Sungguh, Masihkah Tuhan Membutuhkan Gereja Katolik?

lohfinkADALAH Prof. Gerhard Lohfink yang –menurut Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo—pernah melontarkan pernyataan kritis yang menghentak ini: Masihkah Tuhan Membutuhkan (Adanya) Gereja Katolik? Pertanyaan teologis-eksistensial ini dilontarkan pastor ahli kitab suci dan dosen teologi Universitas Tubingen Jerman lantaran dia sendiri mengalami ‘gegar iman’ dalam hidupnya sebagai seorang imam katolik. Jiwanya tergoncang. Gerhard Lohfink merasa […]

lohfink

ADALAH Prof. Gerhard Lohfink yang –menurut Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo—pernah melontarkan pernyataan kritis yang menghentak ini: Masihkah Tuhan Membutuhkan (Adanya) Gereja Katolik?

Pertanyaan teologis-eksistensial ini dilontarkan pastor ahli kitab suci dan dosen teologi Universitas Tubingen Jerman lantaran dia sendiri mengalami ‘gegar iman’ dalam hidupnya sebagai seorang imam katolik. Jiwanya tergoncang.

Gerhard Lohfink merasa kedodoran –baik sebagai seorang katolik pada umumnya dan sebagai seorang pastor plus dosen teologi alkitabiah– ketika dia mendapati di dalam Gereja Katolik ada begitu banyak ketidakberesan.

mgr suharyo

Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo dalam sebuah acara misa bersama lingkaran sahabat (PalingSah) di kawasan Bintaro, Tangsel. Sabtu, 27 September 2014. (Wahyu Budi/PalingSah)

Gagasan menarik ini dilontarkan Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo dalam misa khusus bersama lingkaran PalingSah (Paguyuban Antarsahabat Mgr. Ignatius Suharyo) di keluarga Kaduhu di kawasan Bintaro, Tangsel, Sabtu, 27 September 2014. Menurut Mgr. Ignatius Suharyo, bukan saja karena lontaran pertanyaan teologis-eksistensial yang begitu menghentak itu keluar dari seorang teolog berkelas seperti Pastor Gerhard Lohfink.

Lebih dari itu, pertanyaan kritis itu juga menjadi medan perhatian Gereja Katolik sekarang. Intinya, bagaimana bisa menemukan kaitan iman akan Yesus Kristus dengan peristiwa keseharian kita. Dan untuk itu, ajak Mgr. Ignatius Suharyo, kalangan sahabat dalam PanglingSah diajak untuk ‘berguru’ pada hidup dan kisah pengalaman Gerhard Lohfink itu sendiri.

Tiga tahapan kehidupan
Menurut Mgr. Ignatius Suharyo, dari buku tebal karangan Gerhard Lohfink yang berjudul Does God Need the Church? itu ada bagian penting yang perlu dicatat. Yakni, bab terakhir dimana tersaji kisah hidup batin dan perjalanan spiritual Gerhard Lohfink itu sendiri.

Tahun 1960-an, Gerard Lohfink hidup sebagai pastor muda. Berasal dari keluarga katolik yang taat –demikian penuturan Mgr. Suharyo—Lohfink bisa merasakan betapa iman itu hidup sejalan dengan kesehariannya: keluarga katolik taat, rajin misa setiap hari, setiap kali makan berdoa, doa bersama dan seterusnya.

Tahun 1970-an adalah paruh kedua kehidupan batin Lohfink, ketika ia mulai kuliah di Roma. Di situ ia mulai berhadapan dengan gelombang protes kaum mahasiswa Eropa terhadap Ensiklik Humana Vitae yang menurut citarasa kaum muda Eropa waktu itu dianggap terlalu konvensional. Sebagai pastor muda yang berasal dari keluarga katolik taat, Gerhard Lohfink pun terguncang.

 

lohfink 2

Pastor Prof. Gerhard Lohfink: Gegar iman hingga Prof. Lohfink melontarkan tema teologis “Masihkah Tuhan Sungguh Membutuhkan Gereja Katolik?”

Tahun 1980-an ketika sudah menjadi professor teologi di Universitas Tubingen, pemberontakan batinnya mulai meledak-ledak. Di satu sisi, ia harus menyatakan taat kepada ‘magisterium’ Gereja –termasuk Ensiklik Humana Vitae–. Namun pada sisi lain, hatinya berontak oleh dorongan idealisme intelektual yang tidak bisa ‘diam’ melihat di dalam Gereja banyak terjadi ketidakberesan.

Singkat kata, ujar Mgr. Suharyo, Gerhard Lohfink pun meninggalkan kampus dan dunia mengajar. Ia memilih bergabung dengan kelompok kaum muda Eropa dalam sebuah paguyuban yang menentang perang. Di situ, teolog besar ini cukup puas dengan status barunya sebagai pastor kapelan, melayani kebutuhan pastoral kaum muda dalam sebuah paguyuban di Jerman ini.

Paguyuban itu memang indah, demikian isi homily Mgr. Suharyo, karena di situ ada semangat kesalingan berbagi rasa dan cerita. Juga kesalingan untuk semakin berbelarasa. Yang menarik, dalam paguyuban anak-anak muda Jerman ini muncul juga pertanyaan: kenapa masyarakat Eropa yang konon sama-sama mengimani Yesus Kristus bisa saling baku bunuh dan terlibat dalam dua kali perang skalas massif: Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Selepas meninggalkan kelompok paguyuban ini, mulailah Prof. Gerhard Lohfink pun berefleksi: teryata dimana pun di dalam komunitas Gereja Katolik tetap saja eksis yang namanya perbedaan pandangan, konflik dan disharmoni.
Nah, dari situlah lalu lahir gugatan: Masihkah Tuhan (Masih) Membutuhkan Gereja Katolik?

Semangat martir
Cerita tentang Prof. Gerhard Lohfink itu diletakkan Mgr. Suharyo dalam konteks pengalaman iman Gereja Perdana dimana dulu tidak pernah ada komunitas iman apalagi sebuah lembaga kristiani bernama Gereja.

Ketika Yesus merendahkan dirinya, para muridNya sama sekali tidak tertarik. Ketika Yesus menampakkan kemuliaannya di Gunung Tabor, para muridNya mulai meributkan jenjang karir mereka: siapa nanti yang akan duduk di sebelah kiri dan kanan Yesus.

Dalam Gereja Katolik, semoga tidak ada semangat mengejar karir seperti itu. Baik itu uskup, imam, maupun kelompok awam yang berjibaku membantu pelayanan pastoral. Para Murid pun dulunya hanya ‘gerombolan’ saja dan baru menjadi sebuah ‘komunitas umat beriman’ ketika Yesus sudah menjadi ‘martir’ disalib dan kemudian menunjukkan kemuliaannya dengan bangkit dari kematian.

palingsah

Paparan kinerja PalingSah setelah eksis hampir 5 tahun: Th. Wiryawan salah satu pengurus PalingSah memaparkan hasil program Santo Yusup di hadapan Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo dalam kesempatan misa triwulanan di Bintaro. (Wahyu Budi/PalingSah)

Semangat para rasul pasca kebangkitan bukan lagi mengejar karir, melainkan pelayaan. Nah, semangat paguyuban kaum beriman seperti PalingSah mestinya ya seperti itu. Berjibaku untuk melayani dan sama sekali jauh dari api semangat berkarir mencari keuntungan pribadi.

Cerita perjalanan iman Gerhard Lohfink pun bisa menjadi inspirasi. Yang perlu bukan lembaga atau institusinya, melainkan semangat berbelarasanya.

Kredit foto: Misa PalingSah di kawasan Bintaro bersama Mgr. Ignatius Suharyo (Wahyu Budi/PalingSah)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply