Stereotipe

Ayat bacaan: Ibrani 11:31
=====================
“Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.”

stereotipe, rahab

Musik itu universal, tapi jazz bagi sebagian orang dianggap eksklusif milik hanya sebagian orang. Salah seorang siswa saya pernah berkata sambil tertawa ketika mengetahui saya mengelola sebuah situs jazz. “wah jazz? berarti orang kaya dong pak..” Ya, begitulah nasib jazz di Indonesia. Musik jazz di negeri kita seringkali mendapat gambaran yang salah. Beberapa stereotipe acap kali ditimpakan secara tidak adil kepada jenis musik ini. Jazz adalah musik kaum elite, kaum eksklusif, jazz adalah musik orang kaya, atau bahkan di kalangan anak muda jazz dianggap sebagai musik orang tua yang membosankan, bikin ngantuk, atau bagi sebagian orang lagi merupakan musik yang komplikatif, ribet dan sulit dicerna. Padahal faktanya, ada lebih dari 50 sub genre jazz dan akan terus bertambah. Dengan keragaman ini, pastinya ada satu-dua sub genre yang akan cocok dengan pendengar jenis musik lain di luar jazz. Memang ada yang kompleks, sulit dicerna bagi pendengar awam, namun tidak sedikit pula yang easy listening, bahkan tampil dalam “perkawinan” harmonis dengan jenis musik lainnya seperti rock, pop, RnB bahkan etnik dan dangdut sekalipun.

Sadar atau tidak kita sering terbiasa untuk memberi label, cap atau stereotipe kepada suku, bangsa, ras, budaya, kalangan, golongan tertentu , dan sebagainya. Suku A itu malas, suku B itu terkenal pelit, suku C itu penipu, dan sebagainya. “Pantas saja kasar, dia suku X sih..” , “ya jelas kaya, dia kan suku Y”, “dasar X, tidak heran..” kata-kata seperti ini begitu mudahnya keluar dari mulut kita baik dalam keadaan disadari atau tidak. Padahal Allah tidak membeda-bedakan orang, dan tidak menganjurkan kita untuk memberi cap atau stereotipe seperti ini kepada siapapun.

Mari kita lihat kisah mengenai Rahab dalam kitab Yosua. Rahab adalah wanita pelacur di Yerikho. Pada suatu ketika datanglah dua pengintai utusan Yosua untuk mengamati Yerikho. Mereka datang dan menginap di rumah penginapan milik Rahab. Kedatangan dua pengintai ini ternyata sampai ke telinga raja Yerikho, dan segeralah ia memerintahkan bawahannya untuk menangkap kedua mata-mata itu ke penginapan Rahab. Ternyata Rahab memilih untuk menyembunyikan kedua pengintai itu dan karenanya mereka selamat dari penangkapan. Mengapa Rahab menyelamatkan pengintai yang hendak mengambil alih kotanya? Inilah alasan Rahab seperti yang ia katakan kepada kedua pengintai.Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.” (Yosua 2:9-11). Rahab ternyata memiliki iman terhadap Allah Israel. Ia percaya bahwa jika Allah sudah memutuskan demikian, maka itulah yang akan terjadi. Sebab Tuhan, Allah Israel adalah Allah atas langit dan bumi. Ia tahu benar bahwa jika Allah berkehendak, tidak akan ada manusia yang mampu mencegah, termasuk bangsanya sendiri. Ini menunjukkan iman Rahab yang luar biasa.

Siapakah Rahab? Ia adalah wanita pelacur. Dalam posisi demikian, Rahab tentulah mendapat cap sebagai wanita penuh noda dan dosa. Hidupnya penuh aib, namun ternyata ia memiliki iman yang penuh akan Allah. Ia pun kemudian selamat ketika bangsa Israel menaklukkan Yerikho. Tidak saja dirinya sendiri, tapi seisi rumahnya pun selamat. “Demikianlah Rahab, perempuan sundal itu dan keluarganya serta semua orang yang bersama-sama dengan dia dibiarkan hidup oleh Yosua. Maka diamlah perempuan itu di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang, karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang disuruh Yosua mengintai Yerikho.” (Yosua 6:25). Iman Rahab ini menjadi harum, hingga di kemudian hari Penulis Ibrani pun menggolongkan Rahab sebagai pahlawan iman sejajar dengan sederetan nama besar seperti Musa, Abraham, Ishak, Yusuf, Yakub dan lain-lain. “Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.” (Ibrani 11:31). Agaknya setelah kejadian itu, Rahab bertobat meninggalkan masa lalunya dan mulai hidup dengan benar. Ia menikah dengan Salmon, menjadi ibu rumah tangga yang baik, dan lahirlah Boas. Kita tahu selanjutnya Boas menikah dengan Rut, dan Yesus pun lahir dari garis keturunan ini. Lihatlah nama Rahab tercantum dalam silsilah Yesus. “Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai..” (Matius 1:5).

Alkitab mencatat banyak kisah stereotipe yang dipatahkan. Lihatlah bagaimana pemungut cukai yang doanya lebih didengarkan ketimbang orang Farisi ahli Taurat (Lukas 18:9-14), lihat bagaimana Yesus menunjukkan kasihnya terhadap orang-orang berdosa yang sudah mendapat cap rendah/hina di masa itu. Yesus menerima undangan pemungut cukai dalam Markus 2:13-17 dan sebagainya. Tuhan tidak pernah memandang muka. Ia tidak memandang masa lalu kita yang kelam, dosa-dosa kita yang bertumpuk di waktu lalu. Pertobatan sungguh-sungguh akan selalu berharga dan bermakna di hadapan Tuhan. “Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.” (Efesus 6:9b). Jika Tuhan tidak memandang muka, demikian pula kita seharusnya tidak boleh memberikan stereotipe-stereotipe kepada siapapun. Stereotipe akan selalu menjadi penghambat untuk menilai sesuatu secara objektif. Stereotipe akan mengarah kepada menghakimi orang lain, dan itu jelas merupakan pelanggaran. “Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.” (Yakobus 2:9). Berapa banyak stereotipe sudah tertanam dalam pikiran kita? Seberapa sering hal itu muncul sebagai penghalang bagi kita untuk menjadi terang dan garam bagi banyak orang? Seberapa banyak hal itu menghambat diri kita untuk melihat potensi orang lain bahkan diri sendiri? Kita selalu diminta untuk mendasarkan segala sesuatu kepada semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4:8). Sedangkan stereotipe hanya akan mengarah kepada bentuk-bentuk penghakiman yang tidak akan pernah selalu benar. Semua orang mendapat kesempatan yang sama untuk bertobat dan ditahirkan dari dosa-dosa di masa lalu, tidak terkecuali wanita pelacur seperti Rahab sekalipun bisa mendapat anugerah keselamatan yang luar biasa. Mari kita hancurkan segala bentuk stereotipe yang melekat dalam pikiran kita hari ini.

Stereotipe adalah penghalang bagi kita untuk melihat segala sesuatu secara objektif dari sudut pandang positif

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply