st-thomas-the-apostle-of-india

KARENA Thomas mempunyai karakter yang berbeda dengan para Rasul lain, maka ia sering dikatakan “ngeyel” atau kurang percaya.Namun gambaran ini kurang tepat.

Contohnya: Ketika Yesus mendengar berita tentang Lazarus sakit, dan mengambil keputusan untuk kembali ke Yudea, namun para murid mereaksi: “Rabi baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali kesana?” Yesus bukan takut dengan orang-orang Yahudi sampai Dia menunda kepergiannya ke Betania, namun dengan sengaja Yesus mau memperlihatkan kuasa Tuhan, setelah Lazarus mati. Dan ketika Yesus sungguh mau kembali ke Yudea,
Thomas dengan tegas mengajak kawan-kawannya: ”Mari kita pergi juga. Biarlah kita mati bersama Dia.”

Thomas tidak mau membiarkan Yesus pergi sendirian dan menantang bahaya. Inilah sikap pemberani.

Thomas seorang jujur dan polos, yang tidak malu mengkaui kekurangannya. Pada waktu perjamuan terakhir Yesus berpamitan pada para muridNya dan berjanji akan menyediakan tempat bagi mereka, Thomas tanpa ragu-ragu bertanya: “ Kami tidak tahu kemana Engkau pergi. Jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Keraguan Thomas ini justru mendorong Yesus untuk membuka rahasia: “Akulah jalan, kebenaran dan hidup.Tak seorangpun sampai kepada Bapa tanpa melalui Aku.”

Jadi Thomas adalah sosok pribadi yang punya prinsip, tidak ikut-ikutan tetapi ingin kejelasan, maka tidak pernah malu bertanya kalau belum mengerti. Dan sikap Thomas yang paling menonjol yaitu pada peristiwa kebangkitan Yesus dari mati. Pada waktu Yesus menampakkan Diri kepada murid-murid yang lain.

Thomas tidak hadir. Ketika murid-murid lain menceriterakan kepada Thomas, bahwa Yesus yang bangkit telah menampakkan Diri kepada mereka, maka reaksi Thomas spontan:” Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukkan jariku kedalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Dan yang mengagumkan yaitu Yesus mengabulkannya.

Di satu pihak, sikap tidak mudah percaya seperti ini seringkali dianggap negatif. Tetapi dilain pihak sikap ini sebenarnya mendorong manusia untuk memper-tanggung-jawabkan imannya secara rasional. Separti surat Santo Petrus menga-takan: “ Siap sedialah pada segala waktu untuk memberikan pertanggungan jawab kepada setiap orang…”(1 Petr,3:15).

Santo Agustinus juga menulis: “Dengan pengakuan Thomas dan dengan menjamah luka Tuhan, peristiwa ini mengajarkan kepada kita apa yang harus dan patut kita percayai. Thomas melihat sesuatu dan percaya pada sesuatu yang lain. Matanya memandang ke-manusiaan Yesus, tetapi imannya mengkaui ke-Allahan Yesus, sehingga de-ngan gembira dan penuh penyesalan Thomas berseru: Ya Tuhanku dan Allahku.

Photo credit: St. Thomas (For All Saints)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.