Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

7 April – Kel 32:7-14; Yoh 5:31-47

“Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia”

(Kel 32:7-14; Yoh 5:31-47)

 

Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya.”(Yoh 5:31-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Seorang saksi yang baik senantiasa mengatakan atau mengungkapkan kebenaran-kebenaran; ia mengatakan apa yang dilihat atau dialaminya sendiri apa adanya tanpa ditambahi atau dikurangi. Apa yang diungkapkan atau dikatakan oleh seorang saksi bertujuan untuk menyingkapkan kebenaran yang diselubungi oleh kebohongan-kebohongan. Yesus berbicara perihal kesaksian, tetapi bukan kesaksian manusia, melainkan perbuatan-perbuatan sebagai pelaksanaan kehendak Allah Bapa yang mengutusNya. Sebagai orang beriman, terutama yang beriman kepada Yesus Kristus, kita semua dipanggil untuk menjadi saksi, lebih-lebih melalui perbuatan atau perilaku bukan perkataan atau omongan. Kesaksian merupakan cara utama dan pertama dalam melaksanakan tugas pengutusan, yang tak tergantikan dengan atau oleh cara lain apapun. Sebagai suami-isteri menjadi saksi iman berarti dalam keadaan dan situasi apapun senantiasa saling mengasihi tanpa syarat; sebagai anggota lembaga hidup bakti, biarawan atau biarawati berarti tetap dan setia berbakti kepada Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun, dan sebagai yang telah dibaptis berarti setia mengabdi Tuhan dan menolak semua godaan setan kapanpun dan dimanapun,dst… Maka baiklah kita tidak hidup dan bertindak hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi, tetapi lebih-lebih dan terutama hidup dan bertindak sesuai dengan janji yang pernah kita ikrarkan.

·    "Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya” (Kel 32:7), demikian perintah atau sabda Tuhan kepada Musa, yang diutus untuk menuntun atau mendampingi bangsanya menuju tanah terjanji. Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi siapapun yang menjadi pemimpin atau atasan dalam hidup dan kerja atau perjalanan bersama. Hidup dan pelaksanaan aneka tugas dan kewajiban bagaikan perjalanan, yaitu perjalanan menuju hidup mulia selamanya di sorga setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia nanti. Di dalam perjalanan dapat terjadi aneka macam godaan atau gangguan yang menggeroti jati diri kita masing-masing, sehingga kita tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusan, karena ‘telah rusak laku kita’. Pemimpin atau atasan perjalanan hendaknya tidak segan untuk ‘turun’, mendatangi yang dipimpin atau anggotanya guna memberi perhatian kepada mereka atau dimana perlu menegor dan memperbaiki mereka yang ‘telah rusak lakunya’, demikian pula orangtua terhadap anak-anaknya. Sebagai pemimpin atau atasan kiranya dapat menghayati motto Ki Hajar Dewantoro “ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani” (keteladanan, pemberdayaan dan motivasi). Sabda hari ini lebih-lebih mengajak kita untuk ‘ing madyo ambangun karso’  atau hadir di tengah-tengah mereka yang kita pimpin untuk memberdayakan mereka. Dengan kata lain kehadiran dan sepak terjang seorang pemimpin dimanapun dan kapanpun hendaknya memberdayakan mereka yang dipimpin, artinya yang dipimpin menjadi semakin bergairah, bersemangat dan dinamis dalam melaksanakan tugas pengutusan atau kewajibannya. Mereka yang telah rusak perilakunya hendaknya dengan rendah hati diajak untuk memperbaiki atau bertobat, dan jangan dibiarkan saja. Membiarkan atau terlambat memperbaiki mereka yang telah rusak perilakunya dapat menjadi racun dalam perjalanan bersama, artinya merusak perjalanan bersama.

 

Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; mereka menukar Kemuliaan mereka dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput. Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal yang besar di Mesir: perbuatan-perbuatan ajaib di tanah Ham, perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau. Maka Ia mengatakan hendak memusnahkan mereka, kalau Musa, orang pilihan-Nya, tidak mengetengahi di hadapan-Nya, untuk menyurutkan amarah-Nya, sehingga Ia tidak memusnahkan mereka” (Mzm 106:19-23)    

 

Jakarta, 7 April 2011.

1 April – Hos 14:2-10; Mrk 12:2-34

"Hukum manakah yang paling utama?"
(Hos 14:2-10; Mrk 12:2-34)

“Seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban
 sembelihan." Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus” (Mrk 12:28-34), demikian kutipan Warta Gembira  hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•       Aneka macam hukum hemat saya dijiwai oleh kasih dan diundangkan agar mereka yang berada di bawah hukum tersebut hidup saling mengasihi. Yesus mengajarkan kepada kita agar kita menghayati kasih sebagai hukum utama dan pertama, yaitu saling mengasihi “dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu”. Kasih yang demikian ini hemat saya telah dan pernah dihayati oleh suami-isteri yang diikat oleh dan dalam kasih, yaitu ketika sedang memadu kasih dalam hubungan seksual. Hemat saya hubungan seksual sejati merupakan perwujudan kasih sebagaimana diajarkan oleh Yesus. Symbol saling mengasihi antar suami-isteri terjadi ketika sedang saling menerimakan sakramen perkawinan atau  meresmikan relasi berdua sebagai suami-isteri dengan saling mengenakan cincin pada jari manis pasangannya. Cincin yang bulat, tanpa ujung pangkal,  melambangkan kasih tanpa batas alias bebas serta total. Dikenakan pada jari
 manis dengan harapan mereka yang mengenakannya senantiasa menghadirkan diri secara manis, menarik dan mempesona secara lahir batin. Memang hidup saling mengasihi, ketika sedang memadu kasih dalam hubungan seksual akan terasa manis semuanya. Maka kami berharap kepada para suami dan isteri untuk dapat menjadi saksi kasih, teladan hidup saling mengasihi dengan segenap jiwa, segenap hati, segenap akal budi dan segenap kekuatan. Segenap berarti seutuhnya, total, maka jika tidak total berarti sakit, yaitu sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi/bodoh atau sakit tubuh. Bukankah mereka yang sedang menderita sakit akan merasa sulit untuk mengasihi, dan lebih tergerak mohon dikasihi. Jika kita jujur mawas diri kiranya kita masing-masing akan menyadari dan menghayati diri sebagai yang sedang sakit atau berdosa, maka baiklah dengan rendah hati kita siap sedia untuk dikasihi, artinya diperingatkan, dinasihati, dikritik dst.
•       “Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan TUHAN adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ” (Hos 14:10), demikian peringatan Hosea. Kita semua dipanggil untuk menempuh dan menelusuri ‘jalan-jalan Tuhan yang lurus’. Dengan kata lain kita dipanggil untuk senantiasa setia pada panggilan, tugas pengutusan, pekerjaan atau kewajiban kita masing-masing, serta tidak menyeleweng, berselingkuh atau berkorupsi sedikitpun. Kita semua dipanggil untuk berdisiplin dalam melakukan atau melaksanakan aneka tugas, tata tertib atau aturan.  “Berdisiplin adalah sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri, sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada  suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka
 –Jakarta 1997, hal 10). Berlatih dan memperdalam berdisiplin hemat saya dengan membiasakan hidup dan bertindak sesuai dengan tata tertib terus-menerus. Secara phisik atau yang kelihatan rekan-rekan tentara/militer atau polisi kiranya dididik dan dibiasakan untuk berdisiplin, namun sayang hal itu tidak berkesinambungan dalam cara hidup dan bertindak, apalagi sungguh merasuk ke dalam hati dan jiwa, tentu saja tidak semuanya. Sebagai contoh: ada polisi atau tentara/militer yang terlibat dalam aneka tindak koruspi, penyelewengan atau perselingkuhan, atau melindungi aneka koruspi, penyelewengan dan perselingkuhan. Kami berharap kepada rekan-rekan umat beragama untuk terus menjadi teladan dan berjuang dalam hal berdisiplin, entah dalam menghayati ajaran agamanya maupun dalam aneka kesibukan dan pelayanan sehari-hari.

"Aku telah mengangkat beban dari bahunya, tangannya telah bebas dari keranjang pikulan; dalam kesesakan engkau berseru, maka Aku meluputkan engkau; Aku menjawab engkau dalam persembunyian guntur, Aku telah menguji engkau dekat air Meriba. Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!” (Mzm 81:7-9)
Jakarta, 1 April 2011

30 Maret – Ul 4:1.5-9; Mat 5:17-19

“Aku datang untuk menggenapi hukum Taurat”

(Ul 4:1.5-9; Mat 5:17-19)

 

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.” (Mat 5:17-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Keunggulan hidup beriman atau beragama terletak dalam tindakan atau perilaku bukan omongan, diskusi atau wacana, sebagaimana dilakukan oleh Yesus. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”, demikian sabda Yesus. Mayoritas waktu dan tenaga atau anggota-angota tubuh kita kiranya untuk bergerak, berjalan atau bepergian, maka baiklah gerakan anggota tubuh kita macam apapun hendaknya merupakan perwujudan kehendak atau perintah Tuhan, antara lain perintah untuk saling mengasihi. Hemat saya inti seluruh hukum, aturan atau tata tertib adalah cintakasih, maka jika setiap gerakan anggota tubuh kita merupakan perwujudan kasih berarti kita melaksanakan aturan atau tata tertib dengan baik sesuai tujuan atau arah aturan dan tata tertib diberlakukan. Tanda baik gerakan anggota tubuh kita merupakan wujud kasih antara lain menghasilkan buah yang membahagiakan dan menyelamatkan. Setiap gerakan anggota tubuh kita menggairahkan, mempesona dan menarik orang lain untuk semakin berbakti sepenuhnya kepada Tuhan, alias semakin beriman, semakin baik cara hidup dan cara bertindaknya. Omongan atau bicara kita menarik, mempesona dan memikat, sehingga banyak orang dengan senang dan bergairah mendengarkannya, demikian juga gerakan kaki dan tangan kita. Cirikhas mengasihi antara lain melayani dengan rendah hati, maka marilah kita saling melayani dengan rendah hati satu sama lain dimanapun kita berada.

·   Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.”(Ul 4:5-6), demikian peringatan Tuhan kepada bangsa terpilih dalam perjalanannya menuju tanah terjanji. Hidup kita adalah perjalanan, perjalanan menuju hidup mulia selamanya di sorga setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan. Maka marilah kita berjalan sesuai dengan aturan atau tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing agar nanti kita selamat sampai tujuan. Jauhkan dan berantas aneka cara hidup dan cara bertindak yang hanya mengikuti keinginan atau kemauan pribadi tanpa memperhatikan lingkungan hidup atau kepentingan umum. Biarlah kata-kata “memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi”  menjadi kenyataan dalam hidup kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Memang untuk itu antara lain pendidikan anak-anak atau bangsa kita harus memperoleh perhatian yang memadai sesuai dengan tuntutan atau perkembangan zaman, sehingga mereka tumbuh berkembang menjadi umat yang bijaksana dan berakal budi. “Human investment”  harus lebih diutamakan daripada ‘material investment’; hidup baik, bijaksana dan berakal budi lebih utama dari tubuh dan tubuh lebih utama daripada pakaian serta makanan. Kita semua juga dipanggil untuk setia dengan sepenuh hati dalam menghayati janji-janji yang pernah kita ikrarkan, karena pelaksanaan janji yang telah kita ikrarkan merupakan kebijaksanaan dan tanda berakal budi. Sebagai warganergara Indonesia, marilah kita hayati Pancasila, yang telah dicanangkan atau diproklamirkan oleh para pendiri bangsa ini sebagai dasar hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari. Ia menurunkan salju seperti bulu domba dan menghamburkan embun beku seperti abu” (Mzm 147:12-13.15-16)

Jakarta, 30 Maret 2011

Incoming search terms:

27 Maret-Mg Prapaskah III : Kel 17:3-7; Rm 5:1-2.5-8; Yoh 4:5-42

"Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”

Mg Prapaskah III : Kel 17:3-7; Rm 5:1-2.5-8; Yoh 4:5-42


Orang yang kawin-cerai berkali-kali memang tidak menjadi jelas siapa suami atau isteri yang sebenarnya, karena ada kemungkinan pasangan hidupnya hanya sekedar pemuas nafsu seksual belaka bukan panggilan atau rahmat Allah. Itulah yang terjadi dengan wanita Samaria yang berdialog dengan Yesus di pinggir sumur. Dengan susah payah wanita Samaria mengusahakan air demi kebutuhan hidupnya sehari-hari, dan ketika Yesus berkata kepadanya bahwa Ia dapat memberi air sejati yang tidak akan membuat haus selamanya, maka dengan bergairah sang wanita berkata: “Tuhan berikanlah kepada saya air itu!”.  Menanggapi permintaan tersebut Yesus menjawab: “Panggillah suami untuk bersama-sama menerima air kehidupan”. “Saya, tidak bersuami”, begitulah jawaban sang wanita dengan cepat. : "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." (Yoh 4:17-8), demikian tanggapan Yesus selanjutnya. Mendengar tanggapan Yesus tersebut sang wanita pun menjadi sadar dan kemudian mengimani bahwa Yesus adalah Mesias, Sang Penyelamat Dunia, yang telah datang dan dinantikan kedatanganNya oleh banyak orang. Baiklah di masa Prapaskah ini kita mawas diri dengan cermin dialog Yesus dengan wanita Samaria tersebut, siapa tahu bahwa kita pun tak terlalu jauh seperti wanita Samaria tersebut.

 

"Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.” (Yoh 4:16) 

Perintah Yesus untuk pergi memanggil suami berarti perintah untuk mengurus atau mengelola ‘harta-milik’ pribadi, misalnya suami atau isterinya sendiri yang syah, panggilan, tugas pengutusan, pekerjaan, kewajiban dst.., dengan mengesampingkan aneka sambilan atau hobby yang mengganggu. Memang untuk mengurus atau mengelola apa-apa yang syah menjadi milik pribadi dapat membosankan dan melelahkan, karena setiap hari/saat yang diurus atau dikelola itu-itu saja, tak pernah berganti. Apalagi yang diurus adalah manusia, seperti suami atau isterinya sendiri, yang pada umumnya semakin lama semakin sering berkumpul berarti juga semakin rewel. Demikian juga tugas rutin setiap hari, entah di rumah atau di kantor/tempat kerja juga dapat membosankan. Sementara itu mengurus atau mengerjakan yang sambilan sungguh menghibur dan menyenangkan.

 

Mengapa mengurus atau mengerjakan yang sambilan terrasa lebih enak, nikmat dan menyenangkan? Karena tidak menuntut tanggungjawab, itulah jawabannya. Apalagi yang sambilan pelayanannya sungguh enak dan nikmat, misalnya pelayanan para perempuan pelacur kepada para lelaki hidung belang. Sabda Yesus di atas memang menuntut dan memanggil kita untuk menjadi pribadi manusia yang bertanggungjawab. “Bertanggung jawab adalah sikap perilaku yang berani menanggung segala akibat dari perbuatan atau tindakan yang telah dilakukannya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 14).

 

Bertanggung jawab erat kaitannya dengan atau pasangannya adalah kebebasan, artinya kita dapat menuntut tanggung jawab seseorang jika kita juga memberi kebebasan kepadanya sepenuhnya, sebaliknya ketika kita diberi kebebasan hendaknya bertanggung jawab. Saya kira hidup terpanggil sebagai suam-isteri, imam, bruder, suster, pekerja dst.. dipilih dan ditanggapi dalam kebebasan. Bukankah anda dengan bebas memilih pacar? Bukankah anda dengan bebas mendaftarkan diri masuk ke seminari, novisiat dst.. Maka selayaknya selanjutnya kita sungguh bertanggung jawab atas pilihan atau tindakan yang telah kita ambil atau lakukan. Kami berharap keutamaan tanggung jawab dan kebebasan ini sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dalam asuhan atau bimbingan orangtua/bapak – ibu. Berbagai kekhawatiran atau ketakutan orangtua atau bapak-ibu sering  memenjarakan anak-anaknya. Anak-anak yang di dalam keluarga kurang dibina tanggung jawab dan kebebasannya hemat kami kelak kemudian hari ketika menjadi dewasa akan mudah menyeleweng atau berselingkuh. Mengapa? Karena ketika menjadi dewasa secara phisik dan umur tidak ada tekanan dari orangtua lagi alias dapat bebas seenaknya, dan dengan demikian akan bertindak seenaknya mengikuti selera atau keinginan pribadi tanpa tanggung jawab. Setia pada panggilan, tugas pengutusan, pekerjaan atau kewajiban memang harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah, namun akan berbuahkan kebahagiaan sejati sampai mati. Hati dan jiwa kita akan selamat dan bahagia selamanya.

 

Kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” (Rm 5:1-2)      

 

 

Hidup berkeluarga sebagai suami-isteri, hidup sebagai imam, bruder atau suster, tugas bekerja atau belajar dst..hemat saya adalah kasih karunia Allah, maka marilah kita hayati ajakan Paulus kepada umat di Roma bahwa “Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah”.  Pertama-tama marilah kita hayati suami atau isteri, panggilan, tugas atau pekerjaan sebagai kasih karunia Allah dan selanjutnya kita hayati atau lakukan/kerjakan dalam dan oleh kasih karunia Allah. Di dalam kasih karunia kita diharapkan tetap berdiri dan bermegah dalam pengharapan, artinya dengan sungguh-sungguh, kerja keras dan ceria serta bersemangat dalam menghayati panggilan atau melaksanakan tugas atau pekerjaan.

 

Di dalam kasih karunia Allah juga berarti hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah, dan hal ini secara konkret dapat kita hayati dengan setia dan melaksanakan aneka macam janji yang telah kita ikrarkan serta aneka macam tata tertib yang terkait dengan janji tersebut. Maka baiklah sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus dan telah dibaptis, kita mawas diri perihal janji baptis yang telah kita ikrarkan: sejauh mana kita sampai kini setia pada janji baptis? Sebelum menerima rahmat pembaptisan kita berjanji untuk hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak aneka macam godaan setan di dalam hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Godaan setan masa kini antara lain aneka macam sambilan di luar panggilan, tugas atau pekerjaan utama atau pokok. Para pegawai negeri, pejabat atau anggota lembaga  legislatif sering lebih senang dan bergairah mengerjakan tugas sambilan seperti aneka macam proyek, karena berarti akan menerima imbal jasa atau penghasilan tambahan, dan pada umumnya penghasilan tambahan sering lebih besar daripada gaji pokok. Maka kami berharap kepada mereka untuk setia kepada tugas atau pekerjaan pokok, dan jika tugas atau  pekerjaan pokok atau utama telah diselesaikan dengan baik, baru kemudian jika masih tersedia waktu dan tenaga baik-baik saja melakukan tugas atau pekerjaan sambilan.

 

“Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku” (Mzm 95:6-9)

 

Jakarta, 27 Maret 2011

Incoming search terms:

23 Maret – Yer 18:18-20; Mat 20:17-28

"Anak Manusia datang untuk melayani dan memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang"
(Yer 18:18-20; Mat 20:17-28)

Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mat 20:21-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    "Datang untuk melayani dan memberikan nyawa menjadi tebusan bagi banyak orang" , inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan. Maka baiklah apapun tugas pekerjaan atau fungsi kita dalam hidup bersama, marilah kita hidup dan bertindak meneladan semangat Yesus tersebut. Untuk itu pertama-tama hendaknya apapun yang menjadi tugas pekerjaan atau kewajiban kita secara pribadi kita kerjakan sebaik mungkin, dengan kata lain bekerja keras dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan. "Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan sesuatu" (Prof Dr Edi Setyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka –Jakarta 1997, hal 10). Jika kita bekerja keras dalam melasknakan tugas atau kewajiban maka buah cara hidup dan cara bertindak kita akan membahagiakan atau menyelamatkan diri kita sendiri maupun mereka yang ikut menikmati buah kerja keras kita. Itulah kiranya artinya menjadi tebusan bagi banyak orang. Ketika kita semua bekerja keras dalam melaksanakan tugas atau kewajiban, maka kita semua secara otomatis tertebus, selamat dan damai sejahtera baik lahir maupun batin, jasmani maupun rohani. Para suami-isteri kiranya memiliki pengalaman konkret dalam melayani dan memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi orang lain, yaitu pasangan hidupnya, maka baiklah mereka membagikan pengalaman tersebut kepada anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka.
•    "Perhatikanlah aku, ya TUHAN, dan dengarkanlah suara pengaduanku! Akan dibalaskah kebaikan dengan kejahatan? Namun mereka telah menggali pelubang untuk aku! Ingatlah bahwa aku telah berdiri di hadapan-Mu, dan telah berbicara membela mereka, supaya amarah-Mu disurutkan dari mereka" (Yer 18:19-20), demikian doa keluh kesah Yeremia ketika ia memperoleh ancaman untuk disingkirkan atau dibunuh dalam menghayati panggilan kenabiannya. Hidup beriman juga memiliki dimensi kenabian, yaitu panggilan untuk menjadi saksi iman dengan berbuat baik, hidup jujur, disiplin dst.. Dalam menghayati panggilan kenabian ini ada kemungkinan kita memperoleh ancaman untuk disingkirkan atau dibunuh, sebagaimana pernah terjadi dalam diri Munir, pejuang dan penegak hak asasi, kebenaran dan kejujuran. Baiklah ketika memperoleh ancaman macam itu segera kita persembahkan kepada Tuhan apa yang kita rasakan, atau takutkan. Percayalah dalam lindungan Tuhan kita dapat mengatasi ancaman, dan seandainya kita sendiri sungguh disingkirkan atau dibunuh, maka akan muncullah pengganti-pengganti kita yang lebih handal dan tangguh. Maka kami berharap kepada kita semua orang beriman untuk tidak takut dan tidak gentar menjadi saksi iman dalam hidup sehari-hari, antara lain dengan hidup baik, jujur dan disiplin. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata benar dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur , Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Orang jujur akan hancur untuk sementara, namun akan mulia dan bahagia serta damai sejahtera untuk selamanya.

"Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, — ada kegentaran dari segala pihak! — mereka bersama-sama bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud mencabut nyawaku. Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: "Engkaulah Allahku!" Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!" (Mzm 31:14-16)

Jakarta, 23 Maret 2011

21 Maret – Dan 9:4b-10

“Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati."

(Dan 9:4b-10)

 

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.""Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Luk 6:36-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   “Murah hati” secara harafiah kiranya dapat diartikan ‘hatinya dijual murah’ alias memberi perhatian kepada siapapun dan dimanapun tanpa pandang bulu, sebagaimana Allah juga memperhatikan semua ciptaanNya di bumi ini. Masing-masing dari kita kiranya telah menerima perhatian dari Allah secara melimpah ruah melalui mereka yang telah berbuat baik kepada kita, memperhatikan kita dengan atau melalui aneka cara dan bentuk. Entah telah berapa ribu orang yang telah memperhatikan kita, kita tak sempat atau tak mampu menghitung atau mengingatnya., maka selayaknya kita memperhatikan semua orang alias meneruskan kemurahan hati tersebut kepada saudara-saudari atau sesama kita. Maka baiklah kita perhatikan lebih-lebih atau terutama mereka yang kurang menerima perhatian, misalnya yang miskin dan menderita, sakit, terasing atau terpenjara atau tinggal di daerah terpencil, yang kesepian, dst.. Jika mungkin pertama-tama kita kurbankan waktu dan tenaga kita untuk mendatangi mereka yang harus diperhatikan, dan ketika melihat apa yang mereka butuhkan untuk hidup sehat dan sejahtera, baiklah kita menyisihkan sebagian harta benda atau uang kita guna membantu mereka. Namun jika tak mungkin memberi perhatian secara phisik, baiklah di masa Prapaskah ini kita mendoakan mereka yang harus atau minta kita doakan. Kami berharap keutamaan ‘bermurah hati’ ini sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dengan contoh atau teladan dari para orangtua, dan kemudian diperdalam dan diperkembangkan di sekolah-sekolah. Tidak bermurah hati berarti tidak beriman atau tidak percaya kepada Tuhan, Penyelenggaraan Ilahi. Para pemuka agama atau masyarakat dan Negara kami harapkan juga dapat menjadi teladan bermurah hati serta membina warganya untuk bermurah hati.

·   “Ya TUHAN, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami dan bapa-bapa kami patutlah malu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau. Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan keampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia, dan tidak mendengarkan suara TUHAN, Allah kami, yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya“(Dan 9:8-10), demikian pengakuan dosa Daniel. Masa Prapaskah adalah masa mawas diri, menyadari kelemahan, kerapuhan dan dosa serta kasih karunia atau pengampunan  Allah. “Dengan kata ‘dosa’ dimaksudkan bahwa yang diganggu adalah hubungan dengan Allah. Hubungan dengan Allah yang ‘seharusnya’ ada, ternyata tidak ada. Itu bisa kesalahan manusia sendiri, atau kesalahan oran lain” (KWI: IMAN KATOLIK: Buku Informasi dan Referensi, Jakarta 1996, hal 282). Manusia sebagai ciptaan Allah tidak ada hubungan dengan Allah berarti berdosa, atau hubungan dengan Allah tidak mulus atau lancar. Memang kemesraan hubungan dengan Allah hemat saya juga menjadi nyata dalam kemesraan hubungan dengan sesama  manusia. Dengan kata lain mengakui diri sebagai orang beriman, yang berhubungan dengan Allah, seharusnya senantiasa berhubungan mesra dengan siapapun, alias tidak memusuhi orang lain, meskipun dirinya dimusuhi. Maka baiklah di masa Prapaskah ini kita mawas diri: apakah kita memusuhi orang lain dengan bentuk atau cara apapun. Jika kita memusuhi orang lain marilah dengan rendah hati mengakui dosa-dosa kita serta mohon kasih pengampunannya. Pada masa Prapaskah ini kiranya kita juga baik jika mawas diri perihal sikap kita terhadap aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan, tugas pengutusan atau pekerjaan kita. Ingatlah dan sadarilah bahwa aneka macam tata tertib merupakan sarana bagi kita semua agar tetap setia berhubungan mesra dengan Allah maupun sesama atau saudara-saudari kita.

 

Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami. Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu! Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh! Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun

(Mzm 79:8-9.11.13)    .

Jakarta, 21 Maret 2011

16 Maret – Yes 55:10-11; Mat 6:7-15

“Kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.”

(Yun 3:1-10; Luk 11:29-32)

 

“Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!” (Luk 11:29-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ada aneka macam tanda atau symbol di dalam kehidupan bersama kita, dalam aneka macam bidang kehidupan. Misalnya: tanda-tanda zaman, rambu-rambu lalu lintas, tanda cinta/saling mengasihi, tanda setuju dengan mengangguk atau kerdipan mata, dst.. Para penjahat pada umumnya menggunakan banyak tanda atau symbol dalam sepak terjang atau usaha kejahatan mereka. Warta Gembira hari ini mengajak dan mengingatkan kita untuk meningkatkan dan memperdalam kepekaan kita terhadap tanda-tanda zaman serta kehidupan. Untuk melatih dan meningkatkan kepekaan ini antara lain setia mengadakan pemeriksaan batin atau mawas diri setiap hari. Rekan-rekan perempuan kiranya cukup peka akan tanda-tanda atau gejala dalam tubuhnya, misalnya saat-saat akan menstruasi, maka kami harapkan juga lebih peka terhadap tanda-tanda zaman dan kehidupan. Tanda Yunus sebagaimana diwartakan hari ini anda berbicara perihal wafat dan kebangkitan Yesus dari mati. Baiklah masing-masing dari kita berusaha untuk peka akan tanda-tanda kehidupan dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita yang setiap hari hidup atau bekerja bersama kita, di dalam keluarga atau tempat kerja/ tugas. Marilah kita lihat dan cermati tanda-tanda kehadiran dan karya Tuhan baik dalam diri kita sendiri maupun sesama kita, antara lain berupa kehendak atau dambaan suci/baik, maupun penghayatan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan, seperti iman, harapan dan cintakasih. Kami berharap para orangtua dapat menjadi teladan dalam hal kepekaan ini bagi anak-anaknya, para guru/pendidik bagi para peserta didik.

·   "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.” (Yun 3:7-9), demikian firman Tuhan yang diharapkan untuk disampaikan oleh Yunus kepada orang-orang Ninive.  Haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya”, inilah yang kiranya baik kita renungkan dan hayati. Marilah kita mawas diri: apakah bentuk kejahatan atau kekerasan yang telah kita lakukan?  Jika cara hidup atau cara bertindak kita membuat orang lain menjadi marah, menggerutu atau tidak senang, ada kemungkinan apa yang kita lakukan adalah jahat atau keras, sehingga menyakiti mereka. Bertobat dari kejahatan atau kekerasan berarti kemudian  bersikap hormat. “Sikap hormat adalah sikap dan perilaku yang menghargai orang lain, siapa pun di tanpa memandang kedudukan, kekayaan dan kekuasaannya” (Prof Dr Edi Setyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 25). Dengan kata lain sikap hormat terhadap sesama  berarti tidak pernah melecehkan atau merendahkan siapapun dan dalam bentuk apapun. Ada kekerasan yang lembut dalam kehidupan bersama kita, yaitu ‘ngrumpi atau ngrasani’, yang pada umumnya membicarakan kekurangan dan kelemahan orang lain, yang tidak ada di hadapan mereka. Kami berharap kepada kita semua untuk tidak dengan mudah membicarakan kekurangan dan kelemahan orang lain, dan ingatlah seta hayati bahwa diri kita adalah orang-orang lemah, rapuh dan berdosa, yang dipanggil Tuhan. Baik suami atau isteri kami harapkan juga tidak berlaku keras terhadap pasangannya, baik dalam kata maupun perilaku.

 

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku

(Mzm 51:3-4)

 

Jakarta, 16 Maret 2011

12 Maret – Yes 58: 9b-14; Luk 5:27-32

"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib tetapi orang sakit”
(Yes 58: 9b-14; Luk 5:27-32)

“Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:27-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Semakin pandai, suci, berpengalaman dst.. pada umumnya orang semakin rendah hati, semakin menyadari dan menghayati diri sebagai yang lemah, rapuh dan terbatas. Sebagai contoh: dosen matematika di perguruan tinggi tidak bersedia mengajar biologi, dokter ahli bedah mulut tidak berani operasi lambung, dst…, karena merasa diri tidak menguasai. Semakian mengetahui banyak semakin banyak pula yang tak diketahui, itulah kebenaran pengalaman sejati. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat”, demikian sabda Yesus. Sabda ini kiranya dengan mudah kita fahami dan hayati jika kita rendah hati, membuka diri terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan, seraya menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa, lemah dan rapuh dan dengan demikian senantiasa siap sedia menerima bantuan dari siapapun. Marilah kita sadari dan hayati kedosaan dan  kesakitan  kita, dan kemudian dengan rendah hati mohon kasih pengampunan dan penyembuhan dari Allah melalui doa maupun saudara-saudari kita. Kita semua diharapkan memiliki dan menghayati semangat tobat atau belajar terus menerus sepanjang hayat. Sebaliknya kepada mereka yang bersikap mental seperti orang Farisi dan ahli Taurat, yaitu bersungut-sungut atau menggerutu ketika ada orang berdosa diampuni, kami harapkan bertobat alias merubah diri sendiri. Marilah kita sadari dan hayati bahwa segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Allah yang kita terima melaui sekian banyak orang yang telah  berbuat baik kepada kita, sehingga kita senantiasa hidup dan bertindak dengan rendah hati.

•    “Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan” (Yes 58:9-58). Yesaya mengingatkan kita semua untuk tidak dengan mudah menyalahkan atau mencari kesalahan dan kekurangan orang lain, melainkan ‘memuaskan hati orang yang tertindas’. Menyalahkan atau mencari kesalahan dan kekurangan orang lain merupakan bentuk penindasan yang halus. “Duduk di kursi tinggi sambil menggoyangkan kaki memang enak dan nikmat, namun kasihan mereka yang kena sepakan goyangan   kaki’, demikian kata sebuah pepatah. Para petinggi atau atasan sering berusaha menunjukkan kewibawaannya dengan menunjukkan kesalahan dan kekurangan bawahan atau anggotanya. Semakin menunjuk kesalahan dan kekurangan orang lain, maka pada giliran berikutnya pada umumnya semakin hebat menunjuk kesalahan dan kekurangan orang lain. Orang yang bersikap mental demikian pasti akan mengalami kekeringan atau frustrasi, serba tidak puas. Kita semua mendambakan kepuasan hati dalam cara hidup dan cara bertindak kita, maka baiklah kami ajak memuaskan hati orang tertindas. Maka baiklah dengan rendah hati kita dekati dan sapa saudara-saudari kita yang tertindas untuk memperoleh apa yang mereka dambakan, dan kemudian dengan jiwa besar dan hati rela berkorban kita tanggapi dambaan hati mereka. Semoga pepatah “jatuh tertimpa tangga” tidak menjadi kenyataan dalam diri saudara-saudari kita yang tertindas: hidup miskin, berkekurangan serta tertindas selalu dilecehkan  dan diolok-olok atau bahkan digusur dari tempat mereka berteduh dengan kekerasan.

“Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.” (Mzm 86:1-4)

Jakarta, 12 Maret 2011

Incoming search terms:

11 Maret – Yes 58:1-9a; Mat 9:14-15

“Waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa

(Yes 58:1-9a; Mat 9:14-15)

 

“Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Mat 9:14-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika sedang berada di dalam pesta perkawinan atau pernikahan kiranya tak ada seorangpun yang berpuasa dan pada umumnya semuanya dalam keadaan bahagia dan ceria, mempesona dan menarik, meskipun ada yang pura-pura atau sandiwara. Kebersamaan dengan sang mempelai memaksa orang untuk ceria, gembira, mempesona dan menarik, namun ketika tidak bersama mempelai ada kemungkinan murung, uring-uringan dan menjengkelkan. Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita semua bahwa jika kita tidak hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan alias tidak baik dan tidak bermoral alias berdosa, diharapkan berpuasa atau matiraga. Hari ini kebetulan hari Jum’at, hari berpantang dan mungkin juga ada yang menjadikannya hari berpuasa juga; dan pada hari ini saudara-saudari kita umat Muslim beribadat di masjid, langgar, surau atau kantor-kantor. Maka baiklah kita mawas diri apakah saya hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan, jika tidak marilah kita berpuasa atau matiraga. Matiraga secara harafiah berarti mematikan kerinduan atau dambaan raga, seperti nafsu makan dan minum, berbicara menurut selera pribadi, nafsu seks dst.. Bermatiraga atau berpantang berarti tidak menuruti dambaan atau nafsu tersebut atau mengendalikannya sehingga perwujudannya semakin mendekatkan kita dengan Tuhan dan sesama manusia alias semakin suci, semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Suara ‘Allahu akbar’, Allah yang Mahabesar, kiranya kita dengar hari ini dari masjid, surau atau langgar dst..; semoga suara tersebut mendorong dan memotivasi kita akan kehadiran dan karya Allah dalam ciptaan-ciptaanNya, sehingga kita semakin melayani dan membahagiakan ciptaan-ciptaan Allah, terutama dan pertama-tama manusia yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah.

·   Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri” (Yes 59:6-7), demikian firman Allah melalui nabi Yesaya. Berpuasa atau lakutapa secara negatif berarti ‘membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk’, sedangkan secara positif berarti ‘memecah-mecah roti bagi orang lapar dan membawa ke rumah orang miskin yang tidak punya rumah dan memberi pakaian kepada orang telanjang’  alias memperhatikan dan mengasihi mereka yang miskin dan berkekurangan. Maka pertama-tama marilah kita buka aneka macam tali kuk atau nafsu yang tak teratur yang mengganggu cara hidup dan cara bertindak baik, dengan kata lain marilah kita musnahkan aneka macam harta benda, impian, harapan, dambaan, kata-kata dan perilaku yang menjauhkan kita dari Tuhan. Meningkatkan dan memperdalam keutamaan-keutamaan di masa Prapaskah juga penting, antara lain memperhatikan dan mengasihi mereka yang miskin dan berkekurangan. Pada masa Prapaskah juga diselenggarakan ‘Aksi Puasa Pembangunan’ (APP), entah berupa pengumpulan dana atau uang atau kegiatan membangun hidup bersama atau lingkungan hidup, sehingga kebersamaan hidup semakin enak, damai, mempesona dan menarik. Baiklah kita berpartisipasi dalam kegiatan APP di lingkungan atau wilayah atau paroki kita masing-masing. Marilah kita perhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan di lingkungan hidup atau kerja kita masing-masing; marilah menunduk alias ‘melihat ke bawah’, memperhatikan mereka yang kurang beruntung dan hidup seperti kita. Masa Prapaskah juga merupakan masa untuk memperdalam dan meningkatkan kepedulian kita terhadap yang lain, terutama mereka yang miskin dan berkekurangan.

 

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku ” (Mzm 51:3-5)

 

Jakarta, 11 Maret 2011

Incoming search terms:

10 Maret – Ul 30: 15-20; Luk 9:22-25

"Ia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."
(Ul 30: 15-20; Luk 9:22-25)

"Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga." Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri"(Luk 9:22-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Cukup banyak orang cara hidup dan cara bertindaknya hanya mengikuti keinginan dan kemauan pribadi atau mengikuti selera pribadi, seenaknya sendiri, sehingga hidup bersama kacau balau, terjadi pertengkaran yang mengarah ke permusuhan atau perceraian (bagi suami-isteri). Para pekerja atau pelajar/mahasiswa juga bekerja atau belajar seenaknya sendiri: bekerja kalau diawasi atasan, belajar hanya menjelang ulangan umum atau ujian. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk "menyangkal diri dan memikul salibnya setiap hari", artinya kita dipanggil untuk setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing  antara lain mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan. Sebagai suami-isteri marilah kita taati janji perkawinan sampai mati, sebagai imam dan bruder serta suster marilah kita taati janji imamat atau kaul, sedangkan sebagai yang telah dibaptis marilah kita taati janji baptis. Kepada para pekerja atau pelajar dan mahasiswa kami harapkan setiap hari bekerja atau belajar secara efektif dan efisien selama kurang lebih 8(delapan) jam. Di tempat kerja atau sekolah telah ditentukan jam kerja dan jam belajar, dan hemat saya masih harus ditambah di rumah, antara lain dengan mempersiapkan pekerjaan atau pelajaran yang akan datang atau mengulangi/memperdalam apa yang telah dikerjakan atau dipelajari. Marilah kita arahkan gairah, tenaga dan waktu kita untuk tugas bekerja atau belajar, sehingga kelak terampil bekerja atau belajar.Hendaknya keselamatan jiwa menjadi tolok ukur keberhasilan hidup, panggilan dan tugas pengutusan, pertama-tama  jiwa kita sendiri dan kemudian jiwa mereka yang kena dampak penghayatan hidup, panggilan serta pelaksanaan tugas pengutusan kita.
•    "Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya."(Ul 30:15-16). Kita semua pasti lebih memilih kehidupan dan keberuntungan daripada kematian dan kecelakaan, maka marilah kita senantiasa `berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan Tuhan'  yang antara lain diusahakan diterjemahkan kedalam anaka macam tata tertib, perarutan, kebijakan, perundangan dst., agar kita dapat mengusahakan dan memperoleh kehidupan dan keberuntungan dalam hidup dan kerja bersama kita dimanapun dan kapanpun. Pertama-tama saya angkat tata tertib berlalu-lintas, mengingat bahwa ketertiban di jalanan merupakan cermin kepribadian bangsa. Kecelakaan dan kematian setiap hari terjadi di jalanan akibat ketidak tertiban para pengendara/sopir atau pengguna jalan atau perawatan kendaraan. Setiap kendaraaan baru senantiasa ada aturan pakai dan perawatan, maka hendaknya  buku panduan tersebut diperhatikan dan tidak disimpan saja. Aneka macam rambu-rambu berlalu lintas terpasang dengan jelas di jalanan, maka marilah kita taati dan laksanakan. Memang untuk itu semua pertama-tama kita juga harus dapat mengatur diri sendiri, karena jika kita tidak dapat mengatur diri sendiri maka tak mungkin kita taat pada peraturan atau tata tertib lainnya. Marilah kita tertib dalam hal makan dan minum, istirahat, olah raga, beribadat dan berdoa. Masa Prapaskah juga merupakan masa untuk meningkatkan dan memperdalam maupun menertibkan hidup doa dan beribadat kita masing-masing. Kami berharap anak-anak dididik dan dibina dalam hal hidup doa dan beribadat yang baik dan benar, dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua masing-masing.

"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mzm 1:1-3)
Jakarta, 10 Maret 2011

Incoming search terms: