Suka Cita dan Kerinduan Bersama Suku Iwaro di Sorong, Papua (2)

Penulis (keempat dari kiri) dan rekan-rekan di Papua/ FOTO : TEGUH BUDIARTO

Penulis (keempat dari kiri) dan rekan-rekan di Papua/ FOTO : TEGUH BUDIARTO

Beginilah ceritanya:
Dahulu kala pohon sagu di tanah Iwaro hanya sedikit. Karena warga belum banyak, maka pohon sagu banyak yang menjadi tua sehingga banyak sagu berjatuhan begitu saja. Sagu-sagu yang di tanah ini menjadi makanan burung kaswari. Suatu hari ada seseorang yang berjalan di daerah sagu di tanah Iwaro ini. Dia melihat seorang wanita yang menarik diantara pohon sagu. Maka dia mendekati wanita itu dan berhubungan badan dengan dia sampai akhirnya air mani jatuh diantara buah sagu yang sudah di tanah. Mereka pun lalu berpisah.

Tidak begitu lama datanglah seekor burung kaswari memakan buah sagu tersebut. Dia memakan juga benih manusia yang menempel di buah sagu tersebut. Kemudian burung kaswari itupun bertelur. Begitu telurnya menetas, muncullah anak yang bentuknya separo kaswari, dan separonya lagi manusia. Separo badan dan mukanya berbentuk manusia, dan separonya lagi berbentuk burung kaswari. Dia bisa berlari cepat seperti burung kaswari dan memanjat seperti manusia.

Kawanan kaswari di tanah Iwaro selalu berpesta pora buah sagu karena setiap kehabisan buah sagu yang jatuh ke tanah, si anak yang separo kaswari separo manusia ini langsung memanjat pohon sagu dan menggoyang-goyangkannya sehingga buah sagu yang sudah tua berjatuhan dan bisa dimakan kawanan burung kaswari tersebut.

Di sinilah kawanan burung kaswari ini berpesta dan bergoyang sampai berhari-hari. Mereka berjalan kesana-kemari mengitari daerah tersebut dengan membuang kotoran yang akhirnya tumbuh menjadi pohon-pohon sagu. Akhirnya muncullah hutan sagu dari kawanan burung kaswari yang berpesta sambil membuang kotoran ini.

Suatu hari orang yang dulu menemukan wanita di pohon sagu mendatangi pohon sagu lagi. Dia heran karena telah begitu banyak pohon sagu dan begitu riuhnya suara kawanan burung kaswari berpesta sagu. Ketika dia menengok ke dalam, dilihatnya seorang anak yang bentuknya separo manusia dan separo kaswari sedang menggoyang-goyangkan pohon sagu untuk menjatuhkan buah sagu ke tanah di kelilingi banyak burung kaswari di bawahnya. Setiap buah sagu berjatuhan, kawanan burung kaswari ini bersorak kegirangan.

Maka orang ini mendekati anak yang sedang menggoyang-goyangkan pohon sagu tersebut. Begitu orang ini mendekat, larilah anak separo manusia separo kaswari tersebut. Orang itu mengejar, namun tidak bisa menangkapnya karena anak separo manusia dan separo kaswari tersebut berlari sangat cepat seperti burung kaswari. Dan anak yang separo manusia dan separo kaswari ini menjadi nenek moyang orang Iwaro.  Makanya orang Iwaro dikenal sebagai orang yang berlari sangat cepat di dalam hutan.

Mereka juga sangat menghormati burung kaswari. Kalaupun mereka makan daging kaswari, mereka memakannya dengan diam-diam. Sementara hutan sagu yang tumbuh subur dari kotoran burung kaswari ini menjadi lumbung makan mereka, bahkan bisa menjadi lumbung makan dunia. (Menurut sumber, 50% hutan sagu dunia ada di Indonesia; dan dari luasan itu, 80% ada di tanah Papua).

Sayang sumber daya alam yang berkelimpahan tidak diikuti dengan sumber daya manusia. Saya yang sempat mengajar SD dan SMP Saga sempat terpana melihat anak-anak SMP namun belum bisa membaca dan menulis. Setiap ujian nasional, guru-guru sibuk mengerjakan soalnya dan memberi kunci jawaban kepada anak-anak.

 TERKAIT

 

Suka Cita dan Kerinduan Bersama Suku Iwaro di Sorong, Papua (1)

 

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: