Tag: Bulan Kitab Suci Nasional

Kapsul Rohani Bulan Kitab Suci Nasional di Paroki St. Lukas Pemalang

Aneka cara bisa ditempuh untuk menyemangati umat agar semakin mencintai kitab suci. Cara-cara yang konvensional seperti Pendalaman Kitab Suci di masing-masing lingkungan sudah biasa dan rasanya tidak banyak diminati.

Ini karena bahan yang disampaikan sulit dipahami, monoton, kurang mengena atau penyampaian bahan yang tidak menarik. Cara lain yang menarik ialah dengan mengadakan lomba entah untuk orang dewasa, muda maupun anak-anak. Bisa juga diadakan sarasehan dengan mengundang pembicara yang kompeten dalam teologi kitab suci.

Tentu masih ada usaha lain yang setidaknya merangkul semakin banyak peminat yang terlibat. Paroki Santo Lukas Pemalang pada tahun ini menawarkan kegiatan lain yang tak kalah unik.

Kalau tahun lalu diadakan Angkringan Kitab Suci, tahun ini ada Kapsul Rohani BKSN. Jenis kegiatan ini memang terkesan seperti permainan anak-anak.Namun bukankan kita ingin memiliki kerajaan Allah dengan menjadi seperti anak-anak?

Ada 13 penyakit akut yang menyerang hidup rohani kita seperti digambarkan Injil Markus 7:21-22 (pikiran jahat, kesombongan, hawa nafsu, kesombongan, kebebalan dan lainnya). Penyakit itulah yang timbul dari dalam dan merusak sendi kehidupan rohani setiap orang.

Kemunafikan dan kejahatan menjadi dua penyakit kronis yang sungguh memisahkan kita dengan Kristus. Maka dari itu kunci penyembuhannya ialah kerendahan hati, yang terwujud dalam kesediaan untuk menyucikan hati sehingga menjadi tempat tinggalnya Kristus.

500 Butir Kapsul
Demi mendukung program Kapsul Rohani inilah, selain kitab suci besar yang dipajang di depan altar gereja, ada dua toples yang berisi 500 butir kapsul berwarna hijau dan putih.

Satu kapsul isinya satu ayat emas kitab suci yang direnungkan dalam waktu seminggu dan menjadi bahan doa dalam minggu tersebut. Waktu seminggu dirasa pas. Ini adalah dosis yang tepat agar sabda Allah diresapi, dicerna, diulang-ulang dan tidak mudah dilupakan maknanya.

Setelah misa umat berdoa dalam batin sebelum mengambil kapsul rohani rohani. Setiap orang hanya boleh mengambil satu kapsul yang berisi satu ayat emas untuk direnungkan. Kapsul dibawa pulang oleh masing-masing umat. Ketika akan membuka isi kapsul, umat harus berdoa dengan rumusan yang sama seperti menjelang komuni, “Ya Tuhan saya tidak pantas, Tuhan datang pada saya, tetapi Bersabdalah saja maka saya akan Sembuh.” Kemudian kapsul rohani dibuka dan dibaca, direnungkan dan menjadi bahan doa pribadi.

Itulah kapsul rohani yang tidak diperoleh dari apotek manapun, bukan berisi serbuk obat dari bahan kimia tetapi serbuk Sabda Allah yang menjadi obat rohani bagi mereka yang dengan sadar dan tahu akan kebutuhan jiwa yang sehat.

Mereka yang tidak menyadari diri sakit tidak diperkenankan mengambil kapsul rohani. Mereka yang mengambil diajak untuk jujur mengakui sakitnya di hadapan Sang Penyembuh, yakni Allah yang bersabda. Dialah Sumber kesembuhan atau Sumber Waras.

“Hanya orang yang ingin Waras secara rohani mau datang dan mengambil Kapsul Rohani BKSN. Sabda Allah perlu diresapi, dicerna, direnungkan, dicecap dan akhirnya dilakukan.” begitulah ajakan romo paroki dalam kotbahnya yang mempromosikan Kapsul Rohani Sumber Waras.

Banyak umat yang tergerak untuk mengambil Kapsul Rohani setelah misa selesai. Sebelum mengambilnya, mereka antri dengan tertib, berdoa singkat lalu mengambil satu kapsul untuk satu minggu. Kapsul dimasukkan dalam satu plastik kecil supaya tidak mudah rusak bila terkena air atau tangan basah.

Minggu depan selanjutnya mereka yang telah mencecap sabda Tuhan dan merasakan daya penyembuhannya diminta dengan sukarela menuliskan pada buku tulis besar yang tersedia di pintu-pintu gereja sebelum ekaristi, dengan tidak harus mencantumkan nama.

Tindakan itu menjadi semacam kesaksian kepada orang lain betapa Sabda Tuhan itu mengubah dan menyembuhkan hati kita dari pelbagai penyakit rohani.

Malam hari setelah satu jam selesai misa, ada umat yang menelpon ke pasturan dan bertanya tentang makna kutipan ayat kitab suci yang dia renungkan. “Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. (1 Petrus 2:19).

Syukurlah bahwa ia lalu mendapat jawaban yang menguatkan imannya dan akan menjadikan kutipan tersebut sebagai bahan doa selama satu minggu dan diendapkan dalam hidup sehari-hari. Ad maiorem Dei Gloriam.

Kredit Foto: Rm. Mardi Usmanto Pr

Tags : ,