Ayat bacaan: 1 Korintus 14:39
========================
“Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”

Budaya mengantri masih saja menjadi hal yang tampaknya sulit dijalankan. Banyak yang mengira bahwa kerelaan mengantri itu berhubungan dengan tingkat pendidikan atau bahkan dikaitkan dengan status sosial. Kalau di mini market atau rumah makan terutama yang letaknya agak di pinggiran, itu sudah sangat biasa.

Tetapi dalam banyak kesempatan saya sering melihat sendiri bahwa orang-orang yang berpendidikan dan seharusnya sudah diajarkan budi pekerti sejak kecil pun bisa saja melanggar antrian tanpa rasa bersalah. Pada suatu kali saya tengah mengantri di dokter. Sudah lumayan lama saya duduk disana, dan tepat menjelang giliran saya, datanglah seorang ibu dengan dandanan wah tanpa basa-basi langsung nyelonong masuk. Ketika saya tanyakan kepada yang jaga, ia berkata bahwa ibu itu adalah kerabat si dokter. Lho, kalau kerabat berarti boleh seenaknya? Tampaknya begitu. Di waktu lain saya pernah tengah mengantri di loket untuk menonton film. Tiba-tiba ada sekelompok anak muda yang nampaknya merasa punya kekuatan karena datang ramai-ramai. Seenaknya mereka memotong barisan sambil memasang tameng tampang dingin. Anehnya, satpam pura-pura tidak melihat itu. Mungkin orang penting sehingga satpam merasa sungkan untuk menegur. Banyak orang yang lebih memilih untuk mengejar kepentingan dirinya sendiri ketimbang orang lain. Kalau ditegur mereka bukannya sadar, tapi malah membalas dengan tidak sopan seolah mereka berhak untuk melanggar apapun seenaknya. Sudah melanggar, ditegur malah marah. Aneh, tapi itu banyak sekali dilakukan orang. Di jalan raya hal yang sama terjadi. Melanggar lampu merah, melanggar peraturan, merebut hak pejalan kaki, semua dilakukan tanpa merasa berdosa sama sekali.

Apakah sudah sesulit itu kita hidup teratur? Apakah kita sudah berubah menjadi orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa menghiraukan kepentingan atau kenyamanan orang lain? Sudah begitu egoisnya kah kita sebagai bangsa yang katanya menjunjung tinggi keramahan dan kesopanan? Sayangnya tabiat ini seperti virus ganas. Ketidakteraturan, ketidaksopanandan perilaku seenaknya semakin lama semakin menular kemana-mana menjangkiti banyak orang. Segalanya dihalalkan untuk kepentingan sendiri yang hanya sesaat, orang tidak lagi peduli terhadap apapun selain dirinya sendiri. Di saat seperti ini, kita harus malu kepada belalang.

Belalang? Ya, belalang. Agur bin Yake ribuan tahun yang lalu sudah menyinggungnya. “Belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur.” (Amsal 30:27) Bayangkan belalang yang tidak memiliki raja, tapi mereka mampu berbaris dengan teratur. Bukan cuma belalang, tapi semut pun sama. Perhatikan semut yang selalu beriringan dan selalu bekerja sama. Binatang-binatang yang ukurannya jauh lebih kecil dari kita, dan tidak memiliki akal budi ternyata sanggup untuk lebih “beradab” di banding kita. Di jalan saja kita tidak bisa mengikuti peraturan. Motor zig-zag seenaknya, mengerem sesukanya, berjalan pelan di tengah, angkot yang berhenti sesuka hati ditengah jalan, klakson yang ditekan dengan panjang berulang-ulang, atau justru melaju semakin kencang ketika melihat ada yang hendak menyeberang, menerobos lampu merah dan sebagainya. Semua ini menunjukkan perilaku yang bukan saja buruk, tapi juga berpotensi membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Jika di jalan saja sudah sulit, apalagi teratur dalam kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan rohani. Orang tidak lagi mendatangi Tuhan dengan rasa takut dan gentar, bukan lagi karena mengasihiNya, tapi karena hendak membawa daftar permintaan untuk segera dikabulkan.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita mungkin berkata bahwa kita bukan petugas yang berwenang mengatur lalu lintas. Kita mungkin berkata bahwa kita terlalu kecil untuk mengatasi kerumitan sebesar itu di jalan raya. Tapi sebenarnya kita bisa mulai belajar untuk hidup secara teratur. Mulai melatih diri agar bisa mentaati dan berdisiplin.

Dalam hidup kita mungkin bisa mengatasnamakan kesibukan pekerjaan dan sebagainya untuk tidak meniadakan waktu-waktu indah bernaung dalam hadirat Tuhan, tapi saya yakin jika kita membiasakan diri sejak sekarang untuk meluangkan waktu, selalu saja ada waktu yang bisa kita pakai untuk mendengar kata-kata Tuhan, dan mengucap syukur atas penyertaanNya sepanjang hari. Saya percaya selalu ada cukup waktu untuk meluangkan sedikit waktu secara teratur untuk berdoa, bersaat teduh dan membaca, memperkatakan dan merenungkan kebenaran firman Tuhan dalam Alkitab. Jika kita menyadari seperti Daud yang berkata “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105), maka kita akan tahu tanpa pegangan itu kita akan semakin sulit untuk bertahan dalam kehidupan yang semakin sulit.

Keteraturan, itu yang diinginkan Tuhan dari kita untuk kita terapkan dalam hidup kita. Bukan kesemrawutan apalagi kesemena-menaan. “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” (1 Korintus 14:40). Sopan dan teratur, seharusnya bisa menjadi cerminan sikap atau perilaku dari anak-anak Tuhan, karena itu yang dikehendaki Tuhan untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Jangan dulu bermimpi untuk menikmati kota yang berjalan dengan tertib, rapi dan teratur, penuh sopan santun jika kita sendiri belum mampu melakukannya. Mulailah dari diri sendiri, belajarlah dari belalang atau semut mengenai hal ini, dan mari kita melatih diri untuk melakukannya. Betapa indahnya jika segalanya berjalan dengan teratur, dan itu bisa dimulai dari diri kita.

Jangan menuntut orang lain terlebih dahulu, tetapi mulailah dari diri sendiri

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. cersek
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.