Sungkan Meminta Tolong (1)

Ayat bacaan: Nehemia 2:7-8
===============
“Berkatalah aku kepada raja: “Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami.” Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku.”

Saya sudah bertemu dan mengenal begitu banyak orang yang terlalu segan untuk meminta tolong kepada orang lain. Ada yang segannya berlebihan, ada pula yang gengsi. Mereka ini biasanya lebih suka melepaskan kesempatan untuk maju atau seringkali juga menjadi repot sendiri. Terus-terusan minta tolong karena malas mengerjakan sesuatu memang tidak baik. Tapi kita pun tidak boleh lupa terhadap hakekat hidup kita sebagai mahluk sosial yang memang tidak sempurna. Sebagai mahluk sosial kita harus terhubung dan bekerja sama dengan orang lain agar bisa terus meningkat maju. Selalu saja ada waktu-waktu kita butuh uluran tangan atau bantuan dari orang lain, dan kalau memang kita tidak bisa melakukannya dan membutuhkan orang lain, tidak ada salahnya kita sampaikan. Tuhan bisa, dan kerap memberkati kita dan memberi jawaban lewat tangan orang lain.

Akan hal ini kita bisa belajar dari Nehemia. Nehemia adalah satu dari orang – orang Yehuda yang kembali dari pembuangan di Babel seperti yang tercatat dalam kitab Ezra 2:2. Nehemia hidup pada jaman ketika Yehuda menjadi bagian dari Persia. Nehemia merupakan orang dengan jabatan atau posisi yang cukup baik, yaitu sebagai juru minuman raja. Jabatan yang ia sandang ini memungkinkannya untuk memiliki hubungan yang relatif cukup dekat dengan sang raja Persia waktu itu bernama Artahsasta.

Suatu hari ia mendengar berita mengenaskan mengenai keadaan saudara-saudari sebangsanya yang telah kembali dari pembuangan. Ia prihatin karena pada saat ia beruntung karena punya jabatan terpandang, ternyata bangsanya justru menderita, tengah berada dalam kesengsaraan berat. “Kata mereka kepadaku: “Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar.” (Nehemia 1:3). Apa reaksi Nehemia mendengar tentang kemalangan yang diderita bangsanya? Nehemia tidak diam saja tetapi ia menangis dan berkabung berhari-hari. Bukankah Nehemia bisa saja tidak peduli, karena dia sebenarnya sudah hidup berkecukupan? Tentu bisa, tapi Nehemia tidak bersikap demikian. Meski ia tidak mengalami kesusahan dalam hidup, ia turut merasakan kepedihan yang dirasakan bangsanya.

Ada banyak orang yang berhenti hanya pada rasa prihatin, tapi tidak dengan Nehemia. Ia menjawab kesedihannya dengan mulai melakukan beberapa hal. Pertama, Nehemia berpuasa dan berdoa. Bukan hanya memohon ampun bagi bangsanya, tapi juga pembersihan atau pertobatan dari dosa-dosanya sendiri. Kenapa malah melakukan pembersihan atas dosa-dosanya? Jawabannya sederhana. Nehemia tahu bahwa doanya tidak akan punya pengaruh apabila ia sendiri belum bersih dari dosa. Maka dalam doanya ia berkata: “berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.” (ay 6).

Kisah berlanjut pada pasal 2. Pada suatu hari empat bulan kemudian, ketika Nehemia tengah menghidangkan anggur bagi raja Artahsasta, sang raja melihat wajah Nehemia yang murung. Artahsasta bertanya kepada Nehemia, apa gerangan yang terjadi. (ay 1-2). Nehemia menceritakan rasa sedihnya melihat kehancuran bangsanya. (ay 3). Raja Artahsasta lalu menawarkan bantuan, apa yang sekiranya bisa ia bantu. Mendengar itu, Nehemia kembali berdoa dalam hatinya. (ay 4). Setelah berdoa, Nehemia menyampaikan dengan jujur bahwa ia butuh pertolongan dari raja. “Berkatalah aku kepada raja: “Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami.” Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku.” (ay 7-8).

Perhatikan bahwa Nehemia tidak berpangku tangan melihat kesusahan bangsanya dan ia pun tidak segan untuk meminta pertolongan. Dia tahu bahwa dia butuh pertolongan raja untuk bisa membangun kembali Yerusalem. Soal dikabulkan atau tidak itu nanti, yang penting sampaikan dulu. Ternyata Artahsasta mengabulkan hal itu. Membuat sepucuk surat bukanlah hal sulit bagi seorang raja. Itu tidak mungkin dilakukan sendiri oleh Nehemia, karena ia tidak memiliki otoritas untuk melakukannya. Berawal dari sini, kita mengetahui bahwa Nehemia berhasil membangun kembali Yerusalem yang sudah hancur lebur dengan keberhasilan besar. Apakah itu semua semata-mata karena keberuntungan? Tidak. Nehemia tahu pasti bahwa itu semua adalah berkat tangan Allah yang murah melindunginya. Tuhan menyalurkan berkatNya kepada Nehemia lewat perantaraan raja Artahsasta.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply