Syukur Bukan Saya…

Ayat bacaan: Roma 12:15
=====================
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”

syukur, empati, simpati

Beberapa waktu yang lalu ada kebakaran menimpa sebuah rumah tidak jauh dari rumah saya. Tidak saja membakar habis seluruh rumah hingga menjadi puing, namun musibah itu juga menghilangkan nyawa sang ibu. Berita mengenai kebakaran itu diberitahukan oleh seorang pemuda yang sedang dalam perjalanan menuju ke lokasi. Ia berkata, “syukurlah bukan rumah saya yang kena..” Saya sempat tertegun sejenak. Memang bukan rumahnya yang kena, tapi bagaimana kita bisa mensyukuri keuntungan sendiri di atas kesusahan orang lain? Tanpa sadar kita seringkali mengeluarkan kalimat yang secara tidak langsung mengarah kepada hal yang demikian. Ketika melihat seseorang kecopetan, kita mungkin berkata, “aduh syukur bukan saya yang kena…” Apalagi jika melihat musuh atau saingan jatuh. Kata-kata seperti “syukurin, rasakan..” atau yang kasar-kasar sering keluar dengan spontan.

Kita memang patut bersyukur atas penyertaan Tuhan atas diri kita, yang menghindarkan kita dari kejadian-kejadian buruk, namun kita harus menjaga agar jangan sampai kita mengabaikan orang lain yang tertimpa masalah. Jangan sampai mensyukuri keuntungan kita di atas kesusahan atau musibah yang menimpa orang lain. Bentuk kasih yang dianugerahkan Tuhan kepada kita bukanlah bentuk kasih yang hanya terfokus kepada diri sendiri saja, namun juga tertuju kepada sesama kita, lewat berbagai bentuk seperti simpati, empati, rasa sepenanggungan, kepedulian dan sebagainya. Alangkah keterlaluannya jika kita mengaku sebagai anak-anak Allah namun kita mengabaikan orang-orang lain yang tengah tertimpa musibah karena kita terlalu sibuk mensyukuri diri sendiri. Apa yang diajarkan firman Tuhan adalah begini: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15).

Dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Lukas 18:9-14) kita bisa melihat contoh yang mirip mengenai hal ini. Dalam perumpamaan ini Yesus menceritakan seorang Farisi dan pemungut cukai yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Orang Farisi yang merasa paling suci karena menguasai benar hukum Taurat berdoa seperti ini: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;” (ay 11). Ia pun kemudian menyombongkan dirinya lebih lagi. “aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” (ay 12). Tapi si pemungut cukai yang statusnya di masyarakat waktu itu sebagai orang berdosa yang tidak layak dikasihi bereaksi berbeda. “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” (ay 13). Dan mana yang dibenarkan Allah? Yesus menutup perumpamaannya dengan: “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (ay 14). Bentuk syukur orang Farisi ini adalah bentuk syukur di atas penderitaan orang lain, dan ini tidak benar di mata Tuhan. Bagaimana mungkin kita bisa bersyukur melihat orang-orang yang tertimpa masalah, termasuk masih terbelenggu dosa, ketika Yesus sendiri datang justru untuk menyelamatkan semua orang yang berdosa, termasuk kita di dalamnya?

Lihatlah bagaimana reaksi di Surga. Malaikat dikatakan bersukacita, bersorak sorai bukan ketika melihat mereka yang sesat binasa, namun justru ketika ada orang yang bertobat, bahkan satu orang sekalipun. “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Lukas 15:10). Kita sebagai anak-anak Allah pun seharusnya berprinsip sama. Ketika ada orang yang mengalami masalah, tertimpa musibah atau kejadian buruk, seharusnya kita memberikan simpati, berempati menolong mereka semampu kita, meringankan beban mereka dan jangan malah berpusat pada keuntungan diri sendiri dan bersyukur di atas penderitaan mereka. Turut sepenanggungan, menangis dengan orang yang menangis, dan mengulurkan tangan. Ini termasuk ketika orang-orang yang jahat kepada kita ditimpa kejadian buruk. Kristus mengajarkan kita untuk tidak membenci musuh, apalagi mendendam, tapi sebaliknya kita harus mengasihi dan berdoa bagi mereka. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Bukannya merasa senang dan bersyukur atas kemalangan seteru kita, tapi justru kita diperintahkan untuk menolong ketika mereka tertimpa masalah. “Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” (Roma 12:20).

Sebagai pengikut Kristus, hendaklah kita hidup dalam kasih Kristus. Dan aspek-aspek kasih Kristus yang seharusnya memenuhi diri kita termasuk mengenai simpati, empati, turut sepenanggungan, kepedulian dan seterusnya. Kita harus mampu keluar dari kepentingan dan kesenangan diri sendiri lalu turut merasakan kesusahan orang lain. Senang melihat orang susah, atau sebaliknya susah melihat orang senang, itu bukanlah sikap anak-anak Tuhan. Ingatlah “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:2). Mengucap syukur atas hal-hal yang baik dalam diri kita itu benar, tapi jangan sampai karena terlalu sibuk mengucap syukur lalu kita lupa untuk menunjukkan rasa turut sepenanggungan kepada sesama kita yang tengah tertimpa masalah.

Jangan bergembira atas kemalangan yang menimpa orang lain

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: