Sulit Bersosialisasi

Ayat bacaan: Pengkotbah 4:12
=================
“Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.”

Saya mengenal beberapa orang yang sulit beradaptasi dengan lingkungan atau orang-orang baru. Mereka sulit bersosialisasi, merasa tidak nyaman ketika bertemu atau berada dengan orang-orang yang belum atau baru dikenal. Mereka memiliki ‘lingkaran demarkasi’ sendiri yang tidak boleh dilalui oleh orang yang tidak dekat dengan mereka. Mereka mudah terganggu dengan kehadiran orang lain dan akan sangat segan meminta bantuan. Bagi mereka, sendiri lebih baik. Menutup diri rapat-rapat jauh lebih baik. Kalaupun memang harus berada ditengah orang-orang baru mereka biasanya menyendiri mengambil posisi-posisi sudut yang relatif lebih sunyi. Dan energi mereka pun terkuras dengan cepat. Mereka lelah berada dalam situasi seperti itu meski tidak melakukan apa-apa. Bentuk sikap introvert yang berlebihan membuat orang sukar bersosialisasi dan pada akhirnya bisa saja berujung pada blocking diri atau mental yang menghambat mereka untuk meraih cita-cita, tujuan dan impian. Jika ingin merubah orang seperti ini dibutuhkan usaha yang tidak sedikit. Kitalah yang harus mencoba meraih mereka, membuat mereka perlahan-lahan merasa nyaman. Salah seorang yang dekat dengan saya hari ini bisa bersosialisasi dengan sangat baik setelah saya tangani. Saya mulai dengan sering berada di dekatnya tanpa menyentuh ‘lingkaran demarkasi’nya, kemudian secara perlahan membawa beberapa teman lain untuk membuka hubungan. Pelan-pelan ia mulai membuka diri karena mulai merasa nyaman dengan orang-orang baru ini. Saya pun membawanya mengenal lebih banyak lagi, membawanya hang out ramai-ramai dan ia pun terbiasa dengan kehadiran orang. Meski ia masih mudah lelah setelahnya, ia tidak lagi punya masalah bertemu dengan orang-orang baru. Dan ia pun mengakui bahwa bersosialisasi ternyata jauh lebih bermanfaat ketimbang hidup sendiri menutup diri. Kalau tadinya ia hanya diperangkap oleh pola pikir sendiri, mau mengurus apa-apa harus sendiri, menghadapi masalah juga sendiri saja, sekarang ia merasakan bahagianya punya teman-teman yang mau saling bantu. Ia punya tempat sharing, tempat bertanya, bahkan untuk refreshing seperti nonton dan main game bareng, jalan-jalan, hang out dan sebagainya.

Sikap introvert yang berlebihan bisa merugikan. Cakrawala pemikiran mereka biasanya sempit, cenderung sulit menerima pandangan orang lain alias hanya merasa diri paling benar. Mereka mudah stres karena tidak punya teman sharing atau berbagi cerita. Mereka akan lebih sulit untuk maju karena kekuatan manusia itu sesungguhnya terbatas. Kita tidak mungkin sanggup melakukan segalanya sendirian. Manusia pada hakekatnya diciptakan Tuhan bukan sebagai individu-individu eksklusif melainkan sebagai mahluk sosial yang harus saling terhubung agar bisa maju dan bertumbuh. Sangatlah penting bagi kita untuk membangun hubungan dengan orang lain, tentunya hubungan positif dengan orang-orang yang benar yang bisa saling peduli, saling bantu, saling mengingatkan atau kalau perlu saling menegur agar kita tidak terperangkap oleh kelemahan-kelemahan kita sendiri.

Firman Tuhan berulang kali mengingatkan kita agar tidak berjalan sendiri. Lihatlah ayat berikut ini: “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya…Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.” (Pengkotbah 4:9-10,12). Cobalah ambil satu batang lidi dan patahkan, itu pasti sangat mudah. Tapi seikat sapu lidi akan sulit untuk dipatahkan. Tidak hanya dalam berbagai aspek kehidupan hal ini berlaku, tapi juga dalam hal kerohanian. Kita butuh membangun hubungan yang kokoh dengan orang lain yang bukan saja bermanfaat untuk kepentingan kita sendiri, kelompok atau sesama manusia secara umum, tetapi juga untuk menyatakan terang Allah dan memperluas KerajaanNya di muka bumi ini.

Kita tidak pernah sanggup berjalan sendirian, karena tekanan dan godaan akan selalu ada disekitar kita setiap saat. Dunia yang kita hidupi ini bukanlah tempat mudah. Cepat atau lambat kekuatan kita akan habis. Kita akan mengalami kelelahan dan menjadi lemah. Berbagai titik lemah kita pun rawan untuk menjadi santapan empuk baik oleh iblis atau orang-orang yang berhati jahat. Disaat seperti itulah kita butuh dukungan dari teman-teman terutama yang seiman agar kita bisa tetap kuat. Kalaupun sudah sempat jatuh kita akan punya kekuatan untuk kembali bangkit dengan adanya dukungan teman-teman.

Sebuah network yang baik adalah kumpulan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama dan berisi orang-orang yang saling peduli satu sama lain dan tidak mementingkan diri sendiri serta diarahkan kepada tujuan-tujuan yang positif, baik dan membangun. Itulah yang ideal. Saling menasihati, memberi masukan, menegur jika perlu, dan saling mengulurkan tangan untuk membantu, itu akan membuat kita semua bisa bertumbuh dengan baik dan dapat kembali bangkit dari keterpurukan. Dikala kita butuh ada teman, dikala teman butuh ada kita. Bukankah itu terasa sangat indah?

Akan hal ini kita bisa mengacu pada sebuah ayat dalam surat Ibrani. “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” (Ibrani 10:24) Saling memperhatikan, saling mendorong. Dalam hal apa? Dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Karena itulah kita diingatkan agar tidak menjauh dari pertemuan-pertemuan dimana kita bisa saling mengisi dan menguatkan lewat firman Tuhan, saling mengingatkan akan janji-janji Tuhan termasuk apa yang harus kita lakukan untuk menuainya. Ayat selanjutnya berbunyi: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (ay 25). Cara hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 menjadi contoh yang sangat baik akan hal ini.

Memperluas Kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaanNya di muka bumi tidak bisa dilakukan sendirian. Tuhan telah mengaruniai talenta atau bakat-bakat tersendiri kepada setiap anakNya yang akan bisa menjadi sesuatu yang luar biasa jika dihubungkan dengan orang-orang lain yang memiliki talenta berbeda untuk mencapai tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama. Talenta-talenta itu tidak akan pernah bisa dipakai maksimal apabila kita hanya berjuang sendirian. Paulus telah mengingatkan hal tersebut dalam surat Roma. “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita..” (Roma 12:4-6). Dan ingatlah bahwa kita semua adalah anggota-anggota tubuh dengan Kristus sendiri sebagai Kepala (Efesus 4:15), “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (ay 16).

Menghadapi hari-hari yang sulit, kita perlu mengisinya dengan merenungkan firman Tuhan. Akan jauh lebih baik jika kita tidak hanya melakukan sendirian tetapi membahasnya bersama teman-teman dalam persekutuan, saling mempehatikan dan saling bantu agar kita tidak lemah dan bisa terus bertumbuh meski dalam kondisi apapun. Kita harus mau mengakui bahwa kita adalah manusia yang terbatas dan punya kelemahan. Menjalani hidup tertutup dan sendirian tidak akan membawa manfaat bagi kita. Jangan biarkan kelemahan menggerogoti kita dan terus menjauhkan kita dari janji-janji Tuhan. Jangan biarkan kelemahan kita menghilangkan damai sukacita dalam diri kita. Oleh karena itu jangan abaikan kesempatan untuk saling berbagi dan menguatkan selagi kesempatan masih ada. Selain agar kita bisa bertumbuh bersama-sama mengatasi kelemahan-kelemahan kita, temukanlah potensi-potensi yang telah diberikan Tuhan. Pergunakan dan kembangkanlah secara bersama-sama, sehingga masing-masing potensi yang berbeda itu bisa bersatu menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: