Syukur pada Allah Yang Menganugerahkan Mutiara Ekaristi kepada Kita

0
5

23 Juni - RmA I

Selasa, 23 Juni 2015
Pekan Biasa XII
Kej 13:2.5-18; Mzm 15:2-5; Mat 7:6,12-14

Yesus Kristus bersabda, “Janganlah kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan janganlah kamu melemparkan mutiaramu kepada babi…”

Mari kita pusatkan perhatian kita pada bagian pertama dari Injil hari ini. Sebagaimana kita ketahui dengan baik, mutiara itu amat berharga dan istimewa. Mutiara merupakan perhiasan yang membuat seseorang tampak lebih indah dan menawan untuk dipandang.

Dalam Injil hari ini, Yesus Kristus mengajarkan kepada kita bahwa kekudusan itu laksana mutiara yang amat berharga itu yang memancarkan keindahan kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan Allah. Dalam kasih-Nya, Allah menawarkan kepada kita anugerah yang berharga yakni kekudusan-Nya sendiri hingga kita boleh memancarkan cahaya kebenaran, keelokan dan kebaikan-Nya. Kita bisa memancarkannya melalui cara kita berpikir, berbicara, bertindak dan bergaul dengan sesama kita.

Apa makna sabda ini bagi kita? Kita mendapatkan informasi bahwa Gereja Perdana menghubungkan sabda ini dengan Ekaristi. Dalam Liturgi Gereja Perdana, menjelang kita menerima Komuni Suci, terdapat seruan: Inilah yang Kudus untuk yang kudus.

Sakramen Ekaristi adalah Kudus. Kita menyantap Sakramen Mahakudus. Itulah sebabnya tak seorang pun boleh menerima Ekaristi selain mereka yang sudah dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam Gereja Katolik yang kudus. Tuhan Yesus Kristus mengundang kita ke meja perjamuan-Nya untuk menyambut Tubuh dan Darah-Nya. Kita harus mendekati-Nya dengan pantas.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita mendekati dan menyembah Yesus Kristus yang tinggal di antara kita dalam Sakramen Mahakudus. Ia memberi kita kebebasan untuk memilih jalan mana yang akan kita tempuh. Kita mohon kepada kekudusan.

Tuhan Yesus Kristus, semoga kasih dan kebijaksanaan-Mu menguasai hati kami hingga kami dapat percaya pada pada bimbimbingan dan mengikuti langkah kasih, kebenaran, dan kekudusan-Mu. Bantulah kami untuk mengalahkan kemarahan dengan kelembutan, keserakahan dengan kemurahan hati, apatisme dengan dengan empati. Semoga kami melupakan diri kami sendiri dan melayani mereka yang miskin papa kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here