Suap Menyuap (2)

Ayat bacaan: Pengkotbah 3:16
=========================
“Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.”

Hakim yang tertangkap karena suap, itu bukan lagi hal baru. Hukuman yang sangat ringan terhadap orang yang sudah merugikan negara dan rakyat yang hidup didalamnya, itu pun tidak lagi mengherankan. Rakyat kecil yang dihukum berat meski kesalahannya ringan, sementara pejabat yang bersalah masih mendapat fasilitas mewah di selnya bahkan bisa berjalan-jalan di luar, itu pun sudah biasa kita saksikan. Oknum polisi lalu lintas yang bersembunyi tepat di belokan untuk mencari mangsa, itu juga biasa. Seorang tetangga saya yang berusia sekitar 70 tahun baru saja meninggal tertabrak motor. Sebagai warga biasa yang hidup miskin, ia memilih untuk tidak melapor ke polisi karena takut diduiti lagi jika berurusan dengan aparat penegak hukum. “Melapor ke polisi bakal habis uang lagi, sementara untuk pemakaman saja saya sudah tidak tahu harus darimana..” kata anaknya lirih. Begitulah potret keadilan di negara kita hari ini. Di luar kita mengalami perlakuan tidak adil, ketika mencari keadilan di lembaga-lembaga peradilan kita tetap saja tidak mendapatkannya, bahkan dalam banyak kasus ketidakadilan justru paling banyak terjadi di lembaga-lembaga yang seharusnya menjadi sumber keadilan yang melindungi setiap warga negara, tanpa pandang bulu, tanpa pilih kasih. Ini sesungguhnya merupakan masalah klasik, karena sejak jaman dahulu kejadian yang sama sudah terjadi. Pengkotbah mencatat hal itu dengan sangat jelas. “Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.” (Pengkotbah 3:16).

Namanya pengadilan seharusnya menjadi payung hukum dan keadilan, tapi justru disana terdapat ketidakadilan. Keadilan bisa dibeli dan dimanipulasi sekehendak hati. Budaya suap seperti diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya tanpa pernah terputus. Suap memungkinkan orang untuk membeli hukum dan keadilan, suap mampu memutarbalikkan fakta dan kebenaran sedemikian rupa sehingga orang yang bersalah bisa terbebas dari hukuman, minimal dihukum serendah-rendahnya. Suap mampu melakukan berbagai manipulasi tanpa peduli melukai rasa keadilan masyarakat. Mungkin di dunia mereka bisa lolos dan memanipulasi keadilan dengan menyuap, tapi mereka lupa bahwa keadilan pada suatu saat tidak lagi bisa dibeli ketika berhadapan dengan Tuhan sebagai Hakim. Berapa pun harta yang kita punya tidak akan bisa cukup untuk membeli penghakiman Tuhan.

Seperti yang sudah kita lihat kemarin, di mata Tuhan sikap menyuap atau membeli keadilan ini jelas merupakan sesuatu yang sangat Dia benci bahkan Dia anggap sebagai penghinaan. “Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia.” (Amsal 14:2) Bukan itu saja, suap pun digolongkan sebagai sebuah kekejian. “Karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.” (3:32). Pada suatu hari pertanggungjawaban kita atas segala perbuatan yang pernah kita lakukan semasa hidup akan diminta dan disana tidak akan ada pemutarbalikan fakta yang mungkin untuk diusahakan, tak peduli berapapun harta yang kita miliki. Pada akhirnya nanti biar bagaimanapun akan ditegakkan, dan tidak satupun yang bisa lolos dari kejahatan-kejahatan yang dilakukan.

Paulus mengingatkan jemaat Roma: “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” (Roma 14:12), lalu Penulis Ibrani mengatakan “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Suap merupakan pelanggaran serius yang berpotensi membuat kita dihapuskan dari kitab kehidupan. Pengkotbah pun tahu bahwa hal ini pada saatnya nanti harus dipertanggungjawabkan. “Berkatalah aku dalam hati: “Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya.”(Pengkotbah 3:17). Cepat atau lambat, ingatlah bahwa saat ini akan tiba.

Banyak orang sayangnya berpikir singkat saja dengan menyepelekan pelanggaran suap menyuap ini. Bahkan sejak dulu pun demikian. Di masa hidup Pengkotbah kita sudah melihatnya, di masa Mikha pun kasus suap menjadi salah satu sumber kemurkaan Tuhan yang begitu menakutkan. Lihatlah betapa bobroknya perilaku para penegak hukum, imam bahkan nabi di jaman Mikha. “Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, padahal mereka bersandar kepada TUHAN dengan berkata: “Bukankah TUHAN ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!” (Mikha 3:11). Lantas di Perjanjian Baru pun kita menemukan kisah mengenai percobaan suap yang dilakukan Simon, mantan penyihir terkenal seperti yang bisa dibaca dalam  Kisah Para Rasul 8:4-25 seperti yang sudah kita bahas kemarin. Berulang-ulang kita melihat suap masih saja dilakukan, bahkan hingga hari ini, padahal jauh sebelumnya Tuhan telahmengingatkan dalam kitab Keluaran agar kita tidak melakukan pelanggaran suap menyuap ini. “Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.” (Keluaran 23:8).

Melihat bagaimana seriusnya dosa suap menyuap ini dan betapa penyakit ini sudah turun temurun,  marilah kita hari ini dengan tegas menolaknya. Baik menyuap maupun menerima suap, keduanya sama seriusnya, dan keduanya harus kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan. Suap dalam bentuk apapun yang dilakukan pelaku atau penerima sama-sama merupakan penghinaan dan kekejian di hadapan Tuhan seperti yang bisa kita lihat dari ayat-ayat di atas. Saya sadar betul memang sulit untuk hidup tanpa memberi uang pelicin atau suap dalam berbagai urusan di negara kita. Mungkin waktu kita akan tersita, mungkin urusan menjadi berbelit-belit dan lebih sulit, mungkin kesabaran kita pun akan diuji, antrian kerap dipotong oleh orang-orang yang bayar dan sebagainya. Tetapi jauh lebih baik untuk repot, waktu terbuang dan mengalami proses berbelit dan lama sebagai konsekuensi dari kejujuran daripada kita mendapat masalah di hari penghakiman kelak. Kita masih tetap bisa berhasil meski tanpa menyuap, karena semua berkat dan keberhasilan itu sesungguhnya berasal dari Tuhan dan bukan lewat orang lain. Jika kita bisa menyenangkan Tuhan dan perilaku jujur kita, kenapa tidak? Marilah kita mulai dari diri kita sendiri untuk mengatakan tidak kepada suap menyuap. Selain kita sendiri yang untung, saya percaya cepat atau lambat itu bisa memberi dampak positif bagi kota, bangsa dan negara.

Ketidakadilan bisa terjadi di rumah keadilan, tetapi tidak akan pernah bisa menghindari penghakiman Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: