Sosialisasi Budaya Kehidupan pada Para Romo, Bruder Sepuh (2)

DALAM pesan Paska 2012, saya mengajak seluruh umat “Dengan Semangat Paska Kita Bangun Budaya Kehidupan” dengan kasih dan pengampunan.

http://pujasumarta.multiply.com/journal/item/431/Dengan_Semangat_Paska_Kita_Bangun_Budaya_Kehidupan!

http://www.antaranews.com/berita/304920/semangat-paskah-untuk-kehidupan-penuh-kasih-dan-pengampunan!

Pada zaman kita dewasa ini,  berbagai peristiwa kematian yang tidak wajar  mewarnai  kehidupan kita. Kekerasan telah merasuk dalam kehidupan keluarga kita (KDRT): aborsi, pembunuhan, bunuh diri. Bahkan dengan rekayasa terencana terjadi terorisme yang melenyapkan kehidupan orang lain atau diri sendiri. Kita hidup dalam budaya kematian  (culture of death).  Kematian Yesus pun  merupakan kematian tidak wajar, karena rekayasa Imam Agung dan sekutunya yang  iri hati dan benci pada Yesus, karena Yesus unggul dalam kasih dan  keutamaan.

Sekretaris Eksekutif KWI Romo Edy Purwanto melaporkan kegiatan Seminar Regional Asia tentang terorisme yang diselengarakan Senin, 30 April 2012, jam 08.30-21.00 diikuti oleh 40 peserta dari  8 negara ASEAN: Indonesia, Malaysia, Singapura, Cambodia, Thailand, Myanmar, Brunei Darrusalam, Filiphina) di Hotel Borobudur. Topiknya  Seminar on the Outcome of the Research: Preventive Side of Terrorism. Research on the Motivation of Terrorist and Root Causes of Terrorism.

Fundamentalisme

Lembaga Penelitian INSEP (Indonesian Institute for Society Empowerment) mengeluarkan sebuah buku XXVII + 238 halaman berjudul: “Al-Zaytun the Untold Stories” yang berisi investigasi terhadap pesantren ini.

Dalam salah satu kesimpulannya, INSEP menuliskan demikian: “Ma’had Al-Zaytun adalah sebuah lembaga pendidikan Islam yang didirikan oleh para tokohnya berdasarkan pemikiran ulang terhadap eksistensi sebuah gerakan keagamaan yang mereka lakukan, yaitu NII KW9. Menurut mereka, gerakan bawah tanah yang mereka lakukan selama ini ternyata tak  memungkinkan terwujudnya cita-cita mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Setelah melalui diskusi panjang yang berakhir di Multazam, mereka berkesimpulan tentang perlunya pembangunan lembaga pendidikan untuk menopang terwujudnya masyarakat Islam di Indonesia. Demi tujuan itu, mereka mendirikan Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) yang salah satu kegiatannya adalah mengembangkan Ma’had Al-Zaytun” (hlm. 215).

Tentang buku itu memang tidak langsung berhubungan dengan masalah terorisme dalam seminar ini. Namun demikian, tidak begitu saja bisa diabaikan. Penelitian yang dilakukan oleh INSEP sampai pada kesimpulan demikian: “Motif ideologis yang didasarkan atas ajaran agama merupakan faktor dominan dalam setiap kasus terorisme di Asia Tenggara.

Dibandingkan dengan motif lainnya, motif agama tidak saja diakui oleh para pemimpin tindak pidana terorisme, organisator gerakan tetapi juga oleh para pengikut. Hal itu dapat dilihat dari jawaban responden yang berjumlah 110 orang (para tahanan kasus pidana terorisme yang ada di penjara-penjara seluruh Indonesia yang kini mencapai jumlah 174 orang), 45,5% menyatakan bahwa tindak pidana terorisme yang mereka lakukan berdasarkan atas alasan ideologis religous.

Selebihnya masing-masing, 20% karena alasan solidaritas, 12,7% karena mentalitas gerombolan, 10,9% karena dendam, 9,1% karena situasional, dan 1,8% karena separatisme” (Executive Summary of Research on Motivation and Root Causes of Terrorism, oleh Ketua Tim Peneliti, Ahmad Syafi’I Mufid).

Sesudah diskusi umum dan juga diskusi kelompok memang kemudian dibuat beberapa rekomendasi yang salah satunya adalah pentingnya proses deradikalisasi dan reedukasi dalam konteks ke-Indonesia-an yang plural ini.

Budaya kematian

Keprihatinan tersebut terungkap juga dalam Seminar Regional negara-negara Asia tentang Fundamentalism and Relativism in Asia: Their Impact in the Life of the Youth, silakan klik:

ttp://pujasumarta.multiply.com/journal/item/436/Fundamentalism_and_Relativism_in_Asia_Their_Impact_in_the_Life_of_the_Youth!

Saya mengikuti seminar tersebut karena keprihatinan saya terhadap kecenderungan-kecenderungan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat akhir-akhir ini yaitu kekerasan yang bermuara pada kematian. Fundamentalisme beragama bisa berwujud pada sikap fanatik sempit, eksklusif tertutup, yang tidak peduli kepada yang lain. Fundamentalisme tersebut muncul sebagai sebab atau akibat dari relativisme, yaitu sikap yang meragukan segala-galanya, termasuk kebenaran, dan Allah yang menjadi sumber kebenaran tersebut. Arus-arus besar itu melanda kaum muda kita, termasuk orang muda Katolik (OMK).

Artikel terkait: 

Temu Akrab Para Romo, Bruder Sepuh di Sangkal Putung Klaten (1)

Relativisme dan Fundamentalisme dari Kacamata Jesuit (3)

Pendidikan Nilai Gaya Jawa (4)

Kisah-kisah Perjalanan yang Mengesankan (5)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: