Susah Move On

TEMAN, beberapa hari ini saya merasa ilfil dengan PLN (Perusahaan Listrik Negara), karena tidak bisa mensuplai listrik dengan lancar ke rumah saya. Lampu rumah on off terus menerus. Akibatnya, saya harus (rela) tidak mandi, karena tidak ada air, tidak bisa ngecas HP sehingga tidak bisa bersliweran di sosmed, dan lebih-lebih lampu mati itu bikin jantung saya makin kencang berdebar saat mendengar cerita ibu saya.

Bagaimana tidak? Kemarin saat sedang menolong persalinan di tengah malam, lampu Klinik Bersalin di depan rumah -tempat ibu saya praktik- mati. Ibu saya (seorang bidan), segera menyalakan lilin sementara si jabang bayi sudah keburu lahir tanpa sempat menunggu genset dinyalakan.

Lalu sore ini, saat sedang mati lampu juga, tiba-tiba seorang ibu turun dari angkutan umum diantar keluarganya ke klinik. Yang membuat kami kaget adalah ibu itu sudah berlumuran darah di bagian kainnya. Ibu yang hamil tua itu masih kuat melangkah kendati banyak darah merembesi kaki dan berceceran di lantai klinik.

Butuh waktu dua jam bagi kami untuk membersihkan ceceran darah di lantai supaya tidak amis.

Sungguh pengalaman horror bagi saya, namun tidak bagi ibu saya yang sudah 20 tahun berpraktik sebagai bidan. Beliau nampak tenang dan tahu betul apa yang harus dilakukan. Beliau juga dengan kelihatan happy mengerjakan pekerjaan itu berulang-ulang (menolong persalinan), meskipun tak jarang risikonya berat, nyawa manusia!

Saya lalu berkaca pada diri sendiri, apabila pekerjaan yang sudah saya pilih ini mencapai usia 20 tahunan apakah saya juga masih bisa happy dan mencintai pekerjaan saya? Atau saya kerjakan pekerjaan saya dengan ala kadarnya lantaran merasa sudah tua dan tidak punya banyak pilihan?

Teman saya yang biasa nongkrong bareng bilang, “Ah, elo..ngapain stuck di satu pekerjaan? Cari dong pekerjaan lain, jangan takut move on, deh!

Sementara teman saya yang lain bilang, “Ngapain loe cari pekerjaan lain? Capek, tau pindah-pindah. Mending ditekuni aja satu pekerjaan sampai berbuah!”

Dari banyak pengalaman, baik pribadi maupun dari orang lain, saya belajar ternyata bukan saya yang semata-mata “memberi sesuatu” kepada pekerjaan tersebut tetapi justru sebaliknya saya mendapat sesuatu yang berharga di balik pekerjaan yang saya tekuni.

Kalau saya berpikir sayalah yang melulu “memberi” kepada pekerjaan tersebut, maka lelah dan letih amat sangat. Tetapi apabila saya berpikir bahwa saya mendapat “keuntungan” dari pekerjaan tersebut maka hilanglah beban berat itu. Keuntungan tidak selalu berujud materi tetapi dapat berupa keterampilan otak, pertumbuhan rohani, maupun life skill lain yang tak disadari pelan-pelan sudah berkembang dalam diri.

Penulis bestseller, Stephen R. Covey, dalam bukunya The Leader in Me (2013), mengungkapkan suatu fakta menarik bahwa ada banyak kebiasaan-kebiasaan positif dalam diri seseorang yang apabila dijalankan dengan konsisten maka dapat menghasilkan perilaku yang membuahkan kesuksesan.

Penulis The 7 Habits of Effective People ini menyatakan kebiasaan-kebiasaan positif dapat membentuk karakter seperti kejujuran, tanggungjawab, integritas, kebaikan, inisiatif, kerjasama, humor, disiplin dan rasa hormat.

Kalau ingat perkataan dua teman saya tadi, saya merasa ada benarnya juga. Move on itu juga penting apalagi untuk orang yang suka tantangan dan tak keberatan ambil resiko mewujudkan keinginannya. Bisa saja 10 tahun atau 20 tahun baginya belum cukup untuk membekali diri dengan keterampilan yang ada sehingga ingin mencoba bidang pekerjaan lain. Tetapi tetap bertahan dengan satu bidang pekerjaan juga tak salah, apalagi sudah merasa cocok dan tak keberatan dengan tuntutan-tuntutan yang ada.

Intinya bukan jenis pekerjaan itu yang menjadi masalah, karena setiap pekerjaan mempunyai resikonya masing-masing. Akan tetapi adanya harapan dan semangat bahwa yang dikerjakan sekarang tidak akan berlalu sia-sia. Selalu ada hasil dari sebuah proses, yang mungkin belum disadari dan belum kelihatan.

Lalu saya ikut golongan yang mana? Saya juga belum tahu tetapi yang jelas saya harus mulai terbiasa dengan segala risiko dari pekerjaan yang saya jalani, salah satunya ya menghadapi risiko mati lampu di Klinik Bersalin ibu saya.

Semoga!

Photo credit: Move on by Adrew Chow

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ayat alkitab tentang move on
  2. ayat alkitab untuk move on
  3. renungan move on
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: