Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

20 Jan

“DiutusNya memberitakan Injil dan diberiNya kuasa untuk mengusir setan” (1Sam 24:3-21; Mrk 3:13-19) ” Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas oran…

24 Agt

“Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?"
(Why 21:9b-14; Yoh 1:45-51)

“Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah
menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para
nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya:
"Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Kata Filipus
kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang
kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel
sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya:
"Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum
Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon
ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja
orang Israel!" Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu:
Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau
akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus
kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat
langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak
Manusia.” (Yoh 1:45-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta
St.Bartolomeus, rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Cukup banyak orang yang senantiasa melihat kelemahan atau kekurangan
orang lain, alias berpikiran negatif terhadap saudara-saudarinya. Para
petinggi, atasan atau pejabat ketika mengujungi bawahannya juga
berusaha melihat kekurangan dan kelemahannya dengan maksud menunjukkan
kewibawaan atau keunggulannya. Cara berpikir macam itu pernah dihayati
oleh Natanael atau Bartolomeus terhadap berita bahwa Penyelamat Dunia
telah datang dan berasal dari Nazaret, ia berkata:” Mungkinkah sesuatu
yang baik datang dari Nazaret?’. Memang apa yang dilakukan oleh
Natanael berbeda dengan yang dilakukan oleh kebanyakan orang: Natanael
jujur terhadap diri sendiri, berkata sesuai dengan yang ia ketahui,
sedangkan kebanyakan orang dengan sengaja berusaha melihat kelemahan
atau kekurangan. Maka dalam rangka mengenangkan pesta St.Batolomeus
(Natanael), kami mengajak kita semua untuk jujur terhadap diri
sendiri, misalnya jika tidak tahu dengan rendah hati mengakui
ketidaktahuan atau kebodohan atau keterbatasannya. Kita renungkan
sabda Yesus kepada Natanael "Lihat, inilah seorang Israel sejati,
tidak ada kepalsuan di dalamnya!". Hendaknya jika kita tidak tahu
tanpa malu mengakui tidak tahu, dan jangan menipu atau berbohong demi
gengsi. Masa kini memang terjadi banyak pemalsuan, tidak hanya dalam
hal barang tetapi juga anggota tubuh, misalnya hidung, buah dada/
payudara, wajah dst..yang sering dilakukan oleh mereka yang
mendambakan dirinya nampak menarik, mempesona dan memikat orang lain.
Marilah hidup sederhana apa adanya, tidak dibuat-buat atau
bersandiwara.
•       “Di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi
tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem,
turun dari sorga, dari Allah. Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah
dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata
yaspis, jernih seperti Kristal”(Why 21:10-11). Kutipan ini kiranya
sesuai dengan sabda Yesus kepada Natanael: "Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat
Allah turun naik kepada Anak Manusia." (Yoh 1:51). Orang yang jujur
terhadap diri sendiri memang akan melihat sesuatu yang indah, mulia
dan luhur sebagai pewahyuan Diri Allah sendiri. Orang yang jujur
terhadap diri sendiri memiliki dambaan tidak pada yang kelihatan atau
duniawi, melainkan yang spiritual atau sorgawi; ia dapat melihat
keindahan, kemuliaan dan keluhuran dalam aneka barang maupun manusia
yang mungkin kurang dihargai atau dihormati oleh dunia ini. Langkah
perjalanan orang jujur senantiasa berada dalam tuntunan atau bimbingan
roh baik, sehingga ia  senantiasa melihat apa yang baik, luhur dan
mulia dalam seluruh ciptaan: binatang, tanaman maupun manusia; ia
menyaksikan karya Allah di dalam seluruh ciptaanNya. Dengan kata lain
ia senantiasa berpikiran positif alias ahli roh baik atau mahir dalam
pembedaan roh. Kami berharap cara hidup dan cara bertindak macam ini
terutama dihayati di dalam dunia pendidikan, entah dalam pendidikan
formal di sekolah maupun informal di rumah. Berpartisipasi dalam karya
pendidikan berarti berpartisipasi dalam karya p enciptaan Allah, dan
semua yang diciptakan oleh Allah baik adanya. Maka dalam mendampingi
atau mendidik anak-anak hendaknya lebih diperhatikan kelebihan atau
kebaikan serta peluang yang ada daripada kekurangan atau kejahatan
serta ancamannya.
“Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan
orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan
kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk
memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia,”
 (Mzm 145:10-12a)
Ign 24 Agustus 2011

6 Juli – Kej 41:55-57; 42:5-7a.17-24a; Mat 10:1-7

“Pergilah kepada domba-domba yang hilang”

(Kej 41:55-57; 42:5-7a.17-24a; Mat 10:1-7)

” Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.  Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya,  Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus,  Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia. . Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria,  melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.” (Mat 10:1-7), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Para rasul diutus oleh Yesus “untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan” dan khususnya “kepada domba-domba yang hilang”, yang berarti merasul di antara mereka yang miskin dan berkekurangan dalam berbagai hal atau kebutuhan hidup yang sehat wal’afiat baik secara phisik maupun spiritual. Bagi kita hal ini berarti suatu panggilan atau ajakan untuk melaksanakan salah satu opsi Gereja atau hidup beriman, yaitu “preferential option for/with the poor’ (=keberpihakan pada/bagi yang miskin). Secara konkret hal ini bagi kita tergantung dari fungsi atau tugas pekerjaan kita sehari-hari. Sebagai guru atau pendidik hendaknya memperhatikan para peserta didik yang bodoh atau lemah; sebagai warga masyarakat hendaknya memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan di lingkungan hidup masing-masing; sebagai dokter atau tenaga medis kiranya harus dengan lembah lembut dan rendah hati melayani pasien/orang sakit dan sementara itu rumah sakit hendaknya juga memberi peluang bagi yang miskin dan berkekurangan untuk berobat, dst.. Organisasi kemasyarakatan kami harapakan mengalokasikan dana dan tenaga secara khusus bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Kami berharap orang-orang miskin dan berkekurangan tidak menjadi ‘sarana proyek’ untuk memperkaya diri atau kelompok, sebagaimana sering dilakukan oleh LSM-LSM tertentu. “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat”, demikian perintah Yesus, yang bagi kita berarti sepak terjang, cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun diharapkan menghadirkan Allah yang meraja, artinya melalui diri kita yang lemah dan rapuh ini orang tergerak untuk semakin beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.

·   Pergilah kepada Yusuf, perbuatlah apa yang akan dikatakannya kepadamu” (Kej 41:55), demikian kata Firaun kepada rakyat Mesir yang menderita kelaparan. Yusuf adalah anak yang dibuang dan ‘dianggap hilang’ oleh saudara-saudaranya; namun ternyata ia masih hidup dan di negeri asing berfungsi menyelamatkan; Yusuf pun akhirnya juga menyelamatkan saudara-saudaranya yang telah membuangnya dan menganggapnya telah hilang. Perintah Yesus kepada para rasul untuk pergi kepada domba-domba yang hilang kiranya mengingatkan kisah saudara-saudaranya yang menderita kelaparan. Yang dibuang telah menjadi penyelamat, itulah misteri karya penyelamatan sejati. Hidup pribadi atau bersama kita, entah di dalam keluarga, pastoran, biara, tempat kerja dst.. mungkin tidak beres alias kurang atau tidak bahagia, maka baiklah jika demikian adanya kami ajak anda untuk menemukan sesuatu yang hilang atau mungkin telah anda singkirkan, yaitu charisma atau spiritualitas pendiri atau visi organisasi.  Kata Firaun kepada rakyatnya kiranya dapat kita hayati pada masa kini merupakan suatu ajakan untuk mencari dan menemukan kembali  sesuatu yang penting bagi hidup kita pribadi maupun hidup bersama. Semua charisma, spiritualitas dan visi hemat saya dijiwai oleh cintakasih, dicanangkan berdasarkan cintakasih dan diharapkan siapapun yang menghayatinya semakin hidup dan bertindak saling mengasihi. Saling mengasihi berarti memberi dan menerima kasih, hemat saya pada masa kini yang sulit dihayati adalah menerima kasih. Ingat kasih tidak selalu mulus dan nikmat di tubuh, hati, jiwa maupun akal budi, tetapi juga menyakitkan atau bahkan menusuk hati, sebagaimana kasih sering disimbolkan dengan hati yang tertusuk. Menerima kasih berarti menerima pujian, saran, kritik, nasihat, ejekan, cemoohan, dst.. Bukankah menerima saran, kritik, nasihat, ejekan dan cemoohan cukup berat dan banyak orang menolaknya? Hendaknya semua saran, kritik, nasihat, ejekan dan cemoohan disikapi dan dihayati sebagai perwujudan kasih dari saudara-saudari kita, maka tanggapi dengan singkat dan rendah hati dengan kata ‘terima kasih’.

“Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi; bermazmurlah bagiNya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagiNya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai

 (Mzm 33:2-3)

Ign 6 Juli 2011

7 Sept – 1Kor 6-1-11; Luk 6:12-19

“Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka”

(1Kor 6-1-11; Luk 6:12-19)

 

“Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan.Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya” (Luk 6:12-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Para rasul adalah pembantu Yesus Kristus serta penerus karya penyelamatanNya; fungsi para rasul ini untuk masa kini diemban oleh para uskup, para gembala kita. Sebelum memilih rasul-rasul Yesus berdoa semalam-malaman agar siapa yang dipilihNya sesuai dengan kehendak Allah. Pemilihan macam ini kiranya juga terjadi dalam pemilihan uskup. Jabatan rasul atau uskup memang penting dalam karya penyelamatan atau hidup menggereja, karena banyak orang datang kepada mereka untuk mendengarkan ajaran, arahan, nasihat, dst.. maupun disembuhkan dari aneka macam penyakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh. Maka baiklah ketika kita merasa sakit atau butuh diteguhkan serta diperkembangkan iman kita, hendaknya tidak ragu-ragu untuk datang kepada para gembala kita, entah uskup maupun para pembantunya, para imam/pastor. Sebaliknya hendaknya kita juga sering mendoakan para gembala kita, mengingat dan memperhatikan tugas mereka begitu berat dan mulia. Kepada Yang Mulia, para uskup maupun rekan-rekan imam atau pastor kami harapkan dengan jiwa besar dan hati rela berkorban dalam melayani umat yang datang untuk minta nasihat, saran, ajaran maupun disembuhkan dari aneka macam penyakit. Tentu saja bantuan umat bagi para gembala juga sangat dibutuhkan, entah dalam hal spiritual maupun duniawi, seperti harta benda, uang atau tenaga, guna membantu pelayanan para gembala. Sebagai orang beriman kita juga memiliki dimensi hidup rasuli maupun imamat umum kaum beriman, maka baiklah hal ini kita sadari dan hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita, artinya dengan segala rendah hati dan keterbatasan hendaknya siap sedia memberi pelayanan bagi mereka yang membutuhkan.

·   “Kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1Kor 6:11), demikian peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Kita semua adalah orang yang terpilih dan disucikan, yaitu ketika kita menerima rahmat pembaptisan, dimana pada saat itu kita berjanji ‘untuk hanya mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan’. Maka baiklah kita setia pada janji baptis ini dan kita hayati rahmat pembaptisan ini di dalam hidup sehari-hari. Tuhan hidup dan berkarya dimana-mana dan kapan saja melalui ciptaan-ciptaanNya, terutama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah, maka mengabdi Allah berarti kita hidup dan bertindak saling melayani, saling membahagiakan dan mensejahterakan. Yang tidak kalah penting pada masa kini adalah ‘menolak semua godaan setan’. Godaan setan antara lain dapat menggejala dalam tawaran atau rayuan dalam hal harta benda/uang, jabatan/pangkat/ kedudukan atau kehormatan duniawi. Jika diperhatikan dan dicermati untuk menduduki jabatan atau fungsi tertentu di Negara kita ini sering harus dengan uang pelicin atau sogokan cukup besar, jutaan atau milyardan rupiah, sehingga ketika menjadi pejabat atau berfungsi dalam pelayanan hidup bersama mau tidak mau harus berbuat jahat atau korupsi. Kami berharap rekan-rekan yang percaya kepada Yesus Kristus tidak tergoda untuk jabatan, kedudukan atau kehormatan duniawi, yang disertai dengan uang pelicin atau sogokan. Biarlah karena profesionalitas atau kemampuan kita yang mendorong kita untuk menduduki jabatan atau fungsi tertentu, sehingga dalam mengemban jabatan atau fungsi ‘dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita’. Dalam atau dengan semangat iman Kristiani kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila.

 

“Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada. Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan.Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya.Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya“(Mzm 146:1-5) .

 

Jakarta, 7 September 2010

24 Agustus – Why 21:9b-14; Yoh 1:45-51

"Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?"

(Why 21:9b-14; Yoh 1:45-51).

 

“Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.” (Yoh 1:45-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Bartolomeus, rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Curiga atau berprasangka buruk terhadap yang lain, lebih-lebih terhadap mereka yang telah mendapat ‘cap buruk’ dalam percaturan, rasanya marak di sana-sana, terutama dalam diri mereka yang berpedoman pada ‘negative thinking’. Itulah kiranya yang dilakukan oleh Natanael atau Bartolomeus, ketika mendengar kata-kata Filipus “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam Kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret”. Namun setelah ia bertemu dengan Yesus sendiri dengan tatap muka, ia menjadi percaya. Sifat Bartolomeus adalah jujur, ia jujur terhadap diri sendiri maupun sesamanya. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan pesta St.Bartomeus hari ini saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal keutamaan kejujuran. “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata benar apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 17). Hidup dan bertindak jujur pada masa kini sungguh mendesak dan up to date , mengingat dan memperhatikan masih maraknya korupsi dan kebohongan serta kepalsuan di sana-sini. Salah satu cara mendidik dan membiasakan diri hidup jujur antara lain di sekolah-sekolah diberlakukan ‘dilarang menyontek’ baik dalam ulangan maupun ujian. Membiarkan dan memberi kesempatan para murid/peserta didik/mahasiswa untuk menyontek berarti menyuburkan korupsi dan kebohongan.


·   "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba." (Why 21:9b). Kutipan ini merupakan symbol yang baik dan hendaknya kita tanggapi secara positif. Pengantin perempuan pada umumnya tampil dengan sangat cantik, mempesona, menarik serta ceria. Sedangkan yang dimaksudkan sebagai ‘mempelai Anak Domba’ adalah orang suci, yang bersatu erat dan mesra dengan Yesus alias menjadi ‘sahabat-sahabat Yesus sejati’. Maka ajakan tersebut di atas dapat kita hayati dengan senantiasa berusaha melihat dan mengakui apa yang baik, indah, luhur, mulia serta mempesona dalam diri kita sendiri maupun sesama kita dimanapun dan kapanpun. Dengan kata lain senantiasa berpedoman pada prinsip “positive thinking”. Kami percaya bahwa dalam diri kita masing-masing lebih banyak apa yang baik daripada apa yang buruk, apa yang mulia daripada yang remeh, apa yang luhur daripada yang rendah, dst. Disamping itu masing-masing dari kita diharapkan senantiasa tampil atau menghadirkan diri bagaikan ‘pengantin perempuan’, yang mempesona, menarik dan ceria, gembira ria. Tidak ada alasan untuk tidak gembira jika kita sungguh beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Mereka yang sedang menjadi pengantin kiranya juga bersikap mempersembahkan diri kepada pasangannya maupun mereka yang hadir untuk berpartisipasi dalam pesta atau upacara  perkawinan. Pengantin senantiasa menjadi perhatian utama bagi mereka yang harus dalam pesta atau upacara perkawinan dan rasanya semuanya dalam keadaan menarik, mempesona dan ceria. Marilah kita jadikan hidup dan kerja sehari-hari bagaikan sedang dalam pesta perkawinan. Marilah kita hayati iman kita dengan menjadi pewarta-pewarta kabar gembira, menghayati dan menyebarluaskan apa-apa yang baik, indah, benar, mulia dan suci di dalam hidup sehari-hari. Kita semua memilih tugas perutusan atau rasuli untuk menyelamatkan dunia seisinya.

 

“Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan

 (Mzm 145:10-13a)

Jakarta, 24 Agustus 2010     

28 Okt – Ef 2:19-22; Luk 6:12-19

“Ia memilih dari antara mereka dua belas orang yang disebutNya rasul”

(Ef 2:19-22; Luk 6:12-19)

 

“Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya” (Luk 6:12-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Simon dan St.Yudas, rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Rasul berarti yang diutus. Dalam kisah Warta Gembira hari ini Yesus memilih dua belas rasul, dan sebelum melaksanakan tugas perutusan mereka, mereka diajak untuk mengikuti Yesus serta menyaksikan apa yang dilakukan oleh Yesus. Sebelum menentukan pilihan Yesus “berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah”. Apa yang dilakukan oleh Yesus ini kiranya dapat menjadi bahan permenungan kita, yaitu ‘berdoa sebelum membuat pilihan yang sangat menentukan cara hidup dan cara bertindak kita sendiri maupun orang lain’. Hal senada juga harus kita lakukan dalam rangka membuat keputusan-keputusan penting yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Maka baiklah di sini saya mengingatkan dan mengajak kita semua perihal menentukan pilihan atau membuat keputusan penting. Misalnya bagi rekan muda-mudi yang sedang berpacaran atau bertunangan kami harapkan tidak melupakan hidup doa, berdoa mohon pencerahan dari Tuhan apakah pacaran atau tunangan diputus atau dilanjutkan untuk membangun hidup berkeluarga, menjadi suami-isteri sampai mati. Kepada siapapun yang masih dalam proses pembelajaran kami harapkan juga berdoa sebelum menentukan atau memilih jenis pendidikan atau jurusan; demikian juga para pimpinan hendaknya berdoa sebelum membuat kebijakan atau keputusan penting. Kita semua berharap apapun yang menjadi keputusan atau pilihan kita akan membahagiakan kita sendiri maupun orang lain, yang sakit disembuhkan, yang kecewa dipuaskan, yang sedih dibahagiakan, yang miskin diperkaya, dst..

·   “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh“(Ef 2:21-22), demikian peringatan Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua yang terpilih. Ingat bahwa masing-masing dari kita adalah ‘yang terpilih’! Bukankah ada jutaan sperma berlomba untuk bersatu dengan sel telor dan hanya satu yang menang atau terpilih, yang akhirnya menjadi ‘saya’, masing-masing dari kita saat ini? Sebagai yang terpilih kita diharapkan “turut dibangunkan menjadi bangunan rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus”, dengan kata lain cara hidup dan cara bertindak kita sesuai dengan kehendak Allah. Diri kita masing-masing  sendiri diharapkan rapi, menarik, mempesona dan memikat, sehingga kebersamaan hidup kita dimanapun dan kapanpun juga demikian adanya. Sebagai pribadi yang menjadi bait Allah atau hidup di dalam Roh tentu saja cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri“(Gal 5:22-23). Marilah kita saling mendukung dan mengingatkan bahwa masing-masing dari kita menjadi ‘bait Allah’, sehingga siapapun yang melihat kita, hidup bersama dengan kita, tergerak untuk berbakti kepada Allah, lebih beriman, lebih suci, semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Maka jika ada saudara atau saudari kita yang hidup dan bertindak tidak sesuai dengan kehendak Allah seperti yang melakukan ” percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,  kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya”(Gal 5:19-21), hendaknya segera diingatkan. 

 

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari” (Mzm 19:2-5)

 

Jakarta, 28 Oktober 2009