Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

From RHO-ers: Relasional VS. Kondisional

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Habakuk 3:16
====================

“Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan …”

Pengalaman mengamati doa-doa yang dinaikkan oleh orang-orang (termasuk para hamba Tuhan) di dalam pelayanan ke orang-orang yang sakit keras membuat saya jadi merenungi bagaimana sebenarnya iman di dalam hati manusia itu bekerja. Entah itu iman di dalam hati orang yang sakit keras maupun iman di dalam hati orang yang mendoakan.

Salah satu pengalaman yang menarik adalah ketika saya melayani di salah satu Gereja di Semarang. Salah seorang rekan hamba Tuhan mengajak saya mendoakan seorang Bapak koster Gereja yang sedang sakit leukemia. Rekan hamba Tuhan ini, seperti biasa, membacakan satu bagian firman Tuhan sebelum ia mendoakan Bapak koster Gereja ini. Setelah membacakan satu bagian firman Tuhan, ia kemudian menjelaskan sedikit dan lalu mengajak Bapak koster ini untuk berdoa. Di dalam doanya ia seperti “menjatuhkan” rasa bersalah dan rasa tersudut kepada Bapak koster ini. Seolah-olah di dalam doanya, rekan hamba Tuhan ini hendak mengatakan bahwa penyebab dari sakit leukemia yang dihadapi oleh Bapak koster ini adalah karena ia tidak beriman kepada Tuhan! Rekan hamba Tuhan ini menekankan bahwa Bapak koster ini harus berani mengklaim janji Tuhan dengan iman yang penuh. Dan jika klaim itu tidak terkabul maka berarti yang salah adalah pada diri si Bapak koster ini. Bapak koster ini kurang beriman sih!

Demikian kurang-lebih “pesan” yang saya tangkap dari isi doa rekan hamba Tuhan ini.
Lalu beberapa hari kemudian setelah didoakan, Bapak koster ini akhirnya “sembuh” dari penyakit leukimianya. Tuhan “menyembuhkan” dia dengan memanggil dia “pulang”. Pertanyaan yang menggema di benak dan di dalam hati saya setelah “kepulangannya” adalah: apa sih sebenarnya arti beriman kepada Tuhan? Apakah beriman kepada Tuhan berarti bahwa segala kondisi kita akan berubah seperti yang kita doakan dan mintakan kepada Tuhan? Atau beriman kepada Tuhan itu berarti bahwa segala kondisi di sekitar kita boleh seperti apapun jadinya tetapi aku tidak akan pernah meninggalkan Tuhanku?

Habakuk di dalam pergumulannya melihat kelaliman, penindasan dan kejahatan di sekelilingnya membuat ia sempat “down” dan putus asa sebab keadaan di sekelilingnya tak kunjung berubah walaupun ia telah menjeritkan keadaan sekelilingnya kepada Tuhan — “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi …” (Habakuk 1:2-3)

Akan tetapi di dalam perjalanan pergumulan iman Habakuk, Tuhan menolong Habakuk dan menghidupkan kesadaran di dalam batinnya bahwa daripada ia terus mempertanyakan pertanyaan “kapan”, “mengapa”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya, jauh lebih baik jika ia “berdiam diri di hadapan-Nya.” (Habakuk 2:20). Sebab hanya di dalam “… tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” (Yesaya 30:15)
Di dalam tinggal diam biasanya kita baru “ter-bangun-kan” bahwa sebenarnya yang terpenting di dalam beriman kepada Tuhan adalah bukan perubahan kondisi di sekeliling kita yang carut-marut, melainkan relasi kita dengan Tuhan yang semakin kokoh melalui kondisi di sekeliling kita yang carut-marut sekalipun! Surat Ibrani mengingatkan bahwa “Iman adalah DASAR dari segala sesuatu yang kita harapkan dan BUKTI dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1)

Iman Kristiani (bukan iman orang Kristen lho – sebab banyak orang Kristen yang tidak Kristiani imannya) adalah iman yang mengharapkan BUKTI dari segala sesuatu yang TIDAK KITA LIHAT! Jadi iman kita memang adalah iman yang tidak melihat – sebab apalah artinya beriman jika kita sudah dapat melihat? – akan tetapi iman Kristiani tidaklah berarti sebuah iman yang “melompat” di dalam kegelapan. Iman kita adalah iman yang “melompat” berdasarkan (berfondasikan) pada pengenalan [RELASIONAL] akan Allah yang berdaulat itu, dan bukan pada keadaan [KONDISIONAL] sekitar kita!

Iman Kristiani adalah iman yang “sekalipun” dan iman yang “namun”… Iman Kristiani bukanlah iman yang “karena”!! Contoh: “Karena” Allah menyembuhkan maka aku sekarang percaya bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa atas segala macam penyakit!”
Iman seperti contoh di atas memang tidak salah dan sah-sah saja, TETAPI iman seperti di atas adalah iman yang berdasarkan KONDISIONAL saja dan bukan berdasarkan RELASIONAL! Iman yang tergantung pada kondisi bukan pada relasi! Kelemahan dari iman yang tergantung pada kondisi adalah ketika kondisi tidak seperti yang kita harapkan maka kita akan mudah untuk menjadi kecewa dan meninggalkan Tuhan! Tetapi ketika iman kita adalah iman yang relasional, maka kondisi apapun yang menimpa kita, kita tetap dapat berdiri teguh karena kita tahu BERSAMA SIAPA kita berjalan di dunia ini! (Contoh: Lihatlah teladan iman dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego di dalam Daniel 3:17-18 — “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi SEANDAINYA TIDAK, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”)

Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap beriman kepada Allah-nya karena mereka kenal betul Allah yang dengan-Nya mereka berelasi. Kondisi di hadapan mereka boleh semenakutkan apapun, Allah mau tolong silahkan, Allah tidak tolongpun silahkan, kami (Sadrakh, Mesakh dan Abednego) tidak akan menyembah patung emas buatan raja!! Luar biasa bukan!! Iman relasional vs. iman kondisional!

Marilah kita yang masih menaruh iman kita kepada Tuhan berdasarkan kondisi beralih kepada iman yang berdasarkan relasi! Jalinan relasional dengan Allah jauh lebih memberikan rasa aman daripada jalinan iman kondisional! Kesusahan yang membuat kita “gemetar”, “menggigil” dan “kemasukan sengal” boleh datang silih berganti, “namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan itu…” karena aku tahu aku berjalan (menjalin relasi) dengan Siapa! Imanku bukan berdasarkan APA tapi berdasarkan SIAPA!

“Faith cannot be inherited or gained by being baptized into a Church. Faith is a matter between the individual and God.” (Martin Luther)

“Faith takes God without any ifs.” (D.L. Moody)

Incoming search terms: