Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Pilih Dicintai atau Dibenci?

Ayat bacaan: Amsal 22:1
=======================
“Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.”

dicintai atau dibenciSelalu menarik bagi saya untuk membaca sejarah tokoh-tokoh dunia. Ada yang dikenal karena kebaikan atau jasa-jasa mereka yang berdampak besar bagi generasi pada masa mereka hingga generasi berikutnya. Sebaliknya ada pula yang terkenal justru karena kejahatan atau kekejaman mereka. Seringkali para tokoh yang terkenal karena kejahatannya ini tidak saja memberi nama buruk bagi diri mereka sendiri, tapi nama keluarga mereka pun tercemar karenanya, bahkan tidak menutup kemungkinan negara di mana mereka tinggal pun bisa terkena getahnya. Ada beberapa negara yang pernah mempunyai tokoh kejam masih berjuang menghapus image buruk itu bahkan hingga hari ini. Sebuah nama yang baik akan mengharumkan sang tokoh, nama keluarga yang ia sandang maupun negaranya asalnya, sebaliknya nama buruk akan mencemarkan dirinya sendiri, keluarganya dan bangsa dimana ia tinggal.

Sebuah catatan kontras bisa kita saksikan dari kematian dua tokoh sejarah Israel di dalam Alkitab, yaitu antara Yonatan dan Yoram. Yonatan adalah putra raja Saul, sedang Yoram adalah putra raja Yosafat. Kedua tokoh ini sama-sama putra raja, tapi perilaku dan cara hidup mereka jauh berbeda. Yonatan dikenal sebagai tokoh yang jujur, menghormati persahabatan, berjiwa kesatria, tulus, tahu membedakan mana yang benar dan salah dan prajurit yang dengan gagah berani membela bangsa dan tanah airnya. Yonatan merupakan sosok sahabat yang sangat dikasihi dan dihormati, berbudi luhur dan punya integritas. Daud begitu kehilangan ketika Yonatan mati, sehingga ia sampai menuliskan nyanyian ratapan tidak saja buat Yonatan, tetapi juga buat Saul, ayahnya. Kita tahu bagaimana sikap buruk Saul termasuk rasa iri hati dan kebenciannya terhadap Daud, tetapi Daud masih memberi penghormatan besar bagi Saul di saat ia meninggal di medan perang bersama Yonatan. Ini bisa kita lihat dalam kitab 2 Samuel 1:17-27 dimana Daud menunjukkan dukacitanya dan menyebut mereka sebagai pahlawan. “Kepermaianmu, hai Israel, mati terbunuh di bukit-bukitmu! Betapa gugur para pahlawan!” (ay 19). Tidak hanya itu saja, Daud pun mengenang Yonatan dan Saul sebagai orang-orang yang dicintai dan ramah. “Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. Mereka lebih cepat dari burung rajawali, mereka lebih kuat dari singa.” (ay 23). Dalam bahasa Inggrisnya disebutkan beloved and lovely.

Sebaliknya Yoram meninggalkan catatan kelam dan itu bisa kita baca dalam 2 Tawarikh 21:2-20. Ia mempergunakan kekuasaan bukan untuk hal-hal yang baik bagi rakyatnya, tetapi malah menyalahgunakan itu semua karena merasa dirinya sudah kuat dan berada di atas angin sehinga bisa bertindak seenaknya. “Sesudah Yoram memegang pemerintahan atas kerajaan ayahnya dan merasa dirinya kuat, ia membunuh dengan pedang semua saudaranya dan juga beberapa pembesar Israel.” (ay 4). Ia tidak mencerminkan ayahnya Yosafat, tapi justru hidup menurut keluarga Ahab, mertuanya. Dan Alkitab menyatakan bahwa ia dianggap jahat di mata Tuhan. “Ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel seperti yang dilakukan keluarga Ahab, sebab yang menjadi isterinya adalah anak Ahab. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.” (ay 6). Dan lihatlah buah dari perbuatannya. Tuhan pun lalu menyampaikan teguran dan hukuman kepadanya lewat nabi Elia. “Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Karena engkau tidak hidup mengikuti jejak Yosafat, ayahmu, dan Asa, raja Yehuda,melainkan hidup menurut kelakuan raja-raja Israel dan membujuk Yehuda dan penduduk-penduduk Yerusalem untuk berzinah, sama seperti yang dilakukan keluarga Ahab, dan juga karena engkau telah membunuh saudara-saudaramu, seluruh keluarga ayahmu yang lebih baik dari padamu, maka TUHAN akan mendatangkan tulah besar atas rakyatmu, anak-anakmu, isteri-isterimu, dan atas semua harta milikmu. Dan engkau sendiri akan menderita penyakit yang dahsyat, suatu penyakit usus, hingga selang beberapa waktu ususmu keluar oleh karena penyakit itu.” (ay 12-15). Dan tepatnya itulah yang terjadi. Datanglah serangan orang Filistin dan Arab melawan Yoram dan rakyatnya. (ay 16). Semua harta milik mereka dijarah, anak-anak dan istri Yoram semua diambil sebagai tawanan kecuali putranya yang bungsu (ay 17). Lalu datanglah penyakit ususnya itu dan ia pun mati dengan sangat menderita. (ay 19). Pada ayat ini juga dan ayat berikutnya kita bisa melihat bagaimana kematiannya itu disikapi rakyatnya. “Rakyatnya tidak menyalakan api baginya seperti yang diperbuat mereka bagi nenek moyangnya. Ia berumur tiga puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan delapan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia meninggal dengan tidak dicintai orang. Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak di dalam pekuburan raja-raja.” (ay 19-20). Ketika Yonatan meninggal dengan dikenang sebagai orang yang baik dan dicintai, Yoram dengan jelas dikatakan meninggal dengan tidak dicintai siapapun. Yoram tidak menunjukkan kasih. Apa yang ia tunjukkan hanyalah kekejaman, kebencian dan kebengisan. Ia tidak hormat kepada Tuhan dan tidak memberi yang baik kepada rakyatnya malah membuat mereka menderita. Akibatnya ia pun mati tanpa cinta, tanpa ada yang bersedih apalagi menangisi. Itulah catatan kontras yang dicatat Alkitab mengenai kematian dua tokoh ini.

Melihat contoh dari kedua tokoh ini, wajarlah jika Salomo yang penuh hikmat kemudian mengatakan dalam salah satu Amsalnya: “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” (Amsal 22:1). Ketika banyak orang lebih tertarik pada perak dan emas, sesungguhnya mereka lupa bahwa nama baik jauh lebih berharga dari semuanya itu. Tumpukan harta tidak akan bisa dibawa mati. Seperti yang saya sebut kemarin, apa yang tinggal kelak hanyalah kenangan, dan seperti apa kita nanti dikenang orang, apakah seperti Yonatan atau Yoram, semua itu akan tergantung dari bagaimana cara kita menjalani hidup. Tuhan Yesus sudah mengingatkan sejak jauh hari: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.” (Markus 8:36). Kekayaan harta dan jabatan tidak akan pernah mampu memberikan kebahagiaan sepenuhnya. Dalam waktu singkat mungkin bisa, tetapi biar bagaimanapun itu tidaklah sebanding dengan nyawa yang kita buang selamanya demi kenikmataan sesaat. Kaya raya tapi dibenci orang lain itu sesungguhnya amatlah menyedihkan. Saya sudah bertemu dengan beberapa orang seperti ini dan lewat mereka saya mendengar sendiri kesedihan hidup dalam kesepian akibat dibenci banyak orang tidak akan bisa terobati dengan harta sebesar atau sebanyak apapun. Tidak salah untuk bisa menjadi kaya, tetapi kita harus benar-benar memperhatikan cara-cara yang kita buat untuk memperolehnya dan kemana atau untuk apa kita mempergunakannya. Oleh karena itu teladanilah Yonatan dan hindarilah sikap hidup Yoram. Bekerja dan berusahalah dengan jujur, jadilah seorang sahabat yang bisa diandalkan, lakukan semuanya dengan sebaik-baiknya seperti kita melakukannya untuk Tuhan. Muliakan Tuhan dengan setiap perbuatan dan perilaku kita, teruslah berbuat baik dan tolonglah orang-orang yang kesusahan semampu kita. Tuhan sanggup melimpahkan semuanya tanpa kita harus menggadaikan kehormatan, nama baik keluarga dan bangsa yang juga akan berpengaruh pada keselamatan kekal.

Dikenang sebagai orang baik atau dibenci tergantung dari bagaimana sikap hidup kita. Mana yang kita pilih?

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Integritas: Setia, Benar, Jujur

Ayat bacaan: Mazmur 15:1,5
===================
“Mazmur Daud. TUHAN, siapa boleh menumpang di Kemah-Mu dan tinggal di bukit-Mu yang suci…Orang yang berbuat demikian, akan selalu tentram.” (BIS)

integritas, setia, benar, jujurMencari orang yang punya integritas saat ini sama sulitnya dengan mencari jarum di balik tumpukan jerami. Jangankan mencari orangnya, kata ini pun semakin lama sudah semakin jarang digunakan. Katanya simpel saja, tetapi makna yang terkandung di dalamnya sangatlah luas sehingga tidak mudah untuk bisa tampil menjadi orang dengan integritas tinggi. Dalam sebuah kamus kata integritas dijabarkan sebagai keterpaduan antara kesempurnaan dan ketulusan. Sementara ada defisi lain yang mendefenisikan integritas sebagai sebuah tindakan yang konsisten dengan mengamalkan nilai-nilai kebenaran, meski tengah berada dalam kondisi sulit sekalipun untuk melakukannya. Konsistensi antara perkataan dan perbuatan, antara yang diajarkan dengan tindakan. Itu pun bentuk dari sebuah integritas. Orang dengan integritas inilah yang akan tampil sebagai pribadi yang tepat seperti yang diharapkan, bahkan dalam sebuah artikel ada yang mengatakan bahwa orang yang berintegritas adalah orang yang penuh dengan kemuliaan.

Seperti apa bentuknya orang yang punya integritas ini? Ada sebuah ayat yang sangat menarik dalam kitab 1 Raja Raja menggambarkan pribadi yang berintegritas yaitu lewat sosok Daud. “Lalu Salomo berkata: “Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini.” (1 Raja Raja 3:6).Ada tiga hal disana yang menunjukkan elemen integritas, yaitu setia, benar dan jujur. Lalu perhatikanlah, bahwa orang yang menghidupi ketiga elemen penting ini akan mendapatkan kasih setia Tuhan yang besar, dan itu dikatakan pula sebagai sebuah jaminan dari Tuhan.

Siapa yang disebutkan punya integritas itu? Daud. Pertanyaannya, adakah perkataan Daud sendiri mengenai sebuah integritas, sesuatu yang ternyata ia lakukan dalam hidupnya? Jawabannya ada. Mari kita lihat pandangan Daud akan pentingnya sebuah integritas, sebuah kebenaran yang ia dapatkan sehingga ia bisa teguh mengamalkan elemen-elemen integritas ini dalam hidupnya. Semua itu terangkum dalam Mazmur 15 yang isinya sangat pendek, cuma 15 ayat tetapi apa yang terkandung di dalamnya sesungguhnya bernilai sangat tinggi. Agar lebih jelas, mari kita lihat bunyinya menurut versi Bahasa Indonesia Sehari-hari.

“Mazmur Daud. TUHAN, siapa boleh menumpang di Kemah-Mu dan tinggal di bukit-Mu yang suci. Orang yang hidup tanpa cela dan melakukan yang baik, dan dengan jujur mengatakan yang benar; yang tidak memfitnah sesamanya, tidak berbuat jahat terhadap kawan, dan tidak menjelekkan nama tetangganya; yang menganggap rendah orang yang ditolak Allah, tetapi menghormati orang yang takwa; yang menepati janji, biarpun rugi dan meminjamkan uang tanpa bunga; yang tak mau menerima uang suap untuk merugikan orang yang tak bersalah. Orang yang berbuat demikian, akan selalu tentram.” (Mazmur 15:1-5 BIS).

Itulah bunyinya secara lengkap. Perhatikanlah nilai-nilai yang terkandung disana. Dalam pasal ini kita bisa melihat hasil perenungan Daud mengenai orang dengan pribadi seperti apa yang bisa tinggal dalam kemahNya dan dibukitNya yang suci. Dalam Bahasa Inggrisnya dikatakan: “LORD, WHO shall dwell [temporarily] in Your tabernacle? Who shall dwell [permanently] on Your holy hill?” (ay 1). Selanjutnya lihat Daud menjabarkan ciri-cirinya satu persatu, yaitu orang yang:
- hidup tanpa cela
- melakukan yang baik
- jujur yang berkata benar
- tidak memfitnah sesamanya
- tidak berbuat jahat
- tidak menjelekkan orang lain
- tidak ikut-ikutan berbuat seperti orang yang ditolak Allah melainkan menghormati orang yang takut akan Tuhan atau taat
- orang yang menepati janji sekalipun harus merugi karenanya
- yang tidak mengharapkan bunga kalau meminjamkan
- yang tidak menerima suap

Secara singkat semua poin ini akan menuju kepada tiga hal seperti yang digambarkan Salomo di atas, yaitu: kesetiaan, kebenaran dan kejujuran. Daud jelas mengerti kriteria orang yang akan berhak berdiam (dwell) dalam Kerajaan Allah yang kudus, karena itulah ia pun menghidupi nilai-nilai yang terkandung dalam integritas itu seperti apa yang telah ia ketahui. Tidak heran apabila kemudian Salomo yang penuh hikmat menyebutkan nilai-nilai yang dihidupi ayahnya. Inilah bentuk sebuah integritas, sebuah bentuk kehidupan yang berkenan di mata Tuhan.

Satu saja dari nilai-nilai itu tidak kita lakukan maka integritas pun hilang dari diri kita. Sekedar mengetahui saja tidak cukup, hanya mengatakan saya tidak cukup, kita harus pula menyelaraskannya dengan perbuatan nyata dalam hidup kita. Jika melihat kompleksitas dari poin-poin di atas dan implikasinya yang bisa menjadi jauh lebih luas lagi, mungkin saja semua itu menjadi terlihat tidak mudah untuk dilakukan. Tetapi sosok seperti inilah yang sesungguhnya diinginkan Tuhan untuk mewarnai kehidupan kita, orang-orang percaya. Untuk membangun pribadi yang berintegritas dan berkualitas maka Mazmur 15 ini penting untuk kita renungkan dan kemudian terapkan dalam hidup. Kita bisa terus berkata tidak mungkin, tetapi sebaliknya kita pun bisa mulai memasang komitmen untuk menghidupinya mulai dari sekarang. Sebagai warga Kerajaan kita harus mampu pula hidup dengan nilai-nilai Kerajaan. Orang yang berintegritas tinggi semakin lama semakin langka. Siapkah anda tampil beda di dunia ini dengan menjadi sosok berintegritas yang menjunjung tinggi nilai-nilai Kerajaan Allah?

Setia, benar dan jujur harus menjadi bagian hidup kita sebagai orang-orang berintegritas yang berkenan di mata Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Langit dan Cakrawala

Ayat bacaan: Mazmur 19:2
====================
“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya”

langit dan cakrawalaDuduk berkumpul bersama beberapa tetangga di teras membuat saya berkesempatan memandang langit di malam hari. Betapa indahnya. Lengkungan langit malam yang gelap dihiasi kerlap kerlip bintang dan bulan yang bersinar terang. Pemandangan langit di malam hari seperti itu bagi saya terasa sangatlah puitis. Saya pun tidak berhenti memandang ke atas dan bersyukur atas kebaikan Tuhan menciptakan segala sesuatu yang begitu indah seperti langit yang saya amati malam ini. Siang hari kita melihat langit yang cerah, dengan awan bagaikan kapas lembut terserak di sana, matahari yang bersinar cerah, dan beberapa burung terbang dengan gemulai di sekitarnya. Keindahan matahari terbit dengan warna lembut mulai menerangi cakrawala, atau keindahan matahari terbenam yang membawa keindahan tersendiri, yang seringkali sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tidak jarang orang mau bersusah-susah pergi ke beberapa lokasi tertentu dimana mereka bisa menikmati keindahan matahari terbit dan terbenam ini seperti ke Bali atau puncak gunung Bromo misalnya. Itulah karya keagungan Tuhan yang sanggup berbicara mengenai kemuliaan Tuhan dengan caranya tersendiri.

Daud adalah sosok yang tampaknya suka mengamati keindahan alam dan menyadari betul kemuliaan Tuhan yang terpancar dari segala sesuatu yang Dia ciptakan dengan sangat baik. Beberapa kali Daud melakukan perenungan dari keindahan pemandangan alam yang ia nikmati lalu menuliskan apa yang ia rasakan setelah memandang semua itu. Dalam Mazmur 19 kita bisa melihat salah satunya. Mazmur Daud berkata “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” (Mazmur 19:2). Daud menyimpulkannya singkat saja tetapi penuh dengan makna. Betapa keindahan langit sebenarnya mampu memberi gambaran tersendiri akan kemuliaan Allah dan cakrawala sanggup menceritakan hasil pekerjaan tangan Tuhan yang sangat artistik sebagai hasil dari Maestro teragung. Daud melanjutkan kata-katanya secara puitis: “hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi.” (ay 3-5). Keindahan alam yang begitu luar biasa, baik siang ataupun malam adalah sesuatu yang bisa dinikmati semua manusia setiap saat di manapun kita berada, bahkan sampai ke ujung bumi sekalipun. Lewat langit, cakrawala, dan secara luas alam semesta, Tuhan berbicara mengenai keberadaan dan kemuliaanNya kepada semua manusia. Semua itu bisa kita saksikan, semua itu bisa kita lihat dan nikmati. Tapi berapa banyak orang yang mampu menyadari kemuliaan Tuhan dari apa yang ia lihat seperti Daud?

Kembali dalam Mazmur 104 kita mendapati perenungan Daud akan segala karya agung Tuhan lewat keindahan alam hasil ciptaanNya. Bacalah seluruh ayat di dalamnya maka anda akan merasakan sebuah perenungan yang sangat puitis dari Daud akan buah tangan Tuhan, sebuah bukti kemuliaanNya yang selalu bisa kita saksikan dengan amat sangat nyata. Daud mengatakan “Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!” (ay 31). Itulah seharusnya yang terjadi. Atas semua keindahan yang telah Dia ciptakan dengan sangat artistik, seharusnya Tuhan bersukacita atas itu. Tuhan sendiri sudah menugaskan kita sejak awal untuk berkuasa atas itu semua dan mengelolanya dengan baik. (Kejadian 1:28). Tetapi apa yang kita lakukan justru sebaliknya. Seringkali kita tidak menyadari keagungan Tuhan yang luar biasa ini dan bersyukur atasnya. Kita bukannya menjaga kelestarian keindahan alam tetapi malah merusaknya. Global warming menjadi masalah terbesar yang dialami manusia hari ini, dan itu semua adalah akibat dari kegagalan kita bertanggungjawab atas otoritas yang diberikan Tuhan untuk menjaga alam semesta yang telah Dia ciptakan dengan amat sangat baik. Seharusnya kita bersyukur, bertanggung jawab dan memuliakan Tuhan, membuatNya bersuka cita atas segala karyaNya yang istimewa, tetapi kita malah membuatNya berduka dengan segala sifat destruktif kita.

Keindahan alam di pagi hari adalah sebuah bentuk senyum Tuhan yang menyapa kita dengan penuh kasih setiap hari. Keindahan langit di malam hari bagaikan nyanyian selamat malam dari Tuhan yang akan membuat kita tidur dengan seuntai senyuman. Apakah kita sudah menanggapi sapaan Tuhan itu, mengingat Dia yang menciptakan segalanya dengan teramat sangat indah atau kita malah terus menjauh dan mengisi hidup kita dengan kebimbangan, keluh kesah, protes, kekecewaan dan sebagainya? Daud mengingatkan jiwanya untuk menyadari setiap keindahan yang diciptakan Tuhan. “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” (Mazmur 104:24). Sejauh mana kita merenungkan apa yang kita lihat saat ini seperti halnya Daud? Sejauh mana kita memuliakan Tuhan kembali atas segala yang telah Dia anugerahkan kepada kita? Sudahkah kita bersyukur ketika kita masih bisa menghirup udara yang segar di pagi hari, ditemani cahaya matahari dalam beraktifitas di siang hari, dan tidur berselimutkan langit penuh bintang di malam hari? Tuhan menyapa kita dengan semua itu, sudahkah kita menanggapinya dengan benar dan kembali menyapa Tuhan dengan penuh kasih pula?

Tangan yang sama yang dipakai Tuhan untuk menciptakan segala sesuatu Dia pakai pula untuk memeluk, memberkati, melindungi dan menjaga kita. Segala keindahan langit, cakrawala dan alam semesta beserta isinya merupakan hasil ciptaan Tuhan yang akan bisa dinikmati umat manusia dimanapun mereka berada. Anda tinggal mengarahkan perhatian anda ke jendela, atau keluar dari pintu rumah anda, maka anda akan melihat betapa besar kemuliaan Tuhan menciptakan alam semesta yang indah ini. Apabila ada di antara teman-teman yang tengah mengalami pergumulan dengan keyakinan anda akan keberadaan Tuhan, pandanglah langit malam ini. Rasakanlah bagaimana langit yang indah itu berbicara banyak secara mengagumkan tentang kasih Allah pada kita, dan bebaskan diri anda untuk diarahkan kepada Maestro teragung, Sang Pencipta langit dan bumi beserta isinya.

Kemuliaan Tuhan terasa secara nyata lewat keindahan langit dan cakrawala ciptaanNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Mefiboset dan Daud (1): Rendah Diri

Ayat bacaan: 2 Samuel 9:8
====================
“Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?”

rendah diri, daud, mefibosetSemakin lama berjalan dalam hidup semakin sadar pula saya bahwa rasa rendah diri atau minder berlebihan kerap menggagalkan rencana-rencana besar dalam hidup kita. Saya pernah mengalaminya dahulu, dan sekarang sering bertemu dengan orang-orang seperti ini. Betapa seringnya kita mendengar kalimat-kalimat seperti “ah, saya cuma tamatan SD, bisa apa?”, “Saya cuma orang kecil, bagaimana mungkin saya bisa sukses?”, “I’m a loser..” dan sebagainya. Padahal Tuhan tidak merancang manusia asal-asalan tanpa rencana yang indah. Itu sering dilupakan orang dan mereka lebih memilih untuk tenggelam ke dalam kekurangan-kekurangan mereka ketimbang memaksimalkan potensi-potensi mereka miliki. Apa yang membuat mereka gagal sebenarnya bukanlah kekurangan mereka, tetapi justru rasa rendah diri yang berlebihan itu. Ada banyak orang cacat yang kemudian tampil mencengangkan kita lewat buah karya mereka. Rendah diri bukannya membantu, tetapi malah akan merugikan diri kita sendiri.

Sebuah contoh orang yang diselimuti rasa rendah diri berlebihan adalah Mefiboset. Mefiboset adalah anak Yonatan, cucu dari Saul yang pernah menjabat raja Israel. Serangkaian peristiwa dan keadaan membuatnya menjadi pribadi yang rendah diri. Ayahnya dan kakeknya kalah dalam perang dan mati terbunuh dengan mengenaskan. Jika itu belum cukup, ia pun dikatakan cacat kakinya. Kitab 2 Samuel mencatat hal ini. “Yonatan, anak Saul, mempunyai seorang anak laki-laki, yang cacat kakinya. Ia berumur lima tahun, ketika datang kabar tentang Saul dan Yonatan dari Yizreel. Inang pengasuhnya mengangkat dia pada waktu itu, lalu lari, tetapi karena terburu-buru larinya, anak itu jatuh dan menjadi timpang. Ia bernama Mefiboset.” (2 Samuel 4:4). Berulang-ulang pula kita melihat sebutan cacat ini ditujukan untuk Mefiboset. Ia pun kemudian diasingkan di sebuah tempat tandus, Lodebar. Akibatnya ia merasa dirinya begitu rendah. Ketika pada suatu kali Daud mencari keturunan Saul untuk dipulihkan hak-hak hidupnya berdasarkan kasih dari Allah, maka ia pun diberitahu bahwa ada anak Yonathan yang masih hidup. (9:3). Daud pun segera menyuruh Mefiboset untuk datang menghadapnya. Ketika Mefiboset menghadap, “Kemudian berkatalah Daud kepadanya: “Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku.” (ay 7). Ini cerminan kasih Allah yang tak terbatas oleh status, situasi, masa lalu dan sebagainya. Tetapi lihatlah bagaimana rasa rendah diri Mefiboset dari jawabannya. “Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?(ay 8). Ia merasa begitu rendah tak berharga hingga harga dirinya seperti sama dengan seekor anjing mati. Daud sudah berusaha memulihkan harga dirinya. Bahkan Mefiboset diundang untuk duduk semeja dan sehidangan dengan Daud, sang raja. Namun tetap saja ia tidak kunjung mau keluar dari perasaan rendah dirinya itu.

Beberapa waktu kemudian dalam 2 Samuel 19:24-30 kita bisa melihat bahwa Mefiboset tidak juga memulihkan citra dirinya meski ia sudah mendapat kasih Allah lewat diri Daud. “Juga Mefiboset bin Saul menyongsong raja. Ia tidak membersihkan kakinya dan tidak memelihara janggutnya dan pakaiannya tidak dicucinya sejak raja pergi sampai hari ia pulang dengan selamat.” (ay 24). Perhatikan ia membiarkan dirinya dalam keadaan kumal, tidak terawat. Ia bahkan tidak merasa pantas untuk tampil baik, di hadapan raja sekalipun. Ketika Daud kemudian memutuskan untuk memberikan ladang yang tadinya milik Saul untuk dibagi dua antara Mefiboset dan Ziba, hamba Daud, kembali Mefiboset menunjukkan sikap rendah dirinya. “Lalu berkatalah Mefiboset kepada raja: “Biarlah ia mengambil semuanya, sebab tuanku raja sudah pulang dengan selamat.” (ay 30). Pada akhirnya Mefiboset tidak mendapatkan apa-apa. Dan semua itu karena ia tidak kunjung menyadari citra dirinya yang benar . Mefiboset sebenarnya telah mendapatkan banyak kesempatan untuk dipulihkan, Kasih Tuhan berulang kali menghampirinya namun ia memilih untuk lebih memupuk rasa rendah dirinya ketimbang menerima kasih Tuhan.  Rasa rendah diri telah memerangkapnya sedemikian rupa sehingga ia tidak mendapatkan apapun sama sekali.

Perhatikanlah, bukankah kita sering membuang-buang kesempatan terus menerus seperti Mefiboset? Ketika rasa rendah diri muncul berlebihan tidak pada tempatnya maka kita pun akan kehilangan peluang untuk bisa bangkit dan berhasil. Karena itu kita tidak boleh membiarkan hal ini menghantui kita sepanjang hidup. Tidak ada manusia yang sempurna, semua kita memiliki kekurangan sendiri. Tetapi jangan lupa bahwa kita pun memiliki kelebihan dan keunikan tersendiri pula. Siapapun kita hari ini, bagaimanapun kita dianggap di mata manusia, bagi Tuhan kita tetaplah karya ciptaanNya yang terindah. Kita dikatakan dibuat sesuai gambar dan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), dikatakan ditenun langsung oleh Tuhan dalam kandungan (Mazmur 139:13) dan dilukiskan pada telapak tangan Tuhan, berada di ruang mataNya (Yesaya 49:16). Artinya, Tuhan menciptakan kita dengan baik, ada rencanaNya yang indah bagi kita, dan kita pun tetap berada dalam lindunganNya. Jika demikian, mengapa kita harus rendah diri?

Hendaklah kita belajar dari sikap salah Mefiboset menyikapi keadaan dan kekurangan dirinya. Jangan fokus kepada kelemahan atau kekurangan anda. Don’t let it overcome you. Sebaliknya, cari tahu segala kelebihan yang ada pada diri anda dan maksimalkanlah itu. Tuhan telah menciptakan kita dengan sangat baik, ada rencana indah dibalik tujuan penciptaanNya atas kita dan untuk itu Dia telah melengkapi kita dengan keistimewaan tersendiri. Ada banyak kegagalan dalam hidup ini maupun kegagalan dalam menggenapi rencana indah Tuhan yang bisa muncul dari rasa rendah diri. Oleh karena itu hendaklah kita belajar dari pengalaman Mefiboset agar tidak terulang pada kita.

Rasa rendah diri menghalangi rencana Tuhan untuk terjadi dalam diri kita

Follow us on Twitter: http://twitter.com/dailyrho

Mencintai Firman Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 119:97
========================
“Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.”

mencintai firman Tuhan, taurat TuhanAnda pernah jatuh cinta? Jika pernah, tentu anda tahu bagaimana rasanya. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, begitu kata orang. Kita gelisah ketika jauh, rasa rindu akan segera menyerang begitu kita berpisah meski hanya untuk waktu yang singkat. Setiap saat kita ingin bertemu, mendengar suaranya, melihat wajahnya dan menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kita cintai. Rasa cinta bisa begitu dalam hingga kita rela mengorbankan apapun untuk itu. Bagaikan magnet yang akan selalu berusaha menarik satu sama lain, seperti itu pula rasanya ketika cinta tengah melanda diri kita dan orang yang kita kasihi.

Sebuah ungkapan cinta ditulis lengkap oleh Daud dalam Mazmur 119. Bukan kepada seseorang, tetapi tentang rasa cintanya yang begitu besar kepada firman Tuhan. Tidak hanya dalam Mazmur 119 saja, tetapi jika kita melihat isi dari kitab Mazmur, maka kita akan menemukan ada begitu banyak ayat yang menyatakan kecintaan sang Penulis terhadap firman Tuhan. Tapi hari ini mari kita melihat pasal 119 yang sangat panjang ini. Disana Daud melukiskan dengan indah mengenai rasa cintanya dan apa yang ia peroleh dari taurat Tuhan yang sangat ia cintai itu. Dengan lantang Daud berseru: “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.” (Mazmur 119:97).

Layaknya rasa cinta yang tidak asing lagi bagi kita, Daud pun merasakan hal seperti itu terhadap firman Tuhan. Bagi Daud, merenungkan dan melakukan firman Tuhan bukanlah sebuah paksaan, bukan sebuah kewajiban semata dan bukan pula beban, melainkan sebuah kesukaan yang didasari rasa cinta. Ia terus merindukan firman Tuhan hingga ia menyatakannya dengan “merenungkannya sepanjang hari”, dan di awal kitab Mazmur ia mengatakan merenungkannya “siang dan malam”. Inilah bentuk kecintaan Daud yang luar biasa besarnya terhadap firman Tuhan. Mengapa ia bisa jatuh cinta sedemikian dalam? Daud menemukan begitu banyak hal yang membuktikan keampuhan firman Tuhan. Mari kita lihat beberapa diantaranya hanya dengan fokus kepada pasal 119 saja.

- Daud tahu bahwa firman Tuhan itu memberi kehidupan. “Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku.” (ay 93)
- Firman Tuhan membuatnya lebih bijaksana. “Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku.” (ay 98)
- Firman Tuhan membuatnya lebih berakal budi. “Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan.” (ay 99)
- Ia menjadi lebih paham dari orang-orang tua yang bijaksana sekalipun. “Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu.” (ay 100)
- Ia menjadi lebih mampu menahan diri dari segala godaan tindak kejahatan. “Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku, supaya aku berpegang pada firman-Mu.” (ay 101).
- Ada janji yang manis yang mampu memberikan penghiburan dikala susah. “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.” (ay 103)
- Firman Tuhan memberi pengertian sehingga ia tahu apa yang dibenci Tuhan. “Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta.” (ay 104)
- Firman Tuhan mampu mengarahkan masa depannya ke arah yang diinginkan Tuhan. “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (ay 105)

Dan ada banyak lagi kuasa firman Tuhan yang akan sangat berguna bagi diri kita, baik saat ini maupun untuk masa depan kita kelak. Singkatnya, Daud tahu pasti bahwa ada kerugian besar yang akan kita derita apabila kita tidak hidup bersama firman Tuhan.

Di dalam firman Tuhan ada banyak janji, petunjuk, nasihat, tuntunan, hikmat dan teguran. Di dalam firman Tuhan ada kuasa yang ampuh untuk kesembuhan, pemulihan, berkat dan tentu saja keselamatan. Secara singkat Daud mengatakan seperti ini: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik… tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:1-3). Alangkah ruginya apabila kita hari ini masih menganggap menggali firman Tuhan itu sebagai sesuatu yang membosankan. Bagaimana dengan anda? Seberapa besar cinta anda akan firman Tuhan hari ini? Apakah membaca Alkitab, membaca, merenungkan, memperkatakan dan melakukannya sudah menjadi kerinduan bagi anda? Apakah menggali firman Tuhan merupakan sebuah kesukaan yang didasari rasa cinta atau malah beban? Tuhan siap berbicara menyingkapkan banyak hal kepada anda hari ini, Dia rindu untuk menyampaikan banyak hal kepada anda sekarang juga, dan anda bisa memperolehnya lewat firman Tuhan yang hidup. Seperti Daud, hiduplah bersama firman Tuhan dan temukan segala tuntunan Tuhan yang akan mampu membuat hidup kita jauh lebih baik, seturut rencanaNya dan akan mengarahkan kita kepada jalan yang telah Dia persiapkan bagi kita.

Firman Tuhan merupakan kabar dari Tuhan yang memerdekakan

Bertanggungjawab Sepenuhnya

 Ayat bacaan: 1 Samuel 17:34-35
==========================
“Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya…

bertanggungjawabGaji sudah dua bulan tidak dibayar. Selalu saja ada alasan dari pengelola keuangan di kampus sehingga saya tidak kunjung mendapat hak saya hingga detik ini. “Ya sudah, kalau mereka seperti itu, kamu tidak perlu serius mengajar, bolos saja sampai gaji dibayarkan..” kata seorang teman ketika mengetahui apa yang sedang saya alami. Cara pikir yang paling pintas memang demikian. Jika kita tidak dibayar, buat apa kerja? Capai badan, capai pikiran, tapi tidak mendapatkan penghasilan? Siapa yang mau? Tapi saya tidak mau demikian. Murid-murid saya tidak bersalah sama sekali sehingga mereka tidak layak diperlakukan asal-asalan. Saya tetap harus serius, karena saya ingin mereka sukses. Lebih dari itu, ada bentuk tanggungjawab saya kepada Tuhan dalam setiap pekerjaan yang saya lakukan, termasuk di dalamnya mengajar, dan tanggungjawab itu sudah seharusnya lebih utama ketimbang gaji. Saya membutuhkan gaji itu untuk hidup, tapi itu bukanlah yang terpenting. Ada tanggungjawab kepada Tuhan di atas itu, oleh karenanya saya tetap memutuskan untuk mengajar dengan sepenuh hati. Bagi orang dunia mungkin saya dianggap bodoh, tapi biarlah. Karena bagi saya, tanggungjawab di hadapan Tuhan jauh lebih tinggi dibanding hal lain apapun.

Jika kemarin kita melihat bagaimana Daud menggambarkan “museum pribadinya” yang berisikan kenangan-kenangan betapa luar biasanya berada bersama Tuhan, hari ini dari kisah yang sama marilah kita melihat sebuah sisi lain. Ayat yang saya ambil masih sama, yaitu mengenai Daud yang tidak tahan menghadapi provokasi Goliat terhadap bangsa Israel. Tapi untuk hari ini, mari kita fokus kepada keseriusan Daud dalam melakukan pekerjaannya, yaitu menggembalakan kambing domba ayahnya. Dari beberapa ayat kita mengetahui bahwa Daud muda dipekerjakan sebagai gembala oleh ayahnya, sementara beberapa dari saudaranya maju bertempur di garis depan sebagai prajurit Israel. Dibandingkan status prajurit, status gembala pada saat itu tidak ada apa-apanya. Tapi Daud tidak berkecil hati dengan pekerjaan tersebut. Ada berapa banyak domba yang ia gembalakan? Saya tidak tahu pasti, tapi rasanya tidak banyak. Dan saya rasa ia pun tidak dibayar untuk itu. Meski tidak banyak dan tidak dibayar, perhatikan bagaimana keseriusan Daud dalam bekerja seperti yang ia utarakan kepada Saul. “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya.. (1 Samuel 17:34-35). Ia rela mempertaruhkan nyawanya demi sekumpulan domba, yang notabene hanyalah hewan. Di mata manusia mungkin itu merupakan hal yang aneh, bahkan bodoh. Untuk apa manusia harus rela mempertaruhkan nyawa demi binatang? Tapi tidak bagi Daud. Daud rela menghadapi singa dan beruang dalam melakukan pekerjaannya. Ia tidak ingin satupun dari dombanya binasa, dan untuk itu ia harus berhadapan dengan maut. Tapi nyatanya penyertaan Tuhan mampu membuatnya tampil sebagai pemenang. Bukan hanya ketika menghadapi singa dan beruang, tapi juga Goliat, dan kita tahu pula bagaimana Daud diberkati secara luar biasa dalam hidupnya. Kedekatannya, kepercayaannya, pengharapannya kepada Tuhan membuat semua itu menjadi mungkin. Daud memperlihatkan tanggungjawab  yang luar biasa tanpa memperhitungkan untung rugi secara pribadi. Dan apa yang ia perbuat pun menjadi gambaran yang sama mengenai bagaimana Yesus, yang lahir ke dunia sebagai salah satu dari silsilah keturunannya, menyelamatkan kita. Lihat apa kata Yesus berikut: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.” (Yohanes 10:11-12).

Tuhan menghendaki kita untuk serius dalam melakukan segala hal, baik itu bekerja, belajar maupun melayani. Lihatlah seruan ini: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Itu menyatakan bentuk kerinduan Tuhan agar anak-anakNya selalu bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh. Bukan untuk manusia, tapi lakukanlah seperti melakukannya untuk Tuhan. That’s the state He wants us to reach. Dalam pelayanan pun demikian. Ada banyak orang yang bersungut-sungut dan tidak serius jika hanya melayani sedikit orang, apalagi satu orang saja. Itu bukanlah gambaran yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan! Bacalah Lukas 15, ada tiga perumpamaan disana yang sudah tidak asing lagi bagi kita mengenai hal ini. “Perumpamaan tentang domba yang hilang” (ay 4-7), “Perumpamaan tentang dirham yang hilang” (ay 8-10) dan “Perumpamaan tentang anak yang hilang” (ay 11-32). Semua ini menunjukkan kerinduan Tuhan untuk menemukan kembali anak-anakNya yang hilang. Tidak peduli berapa yang kembali, meski hanya satu sekalipun, Tuhan akan sangat bersukacita. Bahkan dikatakan: “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (ay 10). Satu jiwa bertobat, itu sudah merupakan kebahagiaan besar bagi Tuhan dan seisi Surga.

Lakukanlah apapun yang dikehendaki Tuhan bagi kita secara serius dan sungguh-sungguh. Mungkin kita tidak mendapat upah sepantasnya menurut ukuran dunia, tapi ingatlah ini: bukankah Tuhan mampu memberkati kita lewat banyak hal? Mungkin apa yang kita terima tidak sebanding dengan jerih payah kita hari ini, tapi apakah tidak mungkin kelak kita akan menuai secara luar biasa? Atau tidakkah mungkin Tuhan menurunkan berkatNya dalam kesempatan lain? Satu hal yang pasti, segala sesuatu yang kita lakukan secara sungguh-sungguh dan sesuai dengan rencana Tuhan tidak akan pernah ada yang sia-sia.Firman Tuhan berkata: “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58). Daud tahu itu, dan dia sudah membuktikannya sendiri. Lewat keteladanan Yesus pun kita bisa belajar mengenai hal yang sama. Kerjakanlah semuanya dengan sebaik-baiknya. Do your best. Tuhan akan memperhitungkan segalanya, tidak akan ada yang jatuh sia-sia.

Sekecil apapun pekerjaan anda hari ini, lakukanlah dengan sebaik-baiknya dengan tanggungjawab penuh kepada Tuhan

Bully

Ayat bacaan: Yeremia 17:7
======================
“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”

dihina, disepelekan, bullyMasa orientasi kampus saat ini tidaklah seseram di waktu dulu. Ketika saya diterima di sebuah Perguruan Tinggi Negeri sekian tahun yang lalu, masa orientasi masih dikenal dengan nama ospek, dan pada saat itu perlakuan terhadap mahasiswa/i baru masih sangat tidak terpuji. Saya ingat betul pada saat itu kami harus merangkak melewati selangkangan para senior, atau merangkak di bawah kolong meja, bahkan kami para pria harus pula masuk menceburkan diri ke dalam parit besar dan tidak boleh mandi selama masa orientasi itu berlangsung. Itu belum termasuk tindakan-tindakan yang memalukan lainnya, apalagi bagi orang-orang yang tidak satu suku dengan kaum mayoritas penghuni kampus itu. Saya termasuk korban yang lumayan sering dikerjai, karena kulit saya waktu itu terbilang putih. Beberapa teman lain yang berbeda ras juga mendapat perlakuan yang keterlaluan. Dihina dari sisi ras, diejek dan dijadikan bahan tertawaan. Bentuk seperti ini ironisnya bukan saja menjadi makanan di kampus setiap kali ada penerimaan mahasiswa baru, tetapi hampir di setiap jenjang pendidikan perlakuan tidak terpuji terhadap anak baru seperti mewabah di mana-mana. Istilah yang seringkali disebut dengan “bully” atau penindasan/pelecehan sampai penganiayaan bagi pelakunya mungkin hanyalah sebagai permainan belaka, namun efeknya seringkali berbekas lama bagi para korban. Tidak jarang di antara mereka akan terluka percaya dirinya hingga waktu yang lama, bahkan ada pula yang sampai bunuh diri karena tidak tahan mendapat hinaan.

Apakah ada tokoh di Alkitab yang pernah mengalami hal ini? Dan apa yang kemudian terjadi dengan mereka? Jelas ada. Setidaknya kita bisa menyebut dua nama, Yefta dan Daud. Kedua nama ini pernah mendapatkan perlakuan tidak adil dan menjadi olok-olok orang lain, bahkan dari keluarganya sendiri. Dalam kitab Hakim-Hakim 11 kita bisa mendapatkan kisah bahwa Yefta dikatakan lahir dari seorang pelacur. Karena itulah ia diusir oleh ibunya (istri Gilead, ayah Yefta) karena ia tidak berasal dari rahim sang ibu, istri sah Gilead. Yefta bukan saja diusir oleh keluarganya, bahkan ayahnya sendiri tidak membelanya, namun juga oleh para tokoh terhormat (tua-tua) di tempatnya. Namun pada suatu ketika, di saat serangan bani Amon terasa begitu sulit untuk diatasi, mereka pun menjilat ludah sendiri dan meminta Yefta untuk menjadi panglima untuk berperang melawan bani Amon. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Yefta dengan gemilang menundukkan pasukan bani Amon. Dengan kejadian itu, Yefta berhasil mempermalukan keluarga serta orang-orang yang pernah menghina dan mengusirnya. Dalam Alkitab dikatakan demikian: “Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangannya. (Hakim Hakim 11:32).

Mari kita lihat masa kecil Daud dalam 1 Samuel 17. Ketika saudara-saudaranya dengan gagah menjadi prajurit dan disanjung oleh orang tuanya, ia diabaikan dan hanya diberi pekerjaan sebagai gembala kambing domba di padang gurun. Pada suatu ketika orang-orang Filistin termasuk di dalamnya Goliat yang berukuran raksasa mengintimidasi mental pasukan Israel. Dan tidak satupun dari mereka yang berani maju, kecuali Daud kecil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan prajurit bersenjata bangsa Israel. Namun apa reaksi saudara-saudara Daud? Ia disepelekan oleh kakaknya sendiri. “Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: “Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran.” (1 Samuel 17:28). Namun Daud tidak kecil hati. Ia dengan berani maju menghadapi Goliat. Daud berkata: “Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu. (ay 37a). Ketika berhadapan dengan Goliat yang atribut perangnya lengkap, ia kembali dicemooh oleh lawannya. Tapi apa kata Daud? “Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” (ay 45). Dan kita tahu bagaimana kisah akhirnya, Daud sukses mengalahkan orang yang jauh berukuran lebih besar darinya yang bersenjatakan sangat lengkap.

Jika kita melihat dua kisah di atas mengenai Yefta dan Daud, ada satu benang merah yang dapat kita tarik yaitu keduanya mengandalkan Tuhan dalam mengatasi permasalahan mereka. Mereka sama-sama tahu bahwa kemampuan mereka memang terbatas, mereka tahu kondisi mereka sangat memungkinkan untuk dijadikan bahan olok-olok, disepelekan, dihina dan direndahkan, namun mereka juga tahu bahwa dengan mengandalkan Tuhan, mereka akan mampu mengatasi masalah apapun. Keberhasilan akan terjadi ketika manusia yang terbatas mau mengandalkan Tuhan yang tidak terbatas kuasaNya. Yefta sejak awal sudah menyebutkan hal ini sebelum ia menerima permohonan para tua-tua untuk memimpin pasukan. “Kata Yefta kepada para tua-tua Gilead: “Jadi, jika kamu membawa aku kembali untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka kepadaku, maka akulah yang akan menjadi kepala atas kamu?” (Hakim Hakim 11:9). Dan Daud pun sama, seperti yang kita lihat dalam beberapa ayat di atas. Apa yang menjadi landasan keberhasilan mereka adalah sama, yaitu mereka mengandalkan Tuhan dalam tindakan mereka.

Jika hari ini ada diantara anda yang diremehkan, baik di kantor, di lingkungan, pertemanan atau di sekolah, janganlah kecil hati dan putus asa karenanya. Ingatlah bahwa anda berharga di mata Tuhan. Anda diciptakan dengan gambar dan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), dan tetap berada dalam telapak tangan dan ruang mataNya. (Yesaya 49:16). Dan bukankah Yesus pun dianugerahkan buat anda karena kasih Allah yang begitu besar terhadap diri anda? (Yohanes 3:16). Oleh karena itu, dalam menghadapi pelecehan atau penghinaan dari orang lain, tugas kita adalah terus berjuang dengan positif untuk membuktikan anggapan dan perilaku negatif mereka terhadap anda adalah salah. Buktikan bahwa anda bisa berprestasi, bisa sukses meski keadaan anda saat ini mungkin tidaklah sebaik mereka yang menghina anda. Bagaimana itu bisa dilakukan? Jelas, dengan mengandalkan Tuhan. Itulah yang menjadi kunci dari sebuah kesuksesan, dan bukan atas kuat kuasa dan hebatnya diri kita sendiri. Firman Tuhan sendiri berkata “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7) Diberkati bagaimana? “Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (ay 8) Itu janji Tuhan yang turun bukan kepada orang-orang yang berkuasa, kuat dan hebat secara manusiawi, tapi kepada mereka yang selalu mengandalkan Tuhan dan terus menaruh harapan pada Tuhan tanpa henti. Let’s prove them wrong, and let them see how the story goes when we rely on God in everything we do.

Ketika disepelekan, teruslah berjuang dan buktikan bahwa bersama Tuhan kita bisa berhasil

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Menyia-nyiakan Kesempatan

Ayat bacaan: 2 Samuel 7:15
======================
“Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu.”

menyia-nyiakan kesempatan“Sekali berarti, sesudah itu mati.” Itu salah satu bait puisi karya pujangga besar Chairil Anwar. Ini adalah salah satu penggalan syairnya yang paling terkenal. Dalam hidup ini kesempatan emas biasanya tidak muncul sering-sering, atau malah bisa dikatakan sangat jarang. Jika kita tidak mengambilnya, tidak memanfaatkan atau menyia-nyiakannya, maka biasanya kita akan berakhir dengan penyesalan. Jika kesempatan-kesempatan dalam hidup saja sudah begitu merugikan jika kita buang, apalagi kesempatan yang berasal dari kehendak Allah. Kemarin kita sudah membahas bahwa segala sesuatu itu ada masanya. Umur manusia terbatas, masa kita terbatas. Oleh karena itulah kita harus segera melakukan yang terbaik ketika kesempatan masih ada. Bukan buang-buang waktu, bukan malas-malasan, bukan pula memakainya untuk melakukan hal-hal yang justru bertentangan dengan kehendak Tuhan. Jika Daud kemarin tercatat melakukan kehendak Allah pada zamannya, pada waktu dimana kesempatan itu diberikan kepadanya (Kisah Para Rasul 13:36), hari ini kita melihat kebalikannya lewat raja tepat sebelum Daud, yaitu Saul. Tidak seperti Daud, Saul menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Bukannya melakukan kehendak Allah, tapi ia terus melakukan pelanggaran.

Saul memulai segala sesuatu dengan indah. Elok rupanya, tinggai badannya (1 Samuel 9:2). Ia dikenal sebagai orang yang rendah hati (ay 20-21), dan dikatakan penuh dengan Roh Allah seperti nabi-nabi (10:10-13). Lihatlah bagaimana Tuhan memberkati Saul dengan lengkap. Dia adalah raja yang diurapi. Masa depannya cerah. Karirnya gemilang. Namun sayangnya Saul tidak memakai kesempatan yang terbentang luas di depannya untuk melakukan kehendak-kehendak Tuhan. Berulang kali Saul melakukan pelanggaran. Dalam Samuel pasal 13 kita mulai melihat tanda-tanda kejatuhannya. Betapa takutnya Saul kehilangan jabatan ketika ia mulai melihat rakyatnya kocar kacir ketakutan terhadap bangsa Filistin. Ia hanya diminta menunggu tujuh hari hingga Samuel hadir disana, tapi ia tidak sabar. Ketakutan menguasai dirinya, dan ia pun kehilangan kepercayaan terhadap janji Tuhan. Maka jatuhlah Saul ke dalam dosa menduakan Tuhan. Ia mempersembahkan korban bakaran untuk meminta petunjuk arwah. (ay 11-12). Ketika Samuel datang, Saul pun ditegur dengan sangat keras. “Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.” (ay 13-14). Awal gemilang berakhir tragis, karena Saul tidak mempergunakan kesempatan yang ada untuk melakukan kehendak Tuhan, untuk berjalan sesuai rencana Tuhan. Betapa menyedihkan, bahkan Tuhan sampai menyatakan menyesal telah memilihnya. “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” (15:11). Kita tahu hidup Saul berakhir tragis. “Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap TUHAN, oleh karena ia tidak berpegang pada firman TUHAN, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah, dan tidak meminta petunjuk TUHAN. Sebab itu TUHAN membunuh dia dan menyerahkan jabatan raja itu kepada Daud bin Isai.” (1 Tawarikh 10:13-14).

Daud kemudian menjadi penggantinya, dan kita bisa melihat bagaimana kedekatan yang terjadi antara Daud dan Tuhan. Memang Daud sempat tergelincir, dan akibatnya ia harus menanggung konsekuensi yang tidak ringan. Namun ia cepat bertobat dan kembali hidup taat kepada Tuhan. Tidaklah mengherankan jika Tuhan berkenan kepadanya. “Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.” (2 Samuel 7:14). Tuhan tetap memberi hukuman keras atas kesalahannya, tapi semua itu bukan untuk membinasakan melainkan untuk mendidik, seperti hukuman seorang bapak kepada anaknya. Dan lihat kelanjutan perkataan Tuhan: “Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu.” (ay 15). Dengan jelas kita bisa melihat bagaimana keputusan Saul berakibat ditariknya seluruh janji, berkat dan penyertaan Tuhan daripadanya. Sedangkan kepada Daud yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkahnya, termasuk ketika ia menaklukkan Goliat, akan selalu diganjar kasih setia yang tidak berkesudahan. Saul dan Daud, dua-duanya pernah menjabat raja Israel, dua-duanya memiliki kesempatan, tapi pilihan yang berbeda diambil oleh keduanya. Daud memilih untuk melakukan kehendak Allah pada masanya, sebaliknya Daud memilih untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. Dan hasil yang mereka peroleh pun berbeda.

Tuhan memberikan kepada setiap orang masanya masing-masing. ““Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkotbah 3:1) Masa atau waktu kita sesungguhnya terbatas. Jangan sampai masa yang ada itu kita lewatkan sia-sia, dibiarkan berlalu di depan mata, karena masa itu mungkin tidak akan pernah terulang lagi. Oleh karena itu, ketika kesempatan ada, lakukanlah sebaik-baiknya dan jangan buang-buang waktu. Tuhan sudah membekali kita semua dengan talenta sendiri-sendiri, dan semua itu sudah seharusnya dipakai untuk memenuhi panggilan Tuhan. Adalah sebuah kehormatan tersendiri ketika kita dipilih Tuhan. Bersyukurlah untuk itu dengan mengikuti panggilanNya dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita melakukan hal yang sama seperti Saul. Mengawali segala sesuatu dengan gemilang, diperlengkapi Tuhan dengan segala kesempurnaan secara luar biasa, namun kita menyia-nyiakan itu semua, malah melakukan hal-hal yang jahat di mata Tuhan. Daud tercatat dengan tinta emas karena melakukan kehendak Tuhan pada masanya, sebaliknya Saul berakhir tragis karena melakukan hal sebaliknya pada zamannya. Seperti apa kita mau tercatat?

Ketika kesempatan ada di tangan kita, apa yang akan kita lakukan?

Tuhan adalah Gembalaku

Ayat bacaan: Mazmur 23:1-3
=======================
“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.”

Tuhanlah gembalakuBanyak orang yang akan segera membuka kitab Mazmur ketika butuh penghiburan. Mazmur adalah sebuah kitab yang menyenangkan untuk dibaca karena hampir seluruh isinya menggambarkan hubungan erat antara para penulisnya dan Tuhan. Ada begitu banyak kata-kata penghiburan yang mampu menguatkan kita kembali bisa dijumpai di kitab Mazmur yang cukup tebal itu. 150 pasal penuh dengan tulisan-tulisan yang seringkali puitis, dan mestinya mampu menyentuh segala sendi kehidupan kita. Tidaklah mengherankan jika John Calvin dalam bukunya “Heart Aflame” mendeskripsikan Mazmur sebagai “an anatomy of all the parts of the soul.” alias “anatomi dari seluruh bagian jiwa.” Mengapa demikian? Ini alasannya “since every experience, every emotion, all the heights and depths, all the joys and sorrows, all the mysteries of human life, are here.” Segala yang berhubungan dengan sisi kehidupan kita disinggung di dalam kitab Mazmur. Sebagian besar dari Mazmur akan bermuara kepada satu nama yang sangat tidak asing lagi, yaitu Daud. Ada setidaknya 73 bagian yang mencatat Daud sebagai penulisnya. Selain tulisannya sendiri, berbagai bagian dalam Mazmur juga dikumpulkan atas usahanya. Itulah sebabnya kitab Mazmur lebih sering diasosiasikan dengan Daud. Kita bisa melihat bagaimana hubungan yang sangat intim antara Daud dan Tuhan di dalam Mazmur. Apakah Daud orang yang tidak pernah mengalami masalah? Tentu saja tidak. Justru dia mengalami begitu banyak pergumulan, tapi begitu sering pula kita melihat bagaimana ia tidak membiarkan masalah itu mengganggu sukacitanya, karena ia percaya Tuhan akan selalu berada bersamanya dalam keadaan apapun. Dalam salah satu tulisannya dia menyatakan bahwa Tuhan adalah gembalanya. “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (Mazmur 23:1-3) Inilah yang hendak saya angkat dalam renungan hari ini.

Pernahkah anda berpikir mengapa Daud menyebutkan Tuhan sebagai Gembala? Saya berpendapat bahwa itu tidak terlepas dari pengalamannya menggembalakan domba milik ayahnya sejak kecil. Ia anak yang tidak dianggap pantas untuk diurapi sebagai raja oleh Samuel. Tugasnya hanya satu: menggembalakan domba. Tapi ternyata Daudlah yang menjadi raja Israel bahkan dikatakan sebagai yang terbesar. Pengalamannya menggembala domba ternyata merupakan sebuah persiapan tersendiri mengenai bagaimana menjadi pemimpin yang baik, dan juga menjadi kesempatan untuk mengalami Tuhan secara langsung.

Mari kita lihat kata-kata Daud ketika ia merasa terbakar mendengar provokasi yang dilakukan Goliat dan tentara-tentara Filistin lainnya. Pada saat itu semua tentara Israel termasuk Saul merasa ketakutan karena mereka jelas kalah besar dan kalah lengkap dibandingkan Goliat, tentara Filistin dan seluruh peralatan perang mereka yang lengkap, termasuk perisai dan baju besi pelindung yang secara detail disebutkan dalam 1 Samuel 17:4-7. Tapi ada perbedaan nyata memandang itu semua antara Daud dan para prajurit Israel lainnya. Apa yang membedakan adalah sebuah pengalaman pribadi bersama Tuhan. Itu kelebihan Daud yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dan uniknya semua itu ia alami dalam masa-masa dirinya menjadi seorang gembala domba. Daud berkata: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.” (ay 34-35). Bayangkan anak kecil yang mampu melawan singa atau beruang demi melindungi domba-domba gembalaannya! Jika ia mampu menghadapi singa dan beruang, mengapa harus takut kepada Goliat? “Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.” (ay 36). Pertanyaannya sekarang, bagaimana mungkin seorang anak kecil yang lemah secara fisik mampu melakukan itu sendirian? Daud memberikan jawabannya. TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” (ay 37). Daud mungkin lemah, tapi Tuhan tidak! Tuhanlah yang melepaskan dirinya dari semua bahaya. Ia tahu bahwa ia berada bersama Tuhan dalam pekerjaannya, dan Tuhan memberkati pekerjaannya yang mungkin tidak ada apa-apanya di mata orang. Ketika yang lain dengan gagah menjadi tentara, ia hanyalah seorang gembala domba. Tapi lihatlah bagaimana penyertaan Tuhan mampu memberikan perbedaan. Justru dalam pekerjaan “sederhana” nya itu ia mengalami penyertaan Tuhan secara nyata, secara pribadi. Dan itu membuat cara pandang Daud berbeda dari orang Israel lainnya. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Daud berhasil mengalahkan Goliat hanya dengan senjata sederhana, batu dan umban (ketapel).

Saya membayangkan inilah yang diingat Daud ketika ia tengah memuji Tuhan dan merenungkan kebaikanNya. Dan ayat emas yang saya angkat sebagai ayat bacaan hari ini pun lahir. “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (Mazmur 23:1-3). Daud ingat akan pengalamannya sebagai gembala, yang rela mengorbankan nyawa demi melindungi domba-dombanya. Dia bekerja melindungi domba-domba yang dituntunnya agar selamat. Bukankah Tuhan pun demikian? Penyertaan Tuhan terbukti mampu melindunginya dari cakaran singa dan beruang,  juga dari raksasa Goliat yang berperalatan lengkap, dan itu merupakan sebuah pengalaman pribadi tersendiri yang luar biasa. Itulah sebabnya Daud bisa berkata bahwa Tuhan adalah gembalanya. Di kemudian hari Yesus kembali menyatakan dengan sangat jelas mengenai hal ini. “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” (Yohanes 10:11). Apa yang membedakan antara gembala yang baik dan hanya sekedar orang yang menjalankan tugas saja? “..seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.” (ay 12-13). Sedangkan seorang gembala yang baik akan mengenal domba-dombanya dan sebaliknya domba-domba pun mengenalnya. (ay 14). Dan seperti itulah bentuk dari gembala yang baik, dimana Yesus bukan hanya sekedar menyatakan tapi telah pula membuktikan diriNya sebagai Gembala yang baik. “Sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.” (ay 15). Perkataan Yesus ini menggambarkan hubungan tepat seperti apa yang dialami Daud, dan inilah yang berlaku juga kepada kita hari ini. Kita adalah domba-domba yang lemah, yang rentan, namun bersama Gembala yang baik, kita tidak perlu khawatir. Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Apakah kekhawatiran hari ini masih menyita hidup anda? Apakah berbagai tekanan terus melemahkan anda? Apakah pekerjaan anda hari ini terasa begitu biasa-biasa saja dan kelihatan rendah di mata orang lain? Dari pengalaman Daud kita bisa berkaca bahwa Tuhan bisa memakai itu semua secara luar biasa. Tuhan tetap bisa pakai itu agar kita bisa mengalamiNya secara pribadi. Sesungguhnya mengalami Tuhan secara pribadi mampu memberikan cara pandang yang berbeda. Ayub sendiri akhirnya mengakui bahwa lewat penderitaanlah ia akhirnya mengenal Tuhan secara pribadi, bukan lagi atas apa kata orang semata. “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42:5). Kita akan bisa mengakui bahwa Tuhan adalah Gembala yang baik, yang tidak akan membiarkan kita kekurangan, ketika kita sudah mengalami sendiri pengalaman-pengalaman indah bersama Tuhan. Dan itu bisa terjadi lewat pekerjaan kecil sekalipun, lewat berbagai penderitaan dan masalah yang mungkin sedang kita alami. Oleh karena itu jangan kecil hati, jangan patah semangat, tapi bersyukurlah senantiasa. Alamilah penyertaan Tuhan secara pribadi, hingga pada suatu ketika kita bisa dengan keyakinan penuh berkata: “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”

THE LORD is my Shepherd, I shall not lack

Incoming search terms:

Berapa Lama Lagi, Tuhan?

Ayat bacaan: Mazmur 13:2
=====================
“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?”

berapa lama lagi Tuhan, dimana Tuhan“Dimanakah Tuhan disaat aku menderita? Berapa lama lagi aku harus merasakan penderitaan ini?” Kata seorang teman pada suatu kali ketika ia menghadapi penderitaan. Ia merasa seolah-olah Tuhan tidak mempedulikan dirinya dan membiarkannya sendirian menghadapi semua beban. Seperti dirinya, ada saat-saat dimana kita berhadapan dengan pertanyaan yang sama. Seringkali ketika kita berada dalam titik rendah kehidupan, kita mulai bertanya-tanya mengapa Tuhan tidak mengulurkan tanganNya atau setidaknya menjawab doa kita. Mengapa Tuhan seolah-olah sengaja memalingkan mukaNya, membiarkan kita bergumul sendirian? Pada saat-saat demikian seringkali kita tidak lagi mampu mengeluarkan ucapan syukur.

Ada memang masa dimana kita mengalami kesulitan, dan itulah hidup. Tidak ada hidup yang selamanya senang. Pasti ada waktu kita harus merasakan kesedihan bahkan penderitaan dengan berbagai bentuk dan sebab. Sebagai manusia yang memiliki perasaan, tentu rasa itu menyakitkan kita, dan tidak ada satupun dari kita yang ingin berlama-lama berada dalam perasaan sakit itu. Kita ingin sesegera mungkin lepas. Namun mengapa Tuhan tidak kunjung menolong kita? Ini pertanyaan yang pasti pernah dialami oleh siapapun. Hal yang sama juga sempat dialami oleh beberapa tokoh Alkitab dalam berbagai kesempatan, seperti apa yang dialami Daud misalnya. Pada suatu ketika Daud mengalami pergumulan berat. Semua musuhnya bersorak-sorak mengejeknya, dan ia pun sempat merasa mengalami itu sendirian saja tanpa ada yang peduli, termasuk Tuhan. Ia berada dalam titik rendah, dalam tekanan atas segala yang ia alami, sampai-sampai ia pun bertanya pada Tuhan: “Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” (Mazmur 13:2). Daud terus melanjutkan keluhannya, “Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?” (ay 3). Dalam kesesakan hidup, sama seperti Daud kita pun sering mempertanyakan hal yang sama. Itu adalah hal yang wajar. Tapi janganlah membiarkan hal itu berlarut-larut, membiarkan kita hanya terfokus kepada keluhan atas ketidaksabaran kita mengalami tekanan, lalu serta merta menyalahkan Tuhan karenanya. Daud tidak mau terjatuh pada perasaan seperti itu. Ia memang sempat mengeluh, dan itu sekali lagi wajar, tapi ia tidak mau berlama-lama membiarkan perasaan itu menguasainya. Daud tidak ingin tenggelam dan menyerah pada situasi tidak menyenangkan yang ia alami. Segera ia bangkit dan mengandalkan imannya, percaya bahwa Tuhan pasti mampu mengatasi segala perkara, termasuk perkara dirinya dan akan segera melepaskannya dari kesesakan. Lihat bagaimana Daud kembali tegar dan mengubah pola pandangnya. “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.” (ay 6). Luar biasa bukan? Masih dalam kesesakan, Daud bisa kembali bangkit bahkan memuji Tuhan dan mengatakan bahwa Tuhan telah berbuat baik kepadanya.

Apa yang membuat Daud bisa berkata demikian? Saya yakin Daud belajar dari pengalaman hidupnya. Disaat ia masih sangat muda, ia sudah mampu mengalahkan raksasa Goliat atas izin Tuhan. Kemudian mari kita lihat siapa Daud. Daud tadinya bukan siapa-siapa, ia bahkan tidak dipandang ayahnya sendiri ketika Samuel hendak mengambil salah satu dari anaknya untuk menjadi raja. (baca 1 Samuel 16:1-13). Daud hanyalah anak-anak yang kerjanya hanya menggembalakan kambing domba. Tapi lihatlah ternyata ia dipilih Tuhan untuk menjadi raja Israel. Dari padang rumput ke tampuk istana, dari bukan siapa-siapa menjadi raja yang mulia. Dalam berbagai kesempatan Daud secara langsung mengalami penyertaan Tuhan atas hidupnya. Begitu banyak bukti di masa lalunya. Jika dulu semua itu mampu dilakukan Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan sekarang tidak bisa menolongnya? Daud menyadari hal itu, sehingga ia pun bisa bangkit dan kembali mempercayakan hidup sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan dalam iman yang kuat.

Mungkin bisa dimaklumi jika pada suatu saat kita merasa sendirian menghadapi masalah, merasa bahwa Tuhan sepertinya meninggalkan kita bergumul seorang diri. Tapi jangan biarkan perasaan itu menguasai kita berlama-lama. Segeralah bangkit seperti Daud! Berbaliklah segera dan kembalilah menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Percayalah jika dahulu Tuhan sanggup, saat ini pun Dia sanggup, sebab Tuhan tidak tidak pernah berubah. Dalam Ibrani dikatakan “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8). Apa yang dijanjikan Tuhan sesungguhnya jelas: “..Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” (Yosua 1:5) dan kemudian ayat ini kembali diulang dalam Ibrani: “Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b). Karenanya, “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12). Dan “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Ada masa dimana kita harus mengalami permasalahan yang mungkin menimbulkan penderitaan, tapi ingatlah bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian. Pada waktunya, sesuai waktuNya, Dia akan mengangkat kita keluar dari pergumulan. Jika diantara teman-teman ada yang masih berada dalam pergumulan, bersabarlah dan jangan putus harapan. Nantikan pertolongan Tuhan dengan sabar, tetaplah tekun dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Pada waktunya Tuhan pasti akan menyatakan mukjizatNya yang ajaib.

Bersabarlah dan tetaplah percaya dalam iman yang teguh, segala sesuatu pasti indah pada waktunya