Taat Meski Tanpa Tali

Ayat bacaan: Mazmur 32:9
======================
“Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau”

taat tanpa tali

Diasuh dengan kasih sayang yang sama, tapi sifat kedua anjing yang kami miliki berbeda. Yang satu sangat penurut dan patuh. Meski tanpa tali sekalipun ia akan datang jika dipanggil, dan tidak akan pernah lari jauh dari kami. Meski ada ayam atau kucing di dekatnya sekalipun, ia tidak akan mengejar apalagi menyerang. Yang satu lagi benar-benar bertolak belakang. Setiap ada kesempatan ia akan memanfaatkannya dengan sesegera mungkin. Lari sejauh-jauhnya, semakin menjauh ketika dipanggil dan jika sudah demikian akan sangat repot untuk menangkapnya. Karena itulah kami harus selalu memastikan agar tidak lengah. Kalaupun dibawa keluar maka jelas harus disertai tali. Itupun belum berarti aman karena ia akan selalu berusaha menarik tali itu agar terlepas. Seandainya ia bisa berpikir, saya yakin ia akan merasa heran, mengapa ia harus selalu disertai tali sedangkan anjing satu lagi bisa bebas bergerak kesana kemari. Mungkin, ia akan merasa diperlakukan tidak adil. Padahal itu dilakukan demi kebaikan dirinya sendiri juga, karena ia akan menghadapi banyak bahaya apabila ia dibiarkan lepas kemana-mana sendirian.

Dalam perjalanan kita bersama Tuhan pun sebenarnya sama. Kita sering merasa terkekang dengan peraturan-peraturan yang berasal dari Tuhan. Kita lupa bahwa sebenarnya itu semua adalah demi kebaikan kita sendiri. Apakah Tuhan senang menyiksa dan mengikat kita? Sama sekali tidak. Tuhan tidak menciptakan kita sebagai robot, tapi kita diciptakan sebagai mahluk berakal budi, yang punya kehendak bebas, bahkan diciptakan seperti gambar dan rupaNya sendiri secara begitu istimewa. Kita diberikan kesempatan untuk menentukan pilihan-pilihan dalam hidup ini, dimana setiap pilihan itu akan membawa konsekuensi sendiri. Itu kehendak bebas. Tapi kasih Tuhan kepada kita sesungguhnya besar. Dia tidak pernah menginginkan satupun dari kita untuk binasa akibat pilihan-pilihan yang salah. Karena itulah terkadang kita merasa “terikat” dalam berbagai perintah dan larangan, yang mungkin pada suatu ketika terasa berat atau sulit bagi kita. Tapi sekali lagi, semua itu bukan karena Tuhan mau menyusahkan kita, melainkan sebaliknya justru menginginkan agar tidak satupun dari kita yang harus berakhir dalam kebinasaan.

Pada suatu kali bangsa Israel tampaknya mengeluh kepada Mikha. Mereka sepertinya berkeluh kesah bahwa untuk menyenangkan Tuhan itu tampaknya sangatlah sulit. Mereka mengalami banyak teguran bahkan hukuman sepanjang perjalanan mereka dari generasi ke generasi. Tidak jarang tali itu berfungsi sebagai cambuk penghukum. Itu bukanlah keinginan Tuhan. Lihatlah apa yang dikatakan Tuhan lewat Mikha. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8). Actually it’s that simple. Menurut Tuhan, apa yang dituntut dari kita sebenarnya tidaklah banyak. Ia hanya ingin kita bisa berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapanNya. Itu akan mampu menyenangkan Tuhan. Itu akan membawa kita untuk menjadi orang-orang yang bebas, tanpa perlu diikat tali sama sekali. He wants us to walk in full obedience with Him. Tuhan akan sangat senang jika Dia tidak lagi perlu mengikat kita untuk menjadi anak-anakNya yang patuh. Tentu tidak ada tali yang perlu disematkan kepada kita jika kita mampu menjadi pribadi-pribadi yang patuh dan taat bukan? Hal seperti itulah yang akan menyenangkan Tuhan.

Dalam Mazmur Daud berkata: “Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau.” (Mazmur 32:9). Kita seharusnya lebih baik dari kuda bukan? Kita diciptakan dengan akal budi yang mampu membedakan mana yang baik dan buruk, sehingga seharusnya kita tidak memerlukan tali kekang agar bisa selamat. Apa yang diinginkan Tuhan adalah seperti ini: “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.” (ay 8). Dan pengajaran Tuhan seharusnya bisa kita dapatkan dengan lemah lembut. Tapi kekerasan hati dan kepala kita sebagai manusia seringkali membawa kita untuk harus terlebih dahulu mengalami pengajaran secara keras agar bisa mengerti. Kita sering lebih memilih untuk melalui hukuman terlebih dahulu agar bisa hidup seturut kehendak Tuhan. Hal itu tidak diinginkan Tuhan, tapi jika itu bisa mencegah kita dari kebinasaan, maka itu harus dilakukan, demi kebaikan kita sendiri juga.

Paulus berpesan kepada jemaat Galatia seperti ini: “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” (Galatia 5:16-17). Ada Roh Kudus yang tinggal diam di dalam kita, yang akan selalu siap mengingatkan kita apabila kita melakukan hal yang salah. Lihatlah bahwa pada hakekatnya kita sudah diperlengkapi sedemikian rupa sehingga bentuk-bentuk teguran, cambukan atau hukuman tidak perlu menerpa kita lagi. Apa yang perlu kita lakukan adalah senantiasa hidup oleh Roh dan bukan oleh daging. Kedagingan memang banyak menjanjikan kenikmatan, namun ada banyak jebakan bersembunyi di balik itu semua. Sebuah kehidupan yang dipimpin oleh Roh, dimana Roh Allah yang memegang kendali atas kita, akan membawa kita mampu berjalan sesuai kehendak Allah.

Pertanyaannya adalah: apakah kita masih membutuhkan tali kekang untuk selamat? Apakah kita masih terus memilih untuk hidup dengan kekerasan hati dan terus merepotkan Tuhan demi keselamatan dan kebahagiaan kita sendiri? Tuhan akan senang jika kita hidup sebagai anak-anakNya yang bisa dipercaya penuh tanpa harus diikat terlebih dahulu. Tuhan akan senang jika kita bisa taat dan patuh sepenuhnya meski dibiarkan bebas. Apakah kita masih perlu diikat atau dikekang, atau bisa dibiarkan bebas dalam perjalanan bersama Tuhan, pilihan ada di tangan kita. Jika kita bisa patuh dan taat kepada perintahNya, mengimani hidup merdeka sepenuhnya sesuai dengan apa yang dirindukan Tuhan, maka tidak ada tali apapun yang perlu disematkan bagi kita. Lewat Kristus kita telah menjadi orang-orang yang merdeka, hendaklah kita senantiasa mengisinya dengan kepatuhan. He is pleased when He doesn’t have to hold our leash anymore.

Temukan kebebasan sejati dengan berjalan dalam kepatuhan bersama Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: