Ayat bacaan: Amsal 30:32
======================
“Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut!”

Ada banyak bentuk kesombongan yang bisa dengan mudah kita lihat dari sikap seseorang. Ada yang mempertontonkan hidup glamor penuh kemewahan, ada yang gesture atau gerak tubuhnya angkuh, tapi yang paling sering kita lihat adalah lewat perkataan. Ada seorang ibu yang saya kenal terus menerus bercerita tentang masa-masanya ketika berada di luar negeri setiap kali bertemu yang diisi dengan kemampuannya membeli barang-barang bermerek, emas dan sebagainya. Ada juga yang menyombongkan diri lewat jabatan, posisi atau profesinya. Belum lama saya bertemu dengan seorang pria muda yang baru kenal. Entah untuk apa, dalam pembicaraannya ia seolah perlu menyatakan kekayaannya. “Ah, kalau cuma iPhone terbaru, lima biji juga bisa sekarang juga saya beli.” Atau ketika ia bercerita tentang mobil-mobl yang ia beli. Saya tidak melihat urgensi menceritakan itu semua terlebih kepada orang yang baru dikenal. Untuk apa? Sama sekali tidak perlu dan tidak ada gunanya. Ada yang bereaksi berlebihan saat kesal terhadap seseorang, tapi lucunya bukan di depan orangnya langsung melainkan di belakang mereka agar didengar hebat oleh teman-temannya. Yang justru sering terjadi, orang-orang bermulut besar justru sebenarnya menutupi kekurangan mereka dalam banyak hal. Sok jago dibelakang tapi ciut kalau berhadapan langsung, dahulu pernah jaya tapi sekarang sedang tidak, dan sebagainya. Semakin tinggi tingkat keberhasilan kita, semakin rawan pula kita akan masuknya dosa kesombongan. Masalahnya, terkadang sulit bagi manusia untuk tidak merasa bangga ketika mereka mencapai sesuatu yang membanggakan. Dalam batas tertentu kita boleh bangga, tetapi jangan sampai itu hadir secara berlebihan sehingga menimbulkan sikap sombong. Kita harus benar-benar waspada karena seringkali kesombongan bisa mencelat keluar secara spontan tanpa direncanakan.

Ayat hari ini memberikan sebuah tips yang menarik karena sangat mudah untuk dilakukan, tapi bisa menghindari jatuhnya kita ke dalam dosa kesombongan. Bunyinya: “Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut!” ((Amsal 30:32). Menyombongkan diri bukan saja tidak baik untuk dilakukan, tapi terlebih lagi itu bukanlah perbuatan yang berkenan di hadapan Tuhan, sebab kesombongan sebenarnya merupakan cerminan mencuri apa yang menjadi hak Tuhan demi kebanggaan diri sendiri. Masalahnya seperti yang saa katakan diatas, kesombongan bisa muncul tanpa sadar, keluar spontan begitu saja mengalir dari mulut kita. Itu harus kita waspadai agar tidak terjadi. Sebab alangkah sayangnya apabila kesombongan muncul tanpa kita inginkan dan menjatuhkan kita. Ayat bacaan kita hari ini sudah menyatakan hal itu secara jelas, bahwa jika kesombongan mulai hadir baik dengan sengaja maupun tidak, segera hentikan sebelum mendatangkan banyak masalah.

Kesombongan ini merupakan salah satu produk yang keluar dari dalam, yaitu dari hati yang tidak dijaga dengan baik seperti yang bisa kita baca dalam ayat berikut ini: “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” (Markus 7:21-23). Kita harus sadar bahwa ada hubungan antara apa yang keluar dari mulut dengan kondisi hati kita, “karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.” (Matius 12:34b). Yesus juga mengingatkan bahwa “Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.” (ay 36). Oleh karenanya kita harus berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan. Ingatlah bahwa berkat dan kutuk itu keluar dari mulut yang sama. (Yakobus 3:10), karenanya kita perlu untuk menjaga mulut kita. Lalu ingat pula ayat ini: “Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”(Matius 12:37).

Apabila memang kita harus mengungkapkan keberhasilan atau pencapaian yang berhasil kita capai, ungkapkanlah secukupnya saja dengan kerendahan hati disertai dengan ucapan syukur. Perhatikan baik-baik apa yang keluar dari mulut kita. Pikirkan terlebih dahulu dan seandainya ada kesombongan yang akan keluar, redamlah segera sebelum keluar dari mulut. Dengan kata lain, begitu kesombongan mulai terasa akan terucap, tekapkan langsung tangan pada mulut. Kita juga harus terus menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, karena dari hati lah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23). Hanya dengan menjaga hati dengan baik kita bisa menghindari pembusukan yang terjadi di dalam diri kita, dimana salah satu produknya adalah kesombongan. Tuhan tidak senang pada orang sombong. “Karena Allah merendahkan orang yang angkuh tetapi menyelamatkan orang yang menundukkan kepala!”(Ayub 22:29). Pada suatu saat nanti akan datang hukuman Tuhan atas orang-orang yang congkak dan angkuh. “Sebab TUHAN semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh, serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan.” (Yesaya 2:12). Mengingat kesombongan ini bisa timbul tanpa direncanakan dan akan selalu mencari celah untuk masuk disela-sela keberhasilan kita, tips dari Agur bin Yake di atas bisa menjadi solusi cepat dan mudah. “Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut!”

Segera tutup mulut begitu gelagat kesombongan mulai timbul

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.