Sukacita Injil

buah roh adalah sukacita“Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” (Luk 10, 21) PADA  hari Sabtu, sekretaris sebuah paroki lebih banyak menerima tilpun, […]

buah roh adalah sukacita

“Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” (Luk 10, 21)

PADA  hari Sabtu, sekretaris sebuah paroki lebih banyak menerima tilpun, dengan pertanyaan yang sama, “Siapa yang memimpin misa Sabtu sore dan Minggu pagi?”

Setelah diberitahu jadwalnya, si penelpon berkomentar, “Ya…itu lagi, itu lagi. Gak ada romo tamu ya?”

Suasana Gereja memang sepi. Banyak umat enggan ke Gereja. Bangku-bangku banyak yang kosong.

Pulang dari Gereja pun tetap merasa hampa. Tidak mendapatkan ‘sesuatu’ yang inspiratif, menyegarkan dan meneguhkan imannya sebagai murid Kristus. Tidak ada rasa gembira dan sukacita.

Dalam suasana seperti ini, Paus Fransiskus menyerukan dan mengajak seluruh umat untuk memperbaharui diri agar kembali mengalami sukacita dan kegembiraan. Warta Injil adalah warta gembira dan sukacita.

Malaikat menyampaikan kabar sukacita, Maria dan Elisabeth berjumpa dengan sukacita, para murid bersukacita melihat Yesus yang bangkit, sida-sida pun meneruskan perjalanan dengan sukacita, Yesus pun mengalami kegembiraan dan sukacita dalam Roh Kudus.

Sukacita dan gembira merupakan buah perjumpaan pribadi antara murid dengan Yesus. Bahaya bagi seorang murid tidak terjadi karena mendapatkan ancaman atau tekanan dari orang lain, tetapi karena kegelisahan dan kecemasan yang lahir dari hati yang tamak, nurani yang tumpul dan pengejaran akan kesenangan yang sembrono.

Hidup batin sudah dipenuhi dengan berbagai keinginan konsumeris dan hedonis serta tidak ada lagi tempat bagi kehadiran Allah. Allah tersembunyi dan tidak dikenal lagi oleh orang yang merasa bijak dan pandai. Banyak murid terus menerus berada dalam suasana Prapaska, tanpa mengalami Paska yang membawa sukacita dan gembira.

Para murid perlu menemukan kembali kegembiraan sebagai orang beriman, agar wajahnya bersinar, tidak seperti wajah yang pulang dari pemakaman.

Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

Kredit foto: Sukacita (Faith Gateway)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply