Tag: bapak

Pandji Wisaksana, Bapak Pralon Indonesia (2)

Pandji Wisaksana (kanan) bersama istrinya Trijuani Pandji (tengah) dan semua anak dan menantunya. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

SEJARAH masa lampau mencatat bahwa inilah Bapak Pralon Indonesia: Pandji Wisaksana yang pada tahun 2016 ini genap merangkai perjalanan usia 91 tahun. Barangkali, banyak orang juga lupa bahwa berkat jasa Pandji Wisaksana inilah, kini kita tidak lagi memakai pipa-pipa besi untuk ‘pembungkus’ jaringan kabel listrik dan ‘penyalur’ aliran air ledeng atau lainnya, melainkan dengan pipa berbahan baku plastik alias pralon.

Adalah Pandji Wisaksana yang pertama kali memperkenalkan teknologi  baru berupa pipa-pipa berbahan baku plastik itu yang kini membumi di Tanahair dengan sebutan ‘pralon’. Kata baru ‘pralon’ sebenarnya diadopsi dari nama badan usaha bisnis Pandi Wisaksana yang dia bangun pada tahun 1963 dengan nama PT Prakasa Pralon.

Baca juga: 91Th “Bapak Pralon Indonesia” Pandji Wisaksana, 70 Th Perkawinannya dengan Trijuani (1)

PT Prakasa Pralon memproduski  pipa berbahan baku plastik yang kemudian membumi di Indonesia. Kata ‘pralon’ sebenarnya merupakan gabungan dari huruf “P” dari “Pandji” dan “Prakasa” namun kemudian diciptakan tambahan huruf lain agar menciptakan suara yang lebih enak didengar untuk memacu laju pemasaran. Karena, pralon itu lahir dari PT Prakasa Pralon yang dibesut Pandji Wisaksana, maka dia layak mendapat julukan “Bapak Pralon Indonesia”.

Langkah filantropi Pandji Wisaksana adalah menggulirkan ribuan pralon gratis besutan  PT Prakasa Pralon untuk projek pembangunan Mesjid Agung Istiqlal Jakarta.

Indonesia meraih peringkat ke-16 pemegang lisensi dari Mauser

Sebelumnya, Pandji Wisaksana berhasil memproduksi drum-drum jumbo berbahan baku plastik yang mampu memuat bahan-bahan cair di atas volume 220 liter. Saat itu, yang ada di Indonesia hanya drum-drum besar berbahan baku metal. Dengan mengantongi lisensi dari Mauser di Jerman, Pandji Wisaksana dengan bendera bisnisnya PT Pioneer Plastics Ltd yang berdiri sejak tahun 1964 menjadi pihak pertama di kawasan Asia yang berhasil memroduksi drum-drum plastik ukuran jumbo dengan spesifikasi mampu menampung dan tahan terhadap asam belerang kadar 98%, alkohol, asam semut, asam chloride, peroxide, dan lainnya.

Mengambil bahan bakunya dari Jerman, Jepang, dan Australia, Pandji Wisaksana memproduksi drum berbahan baku polythelene ini untuk konsumsi eskpor ke Singapura dan Australia. Saat itu, Pandji Wisaksana berhasil membawa nama Indonesia menjadi negara ke-16 di dunia  yang berhasil meyakinkan pabrik senjata Mauser di Jerman memberikan hak lisensi produksinya kepada sebuah pabrik dengan kualitas sama di Tangerang, Jawa Barat (waktu itu) untuk memroduksi drum-drum jumbo plastik.

avatar Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Konsultan Media & Communication di lembaga internasional mhariyadi@sesawi.net, mathias.hariyadi@gmail.com

Sumber: Sesawi.net

Tags : , , , ,

Pesta Ultah ke-43 Romo Bei Witono SJ Dihadiri Bapak Ibu

RD Bei Witono SJ (kiri) menerima bingkisan dari RD TH Sarjumunarsa SJ / Foto : Abdi

MINGGU siang kali ini terasa istimewa bagi Romo Bei Witono SJ yang sekarang ini menjadi Direktur Civita Youth Camp. Beberapa teman angkatannya saat di Novisiat Serikat Yesus mengunjunginya. Bahkan ayah dan ibunya yang tinggal Paroki Kampung Sawah, Jakarta Timur juga hadir di aula rumah retret milik Keuskupan Agung Jakarta yang dikelola Ordo Serikat Yesus ini.

“Ini pertama kalinya ulang tahun saya dirayakan dengan begitu meriah. Saya berterima kasih atas semua kebaikan benefactor dan saudara-saudara yang telah mengirimkan makanan dan minuman juga kedatangan saudara-saudari semua,”ujar Romo Bei saat memberi sambutan, Minggu (31/7/2016).

Romo Bei Witono SJ (kedua dari kiri) didampingi ibu, Romo Th Sarjumunarsa SJ, dan ayah (paling kanan) / Foto : AbdiRomo Bei Witono SJ (kedua dari kiri) didampingi ibu, Romo Th Sarjumunarsa SJ, dan ayah (paling kanan) / Foto : Abdi

Perayaan ulang tahun ke-43 ini juga dihadiri RP Th. Salimun Sarjumunarsa SJ yang baru sebulan mendampingi Romo Bei di Civita. Para karyawan, suster-suster yang sedang mengikuti pelatihan, bruder, frater, dan para suster yang membantu Romo Bei pun hadir serta ikut memeriahkan pesta yang juga bertepatan dengan Pesta Pendiri Ordo Serikat Yesus, Santo Ignatius Loyola.

“Kalau biasanya pada pesta seperti ini saya berada di belakang dan sekadar ikut. Sekarang saya jadi bintangnya,”ujar Romo Bei sambil tertawa.

Persembahan tarian, lagu-lagu dari kawan serta para suster, bruder, dan frater meramaikan acara siang yang sedikit panas di wilayah Ciputat, Tangerang Selatan. Acara pun ditutup dengan pemotongan kue tart oleh Romo Bei.

Sumber: Sesawi.net

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah 2timoteus2:8-15 abdisabda
Tags : , , , ,

Donasi untuk Penyembuhan Bapak Uskup Keuskupan Pangkalpinang: Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD

Uskup Keuskupan Pangkalpinang Mgr Hilarius Moa Nurak SVD

INI berita singkat dari para romo diosesan di Keuskupan Pangkalpinang yang diterima Redaksi pada hari Rabu tanggal 20 April 2016 pagi ini. Isinya juga singkat yakni keinginan Keuskupan Pangkalpinang untuk menggalang donasi bagi proses penyembuhan Uskup Keuskupan Pangkalpinang yakni Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD. (Baca juga:  Rabu 20 April 2016, Mgr. Hilarius Dibawa ke Singapura)

Penggalangan donasi ini dimaksudkan sebagai upaya membantu keuangan Keuskupan Pangkalpinang untuk membiayai proses penyembuhan Bapak Uskup. Juga merespon keinginan banyak pihak yang bertanya kemana dan kepada siapa donasi itu bisa dikirimkan dengan intensi sesuai peruntukannya (intentio dantis): proses penyembuhan dan perawatan Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD.

Jatuh dan kemudian tak sadarkan diri

Sebagaimana diketahui bersama, pada hari Selasa dinihari kemarin Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD jatuh di kamar pribadi dan itu menyebabkan terjadinya pendarahan di kepala. Kondisi yang memburuk tidak memungkinkan membawa Bapak Uskup diterbangkan dari Pangkalpinang di Pulau Bangka menuju Jakarta untuk proses operasi. (Baca juga: Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD Terima Sakramen Perminyakan Suci)

Selanjutnya, Bapak Uskup dirawat di RS Bhakti Timah di Ibukota Provinsi Bangka Belitung ini hingga Rabu pagi ini. Semalam kondisi Mgr. Hilarius sudah mulai stabil dan siang ini diputuskan membawa Bapak Uskup ke Singapura untuk proses pengobatan dan perawatan.

Sudah barang tentu, biaya untuk keperluan ini sangatlah besar.

Pada konteks inilah, Keuskupan Pangkalipinang melalui sebuah surat resmi yang dikeluarkan dan ditandatangani Romo Vikaris Jenderal Keuskupan RD Lucius Poya Hobamatan merilis keinginan untuk menggalang dana bagi kebutuhan proses penyembuhan Bapak Uskup.

Nomor rekening Keuskupan

Para pembaca yang ingin melakukan donasi bisa melakukan transfer langsung ke:

Bank Mandiri – Norek 169-00-0002700-0

A.n. Keuskupan Pangkalpinang

Subjek berita: Donasi untuk Bapak Uskup

mgr hilarius 2Pencatatan histori transaksi

Demi tertib administrasi dan rapinya pencatatan histori transaksi, pihak Keuskupan Pangkalpinang melalui Sekretaris Uskup Keuskupan Romo Philips Seran Pr mengimbau beberapa hal teknis sebagai berikut:

Setiap donasi ke Rekening Bank Mandiri milik Keuskupan harus menyertakan subjek berita: Donasi untuk Bapak Uskup.Diimbau sudi mengirimkan notifikasi pengiriman/transfer kepada Sekretaris Uskup Keuskupan Pangkalpinang: Pastor Philipus Seran melalui emailnya philipus_seran@yahoo.com dengan subjek berita “Donasi untuk Bapak Uskup” dan di-cc-kan ke Redaksi Sesawi.Net untuk keperluan merilis histori rekap transaksi melalui mathias.hariyadi@gmail.comSetiap kurun waktu tertentu akan dilakukan ekpose hasil perolehan donasi ini dengan histori transaksi untuk keperluan pertanggunganjawab publik.Donatur yang ingin merahasiakan namanya, diharap mencantumkan keinginan tersebut melalui email yang sama sehingga dalam laporan rekap hanya ditulis kode NN.

Sumber: Sesawi.net

5 pencarian oleh pembaca:

  1. majalah berkat keuskup
Tags : , , , , , , , ,

Anak Serupa Bapak

Rabu, 9 Maret 2016
Pekan Prapaskah IV
Yes 49:8-15; Mzm 145:8-9,13cd-14,17-18; Yoh 5:17-30.

Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.

ADA pepatah, “Sama seperti bapak, begitulah anak.” Kita dapat juga menggunakannya berdasarkan iman kita kepada Yesus Kristus untuk membaca Injil hari ini. Yesus Kristus bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak-Nya dan menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang Dia kerjakan.”

Yesus Kristus menggambarkan relasi-Nya dengan Allah dan diri-Nya sebagai Bapa dan Anak. Relasi antara Yesus Kristus dan Bapa-Nya merupakan relasi penuh rasa hormat dan kasih yang penuh. Kedalaman kasih keputraan yang Yesus hidupi bersama Bapa sedemikian penuh daya dan membentangkan jalan yang mestinya kita tempuh.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita menyembah Yesus Kristus yang tidak mencari keinginan-Nya sendiri, melainkan kehendak Bapa yang mengutus Dia. Kita juga tidak dapat melakukan apa pun dari diri kita sendiri, tetapi hanya yang kita lihat dikerjakan Bapa.

Tuhan Yesus Kristus. yang dikerjakan Bapa, Engkau kerjakan pula. Semoga kami juga melakukan apa yang telah Kau kerjakan hingga hidup kami memancarkan kasih-Mu kepada setiap orang yang kami jumpai kini dan selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Tags : ,

From RHO-ers: Relasional VS. Kondisional

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Habakuk 3:16
====================

“Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan …”

Pengalaman mengamati doa-doa yang dinaikkan oleh orang-orang (termasuk para hamba Tuhan) di dalam pelayanan ke orang-orang yang sakit keras membuat saya jadi merenungi bagaimana sebenarnya iman di dalam hati manusia itu bekerja. Entah itu iman di dalam hati orang yang sakit keras maupun iman di dalam hati orang yang mendoakan.

Salah satu pengalaman yang menarik adalah ketika saya melayani di salah satu Gereja di Semarang. Salah seorang rekan hamba Tuhan mengajak saya mendoakan seorang Bapak koster Gereja yang sedang sakit leukemia. Rekan hamba Tuhan ini, seperti biasa, membacakan satu bagian firman Tuhan sebelum ia mendoakan Bapak koster Gereja ini. Setelah membacakan satu bagian firman Tuhan, ia kemudian menjelaskan sedikit dan lalu mengajak Bapak koster ini untuk berdoa. Di dalam doanya ia seperti “menjatuhkan” rasa bersalah dan rasa tersudut kepada Bapak koster ini. Seolah-olah di dalam doanya, rekan hamba Tuhan ini hendak mengatakan bahwa penyebab dari sakit leukemia yang dihadapi oleh Bapak koster ini adalah karena ia tidak beriman kepada Tuhan! Rekan hamba Tuhan ini menekankan bahwa Bapak koster ini harus berani mengklaim janji Tuhan dengan iman yang penuh. Dan jika klaim itu tidak terkabul maka berarti yang salah adalah pada diri si Bapak koster ini. Bapak koster ini kurang beriman sih!

Demikian kurang-lebih “pesan” yang saya tangkap dari isi doa rekan hamba Tuhan ini.
Lalu beberapa hari kemudian setelah didoakan, Bapak koster ini akhirnya “sembuh” dari penyakit leukimianya. Tuhan “menyembuhkan” dia dengan memanggil dia “pulang”. Pertanyaan yang menggema di benak dan di dalam hati saya setelah “kepulangannya” adalah: apa sih sebenarnya arti beriman kepada Tuhan? Apakah beriman kepada Tuhan berarti bahwa segala kondisi kita akan berubah seperti yang kita doakan dan mintakan kepada Tuhan? Atau beriman kepada Tuhan itu berarti bahwa segala kondisi di sekitar kita boleh seperti apapun jadinya tetapi aku tidak akan pernah meninggalkan Tuhanku?

Habakuk di dalam pergumulannya melihat kelaliman, penindasan dan kejahatan di sekelilingnya membuat ia sempat “down” dan putus asa sebab keadaan di sekelilingnya tak kunjung berubah walaupun ia telah menjeritkan keadaan sekelilingnya kepada Tuhan — “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi …” (Habakuk 1:2-3)

Akan tetapi di dalam perjalanan pergumulan iman Habakuk, Tuhan menolong Habakuk dan menghidupkan kesadaran di dalam batinnya bahwa daripada ia terus mempertanyakan pertanyaan “kapan”, “mengapa”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya, jauh lebih baik jika ia “berdiam diri di hadapan-Nya.” (Habakuk 2:20). Sebab hanya di dalam “… tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” (Yesaya 30:15)
Di dalam tinggal diam biasanya kita baru “ter-bangun-kan” bahwa sebenarnya yang terpenting di dalam beriman kepada Tuhan adalah bukan perubahan kondisi di sekeliling kita yang carut-marut, melainkan relasi kita dengan Tuhan yang semakin kokoh melalui kondisi di sekeliling kita yang carut-marut sekalipun! Surat Ibrani mengingatkan bahwa “Iman adalah DASAR dari segala sesuatu yang kita harapkan dan BUKTI dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1)

Iman Kristiani (bukan iman orang Kristen lho – sebab banyak orang Kristen yang tidak Kristiani imannya) adalah iman yang mengharapkan BUKTI dari segala sesuatu yang TIDAK KITA LIHAT! Jadi iman kita memang adalah iman yang tidak melihat – sebab apalah artinya beriman jika kita sudah dapat melihat? – akan tetapi iman Kristiani tidaklah berarti sebuah iman yang “melompat” di dalam kegelapan. Iman kita adalah iman yang “melompat” berdasarkan (berfondasikan) pada pengenalan [RELASIONAL] akan Allah yang berdaulat itu, dan bukan pada keadaan [KONDISIONAL] sekitar kita!

Iman Kristiani adalah iman yang “sekalipun” dan iman yang “namun”… Iman Kristiani bukanlah iman yang “karena”!! Contoh: “Karena” Allah menyembuhkan maka aku sekarang percaya bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa atas segala macam penyakit!”
Iman seperti contoh di atas memang tidak salah dan sah-sah saja, TETAPI iman seperti di atas adalah iman yang berdasarkan KONDISIONAL saja dan bukan berdasarkan RELASIONAL! Iman yang tergantung pada kondisi bukan pada relasi! Kelemahan dari iman yang tergantung pada kondisi adalah ketika kondisi tidak seperti yang kita harapkan maka kita akan mudah untuk menjadi kecewa dan meninggalkan Tuhan! Tetapi ketika iman kita adalah iman yang relasional, maka kondisi apapun yang menimpa kita, kita tetap dapat berdiri teguh karena kita tahu BERSAMA SIAPA kita berjalan di dunia ini! (Contoh: Lihatlah teladan iman dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego di dalam Daniel 3:17-18 — “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi SEANDAINYA TIDAK, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”)

Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap beriman kepada Allah-nya karena mereka kenal betul Allah yang dengan-Nya mereka berelasi. Kondisi di hadapan mereka boleh semenakutkan apapun, Allah mau tolong silahkan, Allah tidak tolongpun silahkan, kami (Sadrakh, Mesakh dan Abednego) tidak akan menyembah patung emas buatan raja!! Luar biasa bukan!! Iman relasional vs. iman kondisional!

Marilah kita yang masih menaruh iman kita kepada Tuhan berdasarkan kondisi beralih kepada iman yang berdasarkan relasi! Jalinan relasional dengan Allah jauh lebih memberikan rasa aman daripada jalinan iman kondisional! Kesusahan yang membuat kita “gemetar”, “menggigil” dan “kemasukan sengal” boleh datang silih berganti, “namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan itu…” karena aku tahu aku berjalan (menjalin relasi) dengan Siapa! Imanku bukan berdasarkan APA tapi berdasarkan SIAPA!

“Faith cannot be inherited or gained by being baptized into a Church. Faith is a matter between the individual and God.” (Martin Luther)

“Faith takes God without any ifs.” (D.L. Moody)