Stepping into a Quiet Place (2)

(sambungan)Kalau anda melihat Injil, maka anda pun akan mendapatkan keteladanan yang sama dari Yesus sendiri. Kita tahu bagaimana sibuknya Yesus melayani ditengah kerumunan orang kemanapun Dia pergi. Begitu banyak orang berbondong-bondong mendatangiNya…

(sambungan)

Kalau anda melihat Injil, maka anda pun akan mendapatkan keteladanan yang sama dari Yesus sendiri. Kita tahu bagaimana sibuknya Yesus melayani ditengah kerumunan orang kemanapun Dia pergi. Begitu banyak orang berbondong-bondong mendatangiNya hampir setiap saat, bahkan ada yang hanya untuk sekedar menyentuh jubahNya atau juga di malam hari misalnya ketika Nikodemus menemuinya seperti yang tertulis dalam Yohanes 3:1-21. Kita bisa melihat betapa dunia pada saat itu persis sama seperti sekarang. Ada begitu banyak orang yang  benar-benar membutuhkan pertolongan, rindu akan jamahan Tuhan yang mampu memberi pertolongan, kesembuhan, kelepasan. Dalam beberapa kesempatan kita bahkan melihat jumlah yang begitu besar hingga mencapai ribuan jiwa, seperti yang bisa kita lihat dalam kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan. Yesus melayani sepanjang waktu tanpa kenal lelah. Dia menjangkau semua orang tanpa terkecuali, tanpa peduli siapa ataupun apa latar belakangnya. Tapi lihatlah bahwa Yesus pun mencari waktu-waktu khusus untuk dipakai berdoa kepada Bapa. Alkitab mencatat bahwa berkali-kali Yesus ingin mengambil waktu untuk menyendiri sejenak buat berdoa sendirian, tetapi kerumunan orang seperti enggan melepaskanNya. “Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.” (Matius 14:13). Tetap saja Yesus tidak mengabaikan saja mereka. Dikatakan, “maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.” (ay 14). Mukjizat lima roti dan dua ikan yang mampu mengenyangkan lima ribu orang belum termasuk wanita dan anak-anak juga merupakan bentuk kepedulian Yesus kepada kebutuhan manusia. Pada kesempatan lain kita mendapati contoh lain: “Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka.” (Lukas 4:42). Selama pelayananNya di muka bumi ini Yesus bersinggungan dan berinteraksi dengan begitu banyak orang hampir-hampir tanpa jeda. Rakyat biasa, para rasul, pejabat, petinggi militer, janda, anak-anak, orang-orang sakit parah, orang yang dirasuk setan, para petinggi agama, orang-orang yang terbuang dan diasingkan seperti pengidap kusta, tidak terkecuali pula orang-orang berdosa seperti pemungut cukai, pezinah dan lain-lain, bahkan keluarga-keluarga yang baru kehilangan anggota keluarganya, mereka semua mengalami perjumpaan dengan Kristus.  Menghadapi semua ini Yesus dengan sabar melayani satu persatu dan menjawab segala ratapan mereka. Tetapi lihatlah bahwa meski Yesus sibuk dan selalu tergerak atas rasa belas kasihanNya, Dia tetap berusaha pula meluangkan waktu untuk mencari tempat sepi agar bisa berdoa kepada Bapa di Surga. Dan seringkali itu tidak mudah, karena untuk mencari keheningan dan kesunyian Yesus harus rela repot naik ke atas bukit. Disanalah Dia bisa mengambil waktu sejenak jauh dari kerumunan dan keramaian untuk bersekutu dengan Bapa.

Kita bisa mendapati contoh yang sama sebelum kisah angin sakal yang menerpa murid-murid Yesus seperti yang kita lihat dalam renungan kemarin. “Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. (Matius 14:23). Atau lihat pula ketika Yesus menarik diri untuk menghabiskan waktu selama empat puluh hari di padang gurun untuk berdoa dan berpuasa, yang bisa kita baca dalam perikop “Pencobaan di padang gurun.” (Matius 4:1-11). Menjelang akhir hidupNya di dunia, kita bisa melihat bahwa Yesus kembali menarik diri dari kerumunan termasuk dari para muridNya untuk berdoa sendirian di taman Getsemani. (Markus 14:32-42). Disana dikatakan “Yesus pergi lebih jauh sedikit lalu tersungkur ke tanah dan berdoa.” (ay 14a:BIS). Semua ini menunjukkan contoh dari Yesus sendiri akan pentingnya ,engambil waktu secara khusus, di sebuah tempat dimana kita bisa dengan khusyuk dan tenang dalam berdoa, merenung dan mendengar Tuhan. Sebuah tempat yang sepi, jauh dari hiruk pikuk yang mampu mengganggu konsentrasi dan fokus kita.

Jika Yesus Kristus saja menunjukkan pentingnya mencari kesunyian dan ketenangan untuk berhubungan dengan Tuhan, bukankah ini artinya merupakan hal yang sangat penting pula bagi kita? Jika demikian pertanyaan bagi kita selanjutnya adalah, sudahkah kita menyediakan waktu yang cukup untuk berdiam diri bersama Tuhan, atau segala kesibukan pekerjaan, berbagai tugas dinas, rapat, tugas-tugas yang menuntut deadline atau malah berbagai sarana hiburan lewat berbagai media seperti televisi, majalah, koran dan radio masih saja membuat kita rela mengesampingkan saat-saat teduh dan waktu-waktu kita untuk berdoa serta bersekutu intim dengan Tuhan? Kita tidak perlu naik jauh ke atas bukit untuk memperoleh itu, kita tidak perlu melakukan perjalanan jauh ke tengah gurun untuk itu. It’s just a matter of taking a step into our own room and finding a quiet time, as simple as that. Kalaupun ada orang-orang yang berbagi ruangan dengan kita, pasti selalu ada saat yang bisa kita cari untuk itu. Pada akhirnya masalahnya hanya terletak pada kemauan untuk menyadari pentingnya menyediakan waktu untuk berdiam diri bersama Tuhan. Ambillah saat teduh yang khusus, tidak masalah subuh, siang, sore atau malam, dan rasakanlah bagaimana jiwa kita dikuatkan dan iman kita bertumbuh ketika kita menarik diri sejenak dari keramaian dan rutinitas sehari-hari untuk membangun hubungan yang sangat erat dengan Tuhan.

Jangan abaikan pentingnya mengambil waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply