Syarat Untuk Menjadi Sempurna

Ayat bacaan: Matius 19:21
=====================
“Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

syarat menjadi sempurna

Iming-iming kekayaan memang seringkali bisa membutakan mata kita. Kemarin saya diundang seorang teman yang juga orang percaya untuk menawarkan sesuatu yang katanya kerjasama bisnis. Saya pun datang kesana, dan ternyata ia menawarkan sebuah bentuk networking. Presentasinya sejak awal mengarahkan kita kepada pemikiran bahwa kita bisa mendapatkan segalanya. Uang berlimpah, mobil dan rumah mewah, kapal pesiar, bahkan hingga pesawat terbang pribadi. “Mana yang kamu lebih suka, bekerja tapi dapatnya sedikit atau tanpa bekerja malah dapat kekayaan seperti ini?” katanya. Saya pun menolak dan menjawab bahwa bagi saya uang bukanlah segalanya. Apa yang penting bagi saya, penyertaan Tuhan dalam hidup jauh melebihi segalanya. Kemewahan dan harta berlimpah bukan menjadi impian saya, karena hidup di dunia ini hanyalah sementara saja. Saya lebih tertarik untuk kehidupan berikutnya yang kekal, dan saya tidak akan mau menukarkan kesempatan itu dengan kekayaan sehebat apapun di dunia ini. Ia pun terdiam dan tidak lagi melanjutkan tawarannya.

Kesempurnaan selalu diinginkan setiap manusia. Dan Tuhan pun menginginkan hal itu, karena firman Tuhan berkata kita harus mengejar kesempurnaan seperti yang dimiliki oleh Bapa. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48). Lantas bagaimana kita bisa memperoleh kesempurnaan? Apakah dengan harta berlimpah? Mampukah timbunan harta membuat kita menjadi sempurna? Faktanya sama sekali tidak demikian, meskipun bagi banyak orang kemilau harta di dunia bisa membuat kita tergiur hingga melupakan segalanya. Lupa bahwa hidup di dunia ini sangatlah singkat, tidak sebanding dengan kekekalan yang akan datang kelak, lupa bahwa tanpa kuasa menikmati semua itu hanyalah akan berakhir sia-sia (bacalah Pengkotbah 6:2), dan itu semua sudah begitu sering terbukti. Bukankah kita kerap melihat keluarga yang hancur berantakan meski mereka kaya raya? Pada suatu ketika mereka akan sadar bahwa uang bukanlah segalanya. Uang/harta tidak pernah bisa membeli kebahagiaan sejati, tidak akan pernah bisa menjadi solusi atas segalanya. Kembali kepada pertanyaan di atas, bagaimana agar kita bisa menjadi sempurna? Dalam kisah perjumpaan seorang pemuda kaya dengan Yesus dalam Matius 19:16-26 kita bisa melihat apa jawaban Tuhan mengenai hal ini. “Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Matius 9:21).

Ayat ini sering dianggap sebagai keharusan bagi orang percaya untuk hidup miskin. Padahal bukanlah demikian. Kita bisa melihat ayat berikut untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:10). Yang salah bukanlah uangnya, tetapi cinta terhadap uangnya, yang melebihi segalanya, itulah yang menjadi masalah. Dan itulah pula yang menjadi akar permasalahan si pemuda kaya dalam kisah diatas. Ia menolak menyerahkan segala harta miliknya, itu artinya ia menganggap hartanya sebagi hal terpenting dalam hidupnya, dan bukan Tuhan. Firman Tuhan pun mengingatkan “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24). Tuhan telah menjanjikan berkat berlimpah kepada kita, tetapi jangan sampai itu menjadi fokus terutama kita melebihi ketaatan berdasarkan kasih dan rasa takut akan Tuhan. Ketika itu terjadi, artinya kita telah mengabdikan diri kepada harta, menghamba kepada harta dan menomorduakan Tuhan dibawahnya. Ketika itu terjadi, artinya kita sedang meninggalkan panggilan untuk menuju kesempurnaan dan membawa diri kita kedalam kehancuran.

Pemuasan terhadap keinginan daging mungkin bisa kita peroleh lewat harta, tetapi itu adalah sebuah perlawanan (hostile) di hadapan Allah. “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” (Roma 8:7). Dan dengan tegas dikatakan “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” (ay 8). Apalah artinya kekayaan berlimpah yang kita miliki jika hanya bisa dipakai dalam jangka waktu yang amat sangat singkat dibanding sebuah kekekalan yang akan datang kelak? Sebuah kesempurnaan hanya akan mungkin kita peroleh apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu yang kita miliki untuk takluk kepada kehendak Tuhan, bahkan yang kita anggap penting bagi kita sekalipun. Abraham sudah membuktikannya ketika ia taat dan rela menyerahkan anaknya yang sangat ia kasihi, Ishak untuk dijadikan korban bakaran. Tidak heran jika Abraham pun diakui sebagai Bapa orang beriman karena ketaatan dan imannya yang luar biasa. Dan itulah yang Tuhan kehendaki, karena sudah seharusnya posisi Tuhan berada di atas segalanya dalam hidup kita. Adalah tidak benar apabila kita mengakui beriman kepada Kristus namun masih terus lebih mementingkan segala hal lain selain Dia dalam hidup kita. Bagaimana mungkin kita mengaku beriman tetapi tidak menyertainya dengan perbuatan nyata?

Ada banyak orang yang ternyata jauh lebih mementingkan miliknya yang berharga ketimbang Tuhan dalam hidup mereka. Bagi si pemuda dalam Matius 19 itu adalah harta kekayaan, mungkin bagi orang lain itu bisa berupa hal lain. Kita harus rela menyerahkan itu semua jika Tuhan meminta itu, dan itulah yang bisa membawa kita untuk mencapai kesempurnaan. Kita harus kembali ingat bahwa semua berasal dari Tuhan. Dibanding apapun yang kita miliki saat ini, tentu Sang Pemberi harus berada dalam posisi teratas. Keberadaan dan penyertaan Tuhan, kebersamaan kita berjalan bersama Tuhan seturut kehendakNya, itulah yang seharusnya kita kejar lebih dari apapun juga. Panggilan untuk menjadi sempurna hanyalah akan bisa kita capai apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu untuk mengikuti Tuhan sepenuhnya tanpa berbantah, tanpa bersungut-sungut, tanpa syarat. Are we ready to surrender it all to follow Him?

“Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!” (2 Korintus 13:11)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: