Surat Cinta

 Ayat bacaan: Mazmur 104:31========================”Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!”Pernahkah anda mendapat surat cinta? Kalau pernah, anda tentu tahu bagaimana rasanya,…

 Ayat bacaan: Mazmur 104:31
========================
“Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!”

Pernahkah anda mendapat surat cinta? Kalau pernah, anda tentu tahu bagaimana rasanya, apalagi kalau dari orang yang kita cintai. Rasa berbunga-bunga, gembira, bahagia, ser-seran dan sejuta perasaan senang lainnya segera kita rasakan. Perasaan dihargai, disayangi, dipedulikan, itu bisa bikin kita punya gairah dan semangat dalam hidup. Sejak masa pacaran saya termasuk rajin memberi surat cinta kepada kekasih saya, dan sekarang setelah menikah 7 tahun, itu masih rajin saya lakukan. Bukan hanya dalam bentuk tulisan, tapi lewat kata-kata dan perbuatan juga bisa menjadi media yang sangat baik untuk menyatakan cinta kepada seseorang.

Kalau dalam hubungan antar pasangan itu kita rasakan, bagaimana dalam hubungan dengan Tuhan? Kita tentu tahu bahwa Tuhan sangat mengasihi kita, dan kita pun terus belajar untuk mengasihi dan mentaatiNya terus lebih dalam lagi. Pertanyaannya sekarang, adakah surat cinta yang berasal dari Tuhan yang ditujukan kepada kita? Alkitab merupakan sebuah surat cinta yang luar biasa karena berisi segala solusi untuk mengatasi persoalan hidup, bagaimana mengalami hidup yang baik, penuh dan melimpah, juga membimbing kita untuk masuk ke dalam kebahagiaan yang kekal. Itu tentu benar. Tapi apakah ada bentuk surat cinta Tuhan yang bisa kita lihat secara langsung pada saat sekarang? Tentu kita tidak bisa mengharapkan ada sebuah surat berisi kata-kata cinta dengan tanda tangan Tuhan di kanan bawah. Tapi sebenarnya ada bentuk lain dimana Tuhan menyatakan dengan jelas cintaNya kepada kita, dan itu bisa kita lihat dengan mata kepala sendiri. Adalah seorang teman saya yang berprofesi sebagai fotografer yang membuka mata saya untuk menyadari hal ini. Suatu kali ia memasang hasil jepretannya yang sangat indah. Foto pemandangan alam yang begitu memikat mata, penuh bunga warna warni dan dijepret menjelang matahari terbenam. Indah sekali fotonya. Tapi yang menarik adalah judul yang ia beri pada foto itu: “Love Letter from God.” 

Love Letter from God. Surat cinta dari Tuhan. Itu memberi pemahaman kepada saya bahwa tanpa sadar sebenarnya kita berhadapan dengan kebesaran Tuhan dengan menikmati ciptaanNya yang indah. Sayangnya kita jarang menyadari hal itu. Di tengah jepitan kesesakan dan masalah yang dihadapi setiap harinya kita terlalu sering lupa bahwa alam semesta ini diciptakan Tuhan begitu indahnya. Gugus tata surya, langit biru diselimuti awan putih, bulan dan bintang gemerlapan di kegelapan langit malam, rerumputan hijau dengan bunga warna warni mekar dimana-mana dan sebagainya. Semua itu terlalu indah untuk kita nikmati, tapi kesibukan dan berbagai pergumulan hidup, pemenuhan kebutuhan yang terus meningkat yang harus dikejar agar terpenuhi membuat kita jarang punya waktu untuk menikmati hasil ciptaanNya. Kita terlalu sibuk kepada permasalahan kita, kita berkeluh kesah dan mengira Tuhan berlama-lama untuk melakukan sesuatu atau bahkan menganggapNya tidak peduli terhadap kesulitan kita. Padahal kalau saja kita mau mengambil waktu sebentar untuk melihat sekeliling kita, maka kita akan menyadari bahwa Tuhan telah melakukan begitu banyak hal yang indah bagi kita. Keindahan alam, bukankah itu juga berkat dari Tuhan dan merupakan sebuah surat cinta buat kita yang berasal dari Allah Bapa Sang Pencipta segalanya?

Pada jaman Daud tentu belum ada kamera, apalagi yang punya kualitas bagus di gadget-gadget modern/smart phone seperti sekarang untuk menghasilkan foto seperti teman saya. Tapi dengan matanya, Daud melihat sebuah keindahan yang tidak kurang dari apa yang dilihat oleh teman saya itu lewat lensa kameranya. Saya membayangkan Daud tengah mengamati indahnya pemandangan ketika ia menulis Mazmur 104. Disana ia menggambarkan keindahan alam ciptaan Tuhan secara sangat puitis. Semua yang ia gambarkan adalah buah tangan Tuhan, hasil karyaNya, sebuah bukti keliahian Tuhan yang bisa kita saksikan dengan amat sangat nyata dengan mata kita. Hal ini juga disampaikan oleh Paulus. “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” (Roma 1:20). Kebesaran Tuhan terlihat dan bisa dibuktikan lewat semua hasil karyaNya sejak masa penciptaan mula-mula, sehingga kalau menyadari itu, seharusnya tidak ada seorang pun yang bisa punya dalih untuk mengatakan sebaliknya, menuduhNya yang bukan-bukan atau bahkan menolak eksistensi Tuhan. Kembali kepada Daud, ia begitu mengagumi apa yang ia lihat, sehingga ia pun berkata “Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!” (Mazmur 104:31).

Sayangnya, seperti yang saya bagikan dalam renungan kemarin, yang terjadi hari-hari ini agaknya sulit membuat Tuhan tetap bisa bersukacita lewat ciptaan-ciptaanNya. Manusia terus saja menghancurkan lingkungan. Berbagai kecemaran yang dilakukan manusia tanpa tanggung jawab merusak segala keindahan yang Tuhan sediakan bagi kita. Kerusakan lingkungan dan menipisnya lapisan ozone membuat dunia ini semakin lama semakin hancur. Manusia yang diciptakan Allah secara istimewa ternyata tidak menghargai karya Penciptanya, tidak bertanggungjawab atas amanat yang diemban. Selain merusak lingkungan, menghancurkan ekosistem dan lain-lain, manusia pun masih sanggup saling membinasakan satu sama lain. Padahal semua manusia ini ciptaan Tuhan, yang berharga dimataNya. Tapi di mata sesama manusia, nyawa ternyata semakin dianggap tidak penting. Letaknya masih sangat jauh di bawah ego dan kepentingan diri sendiri. Dia sudah begitu baik dengan menganugerahkan keselamatan kepada kita lewat Kristus, tapi kita begitu sulit untuk sekedar menghargai kebaikanNya. Jika semua ini terjadi, bagaimana Tuhan bisa bersukacita karena perbuatan-perbuatanNya?

Alam semesta beserta isinya merupakan ciptaan Tuhan yang luar biasa indahnya. Itu adalah anugerah yang amat besar yang telah disediakan justru sebelum Dia menciptakan manusia. Semua itu disusun sedemikian rupa, agar ketika manusia hadir, keindahan itu bisa dinikmati secara langsung. Tuhan menyatakan bahwa apa yang Dia ciptakan adalah baik. Tanaman, pohon-pohon berbuah, tunas-tunas muda, itu diciptakan dengan baik (Kejadian 1:11-12). Matahari, bulan dan bintang, cakrawala, semua itu diciptakan Tuhan dengan baik. (ay 14-18). Segala jenis hewan, baik burung-burung di udara, ikan-ikan di laut dan hewan-hewan darat, semua Dia ciptakan dengan baik. (ay 20-22). Dikatakan bahwa bumi beserta segala isinya adalah milik Tuhan (Mazmur 24:1), tapi otoritas untuk menguasai diberikan kepada kita. (Kejadian 1:28). Menguasai bukan berarti bertindak semena-mena dan merusak seenaknya, tapi justru sebaliknya,  menjaga dan melestarikan alam beserta isinya. Tuhan menitipkan itu semua kepada kita. Idealnya kita bersyukur. Idealnya kita bersukacita bersama-sama dengan Tuhan menikmati segala keindahan itu. Tapi apakah kita sudah melakukannya? Apakah Tuhan bisa bersukacita atas segala ciptaanNya hari ini?

Bersukacitalah bersama Tuhan dengan mensyukuri segala ciptaanNya yang dibuat dengan amat sangat baik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply