena meski kita wajib untuk bekerja keras dan melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, semua itu tetap dimungkinkan lewat anugerah Tuhan yang Dia berikan kepada kita. Hari ini ketika anda mengalami kemajuan dalam pekerjaan, promosi atau peningkatan-peningkatan lainnya, berikanlah kemuliaan hanya untuk Tuhan. Sudahkah anda memuliakan Tuhan atas segala anugerahNya atas diri anda hari ini?

Belajarlah dari kerendahan hati Yosua dan jangan rebut kemuliaan yang menjadi milik Tuhan

Lebih Dari Emas Murni

Ayat bacaan: Mazmur 119:127
=========================
“Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua.”

lebih dari emas murniSetiap hari menulis renungan untuk hadir di ruang baca teman-teman selama tiga tahun sudah saya jalani. Ada kalanya saya mendapatkan banyak masalah untuk bisa memastikan renungan hadir tepat waktu setiap harinya. Koneksi internet tidak jalan, tumpukan pekerjaan yang menyita waktu, kondisi sedang tidak fit dan sebagainya. Tapi puji Tuhan, hingga hari ini semua masih bisa berjalan dengan lancar. Sewaktu pindah rumah beberapa bulan yang lalu pun ternyata Tuhan masih memampukan saya untuk terus menulis secara rutin meski ada begitu banyak kendala yang harus dihadapi. Tidak jarang saya harus duduk di warnet hingga larut malam untuk menulis dan mem-publish renungan setiap harinya. Saya tidak ingin renungan harian menjadi renungan dua harian atau malah mingguan atau bulanan, karena saya tahu firman Tuhan itu sangatlah berharga. Sehari tanpa firman Tuhan akan sangat terasa, dan itu semakin saya sadari semenjak saya mulai aktif menulis tiga tahun yang lalu. Jika bagi saya siraman firman Tuhan itu begitu vital, saya yakin kepada teman-teman sekalian pun demikian.

Apa yang saya alami selama 3 tahun ini sungguh luar biasa. Pertumbuhan iman dan pengenalan akan firman Tuhan, singkapan-singkapan rahasia di balik setiap firman, semua itu sungguh berguna dan berharga dalam menjalani hari demi hari. Transformasi diri, pikiran, kebiasaan dan sebagainya, itu semua saya alami. Saya menyaksikan begitu banyak mukjizat, sesuatu yang diluar nalar yang membuktikan besarnya kuasa Tuhan melebihi akal logika kita, dan satu hal lagi yang sangat berguna, saya melihat sendiri bagaimana pentingnya memegang janji Tuhan, apalagi ketika kita berhadapan dengan hal-hal yang sulit. Permasalahan, penderitaan, kesesakan atau problema-problema lainnya dalam kehidupan, semua itu akan jauh lebih ringan untuk dihadapi dengan pegangan firman Tuhan, dengan menggenggam erat janji-janjiNya ketimbang harus menghadapinya sendirian tanpa pegangan apapun. Betapa berharganya, betapa bernilainya, betapa berkuasanya firman Tuhan. Tidak heran jika Daud mengatakan “Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua.” (Mazmur 119:127). I love your commandments more than gold, even more than refined gold.. itu kata Daud. Jauh lebih berharga dari emas murni sekalipun. Dalam waktu lain Daud juga mengatakan “..hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.” (19:10-11). Daud menggambarkannya dengan begitu puitis, secara singkat apa yang ingin disampaikan olehnya adalah bahwa firman Tuhan sangatlah berharga dan bernilai, jauh melebihi apapun.

Jika hari ini anda mudah mendapatkan akses untuk mendengarkan, membaca dan merenungkan firman Tuhan, bersyukurlah. Sebab ada banyak saudara-saudara kita di berbagai tempat yang mendapatkan kesulitan dan keterbatasan untuk itu. Ada yang tinggal di pedalaman, ada yang tinggal di negara-negara di mana sulit untuk mendapatkan gereja atau kendala-kendala lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan satu-persatu. Saya sangat bersyukur karena bisa berbuat sesuatu untuk teman-teman yang sulit mendapat akses seperti itu. Bagi saya firman itu sangat berguna, saya yakin demikian pula bagi anda semua. Kerinduan saya akan firman Tuhan itu mutlak, karena jika hari ini saya masih bisa berdiri tegak di tengah segala goncangan, itu karena saya memegang erat semua janji Tuhan dengan penuh keyakinan. Berkali-kali Tuhan telah menunjukkan kuasaNya yang ajaib, dan jika kemarin Dia bisa, besok pun pasti sanggup. Sebab Tuhan itu tetap sama, dahulu, sekarang dan sampai selamanya.(Ibrani 13:8).

Firman Tuhan dikatakan “hidup dan kuat, hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12). Dahulu saya sempat bingung ketika mendengar ayat ini, tapi saat ini saya menyadari betul bagaimana besarnya kuasa firman Tuhan itu. Saya selalu rindu untuk membagi berkat kepada teman-teman sekalian setiap harinya, dan karena itu kendala apapun yang saya hadapi tidak lagi berarti dibanding berkat yang bisa sampai setiap hari ke hadapan anda semua. Saya rindu anda semua mengalami rasa haus yang sama akan firmanNya, saya rindu anda semua bisa mendapat berkat, saya rindu Tuhan bisa dimuliakan lewat tulisan-tulisan saya setiap hari. Saya rindu teman-teman yang berbeban bisa diringankan, yang sedang mengalami masalah bisa mendapatkan pemulihan. Selama Tuhan masih mempercayakan saya untuk menulis, saya akan terus menulis apapun hambatannya.

I love God’s commandments more than anything. It’s powerful, it’s miraculous, it’s amazing. Saya butuh firman Tuhan setiap saat, setiap waktu untuk terus meneguhkan saya untuk melewati hari-hari yang melelahkan. Firman Tuhan selalu bagaikan setetes embun penyejuk yang menyegarkan jiwa. Saya percaya firman Tuhan yang disampaikan tidaklah akan pernah sia-sia. “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, “ (Yesaya 55:11). Semoga hal yang sama bisa berlaku pula buat teman-teman sekalian. Jika anda tidak mendapat kesulitan hari ini untuk bisa berdiam di dalam hadiratNya, mendengar suaraNya yang lembut dan terus dipenuhi dengan curahan kasihNya lewat firman-firmanNya, bersyukurlah untuk itu. Bagi teman-teman yang sulit mendapatkan akses, saya hanya ingin mengingatkan bahwa kasih Tuhan tetap hadir dalam diri anda semua. Tuhan mengasihi dan memberkati anda semua.

Kekayaan dunia sebesar apapun tidak akan bisa menandingi nilai sebuah firman Tuhan