Susah Hati dan Sukacita

Ayat bacaan: Nehemia 8:10b======================”Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!”Ada sebuah film koboi yang belum lama saya tonton salah satu adegannya berisi kuda yang akhirnya terjatuh kelelahan akibat ti…

Ayat bacaan: Nehemia 8:10b
======================
“Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!”

Ada sebuah film koboi yang belum lama saya tonton salah satu adegannya berisi kuda yang akhirnya terjatuh kelelahan akibat tidak tahan membawa beban terlalu berat, dikendarai dua orang sekaligus. Kuda itu dipaksa lari terus semalaman dengan membawa beban berat. Meski kudanya kelihatan kokoh, dengan kondisi seperti itu kuda pun akhirnya jatuh. Terkadang hidup bisa terasa berat, ketika banyak masalah menggelayut bagaikan beban yang digantung di tubuh kita. Saat beban itu sudah tidak lagi mampu kita pikul, kita pun jatuh seperti kuda tersebut. Menariknya hal yang membuat hidup menjadi berat tidak harus selalu berasal dari berat dan jumlah masalah. Pernahkah sukacita anda terasa hilang meski masalah sebenarnya tidak terlalu berat? Itu bisa juga terjadi kalau sebuah beban, meski ringan, kita rasakan mengganggu diri bahkan sistem hidup kita. Meski relatif tidak berat, tidak mengancam nyawa, bukan soal hidup dan mati, namun tetap saja bisa membebani pikiran, menyusahkan hati dan membuat hidup kita seperti berat. Kalau begitu yang jadi masalah bukanlah berat dan jumlah masalah, tetapi bagaimana kita menyikapi sebuah masalah, apakah kita membiarkannya pelan-pelan merebut rasa damai sejahtera dan sukacita dari diri kita atau tidak. Mau hidup terasa berat atau ringan itu pilihan dan tergantung keputusan kita. Kalau dibiarkan, masalah kecil atau bahkan yang seharusnya bukan masalah pun bisa merenggut rasa bahagia dari dalam diri kita.

Orang yang hatinya susah dan punya beban pikiran biasanya sulit tersenyum. Air muka keruh, muram dan layu, atau mungkin juga terlihat bete dan seram sehingga orang tidak berani mendekati lagi. Ada yang terbiasa membesar-besarkan masalah sehingga tanpa sadar sering merasa seperti orang paling menderita di dunia, ada pula yang tidak sadar membiarkan masalah terus membesar, menggerogoti lebih banyak lagi bagian hati kita sehingga sukacita tidak lagi punya tempat disana. Hari ini saya sedang punya beberapa beban pikiran yang tidak serius-serius amat, tetapi kalau dibiarkan bisa membuat saya kehilangan sukacita. Saya tidak mau membiarkan itu terjadi. Keputusan saya adalah saya mau tetap bersukacita, dan saya punya banyak alasan untuk itu, bahkan lebih banyak dibandingkan alasan untuk merasa galau bersusah hati. Tuhan sudah menyediakan segala yang terbaik bagi saya, termasuk kemampuan untuk mengatasi persoalan-persoalan satu persatu. Diatas segalanya, saya punya Tuhan yang sungguh baik yang selalu menyertai. Kalau begitu kenapa saya harus kalah dengan persoalan? Masalah bukanlah masalah kalau kita tidak menganggapnya sebagai masalah. Kemana kita memandang, kemana kita menggantungkan hati, kemana kita mengarahkan pikiran kita, itu akan sangat menentukan apakah kita masih dipenuhi sukacita atau sudah digantikan oleh perasaan susah hati dan pusing.

Seperti yang sudah kita bahas dalam beberap renungan sebelumnya, Alkitab sudah banyak membeberkan solusinya. Bukan hanya dalam satu kalimat saja tetapi bisa kita temukan dalam banyak kesempatan. Coba lihat ayat bacaan hari ini yang secara jelas memberikan jawaban: “Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu!” (Nehemia 8:10b) Firman Tuhan berkata bahwa kita tidak perlu bersusah hati, bersedih atau kecewa. Mengapa? Sebab sukacita seharusnya bukan tergantung dari dunia tapi karena kita memiliki Tuhan. Itulah perlindungan kita, itulah benteng kita yang teguh, itulah yang akan memampukan kita untuk tetap bisa dipenuhi sukacita meski situasi sedang tidak kondusif. Be not grieved and depressed, for the joy of the Lord is your strength and stronghold. The joy of the Lord, sukacitanya Tuhan, itulah yang menjadi sumber kekuatan kita untuk menghadapi masalah seperti apapun yang muncul dalam hidup.

Kita diingatkan untuk senantiasa bersukacita dan memahami betul dari mana sumber sukacita itu berasal. Bersukacita tentu mudah jika kita sedang dalam kondisi baik dan berlimpah, tapi akan menjadi sangat sulit atau bahkan rasanya tidak mungkin ketika tengah didera masalah. Masalah kecil saja sudah bisa merusak mood atau suasana hati kita, apalagi kalau masalah besar. Bisa tidaknya kita mengatasi sangatlah tergantung kita sendiri. Bagaimana kita menyikapinya, bagaimana kita menerimanya dan bagaimana kita menghadapinya. Ingatlah bahwa Tuhan mau kita bisa belajar untuk mengatasinya. Disanalah kita bisa mengukur seberapa besar kepercayaan kita pada Tuhan. Kalau saja kita mau belajar untuk percaya sepenuhnya dengan menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam tanganNya, kita pun akan berada dalam pemeliharaan Tuhan yang luar biasa. Kalau kita mau memandangnya dan berhenti memandang kesulitan yang ditimbulkan oleh masalah, kita seharusnya bisa tetap tenang dan tidak kehilangan sukacita. Sekali lagi antara susah hati dan sukacita bukan tergantung situasi hidup tetapi karena Tuhan, dan sesungguhnya itulah kuncinya karena disana terletak perlindungan atas kita.

Selanjutnya mari kita lihat Galatia 5:22-23. Disana kita bisa mendapati bahwa sukacita merupakan salah satu buah Roh. Itu artinya, selama kita hidup dengan bimbingan Roh Allah dalam diri kita, maka sukacita sudah seharusnya atau secara otomatis menjadi bagian dari hidup kita. Ingatlah bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Seberat apapun beban yang anda hadapi hari ini, yang paling mustahil bisa selesai menurut logika kita sekalipun, itu hanya akan menjadi sebuah lahan subur bagi Tuhan untuk menyatakan kuasaNya. Dalam sukacita karena Tuhan terletak perlindungan kita, bukan dari baik tidaknya hidup yang tengah anda jalani hari ini.

Daud berkata: “dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” (Mazmur 37:4). Meski hati sedang tidak enak, mood sedang kacau, kita harus ingat bahwa Tuhan bisa memberi kelegaan dan menggantikan perasaan yang penuh kemelut dengan sebentuk hati penuh sukacita. Anda mungkin sulit untuk bisa menggantikannya sendiri, tetapi ayat ini mengatakan bahwa Tuhan sendirilah yang akan mengabulkan keinginan hati untuk terus bisa dipenuhi sukacita. Sukacita harus bersumber dari Tuhan, sukacita berasal dari Tuhan dan sukacita bergantung pada Tuhan. Sukacita tidak boleh berakar pada dunia dan situasi terkini kita tetapi harus berpusat pada Tuhan.

Apabila anda saat ini tengah galau, berbeban berat, merasa berbeban pikiran, susah hati, merasa kosong, atau sedang sulit untuk bisa mengembalikan sukacita dalam diri anda, segeralah hampiri Tuhan. Bukan untuk mengais harapan kosong, bukan untuk sekedar mencoba, tapi untuk membuktikan bahwa Tuhan bisa mengembalikan sukacita sepenuhnya tidak peduli apapun suasana hati anda saat ini. Sandarkan seluruh hidup anda padaNya dengan sukacita, seperti halnya Daud yang berkata: “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” (Mazmur 100:2). Mengapa? “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (ay 5). Percayakan hidup anda sepenuhnya pada Tuhan, dan nikmatilah sukacita sesungguhnya ditengah kesulitan. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4)

Arahkan pandangan, pikiran dan perasaan kepada Tuhan dan miliki sukacitaNya dalam hidup kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply