Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Sukacita Ada Dimana-mana (1)

Ayat bacaan: Mazmur 32:11
==================
“Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!”

sukacita ada dimana-manaBersukacita. Betapa indahnya kata ini terdengar. Apa yang anda bayangkan ketika mendengarnya? Sebuah hidup yang penuh kegembiraan, kebahagiaan, penuh gelak tawa, hati tentram, tidur yang benar-benar nyenyak, sehat, dan lain-lain, apapun yang anda pikirkan dari kata ini tentu segala yang menyenangkan. Selalu bersukacita itu impian setiap orang. Tidak satupun orang yang memimpikan hidup dalam kesedihan, atau kemarahan. Cobalah pikirkan betapa kita merindukan sebuah hidup yang didalamnya penuh sukacita dan bebas dari rasa khawatir serta berbagai beban masalah. Akan tetapi seperti yang saya katakan dalam renungan kemarin, semakin lama rasa sukacita sepertinya semakin mahal. Beratnya tekanan dan beban hidup yang menimpa kita selalu siap merampas sukacita dari diri kita. Terkadang tekanan-tekanan ini datang beruntun sehingga sukacita itu pun semakin menjauh dan sulit kita jangkau lagi. Di saat lelah seperti hari ini saya sempat berpikir betapa nikmatnya apabila saya bisa tetap tersenyum atau bahkan tertawa meski pekerjaan yang harus diselesaikan masih banyak. Bisakah? Tentu saja  bisa, mengapa tidak?

Ayat bacaan hari ini jelas menyatakan bahwa sebuah sukacita sejati itu ada di dalam Tuhan, di dalam persekutuan kita yang manis denganNya. “Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!” (Mazmur 32:11). Disanalah letak sukacita itu, dan bukan pada keadaan kita di dunia. Sorak sorai akan selalu keluar dari mulut orang-orang benar dan jujur, karena ada Tuhan bersama orang-orang seperti ini. Dalam persekutuan yang erat dengan Tuhan, kita pun tidak akan gampang goyah menghadapi masalah apapun. Ada sukacita Ilahi yang akan terus mengalir dan mengalir mengisi setiap relung hati kita. Tidak ada satu masalah pun yang mampu menghentikan aliran sukacita sejati yang berasal dari Tuhan itu. Seringkali kita sulit menemukan sukacita ketika kita sedang berbeban. Tetapi Paulus pun menyerukan hal yang sama: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4).

Pertanyaannya sekarang, dimana kita bisa menemukan sukacita Ilahi itu? Ada banyak cara untuk mengalami sukacita Ilahi dalam hidup kita. Terkadang kita berpikir terlalu jauh, padahal sukacita bisa kita temukan dalam hal-hal yang sederhana. Mari kita lihat dimana saja sukacita itu bisa muncul.

1. Sukacita akan kehadiran Tuhan.
Daud mengatakan hal ini dengan jelas: “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram.” (Mazmur 16:8-9). Menyadari kehadiran Allah bersama kita akan membuat kita tenang menghadapi segalanya. Mengapa tidak? Bukankah Allah punya kuasa lebih dari segalanya? Adakah hal yang terlalu sulit bagi Allah? Sama sekali tidak ada. Artinya, jika kita menyadari bahwa Allah hadir bersama kita, tidak ada satu hal pun yang dapat mencuri sukacita itu.

2. Sukacita akan kasih setia dan kebaikan Tuhan.
Selain kehadiranNya, kita pun harus menyadari betapa baiknya Tuhan itu. Dalam kitab Yesaya kita bisa menemukan hubungan antara menyadari kebaikan Tuhan dengan datangnya sukacita. “Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN, perbuatan TUHAN yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan TUHAN kepada kita, dan kebajikan yang besar kepada kaum Israel yang dilakukan-Nya kepada mereka sesuai dengan kasih sayang-Nya dan sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar.” (Yesaya 63:7). Seringkali kita lupa menyadari kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Kita begitu mudah menyalahkan Tuhan dan menuduh Tuhan pilih kasih, tidak adil dan sebagainya ketika pertolonganNya tidak kunjung turun sesuai jangka waktu yang kita tetapkan sendiri, teapi begitu sulitnya kita merasakan kebaikan Tuhan ketika hidup kita sedang baik-baik saja. Apakah dengan hadirnya masalah itu artinya Tuhan tidak baik? Tentu saja tidak. Ada banyak alasan mengapa kita harus tetap melalui lembaran-lembaran berat dalam kehidupan kita. Bisa jadi lewat itu Tuhan ingin melatih otot rohani kita, bisa jadi itu untuk memberi pelajaran bagi kita, bisa jadi pula akibat dosa kita sendiri. Tetapi yang pasti Tuhan itu baik. Ayat Yesaya di atas kemudian dilanjutkan dengan: “..maka Ia menjadi Juruselamat mereka dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala.” (ay 8-9). Ketika Yesus datang ke bumi, ia langsung turun tangan menyelamatkan umat manusia, menebus kita dalam kasih dan belas kasihanNya yang sungguh luar biasa. Di zaman Salomo kita bisa menemukan sebuah lagu pujian yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan megahnya. “Demikian pula para penyanyi orang Lewi semuanya hadir, yakni Asaf, Heman, Yedutun, beserta anak-anak dan saudara-saudaranya. Mereka berdiri di sebelah timur mezbah, berpakaian lenan halus dan dengan ceracap, gambus dan kecapinya, bersama-sama seratus dua puluh imam peniup nafiri. Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada TUHAN. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji TUHAN dengan ucapan: “Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah TUHAN, dipenuhi awan.” (2 Tawarikh 5:12-13). Lihatlah lagu pujian yang menyatakan kebaikan Tuhan itu mampu membuat kemuliaanNya turun dari langit. Kebaikan Allah haruslah selalu kita sadari agar kita mendapatkan sumber sukacita yang hebat daripadaNya.

3. Sukacita akan keselamatan
Coba pikirkan. Ketika Tuhan sudah memberi jaminan keselamatan kekal lewat Kristus kepada kita. Bukankah itu seharusnya mampu kita syukuri? Dunia hanyalah tempat persinggahan kita sementara. Mau seberat apapun sebuah masalah, jaminan keselamatan yang sifatnya kekal itu seharusnya mampu membuat kita tetap bisa  bersukacita meski sedang berada dalam situasi sulit. Paulus berkata “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.” (Roma 5:10-11). Yesus turun ke bumi, mendamaikan hubungan kita dengan Allah dan juga menyelamatkan hidup kita. Tidakkah hal itu seharusnya mampu membuat kita bersukacita?
(bersambung)

Sukacita Ilahi adalah sukacita sejati yang ada dimana-mana

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Harta Bukanlah Segalanya

Ayat bacaan: 1 Raja Raja 3:11-13
=========================
“Jadi berfirmanlah Allah kepadanya: “Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum,maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau. Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja.”

kekayaan bukan segalanyaIngat lagunya Oppie? “Andai a a a a a.. ku jadi orang kaya..” lirik ini mungkin menyuarakan permintaan banyak orang yang membayangkan betapa nikmatnya hidup bergelimang harta. Jika anda diberi satu kesempatan untuk meminta dan pasti dikabulkan, apa yang anda minta? Semoga bukan anda, tapi saya rasa banyak orang yang akan segera meminta harta berlimpah. Saya sering mendengar orang berkata, “seandainya aku bisa sekaya dia, aku tidak perlu susah lagi..” Dan banyak orang yang bekerja mati-matian, melupakan anak,istri dan keluarganya, tidak bisa lagi menikmati hidup, karena mereka mengejar kekayaan, menimbun harta sebanyak-banyaknya selagi masih bisa.

Satu pelajaran menarik bisa kita ambil dari kisah Salomo yang bisa dibaca pada kitab Raja Raja 3:1-15. Pada suatu hari Salomo bertemu Tuhan dalam mimpinya. Tuhan memberi kesempatan bagi Salomo untuk meminta sesuatu. Apa yang diminta Salomo? Kekayaan, kekuasaan, kemakmuran, umur panjang? Tidak, Salomo meminta hikmat; hati yang paham menimbang perkara, hati yang bisa membedakan hal yang baik dan buruk. Allah pun senang dengan permintaan Salomo. Dia mendapatkan hikmat begitu besar, akal yang begitu luas melebihi dataran pasir di tepi laut, yang menjadikannya lebih dari siapapun hingga banyak orang dari segala bangsa pun datang untuk mendengar hikmat Salomo. Tuhan tidak berhenti memberkati sampai di sini saja. Karena apa yang diminta Salomo baik adanya, dan tidak berfokus pada keuntungan pribadi yang sifatnya sementara saja, Tuhan pun memberkati Salomo semua itu tanpa ia minta.

Semua orang tidak ingin hidup susah, semua orang ingin kaya. Tapi Tuhan tidak menginginkan kita hanya fokus untuk menimbun harta. Dalam Amsal 23:4 Salomo pun mengingatkan kita:”Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini.” 1 Timotius 6:9-10 juga mengingatkan kita bahwa keinginan daging untuk menjadi kaya akan menjerumuskan kita kedalam jerat yang hampa dan mencelakakan, membawa keruntuhan dan kebinasaan. Banyak di antara kita yang tadinya bertumbuh dalam iman dan hidup taat, tetapi ketika berkat keuangan mulai tercurah, kilauan harta membutakan mereka. Jadilah mereka hamba-hamba harta yang mengorbankan semuanya, termasuk iman dan waktu-waktu mereka bersama Tuhan demi meraup uang lebih lagi.

Bukan kuat manusia yang membuat diri mereka kaya, tapi dari Tuhan lah semua itu berasal. (1 Samuel 2:7). Kita memperoleh karunia hikmat dan kebijaksanaan, hati yang mampu membedakan hal yang baik dan buruk, akal luas, kepintaran, jika kita tetap taat dan dekat dengan Tuhan. Tidak perlu meminta harta, tahta dan lainnya, karena Tuhan telah menjamin hidup anak-anakNya yang selalu bertekun dalam iman agar tak kekurangan suatu apapun seperti yang tertulis dalam Ulangan 2:7 atau Yakobus 1:4. Ketika harta materi bisa sewaktu-waktu habis dan hilang, hikmat, kebijaksanaan dan akal budi mampu menuntun kita untuk tetap bisa membedakan yang baik dan jahat, serta membuka mata kita tentang segala kebaikan Tuhan. Mana yang anda pilih?

Hikmat dan kebijaksanaan jauh lebih berharga, dan bisa mendatangkan lebih dari yang anda butuhkan

Incoming search terms: