Sombong Rohani

Ayat bacaan: Yohanes 8:7
=====================
“Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Menjadi seperti Yesus, itu impian semua orang percaya. Dan kitapun belajar untuk terus semakin mendekati gambaran Yesus. Kita berlatih untuk tekun, membiasakan diri untuk disiplin dalam bersaat teduh, mendalami Firman Tuhan, berdoa, beribadah ke gereja dan sebagainya. Kita masuk ke dalam persekutuan-persekutuan dan disana kita bertemu dengan teman-teman seiman yang saling dukung, saling mengingatkan dan saling bantu. Itu tentu baik. Amat baik malah. Tapi jika tidak hati-hati, ada roh kesombongan yang akan siap membuat kita berpikir bahwa kita paling kudus, paling suci atau paling rohani. Kalau sudah begitu, kita pun mulai tergoda untuk menghakimi orang lain. Kita mudah menilai orang lain berdosa bahkan menghujat dan menuduh. Seorang teman akhirnya memilih untuk meninggalkan gerejanya karena terus digunjingkan sesama jemaat. Alangkah ironisnya ketika kita bukannya menjadi terang tetapi malah menjadi batu sandungan. Bukannya merangkul, tapi malah membuang. Memakai atribut rohani lalu pergi kesana kemari menghakimi orang lain, bahkan lewat jalan kekerasan dan mengatasnamakan Tuhan dalam perilaku seperti itu. Itu kita saksikan setiap saat di dunia ini bukan? Sebagai anak Tuhan, kita sama sekali tidak boleh melakukan hal itu. Berproses untuk terus menjaga kekudusan dan menjadi seperti Yesus harus pula diikuti oleh sikap mengasihi dan rendah hati. Karena kalau tidak, roh kesombongan akan siap membuat kita menjadi orang-orang yang merasa berhak untuk berperan bagai Tuhan. Salah-salah, kita bisa terjebak untuk menjadi sombong secara rohani.

Kisah perjumpaan Yesus dengan perempuan berzinah yang berhadapan dengan sekelompok orang yang siap merajamnya dalam Yohanes 7:53-8:11 memberi gambaran jelas bagaimana seharusnya kita bersikap. Pada saat itu Yesus berhadapan dengan seorang wanita yang digiring orang-orang Farisi karena tertangkap basah akibat berbuat zinah. Menurut hukum Taurat, sang wanita seharusnya dirajam sampai mati dengan batu. Itu masih dilakukan oleh sebagian orang hingga hari ini. Tapi lihatlah apa yang dikatakan Yesus kepada mereka. “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yohanes 8:7). Untunglah pada waktu itu para ahli Taurat dan orang Farisi masih mau berpikir jernih. Ini masih lebih baik ketimbang sebagian kelompok di negara kita hari ini yang tidak lagi bisa berpikir dan malah semakin beringas atau brutal. Kembali kepada kisah tadi, akhirnya semua orang Farisi pergi meninggalkan Yesus dan si wanita, dan wanita itu pun mendapat pengampunan. Jika Yesus saja memberi pengampunan kepada pendosa, mengapa kita sebagai manusia berani-beraninya mengaku paling suci dan berhak untuk menghakimi? Paulus berkata “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.” (Roma 14:4). Kita tidak dalam kapasitas untuk menghakimi hidup orang lain. Apa yang bisa kita lakukan adalah mendoakan dan melayani orang-orang yang jiwanya haus pertolongan dan jamahan Tuhan. Kita seharusnya merangkul mereka dan membawa mereka untuk mengenal Tuhan lebih dan lebih lagi. Lebih lanjut Paulus pun mengatakan bahwa urusan menghakimi itu adalah urusan Tuhan, bukan kita. “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” (Roma 12:19).

Bagi gereja dan jemaat, janganlah mengucilkan, menghempaskan dan membuang mereka yang terjatuh dalam dosa. Jika ini terjadi, bukannya membawa banyak jiwa dari luar, namun malah membuang jiwa dari dalam. Dan itu sama sekali bukan sesuatu yang diinginkan Tuhan untuk dilakukan anak-anakNya. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus mati bukan hanya untuk kita saja, namun bagi semua umat manusia di bumi ini tanpa terkecuali. Benar Tuhan membenci dosa, tapi Tuhan tidak membenci orang berdosa. Justru Tuhan Yesus datang untuk orang-orang yang berdosa, agar mereka bisa selamat dan terlepas dari jerat kebinasaan. Yesus mengatakannya begini: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” (Matius 9:12, Lukas 5:31). Begitulah besarnya kasih Tuhan buat manusia. Jika kita memiliki kasih Yesus dalam hidup kita, bagaimana mungkin kasih itu lenyap tak berbekas ketika menghadapi orang-orang yang butuh pertolongan? Kedatangan Yesus ke dunia pun justru untuk menyelamatkan mereka yang “sakit”. Yesus bukan datang untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. (Matius 9:13). Janganlah malah menjadi batu sandungan, karena jika itu yang terjadi, akibatnya akan sangat fatal bagi kita. Hindari bersikap sombong secara rohani, karena itu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Itu bukanlah cerminan dari orang-orang benar seperti yang diinginkan Tuhan. Jangan membuang mereka, tapi kasihilah dan layani dengan kasih, sebab Tuhan sendiri pun mengasihi mereka. Jangan rampas kesempatan mereka untuk beroleh pemulihan dan keselamatan. Kasih Kristus akan tercermin secara nyata lewat sikap kita yang mau merangkul orang berdosa.

Di sisi lain, bagi mereka yang merasa kecewa karena dianggap berdosa, ingatlah bahwa manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak. Janji Tuhan itu “ya” dan “amin”. Dia akan selalu menepati janjiNya, termasuk menganugerahkan keselamatan kepada setiap orang, termasuk anda. Jika memang ada di antara teman yang mengalami hal ini, janganlah sampai mengalami kepahitan dan semakin jauh dari Tuhan. Tidak semua orang akan bersikap seperti itu. Hendaklah anda mampu berpikir bahwa kesempatan untuk bertobat tetap diberikan Tuhan kepada diri anda kapan saja. Tidak semua orang akan bersikap negatif. Pasti masih ada orang-orang yang akan dengan tulus membimbing anda untuk kembali ke jalan Tuhan. Dosa-dosa semerah kirmizi sekalipun bisa Tuhan pulihkan menjadi putih seperti salju. (Yesaya 1:18). Itu janji Tuhan. Karena itu segeralah bertobat kemudian berjanjilah untuk tidak mengulangi lagi. Miliki hati lembut yang mau diubahkan, maka Tuhan siap menopang diri anda. Tuhan mau mengampuni sang wanita yang kedapatan berzinah, Tuhan mau mengampuni Daud yang kedapatan melakukan dosa perzinahan dan pembunuhan, Tuhan mau mengampuni Saulus bahkan memakainya secara luar biasa. Jika kepada mereka-mereka ini Tuhan mau, kepada anda pun Dia bersedia!

Cerminkan pribadi Tuhan yang mengasihi siapapun tanpa terkecuali kepada jiwa-jiwa yang haus pertolongan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ilustrasi khotbah kristen tentang kesombongan
  2. khotbah tentang kesombongan
  3. ilustrasi tentang kesombongan
  4. ilustrasi kesombongan rohani
  5. ilustrasi lucu kesombongan
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: