Syukur atas Sakramen Tobat dan Pengampunan

Sakramen tobat by Elizabeth Ficcoceli

Rabu, 13 Agustus 2014, Hari Biasa XIX
Yesaya 9:1-7, 10:18-22; Mazmur 113:1-2,3-6; Matius 18:15-20

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Matius 18:18)

BAGIKU seluruh perikop Injil ini memberi landasan dan alasan untuk bersyukur atas Sakramen Pengampunan, salah satu dari Tujuh Sakramen yang diwariskan dan diajarkan dalam Gereja Katolik. Seperti kita ketahui, dalam Gereja Katolik diakui dengan penuh syukur Tujuh Sakramen.

Ketujuh Sakramen itu adalah Baptis, Ekaristi, Penguatan, Pengurapan Suci Orang Sakit, Pengampunan Dosa, Perkawinan dan Imamat. Ketujuhnya memiliki landasan Alkitabiah masing-masing.

Nah, teks Injil hari ini, menjadi salah satu dasar Alkitabiah untuk memahami Sakramen Tobat dan Pengampunan Dosa. Yesus bersabda, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali” (Matius 18:15).

Teguran empat mata itulah yang terjadi di ruang pengakuan sebagai “forum internum” rahasia jabatan imamat sampai akhir hayat.

Lalu di akhir ritual Sakramen Tobat, imam sebagai pelayan Sakramen Tobat dan Pengampunan akan mengucapkan forma kalimat ini, “Atas nama Gereja saya melepaskanmu dari segala dosamu, dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin.” Kalimat itu disampaikan setelah kalimat-kalimat nasihat dan penitensi yang harus diberikan.

Dengan itu, relasi yang hancur akibat dosa antara manusia dan Allah dipulihkan oleh Allah sendiri. Tak ada cara terbaik untuk kembali memulihkan relasi yang hancur selain dengan rekonsiliasi, tobat dan pengampunan.

Tuhan Yesus menawarkan kepada kita rahmat itu sebagai kebebasan rohani untuk mendapatkan pemulihan. Memang, secara personal dan individual, Injil Matius 18:15-20 mengajak kita melewati tahap-tahap rekonsiliasi personal. Pertama, diperlukan pembicaraan pribadi, empat mata. Teguran yang penuh kasih. Itulah cara bijaksana dan Kristiani.

Nah, cara bijaksana dan Kristiani ini bahkan mendapatkan formulasi sakramental melalui Sakramen Pengampunan. Itulah salah satu aspek dari Sakramen Tobat dan Pengampunan. Syukur pada Allah atas warisan rohani ini.

Adorasi Ekaristi Abadi menopang agar semakin banyak orang turut mengalami rahmat Tuhan yang maha pengampun, pengasih dan penyayang. Banyak kesaksian di sepanjang sejarah yang mengakui dan menyatakan bahwa salah satu buah dari Adorasi Ekaristi Abadi adalah pertobatan. Kesadaran akan pentingnya menerima Sakramen Tobat dan Pengampunan meningkat.

Tuhan Yesus Kristus, jadikanlah aku sebagai sarana untuk berbagai penyembuhan rohani dengan rela mengampuni yang bersalah kepada kami. Berilah kami hati yang penuh kasih untuk mampu mengampuni dan keberanian untuk berbagi damai-sejahtera, kini dan selamanya. Amin.

Girli Kebon Dalem
SALAM TIGA JARI: Persatuan Indonesia dalam Keragaman

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: