Suap Menyuap

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 8:18
===========================
“Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka”

Entah bagaimana membersihkan negara ini dari korupsi. Terlepas dari segala pro dan kontra, badan-badan pemberantas korupsi di Indonesia terus berupaya untuk meringkus orang-orang yang tega merugikan negara dan mengemplang uang rakyat demi kepentingan pribadi atau golongan. Kita terus melihat tersangka baru, tahanan baru bahkan kerap terkejut melihat nama-nama beken yang tertangkap, baik berdasarkan pemeriksaan saksi, pengumpulan bukti-bukti atau yang langsung tertangkap tangan ketika sedang transaksi. Ironisnya, hampir semuanya mendapat hukuman yang jauh dibawah rasa keadilan. Ternyata selain korupsi, suap menyuap pun menjadi momok yang sudah berakar hingga ke sendi-sendi kehidupan masyarakat umum. Hakim bisa disuap, hukum bisa dibeli, bahkan sistem birokrasi sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga diperlukan pelicin di setiap titik agar urusan tidak tersendat dan bisa menggelincir mulus tanpa hambatan. Ada oknum-oknum yang memeras sehingga kita dipaksa untuk menyuap jika tidak mau mendapat masalah, ada yang mempersulit urusan supaya peluang disogok terbuka. Ucapan-ucapan selamat atau terima kasih pun sudah diwakili oleh amplop agar mendapat kemudahan kelak di kemudian hari. Calo, joki, orang dalam, semua ini merupakan perantara yang siap membantu urusan-urusan dengan menyalurkan uang pelicin atau sogokan kepada pihak-pihak berwenang yang tentunya dibagi dengan keuntungan buat dirinya sendiri.

Sebuah bagian dalam Kisah Para Rasul mencatat masalah suap ini, yaitu pada pasal 8:4-25. Pada suatu hari Petrus dan Yohanes diutus Allah mengunjungi tanah Samaria untuk melayani. Kedua rasul ini langsung sibuk bekerja menumpangkan tangan mereka agar segenap rakyat Samaria yang telah bertobat menerima Yesus bisa beroleh Roh Kudus. Di kota itu tinggallah seorang penyihir terkenal bernama Simon yang sebenarnya sudah menyatakan bertobat dan menerima Yesus yang melihat bagaimana kuasa mukjizat Tuhan turun secara luar biasa atas banyak orang. Sebagai orang yang punya latar belakang penyihir, tentu apa yang ia saksikan terlihat begitu menakjubkan. Walaupun ia berprofesi sebagai seorang penyihir besar, namun kelihatannya apa yang dilakukan para rasul lebih hebat dari apa yang bisa ia lakukan terutama ketika melihat bagaimana Roh Kudus mengalir kepada para orang Samaria yang telah dibaptis sehingga ia pun tertarik meningkatkan ilmunya.  Ia ingin punya kuasa seperti itu. Ketika keinginannya tak tertahankan lagi, ia pun menawarkan suap. “Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka” (Kisah Para Rasul 8:18). Katanya: “Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus.” (ay 19). Seperti pola pikir yang ada pada masyarakat saat ini, demikian pula Simon mengira bahwa uang bisa membeli segalanya, termasuk karunia Allah. Menyogok rasul untuk membeli karunia Allah? Itu pemikiran yang keterlaluan. Jelas kedua rasul langsung menolak dengan tegas. Petrus pun segera menegurnya dengan keras. “Tetapi Petrus berkata kepadanya: “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.” (ay 20). Petrus melanjutkan tegurannya dengan memberi penegasan akan kesalahan Simon dan menyuruhnya bertobat. “Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.” (ay 21-23). Untunglah Simon tidak degil dan langsung menyesali perbuatannya. Kita bisa bayangkan seandainya ia tidak melakukan itu, murka Allah akan membinasakannya dengan sangat mengenaskan.

Kalau kita mundur ke belakang, kasus suap menyuap ini sudah terjadi sebelumnya. Dalam kitab Pengkotbah kita bisa menemukan itu. “Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.” (Pengkotbah 3:16). Bukankah hal yang sama kita lihat pula sekarang? Keadilan menjadi sesuatu yang semu karena semua itu bisa dibeli. Fakta bisa diputarbalikkan dan yang terang-terang salah pun bisa berubah dianggap benar. Di tempat dimana seharusnya kita bisa mencari keadilan, justru disana seringkali menjadi pusat dari segala ketidakadilan. Itu terjadi di jaman dulu, itu masih terjadi di jaman sekarang.

Mari kita kembali kepada kisah Petrus dan Yohanes yang bertemu Simon sang penyihir di Samaria di atas. Simon memang termasuk beruntung karena ia segera menyesali perbuatannya. Tapi ada begitu banyak orang hari ini yang masih saja berkompromi dengan suap menyuap, bahkan menganggap itu sebagai gaya hidup yang memang sudah menjadi sesuatu yang wajar. Berdosa menjadi urusan nanti saja, yang penting sekarang licinkan dulu urusannya. Padahal masalah suap ini tidak main-main, bahkan merupakan sebuah penghinaan bagi Tuhan, “Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia.” (Amsal 14:2). Selain penghinaan, Tuhan juga menganggap ini sebagai sebuah kekejian bagiNya. “karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.” (3:32). Berlaku curang dengan cara menyuap untuk kepentingan duniawi saja sudah salah, apalagi jika berpikir bahwa karunia Tuhan bisa dibeli. Karunia Tuhan tidak bisa dibeli. Keselamatan tidak bisa dibeli, Tuhan tidak bisa disuap dengan cara apapun.  Semua ini bisa mengarahkan kita kepada kebinasaan. Ingatlah bahwa dalam kasus seperti ini yang bersalah bukan hanya satu pihak melainkan dua pihak. Pemberi dan penerima, penyuap dan yang disuap sama-sama salah dan akan menerima hukuman yang sama pula.

Dalam serangkaian peraturan tentang hak-hak manusia yang tercatat dalam Keluaran, kita membaca salah satunya berbicara mengenai kasus suap ini. “Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.” (Keluaran 23:8). Suap bisa memutarbalikkan kebenaran dan melukai rasa keadilan. Dan itu semua tidak akan pernah berkenan di hadapan Tuhan. Kita mungkin bisa merasa lebih mudah saat ini, urusan bisa jauh lebih cepat, terutama ketika sebuah proses memang sengaja dipersulit agar mau tidak mau orang harus menyuap supaya lancar. Kita mungkin rugi waktu dan tenaga, kita mungkin harus belajar bersabar dan tabah ketika dipersulit dan mendapat ketidakadilan jika tidak menyuap, tapi itu jauh lebih baik, karena dengan menyuap sebenarnya kita tengah melakukan kekejian dan penghinaan bagi Tuhan. Mungkin kita terpojok karena rekan-rekan di pekerjaan menerima suap, mungkin kita mendapat banyak kesulitan karena memilih bersih, tapi biar bagaimanapun itu bukanlah alasan untuk ikut-ikutan berlaku curang. Titus mengingatkan demikian: “Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.” (Titus 2:9-10). Dengan melakukan suap artinya kita tidak memuliakan Allah, melainkan menghina Dia. Tentu tidak ada satupun dari kita yang dengan sengaja berani menghina Tuhan bukan? Oleh sebab itu, hindarilah praktek-praktek suap menyuap, baik di posisi penyuap ataupun yang disuap. Berbuatlah jujur dan bersih apapun resikonya, karena itulah yang berkenan di hadapan Tuhan.

Melakukan suap berarti tidak memuliakan bahkan menghina Tuhan 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: