Suster Moeder Sahati PBHK: “Kembaran” Romo N. Drijarkara SJ (4)

AKHIR tahun 2005 silam, saya pernah diminta oleh Romo F. Danuwinata SJ untuk menelusuri jejak-jejak almarhum Romo Prof. Dr. Nicolaus Drijarkarta SJ. Namun, ide besar itu tidak pernah bisa saya lakukan. Bahkan boleh dibilang gagal. 

Kegagalan atau ketidaklengkapan informasi saya alami karena tiadanya ‘nara sumber berita’ yang bisa saya dapatkan. Satu-satunya nara sumber yang bisa saya temui hanya Watik, cucu keponakan terakhir Romo N. Driyarkara, yang juga mantan teman sekolah saya waktu SD di Kedunggubah. 

Sebagaimana diakui oleh Wati sendiri, dia pun hanya mengenal embah-nya yakni Romo N. Drijarjara SJ sepenggal saja. Itu pun dia dengar dari kisah orang-orang yang bercerita tentang Romo Drijarkara. Termasuk ketika sosok mendiang Romo Drijarkara menjadi bahan cerita dan omongan  ayahnya: alm. Pak Polisi Soemardjo, keponakan langsung Romo Drijarkara SJ. 

Kerabat dekat  lainnya juga menyatakan tak banyak mengenal almarhum Romo Drijarkara secara pribadi.  Mereka hanya menyatakan Mbah Romo itu adalah bagian dari keluarga besar mereka. 

Hal tersebut dapat dimaklumi. Selain berbeda agama, juga tak pernah bertemu secara fisik dengan Romo Drijarkara SJ. 

Seingat Pak Wartono

Sekali waktu, saya sempat menemui Pak Wartono, seorang katekis pionir dari Stasi Kalikotak, Kaligesing. Kurang lebih sekitar 15 km dari Kedunggubah. Waktu itu usianya hampir 97 tahun. Beliau pernah mendapat penghargaan dari Paus Yohanes Paulus II, karena menjadi salah satu perintis gereja katolik di Purworejo. 

Pak Wartono mengaku memang pernah bertemu secara fisik dengan Romo Drijarkara saat almarhum masih menjadi romo muda alias frater. Tetapi tidak pernah berkesempatan berbicara langsung secara pribadi dengan Romo Drijarkara SJ. 

Masih menurut Pak Wartono, sebagai frater maupun sebagai pastur Yesuit, Romo Drijarkara SJ jarang sekali pulang mengunjungi keluarganya. Seandainya ada kesempatan pulang, itu pun amat singkat dan seperlunya saja. 

Manakala ada kesempatan pulang mengunjungi keluarganya di Kedunggubah, Kaligesing, Purworejo, Romo Drijarkara SJ juga tak pernah menunjukkan diri sebagai seorang  pastur. Akibatnya, banyak orang mengira beliau ‘orang biasa’ saja. 

Ketika ditanya, apakah Romo Drijarkara pernah mampir beranjangsana ke Pasturan Purworejo manakala sedang perlop (cuti)? 

Seingat Pak Wartono,  Romo N. Driyarkara pernah mampir dolan ke Pasturan Purworejo, namun hanya beberapa kali saja. Sekedar berkunjung  dan tidak pernah menginap. Karena itu, Pak Wartono lalu berkesimpulan bahwa hampir seluruh waktunya digunakan untuk menyiapkan diri sebagai calon Yesuit secara serius. 

Akibatnya, umat katolik sekeluarga dan satu kampung asal pun juga tak banyak mengenal sosok Romo N. Drijarkarta SJ secara utuh. 

Romo F. Danuwinata SJ –mantan murid dan teman sekomunitas di Jakarta—juga menyatakan hal senada. 

Cerita Ny. Karini

Saya pribadi tahu dan belakangan baru ingin mengenal lebih jauh Romo N. Drijarkara karena ‘kebutuhan’ personal. Awalnya hanyalah sekedar ketertarikan dan rasa ingin tahu bahwa beliau ini adalah pastur hebat dan ternyata juga berasal dari tanah kelahiran kampung saya. 

Pastur-pastur yang saya kenal ya hanya selingkup wilayah Purworejo semata. Dan itu pun romo-romo MSC dan praja (Pr), karena memang romo-romo inilah yang sejak dahulu sampai sekarang berkarya di Gereja Paroki Purworejo. Bahkan, saya pun tak mengerti apa bedanya antara MSC dan Pr. Yesuit tidak saya kenal sama sekali. 

Awal mula rasa ingin tahu tentang sosok almarhum Romo N. Drijarkara SJ terjadi secara kebetulan saja.  Tahun 1988, sekali waktgu  saya disapa oleh seorang ibu yang belakangan baru saya ketahui bernama Ny. Karini. Dia tinggal di  Sindurejan, tak jauh dari alun-alun Purwerejo, sebelah barat kuburan (kerkop). 

Ny. Karini menanyai nama saya dan darimana saya berasal. Ketika, saya menyebut nama ‘Kedunggubah’, mendadak sontak wajah beliau jadi berbinar.  Beliau segera katakan,  nenek moyangnya pun juga berasal dari Kedunggubah. 

Sr. Emanuella Sahati PBHK

Ny. Karini mengaku punya saudara perempuan bernama  Sr. Emanuella Sahati PBHK yang waktu itu sering dipanggil Moeder Sahati. Kalau tidak salah ingat,  pada waktu itu Moeder Sahati PBHK tengah mengemban tugas di Roma sebagai anggota Dewan Pimpinan Pusat PBHK. 

Sekali waktu, Suster Moeder Sahati PBHK mudik pulang kampung dan mampir ke Purworejo. Oleh Ny. Karini, saya lalu diperkenalkan kepada Moeder Sahati PBHK. Beliau lalu bertanya tentang saya: darimana berasal, anak siapa, dan mana rumah saya. Kesan saya sebagai anak waktu itu: Moeder Sahati sangat ramah dan murah senyum. 

Kepada saya, almarhumah Suster Moeder Sahati PBHK juga lalu berkisah, kalau beliau juga punya kerabat dan nenek moyang asli Kedunggubah, Kaligesing, Purworejo.  Beliau lalu menyebut diri sebagai keponakan Romo Prof. Dr. N. Drijarkara SJ. 

Tentu saja, sebagai anak, saya merasa bangga ada putra daerah Kedunggubah –dusun mungil darimana saya lahir dan dibesarkan hingga menjelang akil baliq–  bisa menjadi seorang Suster Provinisial. Bahkan, Moeder Sahati pernah menghabiskan waktu selama  sampai 12 tahun menjalankan tugas misi internasional di Roma sebagai anggota Dewan Pemimpin Umum. 

“Kembaran” perempuan

Sekilas, wajah almarhumah Suster Moeder Sahati PBHK juga sangat mirip dengan Romo N. Drijarkara SJ. Itu kesan saya ketika membandingkan foto-foto album keluarga. Penampilan sangat sederhana juga membekas dalam-dalam pada suster ini. 

Awalnya, saya tak pernah mengira kalau Suster Sahati PBHK ini adalah seorang biarawati pimpinan biara PBHK.  Hal ini baru saya ketahui di kemudian hari. Bukan dari mulut Suster Sahati sendiri, melainkan dari seorang suster lain. 

Semula saya tak menduga bahwa Sr. Sahati adalah seorang pimpinan biara, kerena cerita itu tidak saya dapatkan dari dia sendiri melainkan dari suster lain yang cerita tentang sosoknya.  

Perjumpaan saya kedua dengan Suster Sahati PBHK terjadi tahun 2003 di Susteran Biara PBHK di Jl. Jamzrud di kawasan Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat. Pada waktu bertemu, beliau banyak berkisah tentang pak lik-nya yakni Romo N. Drijarkara SJ. 

Namun jarak usia dan keterpisahan fisik membuat Suster Sahati mengaku sangat jarang berjumpa dengan Romo N. Drijarkara SJ. Yang pasti –kata Suster Sahati—Romo N. Drijarkara SJ lebih banyak menghabiskan waktunya dengan cara mendedikasikan diri pada studi dan karya serta penugasan dari Serikat Jesus. Jadi, keluarga pun sangat mahfum kalau pak lik-nya ini sangat jarang bertemu atau bersilahturahmi dengan anggota keluarga besarnya sendiri di Kedunggubah. (Bersambung)

Artikel terkait:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: