Susah Air

Ayat bacaan: Keluaran 17:3
=====================
“Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?”

kekurangan air, susah air, kekurangan iman

Harga segalon air mineral terus naik seiring dengan kenaikan harga-harga lainnya. Banyak orang sepakat mengatakan bahwa ini tahun yang sulit. Dengan sinis seorang teman pernah berkata, dalam UUD 45 terdapat pasal 33 yang mengatakan “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat” tapi itu dulu. Sekarang bunyinya berhenti sampai “dikuasai oleh Negara”, atau malah ditambahkan “dan dipergunakan pejabat untuk sebesar-besarnya untuk memperkaya diri sendiri.” Sebuah bentuk sinisme yang kalau dipikir-pikir cukup beralasan, karena negara kita yang katanya kaya alamnya, ternyata tidak cukup mampu menjangkau kebutuhan rakyat jelata. “Untuk minum pun mahal” kata satpam di kampus saya. Tapi kalau saya pikir lagi, setidaknya air masih relatif lebih mudah di dapat di negara kita dibandingkan di gurun pasir. Lebih jauh lagi, setidaknya di gurun pasir saat ini kita bisa membeli air meskipun harganya mungkin jauh lebih mahal ketimbang kemasan-kemasan air mineral di Indonesia. Sekarang bayangkan pada jaman Musa, tidak ada orang yang menjual air! Dengan jumlah orang Israel yang berjalan melalui gurun pada jaman Musa, bisa dibayangkan bagaimana paniknya mereka membayangkan ketiadaan air. Tanpa air tidak ada manusia yang mampu hidup, apalagi di gurun pasir yang luar biasa panasnya. Kematian membayangi. Maka mulailah mereka bersungut-sungut, protes dan bersikap sinis kepada Musa.

Sungguh, merupakan hal yang wajar bagi manusia untuk merasa stres bahkan panik ketika bertemu dengan masalah. Itu adalah reaksi alamiah yang sangat wajar secara manusiawi. Namun masalahnya, seharusnya orang Israel pada waktu itu tidak punya alasan untuk bersungut-sungut, protes, stres dan panik. Lihatlah dalam sepanjang perjalanan mereka, bukankah Tuhan sudah melakukan begitu banyak mukjizat bagi mereka setiap hari? Coba lihat bagaimana Tuhan sendiri yang berjalan di depan mereka dengan tiang awan dan tiang api. “TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.” (Keluaran 13:21-22). Lalu lihat pula bagaimana Tuhan mampu membelah Laut Teberau alias Laut Merah secara ajaib. Hal itu memungkinkan mereka untuk berjalan di tengah-tengahnya, dan kemudian ketika laskar Firaun melintasi belahan Laut Merah itu, mereka pun tenggelam. “Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka…..Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka.”(Keluaran 14:22-28). Kemudian ketika mereka melintasi padang gurun Syur dan sampai di Mara. Di sana mereka tidak dapat minum karena airnya pahit rasanya. Tapi sekali lagi Tuhan melakukan perkara ajaib, air yang pahit itu menjadi manis dan bisa mereka minum. (Keluaran 15:25). Dalam setiap permasalahan yang mereka jumpai, mereka mengeluh, dan Tuhan selalu sabar dan berulang-ulang melakukan mukjizat. Tapi lagi-lagi, orang Israel terus saja mengeluh dan bersungut-sungut. Hingga kita sampai pada ayat bacaan hari ini, dimana kembali mereka bersungut-sungut ketika memasuki Rafidim yang tanpa air. Tidak cukupkah pengalaman luar biasa mereka yang penuh mukjizat sepanjang perjalanan? Tidak cukupkah semua mukjizat itu membuat mereka yakin bahwa jika dulu saja Tuhan sanggup menolong, kali ini pun Tuhan pasti sanggup? Tidakkah mereka bisa percaya akan kasih setia Tuhan?

Masalah saat itu ternyata bukanlah “lack of water” atau “kekurangan air” melainkan “lack of faith” alias “kekurangan iman”. Hal ini masih relevan terjadi pada kita saat ini. Kita seringkali lupa bagaimana Tuhan pernah memberkati hidup kita dan menolong kita dalam masa-masa sulit. Jika saat itu saja Tuhan bisa, saat ini pun tidaklah mustahil Tuhan mampu untuk kembali melakukannya. Lihat bagaimana kesalnya Tuhan terhadap bangsa Israel yang terbiasa mengeluh. “Lagi firman TUHAN kepada Musa: “Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk.” (Keluaran 32:9), atau ini “Berapa lama lagi umat yang jahat ini akan bersungut-sungut kepada-Ku? Segala sesuatu yang disungut-sungutkan orang Israel kepada-Ku telah Kudengar.” (Bilangan 14:27). Dalam Roma pun kembali dikatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang tidak taat dan yang membantah. (Roma 10:21). Aduh, jangan sampai kita dikatakan Tuhan seperti itu. Jangan sampai kita dikenal sebagai anakNya yang jahat, tegar tengkuk, tidak taat, hobi membantah dan jagoan bersungut-sungut. Hadapilah permasalahan dengan tegar, tanpa hilang pengharapan, dan ingatlah berapa banyak Tuhan telah menolong anda di masa lalu. Jika dulu Tuhan sanggup, maka kali ini pun Tuhan pasti sanggup. Be full of faith to face the problem.


Jika dulu Tuhan sanggup, saat ini dan di masa depan pun Tuhan pasti sanggup

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply