Ayat bacaan: Yakobus 2:1
====================
“Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.”

“Maaf bu, dilarang duduk di sini.” kata seorang satpam di sebuah mal kepada ibu tua yang tampaknya kelelahan. Si ibu pun kemudian meminta maaf dan pergi meninggalkan kursi. Saya kebetulan sedang berada di dekat sana melihat barang-barang pajangan. Tidak lama kemudian ada seorang ibu lainnya yang dari penampilan terlihat jauh lebih berada. Satpam tadi masih berada tidak jauh menghadap ke arah kursi. Lucunya, kali ini ia tidak menegur, bahkan ia beranjak pergi membiarkan ibu kedua ini duduk santai di atas kursi yang menjadi salah satu item jualan. Ini adalah satu contoh standar ganda yang sering terjadi di tengah-tengah masyarakat. Saya pun pernah melihat aparat yang berkendara tanpa pelat nomor kendaraan bahkan tidak pakai helm bisa hilir mudik bebas, sementara masyarakat biasa malah kadang dicari-cari kesalahannya. Pelayanan yang berbeda pada tamu berbeda, perilaku tidak adil pada mobil yang hendak parkir dan banyak lagi. Standar ganda mengacu pada sebuah standar atau ukuran yang dikenakan secara tidak sama kepada semua orang alias pemberlakuan sistim, ketetapan atau perilaku yang tidak adil. Perilaku seperti ini bukan lagi hal aneh. Yang menyedihkan, standar ganda seperti ini pun jelas menjangkiti banyak orang percaya yang ikut-ikutan bersikap sama. Ada gereja yang membedakan perlakuan terhadap jemaat. Jika kaya maka diservis habis-habisan, atau disediakan kursi di depan, tapi bagi jemaat biasa cuma disambut ala kadarnya dan tidak boleh duduk di bagian depan walau kursi-kursinya kosong. Ini nyata terjadi seperti yang diceritakan oleh seorang teman ketika ia mengunjungi sebuah gereja di kota lain. Ada juga yang pernah bercerita bahwa dalam melakukan kunjungan pelayanan, ada sebuah gereja yang pilih-pilih siapa yang mau didahulukan. Kalau kenal atau punya pengaruh didahulukan, yang biasa-biasa dinomorduakan atau malah diabaikan. Standar ganda terjadi dimana-mana.

Kecenderungan ini tampaknya sudah terjadi sejak dahulu, karena Yakobus pernah mengingatkan agar orang percaya tidak ikut-ikutan sesat dalam membeda-bedakan orang. “Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.”(Yakobus 2:1). Ia berkata bahwa sebagai orang-orang yang beriman, percaya pada Yesus, tidaklah pada tempatnya iman itu diamalkan dengan memandang muka. Ini adalah seruan penting untuk menangkis kebiasaan dunia menetapkan standar ganda karena Kristus sendiri tidak memandang muka dalam melayani. Dia melakukan banyak mukjizat dalam masa-masa kedatanganNya ke dunia tanpa memandang latar belakang orang yang dilayani. Yesus sudah membuktikan sendiri bahwa Dia mau menjadi sahabat orang miskin, pengemis, pemungut cukai, penderita kusta yang pada masa itu dianggap penyakit menjijikkan, orang-orang terbuang, bahkan sahabat dari orang-orang berdosa sekalipun seperti yang tertulis dalam Matius 11:19.

Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia tanpa membedakan siapapun. Perhatikan kata Yesus berikut: “..Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (Yohanes 10:15b-16). Yesus datang untuk semua manusia tanpa terkecuali. Amanat agung pun mengatakan hal yang sama. “Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20). Yesus mengatakan semua bangsa, tanpa memandang muka. Maka tepatlah jika Yakobus mengingatkan bahwa jika kita beriman pada Kristus, sungguh tidak tepat apabila kita mengamalkan iman kita dengan memandang muka, memberlakukan standar ganda, bersikap tidak adil dan pilih kasih.

Selanjutnya, lewat Paulus kita diingatkan seperti ini: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini..”(Roma 12:2a). Ketika orang dunia banyak yang memandang muka, hendaklah kita yang beriman pada Yesus Kristus tidak ikut-ikutan serupa berperilaku seperti itu. Kalau kita kembali pada Yakobus 2, kita melihat bahwa dengan membeda-bedakan, artinya kita sudah bertindak menghakimi dengan pikiran yang jahat (ay 4). Yakobus kemudian mengingatkan bahwa orang miskin pun bisa dipilih Tuhan untuk menjadi kaya dalam iman bahkan menjadi ahli waris Kerajaan. (ay 5). Sebaliknya, orang kaya bisa berhati jahat, menindas dan menghujat Allah (ay 6,7). Apa yang harus kita lakukan ada pada ayat berikutnya. “Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik.” (ay 8). Kita harus memandang orang lain dengan sebuah kaca mata kasih. Alangkah ironis jika seseorang sudah menjaga hidupnya dari banyak kecemaran namun melupakan hal yang satu ini dan masih hidup dengan memandang muka. Konsekuensinya tidak main-main. “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” (ay 10).

Berhentilah memberlakukan standar ganda dan hargai semua orang secara sama dengan kasih yang sama pula. Ingatlah bahwa mereka pun dicintai Tuhan. Tuhan sama perdulinya pada mereka seperti halnya pada kita. Baik dalam pekerjaan, dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pelayanan, kenakanlah ukuran yang sama. Perlakukan semua orang dengan adil, layani semuanya dengan keseriusan yang sama. Ingatlah bahwa ukuran yang kita pakai untuk mengukur akan kembali diukurkan pada kita (Matius 7:2). Seperti halnya Kristus turun ke bumi untuk menyelamatkan semua orang tanpa memandang muka, hendaknya kita pun mampu memandang setiap orang dengan hormat dan dengan sikap yang sama, sebab iman pada Yesus Kristus adalah iman yang diamalkan dengan tidak memandang muka

Kenakan kaca mata kasih terhadap siapapun itu tanpa terkecuali

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.