Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Motivasi Untuk Mengikuti Yesus

Ayat bacaan: Yohanes 2:14
=====================
“Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.”

motivasi mengikuti YesusSeandainya sebuah pertanyaan diajukan kepada pasangan anda, mengapa ia mencintai anda? Apa jawaban yang anda harapkan untuk keluar darinya? Saya rasa kita semua sepakat berharap bahwa jawaban yang keluar adalah karena mereka mencintai kita. Tapi coba bayangkan jika jawaban yang keluar bukan itu, melainkan “karena dia kaya”, “karena harta warisannya besar”, “karena statusnya tinggi”, atau jawaban seperti ini: “saya tidak tahu pasti..” , pasti jawaban itu akan mengecewakan dan menyakitkan bukan? Kebutuhan kita akan cinta sungguh sangat besar, dan cinta memang punya kekuatan yang dahsyat untuk bisa merubah banyak hal. Love makes the world go round, itu kata mutiara yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Nyatanya cinta kasih memang merupakan hal besar yang berasal dari Tuhan. Jangankan buat kita, buat Tuhan saja pernyataan cinta atau kasih itu sangatlah besar nilainya.

Hari ini mari kita melihat sebuah kisah yang mencatat kemarahan Yesus yang begitu besar ketika Dia hadir di muka bumi ini dalam bentuk fisik manusia. Pada sebuah Hari Paskah Yahudi, Yesus pergi ke Yerusalem dan datang ke Bait Suci. Apa yang tercatat pada ayat berikutnya sungguh ironis. “Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.” (Yohanes 2:14). Ketika saya membaca ayat ini untuk pertama kali, saya sempat bertanya, “Ini gereja apa pasar sih?” Bayangkan di Bait Suci itu bukan berisi orang-orang yang ingin menyembah dan memuliakan Tuhan, tetapi justru penuh dengan para pedagang beserta hewan dagangannya, ditambah lagi para penukar uang alias money changer melakukan bisnisnya disana. Saya bisa membayangkan betapa hiruk pikuknya suasana di Bait Suci yang kudus pada saat itu. Yang terjadi selanjutnya saya yakin mengagetkan semua orang di sana, dan mungkin juga kita. Yesus marah besar. “Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (ay 15-16). Anda mungkin heran mengapa Yesus bisa marah seperti itu. Padahal menurut jalan pikiran kita, ada banyak hal yang seharusnya bisa membuat Yesus lebih marah. Ketika Yesus dihina, ditinggalkan, difitnah, disiksa dan disalib hingga mati misalnya. Bagi kita itu tentu lebih serius daripada sekedar melihat orang berdagang di rumah bukan? Kita akan mudah marah ketika kita mendapat perlakuan seperti itu dari orang lain, tetapi Yesus sama sekali tidak marah ketika diperlakukan demikian. Dia tetap tenang menjalani semuanya seperti apa yang dikehendaki Bapa. Tapi melihat orang-orang berdagang di Bait Suci, kemarahan Yesus pun timbul. Jika Yesus yang begitu sabar dan lembut hati hingga bisa marah seperti itu, tentu itu merupakan hal yang sangat serius. Apa yang membuat Yesus marah sedemikian rupa saat itu?

Kemarahan Yesus timbul karena melihat banyaknya orang yang mencari untung dengan memanfaatkan Tuhan. Kita mungkin bisa tertawa dan mengatakan bahwa kita tidak berdagang sapi atau burung di gereja, tetapi sadarkah kita bahwa ada banyak orang yang mencari Tuhan hanya untuk keuntungan semata? Dalam ayat 21 kita membaca: “Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.” Ada banyak orang yang mau mengikut Yesus agar bisnisnya lancar, bisa mendapat untung besar, ada banyak pula orang yang berharap bisa mendapat jodoh, karirnya naik, sembuh dari penyakit dan sebagainya. Tuhan bisa menyediakan itu semua, itu benar sekali. Namun semua itu seharusnya bukan menjadi prioritas utama. Coba tanyakan, jika mengikut Yesus berarti siap memanggul salib, harus mengalami penderitaan, maka akan ada banyak orang yang mengundurkan diri. Mereka hanya melihat Tuhan sebagai pemberi berkat, itu motivasi utama, dan bukan karena mereka mengasihi Tuhan. Ini adalah hal yang ironis dan keterlaluan. Mengapa? Karena kita harus sadar bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Cinta yang dimiliki Tuhan atas kita manusia sungguh teramat sangat besar. Bayangkan Tuhan yang begitu besar mau repot-repot mengurusi manusia di dunia yang sangat kecil di tengah alam semesta. Dia rela mengambil rupa seorang hamba, disiksa dan mati di atas kayu salib demi menyelamatkan kita semua dari kebinasaan kekal. Ini sebuah misi penyelamatan yang mencengangkan.

Apa yang menggerakkan Tuhan untuk itu bukanlah untuk keuntungan diriNya. Perhatikan ayat berikut: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).  Lihatlah bahwa misi penyelamatan yang mencengangkan itu hadir karena didasari cinta kasih yang begitu besar kepada kita. Bentuk cinta kasih Tuhan yang besar itulah yang menggerakkanNya untuk bersikap pro-aktif menyelamatkan kita secara langsung lewat penebusan Kristus. Jika Tuhan begitu mengasihi kita dan menganggap kita yang penuh dosa ini begitu berharga dan layak dicintai, tidakkah keterlaluan jika kita malah berhitung untung rugi untuk menjadi pengikut Yesus? Maka wajarlah jika Yesus pun begitu marah ketika melihat orang-orang yang datang mencari Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi.

Yesus sudah mengingatkan bahwa kita tidak akan pernah bisa mengabdi kepada dua tuan. “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24). Prioritas haruslah jelas, motivasi kita pun juga harus benar. Ingatlah bahwa “Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” (2 Korintus 5:15). Semua itu didasari kasih Bapa yang begitu besar, dan sudah seharusnya kita pun mendasari iman kita kepadaNya bukan karena embel-embel lain selain kasih. Karena kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, raga dan roh kita. Apa yang menjadi motivasi kita hari ini untuk menerima Yesus? Apakah kita berpikir untuk mendapatkan laba besar, bisnis lancar, karir meningkat, jodoh datang, sakit disembuhkan, dan sebagainya, atau semata-mata karena kita mengasihi Yesus, yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita justru ketika kita masih berlumur dosa? Jika jawaban kita masih didasari kepada motivasi untuk mencari keuntungan, berubahlah sekarang sebelum Yesus harus marah kepada kita dan menjungkirbalikkan semuanya.

Dasarkan penyerahan hidup kita kepada Tuhan atas dasar kasih dan bukan untuk mencari keuntungan

MInggu Biasa XIV – Yes 66: 10-14; Gal 6:14-18; Luk 10:1-12.17-20

"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”

Mg Biasa XIV: Yes 66: 10-14; Gal 6:14-18; Luk 10:1-12.17-20


Akhir-akhir ini kasus pelecehan  seksual yang dilakukan oleh sementara imam/pastor diangkat alias menjadi wacana publik, sementara itu jumlah imam/pator yang mengundurkan diri terus berlangsung dan panggilan untuk menjadi imam merosot. Jumlah pekerja dalam Gereja, imam, bruder atau suster semakin merosot dan kebutuhn pelayanan umat semakin meningkat. Sering saya dengar keluh kesah umat betapa sulitnya minta bantuan imam untuk memimpin ibadat atau penerimaan sakramen, misalnya penerimaan sakramen minyak suci bagi mereka yang menderita sakit keras, perayaan ekaristi untuk pemakaman, dst.. Memang tantangan dan godaan menjadi imam, bruder atau suster maupun hidup berkeluarga pada masa kini sungguh berat dan banyak, maka baiklah kita tanggapi sabda Yesus hari ini, sebagaimana menjadi Warta Gembira hari ini.

 

"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan” (Luk 10:2-4).  

 

Kita dipanggil oleh Yesus untuk mohon dengan rendah hati agar Tuhan mengirimkam pekerja-pekerja, imam, bruder atau suster yang siap sedia serta dengan belas kasih melayani umat Allah. Kami merasa dalam hal ini peran orangtua atau keluarga dominan alias penting sekali, antara lain suasana hidup berkeluarga atau di dalam keluarga. Hidup suami-isteri didasari dan dijiwai oleh cinta kasih dan ketika mengawali hidup baru sebagai suami-isteri saling berjanji untuk saling mengasihi baik dalam sehat maupun sakit, untung maupun malang sampai mati. Maka  suasana hidup berkeluarga hendaknya sungguh dijiwai oleh cintakasih, yang antara lain relasi antar anggota keluarga ditandai atau diwarnai oleh ‘saling sabar, saling bermurah hati, saling tidak marah dan tidak menyimpan kesalahan, saling rendah hati, saling menghormati, saling percaya, saling peka akan kebutuhan yang lain lebih-lebih bagi yang sakit, sedih dan menderita, dst” (lih 1Kor 13:4-7),.

 

Dalam kebersamaan cintakasih hendaknya diusahakan setiap hari ada doa bersama, antara lain berdoa kepada Tuhan mohon agar Ia mengirimkan pekerja-pekerja dalam kebun anggur Tuhan. Kepada para orangtua kami ingatkan dan harapkan bahwa ketika salah seorang anaknya ada yang merasa tergerak dan terpanggil untuk menjadi imam, bruder dan suster hendaknya didukung, dan tidak dihalang-halangi melalui aneka cara. Yesus mengingatkan bahwa ada serigala-serigala yang siap menerkam dalam perjalanan hidup kita. Serigala-serigala itu ada kemungkinan ada di dalam hati kita masing-masing, yaitu berupa ketakutan atau kekhawatiran. Pada uumnya mereka yang khawatir adalah orang-orang kota yang kaya dan hanya memiiki dua atau tiga anak.

 

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita juga diutus untuk mewartakan kabar baik, yaitu hidup dan bertindak sesuai dengan ajaran-ajaran atau sabda-sabdaNya dalam keadaan atau situasi apapun, kapanpun dan dimanapun. Kita diingatkan oleh Yesus bahwa kita ‘seperti anak domba ke tengah serigala-seigala. Janganlah membawa pundit-undi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan”.  Peringatan atau pesan Yesus ini kiranya dapat kita hayati dengan hidup dan bertindak sederhana atau.lebih mengandalkan diri pada manusia daripada aneka macam sarana-prasarana seperti uang, alat-alat, kendaraan dst.. Dengan kata lain hendaknya berpegang pada motto “the man behind the gun” (manusia yang berada dibalik senjata atau  aneka sarana-prasarana). Aneka sarana-prasarana memang dapat menjadi ‘serigala-serigala’yang siap menerkam, melumpuhkan atau melemahkan serta membuat frustrasi manusianya. Kita juga diingatkan untuk ‘tidak memberi salam kepada siapapun selama di perjalanan’, artinya tidak menyeleweng atau mengerjakan pekerjaan sambilan.

 

“Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Gal 6:14)

Kebanyakan dari kita bermegah atas apa yang kita miliki atau kuasai saat ini, misalnya pangkat, kedudukan, harta benda/uang, kecantikan, ketampanan, kepandaian, dst.. alias bermegah atas halhal duniawi. Paulus memberi kesaksian bahwa ia hanya bermegah dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus “sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia”.  Entah sudah berapa kali kita yang beriman kepada Yesus Kristas nenbuat tanda salib, kiranya tak ada seorangpun yang sempat menghitung atau nengingat-ingatnya. Dalam membuat tanda salib antara lain dengan telunjuk jari kita menunjuk atau  menepuk dahi, dada dan bahu, yang berarti otak/pikiran, hati/jantung dan kekuatan kita. Bukankah hal itu berarti kita menyalibkan atau mempersembahkan pikiran, perasaan dan kekuatan kita kepada Yang Tersalib?  

 

Dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia”  berarti aku  harus bekerja keras menyelamatkan dunia seisinya dengan hidup mendunia, berpartisipasi dalam seluk-beluk atau hal ihkwal duniawi. Kita menycikan dunia dan dengan semakin mendunia kita semakin suci. Dengan kata lain mendunia, entah belajjar atau bekerja, entah sedang rekreasi, berjalan, dst.. bagaikan beribadat. Dalam bahasa /spiritualitas  Ignatian hal itu berarti menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu di dalam Tuhan (‘contemplativus in actione’). Dalam hal ini Romo JB Mangunwijaya pr alm. sering mengingatkan demikian dalam berbagai kesempatan “Jangan mencari kesucian di kapel, di gedung gereja, di tempat ziarah dst.., tetapi carilah kesucian di kamar mandi, di WC/toilet, di kamar makan, di dapur, di tempat tidur, di kantor, di jalanan dst.”

 

“Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya” (Yes 66:10), demikian peringatan atau ajakan Yesaya. Yerusalem adalah kota suci, kota atau tempat idaman, sedangkan yang menjadi tempat idaman kita masa kini atau ‘Yerusalem’ kita adalah keluarga dan tempat kerja/belajar, dimana kita memoboroskan waktu dan tenaga kita setiap hari. Di dalam keluarga atau tempat kerja/belajar kita masing-masing kita diharapkan untuk senantiasa bersukacita, bergirang bersama segirang-girangnya. Maka marilah kita mawas diri apakah di dalam keluarga dan tempat kerja/belajar kita sungguh bersukacita meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Menghadapi tantangan, masalah dan hambatan dengan sukacita atau girang berarti akan mampu mengatasinya, tentu saja sukacita atau kegirangan dalam dan bersama dengan Tuhan, karena Tuhan senantiasa mendampingi perjalanan hidup dan pelaksanaa pekerjaan atau tugas. .   

 

” Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian!….Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu, memazmurkan nama-Mu." Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia: Ia mengubah laut menjadi tanah kering, dan orang-orang itu berjalan kaki menyeberangi sungai. Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia

(Mzm 66:1-2.4-6)

Jakarta, 4 Juli 2010

14 Mar – Yos 5:9a.10-12; 2Kor 5:17-21; Luk 15:1-3.11-32

“Marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk”

Mg Prapaskah IV : Yos 5:9a.10-12; 2Kor 5:17-21; Luk 15:1-3.11-32

 

Para pendatang pada umumnya lebih sukses dan berhasil dalam usaha dan kerjanya daripada para penduduk asli. Penduduk asli sering merasa diri sebagai yang berkuasa dan terpilih di daerah atau tempat tinggalnya serta ada kecenderungan untuk menjadi sombong. Dengan dan dalam perasaan macam itu penduduk asli juga merasa yang terbaik atau lebih baik daripada pendatang. Perasaan sebagai yang terbaik juga dialami oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, sebagaimana digambarkan sebagai anak sulung dalam perumpamaan ‘anak hilang’, sebagaimana dikisahkan di dalam Warta Gembira hari ini. Warta Gembira hari ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi siapapun yang bersikap mental Farisi atau merasa diri yang terbaik.

 

Bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka” (Luk 15:2).

 

Yesus adalah Penyelamat Dunia, yang datang untuk menyelamatkan dunia, maka Ia senantiasa berusaha untuk mencari dan menyelamatkan orang berdosa atau ‘yang hilang’. Ia duduk dan makan bersama dengan para pendosa, yang dalam ‘mind set’  masyarakat waktu itu orang berdosa berarti harus disingkiri dan dijauhkan dari pergaulan bersama. Mungkin sebagian dari kita juga memiliki ‘mind set’  macam itu, sehingga enggan atau tidak bersedia bergaul dengan para pendosa atau mereka yang terbuang. Dalam tampilan SCTV beberapa waktu yang lalu antara lain disiarkan seorang yang berjiwa sosial di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang dengan penuh cinta kasih dan pengorbanan merawat dan mengurus saudara-saudarinya yang bernyakit jiwa serta menggelandang. Ia membuat asrama sederhana dan menyisihkan kekayaannya untuk mengurus dan merawat puluhan pasien sakit jiwa. Diceriterakan juga bahwa beberapa temannya berkomentar “Untuk apa kamu mengurus orang-orang macam itu?”.  Komentar macam itu rasanya mirip dengan ‘sungut-sungut orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat’ ketika mereka melihat Yesus duduk dan makan bersama para pendosa.

 

“Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia” (Luk 15:28-30), begitulah gambaran orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang diperankan oleh ‘anak sulung': sombong dan melecehkan orang lain, yang memang lebih jelek dan berdosa. Kepada mereka yang masih bersikap mental Farisi kami ajak untuk bertobat dan belajar rendah hati, sebagaimana dihayati oleh ‘anak hilang’.

 

“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa” (Luk 15:21)  .

 

Jika kita jujur mawas diri atau melihat diri sendiri, kiranya kita semua akan menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa, seperti ‘anak hilang’. Jika kita mengaku tidak pernah berdosa, maka berarti kita berdusta terhadap diri kita sendiri. Marilah di masa Tobat/Prapaskah ini dengan rendah hati kita mengakui segala kesalahan dan dosa yang telah kita lakukan: secara liturgis kita mengaku dosa secara pribadi di hadapan seorang imam, dan secara sosial, jika dimungkinkan baiklah kita mengakui kesalahan dihadapan saudara kita yang telah menjadi korban kesalahan kita serta mohon kasih pengampunan dari dia. Berdosa memang memiliki dimensi vertical dan horisontal, ada hubungannya dengan Tuhan dan sesama manusia maupun lingkungan hidupnya.

 

Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang berdosa identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang beriman; semakin beriman berarti semakin menyadari dan menghayati diri sebagai yang lemah dan rapuh serta dikasihi oleh Tuhan. Orang-orang terpilih di dalam Gereja Katolik, misalnya para uskup,  senantiasa menyatakan diri sebagai yang hina dina dan berdosa, yang dipanggil Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya, maka selayaknya kita meneladan mereka. Menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa tidak berarti lalu diam saja, melainkan berarti senantiasa membuka diri untuk ditumbuh-kembangkan alias dibina dan dididik terus menerus. Dengan kata lain orang bersikap mental ‘ongoing formation/ongoing education’ . Orang yang bersikap mental demikian ini pada umumnya juga dapat menjadi pendamai dan pengampun, meneladan ‘bapa yang baik’.

 

“Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria(Luk 15:22-24).

Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menghayati iman kita antara lain dengan menjadi saksi dan menyebarluaskan kasih pengampunan dan pendamaian, sebagaimana dikatakan Paulus kepada umat di Korintus : “Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami” (2Kor 5:19). Segala kesalahan, pelanggaran dan dosa-dosa kita tidak pernah diperhitungkan atau diingat-ingat lagi oleh Tuhan, dan mungkin juga oleh saudara-saudari kita, maka marilah hal itu kita syukuri dengan menjadi saksi kasih pengampunan dan pendamaian.

 

Gerakan kasih pengampunan dan pendamaian kiranya sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat dan memperhatikan masih maraknya aneka balas dendam dan kemarahan sebagai wujud konkret kesombongan. Marilah kita pro-aktif: dimanapun dan kapanpun kita melihat dan mendengar terjadi permusuhan, balas dendam dan kemarahan, marilah segera kita datangi untuk diajak berdamai. Kita dapat meneladan ‘bapa yang baik’, yang tidak memperhitung-kan serta mengingat-ingat kesalahan, dosa dan kekurangan orang lain, dan ketika ada orang bertobat dan berdamai hendaknya segera kita ajak bersukaria dan bergembira ria.  Baiklah saya angkat lagi pesan Perdamaian Paus Yohanes Paulus II dalam rangka memasuki Millenium Ketiga :”There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” (= Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan). Berbuat adil antara lain menjunjung tinggi, menghormati dan menghargai harkat martabat manusia, sebagai ciptaan Allah terluhur dan termulia di dunia ini, demikian juga mengampuni mereka yang bersalah atau berdosa.

 

“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” (Mzm 34:2-5).

Jakarta, 14 Maret 2010

.        

Terbuang

Ayat bacaan: Yohanes 8:7
=====================
“Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

jangan menghakimi, terhempas dan terbuangKemarin saya bercerita mengenai seorang teman lama yang baru saja saya temukan lagi lewat situs jejaring Facebook. Tadinya ia adalah seorang Kristen, namun ternyata saat ini ia sudah memilih untuk tidak lagi percaya pada Tuhan alias mengakui dirinya sebagai seorang atheis. Pasalnya, ia tidak tahan lagi menghadapi gunjingan sinis jemaat lainnya yang menuduhnya sebagai wanita penggoda suami orang. Bayangkan betapa ironisnya, ketika gereja dan jemaat sibuk berdoa agar ada banyak jiwa di luar yang bisa diselamatkan, tetapi yang terjadi malah sebaliknya, secara tidak langsung mengusir jiwa yang tertekan, terluka bahkan terhilang di dalam gedung gereja itu sendiri. Tuhan Yesus meminta kita untuk menggembalakan domba-dombaNya, bukan saja di dalam lingkungan kita saja, tapi kita juga diminta untuk bisa menjangkau jiwa agar diselamatkan. Sementara yang terjadi dalam kasus teman saya? Bukan hanya enggan menggembalakan, namun malah menghakimi dengan sikap-sikap sinis yang ditunjukkan secara nyata tepat di depan orangnya. Mungkin benar teman saya itu berdosa, mungkin juga tidak, saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi saya beranggapan justru gereja dan jemaat yang harus merangkul dan membawanya bertobat jika memang benar tindakannya seperti apa yang dikatakan jemaat lainnya. Yang terjadi sungguh disayangkan. Ia tidak lagi percaya pada Tuhan, dan memilih untuk menjadi atheis. Bukannya ditolong, orang yang jiwanya butuh diselamatkan malah semakin terhempas dan terbuang.

Mahatma Gandhi pada suatu saat pernah begitu tertarik pada sosok Yesus. Ia mengakui secara langsung bahwa dalam Yesus ia menemukan kedamaian dan kekuatan. Yesus, menurut Gandhi, adalah sosok yang tidak pernah mengajarkan untuk balas dendam melainkan cinta kasih. Hal ini sangatlah menginspirasi dirinya. Tapi sungguh disayangkan apa yang ia alami dalam hidupnya. Bentuk-bentuk perbedaan ras dan diskriminasi berulang kali ia alami. Ia pernah ditendang keluar dari kereta api karena menolak untuk dipindahkan ke kabin kelas tiga, kabin yang diperuntukkan secara khusus untuk kaum kulit berwarna. Ia juga mengalami langsung bagaimana ekspansi kekuasaan dari negara-negara barat ke Asia dan Afrika, yang ironisnya malah mengatasnamakan Tuhan sebagai dalih. Hal ini sungguh mengecewakannya, dan akibatnya Gandhi tidak pernah tercatat mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Berulangkali manusia baik secara sadar atau tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyelamatkan jiwa terbuang. Padahal sebaliknya dalam banyak kisah yang tercatat dalam Alkitab Tuhan menunjukkan bahwa Dia sanggup memakai siapapun dan tentunya mengaruniakan keselamatan. Saulus, sang pembantai orang Kristen yang kemudian menjadi rasul yang sangat berpengaruh. Daud masih sangat muda dan secara logika belum mengerti apa-apa ternyata bisa diubahkan Tuhan secara luar biasa. Matius tadinya adalah seorang pemungut cukai. Nuh dipakai pada usia lanjut. Dan begitu banyak lagi contoh bagaimana Tuhan menganugrahkan keselamatan kepada siapapun tanpa terkecuali.

Kisah perjumpaan Yesus dengan perempuan yang berzinah dalam Yohanes 7:53-8:11 memberi gambaran jelas bagaimana seharusnya kita bersikap. Ketika itu Yesus berhadapan dengan seorang wanita yang digiring orang-orang Farisi karena tertangkap basah akibat berbuat zinah. Secara hukum Taurat, sang wanita seharusnya dirajam sampai mati dengan batu. Tapi apa jawab Yesus? “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yohanes 8:7). Dan akhirnya semua orang Farisi pergi meninggalkan Yesus dan si wanita, dan wanita itu pun mendapat pengampunan. Jika Yesus saja memberi pengampunan kepada pendosa, mengapa manusia harus merasa begitu suci dan berhak untuk menghakimi? Paulus berkata “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.” (Roma 14:4). Kita tidak dalam kapasitas untuk menghakimi hidup orang lain. Apa yang bisa kita lakukan adalah mendoakan dan melayani orang-orang yang jiwanya haus pertolongan dan jamahan Tuhan. Lebih lanjut Paulus pun mengatakan bahwa urusan menghakimi itu adalah urusan Tuhan, bukan kita. (Roma 12:19).

Bagi gereja dan jemaat, janganlah mengucilkan, menghempaskan dan membuang mereka yang terjatuh dalam dosa. Jika ini terjadi, bukannya membawa banyak jiwa dari luar, namun malah membuang jiwa dari dalam. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus mati bukan hanya untuk kita saja, namun bagi semua umat manusia di bumi ini tanpa terkecuali. Begitulah besarnya kasih Tuhan buat manusia. Jika kita memiliki kasih Yesus dalam hidup kita, bagaimana mungkin kasih itu lenyap tak berbekas ketika menghadapi orang-orang yang butuh pertolongan? Kedatangan Yesus ke dunia pun justru untuk menyelamatkan mereka yang “sakit”. Yesus bukan datang untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. (Matius 9:13). Janganlah malah menjadi batu sandungan, karena jika itu yang terjadi, akibatnya akan sangat fatal bagi kita. Jangan membuang mereka, tapi kasihilah dan layani dengan kasih, sebab Tuhan sendiri pun mengasihi mereka. Jangan rampas kesempatan mereka untuk beroleh pemulihan dan keselamatan. Kasih Kristus akan tercermin secara nyata lewat sikap kita yang mau merangkul orang berdosa.

Di sisi lain, bagi mereka yang terjatuh dalam lumpur dosa, ingatlah bahwa manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak. Janji Tuhan itu “ya” dan “amin”. Dia akan selalu menepati janjiNya, termasuk menganugerahkan keselamatan kepada setiap orang, termasuk anda. Jika memang ada di antara teman yang mengalami hal ini, janganlah sampai mengalami kepahitan dan semakin jauh dari Tuhan. Tidak semua orang akan bersikap seperti itu. Hendaklah anda mampu berpikir bahwa kesempatan untuk bertobat tetap diberikan Tuhan kepada diri anda kapan saja. Tidak semua orang akan bersikap negatif. Pasti masih ada orang-orang yang akan dengan tulus membimbing anda untuk kembali ke jalan Tuhan. Dosa-dosa semerah kirmizi sekalipun bisa Tuhan pulihkan menjadi putih seperti salju. (Yesaya 1:18). Bertobatlah dan mohon pengampunan dari Tuhan, dengan hati lembut yang mau diubahkan, maka Tuhan siap menopang diri anda. Tuhan mau mengampuni sang wanita yang kedapatan berzinah, Tuhan mau mengampuni Daud yang kedapatan melakukan dosa perzinahan dan pembunuhan, Tuhan mau mengampuni Saulus bahkan memakainya secara luar biasa. Jika kepada mereka-mereka ini Tuhan mau, kepada anda pun Dia bersedia!

Cerminkan pribadi Tuhan yang mengasihi siapapun tanpa terkecuali kepada jiwa-jiwa yang haus pertolongan

Katakan Cinta Hari Ini

Ayat bacaan: Kidung Agung 1:15-16
===========================
“Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu. Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita.”

katakan cinta, ungkapan cinta, romantis, mencintai istri, mencintai suami, valentineKemarin saya kaget membaca status seorang teman saya di facebook. Sebut saja namanya X. Disana tertulis: “X is sad.. my husband told me I was a rhino..duh..” Bagaimana seorang suami tega menyebut istrinya seperti badak? Mungkin maksudnya bercanda, tapi bercanda juga kira-kira dong… itu yang ada di benak saya. Atau kalaupun teman saya tadi memang gemuk, bukan begitu caranya berkata pada istri sendiri. Saya jadi ingat pernah membaca sebuah survey mengenai suami istri. Hasil yang diperoleh ternyata mencengangkan.. Ada banyak yang berkata bahwa mereka tidak pernah menerima pujian, kemudian disusul pula dengan “jarang sekali, hampir tidak pernah.” Ada yang pernah berkata dia tidak ingat lagi kapan terakhir kali dipuji oleh pasangannya. Seorang teman pernah berkata sambil tertawa bahwa ia bisa membedakan pasangan yang masih pacaran dan sudah menikah hanya dari perilaku mereka di restoran. Yang masih pacaran, katanya, akan terlihat sangat mesra, mata seolah-olah tidak bisa lepas dari tatapan ke arah kekasihnya. Sedangkan yang sudah menikah? Biasanya cuek dengan kesibukan masing-masing. Dua-duanya sibuk main ponsel, atau satu baca koran, satunya sms-an. Di sisi lain ada orang yang sulit memuji. Tidak terbiasa untuk memuji dari kecil, bukan lahir di lingkungan keluarga yang saling menghargai, ada yang merasa risih untuk memberi pujian, ada yang malu, bahkan ada pula yang takut pujian mereka bisa membuat orang lain besar kepala.

Ada banyak bentuk memang yang bisa dipakai untuk menyatakan sebentuk cinta atau kasih kepada sesama. Cinta bukan hanya sebatas di bibir saja, melainkan lewat perbuatan. Itu benar. Dan semua bentuk yang dipakai untuk menyatakan cinta kasih sepanjang dilakukan dengan tulus tentunya patut dihargai. Tapi ingatlah bahwa manusia tetap butuh sebentuk pernyataan cinta kasih, pujian dan penghargaan lewat perkataan. Kita sering mudah menegur atau mengkritik jika ada yang salah, namun sulit memberikan pujian ketika mereka melakukan sesuatu yang baik. Bagi banyak pasangan suami istri, seiring perjalanan waktu, kebersamaan itu mulai terasa biasa-biasa saja, romantisme menurun. Kesibukan, kehadiran anak-anak, dan rutinitas, misalnya, bisa membuat sebuah hubungan lama-lama menjadi datar. Lama-lama, ucapan “my wife is like a rhino..”, atau “suamiku seperti karung goni bentuknya” pun bisa keluar. Padahal lihatlah betapa tidak pantasnya ucapan seperti ini ditujukan bagi pendamping hidup kita yang sudah menjadi satu daging, dan dimateraikan langsung oleh Tuhan.

Membaca Kidung Agung membuat saya berpikir, betapa indahnya sebuah hubungan cinta antara dua sejoli yang menikah. Begitu banyak pujian puitis sepanjang kitab ini, dan itu menunjukkan betapa bentuk ungkapan kasih lewat perkataan tulus kepada pasangan kita merupakan hal yang penting di mata Tuhan. Ayat bacaan hari ini misalnya: “Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu. Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita.” (dalam bahasa Inggrisnya: “Behold, you are beautiful, my love! Behold, you are beautiful! You have doves’ eyes. [She cried] Behold, you are beautiful, my beloved [shepherd], yes, delightful! Our arbor and couch are green and leafy.”) (Kidung Agung 1:15-16). Indah bukan? Begitu banyak lagi ayat-ayat yang sangat puitis dan berterus terang mengenai hubungan romantis antara suami dan istri sepanjang Kidung Agung. Cinta yang dianugrahkan Tuhan bagi kita itu sangatlah kuat. Begitu kuatnya sehingga disebutkan air sebanyak apapun tak akan dapat memadamkan api cinta. “Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. ” (8:7).

Begitu pentingnya sebuah ungkapan cinta, pujian dan penghargaan. Sebegitu pentingnya, sehingga kita sering mendengar hancurnya sebuah hubungan keluarga akibat tidak ada kehangatan cinta kasih yang keluar dari perkataan. Tuhan sendiri bagaimana? Meski Tuhan selalu mementingkan dan menguji hati manusia, bentuk ucapan bibir penuh ungkapan syukur untuk memuliakan namaNya pun Dia rindukan. “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibrani 13:15). Kapan terakhir kali anda memuji pasangan anda? Sudah berapa lama anda menyatakan sebuah ungkapan cinta dan penghargaan padanya? Jangan tunda lagi, katakan hari ini juga, betapa anda mencintai mereka. Betapa anda bersyukur pada Tuhan karena anda telah dianugrahi seorang pasangan yang begitu luar biasa.

Ungkapan cinta, pujian dan penghargaan mampu memperkokoh dan menjaga kehangatan sebuah hubungan

Valentine’s Day: A Day Of Love

Ayat bacaan: 1 Yohanes 4:7
===========================
“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.”

valentine's day, hari kasih, nyatakan cintaAda berapa banyak kartu valentine yang dikirimkan dalam setahun? Dari wikipedia saya mendapatkan datanya. Menurut The US Greeting Card Association, diperkirakan ada sekitar 1 milyar kartu valentine yang dikirimkan di seluruh dunia. Angka ini menjadikan hari valentine sebagai hari raya terbesar setelah Natal untuk urusan berkirim kartu. Itu adalah kartu yang dikirim lewat pos, belum lagi ucapan lewat e-card, sepucuk surat cinta, sms, telepon atau yang merayakan secara langsung tanpa kartu. Dalam merayakan valentine pun biasanya orang punya tradisi untuk mengajak orang yang dicintai ke restoran menikmati candle light dinner. Bunga mawar, atau bertukar kado, itu pun menjadi sebuah kebiasaan bagi banyak orang. Ada banyak restoran menawarkan paket valentine lengkap dengan sekuntum bunga dan paket-paket acara spesial lainnya, toko-toko dan mal pun biasanya membuat dekorasi khusus valentine.

Seberapa pentingkah sebuah perayaan valentine? Ada orang yang beranggapan tidak penting, karena merupakan pemborosan. Ada yang beranggapan tidak perlu, karena mereka tidak memerlukan satu hari khusus untuk menyatakan cinta kasih mereka. Ada yang beranggapan perlu karena di hari itu mereka bisa menyatakan perasaan mereka dengan nuansa yang berbeda dibanding hari-hari biasanya. Sebenarnya akan sangat baik jika kita mampu mengungkapkan perasaan sayang dan cinta kasih kita kepada orang-orang terdekat setiap hari. Namun seringkali kehidupan kita tidak memungkinkan kita untuk demikian. Sibuk bekerja, sibuk belajar, berbagai aktivitas yang menyita sebagian besar waktu kita, membuat kita tidak sempat untuk mengungkapkan rasa sayang dan cinta kita kepada orang-orang yang sangat kita kasihi. Maka bagi saya, hari valentine bisa dipakai sebagai sebuah hari yang kita sediakan secara khusus buat orang-orang yang spesial bagi kita.

Ketika tragedi 9/11 terjadi tahun 2001 yang lalu, ada begitu banyak orang menyadari bahwa mereka tidak seharusnya menunda lebih lama lagi untuk menyampaikan ucapan cinta kepada orang-orang terdekatnya, sebelum semuanya terlambat. Berbagai kisah dramatis dan tragis muncul dari para korban dan orang-orang yang ditinggalkan. Ada yang sempat menelpon dari pesawat sebelum pesawatnya ditabrakkan ke gedung WTC, dan kata terakhir mereka adalah “I love you..” Ada banyak pula orang yang menyesal terlambat menyatakan cinta mereka ketika orang yang mereka kasihi masih hidup. Kesibukan dan aktivitas sehari-hari membuat kita lupa untuk itu, bahkan sekedar ucapan singkat sekalipun. Dan mungkin sudah sifat manusia untuk terlena ketika semuanya masih ada, kemudian baru sadar ketika kesempatan untuk itu sudah tidak ada lagi. Tidak perlu ada hari khusus jika kita sanggup menyatakan kasih kita kepada pasangan, keluarga dekat dan teman-teman kita setiap hari. Namun jika kita menyadari betapa hari-hari kita begitu padat sehingga tidak sempat untuk itu, maka hari valentine bisa kita pakai sebagai sebuah momen yang indah untuk mengungkapkan kasih kita pada mereka.

Jangan berhenti hanya pada pasangan atau kekasih anda saja, ingatlah bahwa ada orang-orang yang sangat bermakna dalam hidup kita. Orang tua kita, kakek dan nenek, saudara, sahabat dan teman-teman, mungkin juga tetangga, dosen/guru dan sebagainya. Ayat bacaan hari ini mengajak kita untuk saling mengasihi secara luas, karena kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi adalah orang yang lahir dari Allah dan mengenal pribadiNya. (1 Yohanes 4:7). Yesus pun mengajarkan yang sama. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34). Bahkan Yesus memberi sebuah dimensi baru mengenai kasih, yaitu sebuah kasih seorang yang begitu besar hingga sanggup memberikan nyawa untuk sahabat-sahabatnya. (Yohanes 15:13). Tidak hanya mengajarkan, namun Yesus telah melakukannya sendiri lewat karya penebusanNya di atas kayu salib, karena Dia begitu mengasihi kita.

Valentine’s day is a day of love. Berikan perhatian khusus dan ucapan atau ungkapan kasih anda pada semua orang-orang terdekat anda. Ketika anda bertemu dengan pengemis, setidaknya berikan senyum anda. Ada banyak orang yang kehilangan kasih di sekitar kita. Orang yang tidak memperoleh kasih sayang dari orang tuanya, keluarga broken home, suami/istri yang bermasalah, orang-orang yang hidupnya begitu susah, dan sebagainya. Alangkah indahnya jika hari ini tidak hanya dipakai untuk kerabat terdekat saja, tapi sebagai titik tolak untuk membagikan sebentuk kasih yang kita terima dari Allah. “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” (1 Yohanes 4:11). Jika kita saling mengasihi, Allah ada di dalam kita dan kasihNya sempurna di dalam kita. (ay 12). Selain itu, anda bisa memanfaatkan hari kasih ini untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain yang sedang retak. This is the moment. Let’s celebrate love’s day by sharing God’s love to each other. Happy Valentine’s day, my friends.. God bless you all.

Nyatakan kasih secara khusus hari ini, sebelum semuanya terlambat

Ungkapan Kasih Nyata

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:13
======================
“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”

sebentuk kasih nyata, valentine, hari kasih sayangBagi banyak pasangan, hari kasih sayang alias valentine’s day yang akan tiba dua hari lagi merupakan sebuah agenda penting untuk menyatakan kasih sayang pada pasangannya, baik lewat ucapan, puisi, sekuntum atau sebuket bunga, kartu, kado, candle light dinner dan sebagainya. Tapi di sisi lain, ada orang-orang yang justru membenci hari valentine ini. Mungkin wajar jika hal itu datang dari saudara-saudara kita yang tidak seiman yang mengaitkan valentine sebagai sebuah perayaan Kristen, tapi ternyata di antara saudara seiman pun hal yang sama bisa terjadi. Ada banyak orang yang mengalami kekecewaan dalam hubungannya berkali-kali, ada yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua atau keluarganya, ada yang mati rasa, hambar bahkan pahit. Ada seorang teman yang memiliki kebiasaan untuk memutar lagu-lagu yang disebutnya sebagai “anti valentine songs”. Ada banyak lagu-lagu yang anti kasih, bercerita tentang kesendirian, tidak perlu cinta hingga lirik penuh kebencian. Mungkin artis-artis itu pun punya pengalaman pahit tentang sebuah kasih. Ketika saya tadi bercerita dengan salah seorang murid saya tentang itu, dia berkata: “wah kasihan banget…” Ya, kita seringkali merasa kasihan, tapi akhirnya berhenti hanya sampai sebuah ucapan kasihan saja. Sadarilah, ada banyak orang disekitar kita yang mungkin belum pernah mengenal kasih sama sekali, atau sudah skeptis dan menganggap cinta kasih hanyalah omong kosong belaka.

Apakah benar manusia itu tidak butuh kasih? apakah kasih itu hanya sesuatu yang semu dan tidak pernah nyata? Bagi mereka di atas, mungkin jawabannya ya. Walaupun saya yakin, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka pun sama seperti kita, yang butuh dicintai dan ingin bisa mencintai. 1 Korintus 13 berbicara panjang lebar mengenai kasih. Kasih disana digambarkan bukan hanya sebatas dicintai oleh orang lain, namun lebih jauh berbicara mengenai memiliki sebentuk kasih. Lihatlah apa yang dikatakan mengenai kasih. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.” (1 Korintus 13:4-6). Lebih jauh lagi, orang yang memiliki kasih akan tahan menghadapi segala sesuatu, dan mau melihat sisi baik dari setiap orang, tidak pernah kehilangan harapan dan sabar. “Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (ay 7). Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, pengetahuan akan lengkap, tapi kasih tidak berkesudahan. (ay 8). Tidak akan pernah ada saat dimana orang tidak perlu saling mengasihi. Itu firman Tuhan. Bahkan begitu pentingnya kasih, sehingga diantara yang penting untuk tetap kita lakukan, yaitu iman, pengharapan dan kasih, Tuhan mengatakan yang terpenting diantara itu semua adalah kasih. (ay 13). Mengasihi orang lain, seperti halnya Tuhan mengasihi kita, itulah yang terpenting.

Puji Tuhan. Baru saja saya mendapat telepon dari seorang sosok legendaris jazz yang tidak pernah putus pengharapan dari Tuhan. Beliau bercerita bahwa hari Natalnya kemarin diisi dengan makan bersama para tetangganya yang tidak mampu. “Tidak peduli apa agamanya, karena Tuhan yang saya kenal mengasihi siapapun tanpa pandang bulu..” itu katanya. Beliau menceritakan betapa repotnya membelikan kado untuk setiap anak-anak sebelum pesta. Tapi rasa lelahnya terobati begitu melihat sukacita dari anak-anak yang tidak mampu itu ketika mereka merasakan sebuah bentuk kasih. “Tidak perlu jauh-jauh lho… di sekitar kita pun banyak orang yang butuh uluran tangan, bahkan merindukan rasa disayangi..” katanya. Haleluya! Ternyata Tuhan menyampaikan tambahan lewat sang artis legendaris tepat disaat saya sedang menuliskan renungan ini. Ini bentuk kasih, yang tidak hanya berhenti sebatas ucapan kasihan. Kepedulian itu dinyatakan lewat sebuah tindakan nyata yang bisa memberkati begitu banyak orang. Orang-orang yang mungkin tadinya dipinggirkan dan diabaikan, pada malam Natal itu mendapat sebuah bentuk kasih nyata dari seseorang yang sangat sadar betapa Tuhan mengasihinya, dan sangat sadar pula bahwa kasih dari Tuhan itu harus pula ia bagikan kepada orang-orang disekitarnya yang membutuhkan. “It was really joyful.. saya benar-benar merasakan kehadiran Tuhan saat itu..” katanya.

Mudah bagi kita untuk merasa kasihan, namun seringkali sulit bagi kita untuk melakukan tindakan nyata sebagai bentuk kepedulian kita. Jangan berhenti hanya sebatas ucapan saja. Ada begitu banyak orang yang menjadi tawar karena tidak lagi merasakan kasih dalam hidupnya, dan mereka ini ada di sekitar anda dan saya. Jika anda menganggap bahwa kasih Tuhan nyata dalam hidup anda, jika anda tahu bagaimana rasanya dikasihi dan mengasihi, sekarang saatnya untuk membagikan sukacita yang sama pada mereka yang membutuhkan. Hari valentine yang diperingati sebagai hari kasih sayang hendaknya bisa pula dipakai sebagai sebuah hari yang bukan saja khusus untuk kekasih atau orang-orang terdekat saja, namun jadikan itu sebagai titik tolak bagi kita untuk membagi kasih kepada sesama manusia, tanpa terkecuali.

Semakin anda mengenal kasih Tuhan, hendaknya semakin banyak pula kasih yang kita berikan pada sesama

Lagu Merdu

Ayat bacaan: Yehezkiel 33:32
======================
“Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya.”

pelaku firman, mendengar firman, melakukan firmanProfesi sebagai wartawan musik jazz sekaligus penggemar membuat saya akrab dengan koleksi lagu-lagu jazz dari berbagai genre. Begitu banyak lagu yang menemani saya dalam berbagai aktivitas, baik ketika bekerja, sedang bersantai, bahkan tidur, lagu menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari saya. Lagu bisa bercerita tentang banyak hal, mulai dari yang positif hingga negatif. Tapi seberapa jauh orang mau melakukan apa yang tertulis dalam syair-syair lagu tersebut? Jarang sekali bukan? Lagu biasanya didengarkan, dinikmati, paling banter dinyanyikan sendiri. Maka kita mengenal istilah penikmat/pendengar lagu atau musik, dan hampir tidak pernah mendengar istilah pelaku lagu.

Ada banyak orang yang menuliskan keinginannya untuk lebih rajin lagi membaca Alkitab sebagai “New Year Resolution” alias target hal yang ingin mereka capai setahun ke depan. Ini sebuah target yang sangat baik, karena dengan membaca firman Tuhan kita akan lebih mengenal pribadi Tuhan, mengenal kehendakNya dan lebih kuat menghadapi kesulitan-kesulitan yang mungkin menghadang di depan. Tapi hendaknya janganlah berhenti sampai di situ saja. Yehezkiel berbicara pada sekelompok orang yang suka mendengar tapi tidak mau melakukan. Dan Tuhan pun berkata pada Yehezkiel: “Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya.” (Yehezkiel 33:32).

Teman-teman sekalian, ingatlah bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20), bahkan berarti mati. (ay 26). Adalah baik untuk rajin membaca firman Tuhan, tapi jauh lebih baik lagi jika kita mau melakukannya. Menjadi pelaku firman akan membuat iman kita hidup dan mengalami Tuhan dalam setiap langkah kita. Ini penting. Karena kita tidak tahu bagaimana kondisi yang akan kita hadapi dalam setahun ke depan. Dunia semakin sulit, hidup semakin sulit. Tahun ini dibuka dengan sebuah keraguan akan perbaikan ekonomi, bukan saja di negara kita tapi juga dunia. Ancaman PHK merebak karena adanya kehancuran ekonomi dunia, sebagian orang mulai putus harapan, tapi ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ulangan 31:8). Ada janji penyertaan Tuhan yang luar biasa bagi kita para pelaku firman. Yesus pun telah berjanji untuk senantiasa beserta kita sampai akhir jaman. (Matius 28:20).

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” (Matius 7:24-27). Lihat bahwa Yesus tidak berhenti pada perkataan “mendengar”, tapi melanjutkan kalimat dengan “melakukannya”. Inilah yang akan membuat kita kokoh, kuat, tegar dan mampu bertahan menghadapi badai kesulitan yang menghadang di depan. Kita tidak perlu takut akan masa depan, karena bagi orang yang mendengar dan melakukan selalu ada penyertaan Tuhan. Di dalam Kristus selalu ada pengharapan, pertolongan dan keselamatan. Janji Tuhan ini tidak tergantung dari besar kecilnya masalah yang menimpa anda dan saya, tidak tergantung dari tingkat kesulitan yang di hadapi. Tidak ada hal yang mustahil bagi Tuhan, dan Dia sanggup mengangkat kita tinggi-tinggi melewati kesulitan ekonomi dan kesulitan lainnya yang sedang menimpa dunia. Jangan berhenti hanya pada target untuk lebih rajin lagi membaca Alkitab, tapi miliki tekad untuk melakukan firman Tuhan. Mari kita melangkah memasuki tahun yang baru dengan keyakinan teguh. Berjalanlah dan hiduplah sebagai pelaku firman agar kita semua mampu melewati tahun yang berat dengan penuh sukacita bersama Tuhan.

Membaca, mendengar, memahami dan melakukan firman Tuhan akan membawa kita kuat memasuki tahun yang baru

Tong Kosong Nyaring Bunyinya

Ayat bacaan: Matius 23:3
========================
“Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”

gandhiMasih ingat dengan salah seorang pemimpin besar yang paling berpengaruh sepanjang masa, Mahatma Gandhi? Malam ini saya tiba2 ingat akan sosok kharismatik yang satu ini. Pada suatu ketika dalam masa ia belajar ilmu hukum di London ia berkenalan dengan banyak orang Kristen. Banyak diantara mereka berusaha mendekati Gandhi, mengajaknya untuk ikut dalam kegiatan gereja, pelayanan hingga mempelajari Alkitab. Gandhi berkenalan dengan sosok Yesus, dimana ia mengakui bahwa lewat Yesus ia menemukan kekuatan dan ketentraman. “Yesus tidak mengajarkan balas dendam, melainkan cinta kasih.” Gandhi sangat terinspirasi dengan ajaran Yesus. Sayangnya, apa yang ia saksikan dalam kehidupan orang2 Kristen pada masa itu sangatlah jauh dari apa yang ia baca tentang Kristus. Berbagai bentuk pemaksaan yang dialaminya, bentuk2 diskriminasi seperti ketika ia ditendang keluar dari kereta api karena menolak pindah ke kabin kelas tiga yang khusus diperuntukkan untuk kaum kulit berwarna, dan melihat langsung bagaimana ekspansi kekuasaan dari negara2 barat ke asia dan afrika dengan mengatas namakan Tuhan sebagai dalih, sungguh mengecewakannya. Dengan alasan mewartakan injil, mereka menggunakan cara2 yang seringkali tidak manusiawi, merendahkan martabat, dan berbentuk imperialisme alias penjajahan. “Mereka hanyalah pemuja kekayaan yang mengucap Tuhan hanya di bibir saja”. Demikian kira2 ucapan Gandhi. Ia menyesalkan pemahaman yang keliru dan menyimpang dari Kristen di barat terhadap ajaran Yesus Kristus. “bahwa dimanapun suatu keyakinan tidak dapat diwujudkan secara sempurna tanpa adanya tindakan.” kata Gandhi.

Teman, adalah baik ketika kita rajin berdoa, mengucap syukur lewat pujian dan penyembahan, namun jangan lupa bahwa kita hidup diantara banyak orang, dan apa yang kita tampilkan dari sikap, perbuatan maupun tingkah laku kita disaksikan oleh mereka setiap saat. Ada banyak orang yang memusuhi Kekristenan lebih akibat bentuk kemunafikan yang ditampilkan orang yang mengaku murid Yesus, ketimbang menentang Yesus sendiri. Sayangnya, mereka tidak sadar kalau Yesus justru sangat menentang bentuk kemunafikan. Lihat kecaman yang Dia tujukan pada ahli2 Taurat dan orang Farisi. Ayat bacaan hari ini jelas menggambarkan kecaman Yesus terhadap kemunafikan.

Bagaimana dengan hidup anda? Apakah anda rela meluangkan waktu untuk bekerja di ladangnya Tuhan, atau anda selalu berdalih dengan beribu alasan, tapi tetap mengharap berkat? Sudahkah anda memberikan contoh yang baik, sesuai dengan apa yang diajarkan Kristus? Atau anda masih sering mengeluh seputar krisis kehidupan yang melanda anda? sudahkah anda menunjukkan bahwa anda yakin ada Yesus bersama anda yang tidak membiarkan anda sendirian memikul beban berat, atau anda masih sering menyatakan ketidak yakinan anda akan masa depan? Apakah anda telah menunjukkan sebuah bentuk kasih buat teman2 anda, atau yang anda bicarakan setiap hari hanyalah gosip dan ketidaksukaan anda terhadap seseorang? Apakah anda sudah menunjukkan bahwa dalam Kristus tidak ada yang perlu anda khawatirkan, atau anda hanya berdoa panjang lebar berkeluh kesah, merasa jadi orang tersusah di dunia dan terus menerus meminta Tuhan menolong hidup anda? Jika pilihan2 kedua yang lebih mendominasi, jangan heran bila apapun yang anda wartakan mengenai Yesus Kristus tidak akan diterima oleh mereka. Bagaimana kita dapat menyampaikan ajaran Yesus Kristus, ketika kita sendiri tampil penuh dengan ketidakyakinan? Jika ini terjadi, kita tidak lebih dari tong kosong yang nyaring bunyinya dimata saudara2 kita.

Kita harus menjaga segala perilaku kita. Bukan berpura2, tapi benar2 taat meneladani sosok Tuhan Yesus. Yakobus 2:17 mencatat bahwa iman tanpa perbuatan hakekatnya adalah mati. Ini saatnya berbicara banyak mengenai Yesus Kristus lewat perbuatan, sikap dan tingkah laku dalam kehidupan kita sehari2.

Jadilah garam dan terang bukan hanya lewat kata2, tapi lewat contoh kehidupan kita setiap hari.

Jadilah Garam Dunia

Ayat bacaan: Matius 5:13
=========================
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Apakah anda termasuk orang yang hobi memasak? jika ya, tentu anda tahu betapa penting fungsi garam dalam racikan anda. Kalaupun anda tidak suka masak, saya yakin anda setuju garam merupakan bumbu penting. Bayangkan sebuah olah masakan tanpa garam. Hambar kan? Terlalu banyak garam pun akan merusak rasa. Ketika hari ini saya diingatkan akan ajaran Yesus tentang kita sebagai garam dunia, hal inilah yang pertama kali muncul di pikiran saya.

Setelah saya berdoa dan berpikir lebih jauh, ternyata garam bukan hanya berfungsi sebagai penambah cita rasa. Ikan asin misalnya, menunjukkan fungsi garam sebagai pengawet dan pembersih makanan, menghindarkan makanan dari pembusukan. Itu saja? eh, saya tiba2 ingat akan oralit. Garam ternyata juga bisa berfungsi sebagai obat. Oke, memang banyak fungsi garam. Tapi bergunakah garam jika tidak dipergunakan? adakah guna garam jika hanya memenuhi botol tapi tidak pernah dipakai? garam tersebut bisa rusak, basah atau keras dan tidak lagi enak jika disimpan dalam waktu lama. Akhirnya garam hanya bisa dibuang. Garam juga harus keluar dari botolnya dan dipakai. Jika tidak, buat apa garam itu?

Tuhan Yesus tidak sembarangan mengambil perumpamaan garam. Ketika kita disebut sebagai garam dunia, kita diminta sembari tetap dalam proses Roh Kudus untuk menggarami dunia. Buat apa? Supaya dunia yang penuh dengan kekecewaan, kepahitan, penderitaan ini bisa disembuhkan dan siap untuk menerima kedatangan Yesus buat kedua kali. Kita harus mampu membuat dunia sebagai tempat yang lebih baik bagi penduduknya. Wujud kepedulian, cinta kasih, keadilan, kedamaian yang anda beri pada orang2 disekeliling anda akan memberi kesempatan bagi mereka untuk merasakan bagaimana rasanya kerajaan Allah. Dalam contoh ikan asin diatas, kitapun harus mampu membersihkan dan menghindari pembusukan. Kita dipanggil untuk memelihara ciptaan2 Tuhan yang semakin terancam dan rusak. Oralit? ya, kita juga harus mampu memulihkan hubungan2 yang rusak, mendoakan orang2 sakit agar mereka mendapat jamahan Tuhan dan sembuh, memulihkan kepahitan, kesedihan, penderitaan dan mengembalikan sukacita dalam hidup saudara2 kita. Begitu banyak tugas kita, tapi jangan khawatir, karena yang dituntut hanyalah kesediaan kita. Ketika kita bersedia, kasih karunia dan kekuatan Tuhanlah yang bekerja lewat kita. Kita tidak akan berguna jika kita masih mementingkan kepentingan pribadi semata, alias garam yang tidak keluar dari botolnya. Jagalah selalu diri anda agar tidak menjadi tawar, dengan tetap dekat dengan Tuhan lewat doa, pujian, penyembahan, membaca firman Tuhan dan mengucap syukur senantiasa. Dan mari kita semua menyalurkan berkat2 dari Allah kepada sesama kita.

Garam kecil bentuknya, namun banyak fungsinya. Jadilah garam dunia.