Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

30 spt

“Barangsiapa mendengarkan kamu ia mendengarkan Aku”
(Bar 1:15-22; Luk 10:13-16)
 "Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku."(Luk 10: 13-16), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Hieronimus, imam dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   St.Hieronimus dikenal sebagai penterjemah Kitab Suci dari bahasa Ibrani dan Yunani ke dalam bahasa Latin, yang ia kerjakan kurang lebih selama 20 tahun, jangka waktu yang cukup lama. Dari pengalaman membaca dan menterjemahkan kitab suci, yang berarti sungguh memahami isi kitab suci, ia berpesan kepada kita semua :”Sekarang kita harus menterjemahkan nas-nas Kitab Suci ke dalam perbuatan, daripada berbicara muluk-muluk perihal yang kudus, lebih baik kita jabarkan dalam hidup sehari-hari”(Ensiklopedi Orang Kudus, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 1985/cetakan kelima, hal 150). Kitab Suci pertama-tama dan terutama untuk ‘dibacakan dan didengarkan’, maka hendaknya mereka yang bertugas membacakan kitab suci sungguh membacakan sedangkan yang mendengarkan sungguh mendengarkan. Mayoritas dari kita kiranya lebih banyak mendengarkan daripada membacakan, maka marilah kita hayati sabda Yesus “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.". Mendengarkan hemat saya merupakan keutamaan yang harus diperdalam dan dihayati oleh umat beriman atau beragama. Saya percaya jika kita memiliki kehendak baik, hati, jiwa dan akal budi baik, maka apa yang kita dengarkan pasti mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita, maka jika kita mendengarkan sabda-sabda Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci dengan demikian kita akan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Marilah kita perdalam dan teguhkan tugas dan panggilan kita sebagai pelaksana-pelaksana kehendak Tuhan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.
·   Kami tidak mendengarkan suara Tuhan, Allah kami, sesuai dengan firman para nabi yang telah Tuhan utus kepada kami.Bahkan kami telah pergi berbakti kepada allah lain, masing-masing menurut angan-angan hati jahatnya, dan kami melakukan apa yang durjana dalam pandangan Tuhan, Allah kami” (Bar 1:21-22). Kutipan di atas ini mungkin menjadi nyata dalam diri kita semua, yaitu kurang atau tidak mendengarkan suara Tuhan. Menurut penelitian kebanyakan orang hanya mampu paling besar 25% kebenaran informasi atau ajaran yang didengarkannya, dengan kata lain benarlah bahwa kita kurang mendengarkan: anak-anak kurang atau tidak mendengarkan nasihat dan saran orangtuanya, para peserta didik kurang atau tidak mendengarkan apa yang diajarkan atau disampaikan oleh para guru atau pendidik, umat kurang atau mendengarkan kotbah pastor/pendeta/kyai dst… dan mungkin antar kita sendiri juga kurang atau tidak saling mendengarkan. Karena kurang atau tidak mendengarkan itulah kita sering “melakukan apa yang durjana dalam pandangan Tuhan” alias berbuat dosa atau berbuat jahat. Jika orang tidak atau kurang mendengarkan sesamanya manusia, maka yang bersangkutan juga kurang atau tidak mendengarkan suara Tuhan. Ingatlah dan sadari bahwa keutamaan mendengarkan merupakan indera pertama kali yang kita hayati atau lakukan; ketika kita masih berada di dalam rahim ibu kita masing-masing kita sudah dapat mendengarkan dan ketika kita masih bayi juga lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Maka jika kita pada saat ini kurang atau tidak mendengarkan berarti kita tidak setia pada diri kita masing-masing atau kita mencederai diri. Marilah ‘back to basic”, bertobat dan memperbaharui diri untuk menjadi pendengar-pendengar yang baik, sebagaimana telah kita hayati ketika kita masih berada di dalam rahim ibu maupun masih bayi atau kanak-kanak. Sekali lagi kami berharap kepada orangtua untuk mendidik dan membina anak-anaknya menjadi pendengar yang baik, sehingga juga menjadi pelaksana-pelaksana yang baik juga.
Ya Allah, bangsa-bangsa lain telah masuk ke dalam tanah milik-Mu, menajiskan bait kudus-Mu, membuat Yerusalem menjadi timbunan puing.Mereka memberikan mayat hamba-hamba-Mu sebagai makanan kepada burung-burung di udara, daging orang-orang yang Kaukasihi kepada binatang-binatang liar di bumi. Mereka menumpahkan darah orang-orang itu seperti air sekeliling Yerusalem, dan tidak ada yang menguburkan. Kami menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi orang-orang sekeliling kami. Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau murka terus-menerus, dan cemburu-Mu berkobar-kobar seperti api?” (Mzm 79:1-5)
Ign 30 September 2011

Incoming search terms: