“Soegija”, Nonton untuk Menyumbang dengan Ihklas (15)

ADA dua isu yang sempat bergulir beredar di masyarakat,  jauh-jauh hari sebelum film Soegija beredar untuk naik tayang di jaringan bioskop 21 tanggal 7, 8, 9 Juni 2012 mendatang. Entah mulainya dari mana,  satu isu mempertanyakan apakah Soegija ini merupakan film propaganda iman katolik? Jawabannya sudah tegas diungkapkan: tidak.

Isu berikutnya adalah soal penggalangan dana dari umat. Kalau masih ada kekurangan sekian milyar rupiah untuk menutup biaya produksi total sebesar Rp 12 milyar dan kemudian malah bisa meraup untung, apakah penggalangan dana masih akan terus berlanjut?  Terhadap isu yang kedua ini, sejumlah pembaca di beberapa milis katolik menyampaikan beragam tanggapan.

“Kalau memang niatnya nonton dan membantu secara ihklas, ya nonton saja. Kalau tidak mau berdonasi, ya jangan nonton,” tutur Methodius Kusumahadi, umat katolik di Yogyakarta merespon isu tersebut.

Ibarat kita pergi ke gereja dan kemudian ada kolekte. Nah, kita pun bebas apakah mau berdonasi melalui mekanisme kolekte ini atau tidak. Semua terserah pada kehendak bebas setiap umat. Tergerak, ya akhirnya merogoh dompet dan mak plung…..jadinya kita berkolekte. Merasa tak tergerak dan  saku lagi kering, ya sudah kantong-kantong kolekte pun akan berlalu dari hadapan kita tanpa kita  harus merasa salah.

Kisah relawan

Terhadap isu kedua itu, Zeno Christozen –seorang relawan aksi penggalangan  dana dari Jakarta—punya kesaksian sendiri.  Ia justru merespon positif atas pertanyaan beberapa anggota OMK di milis Keuskupan Agung Semarang yang punya perhatian terhadap aksi penggalangan dana dari umat ini. Ia memaknai reaksi OMK itu sebagai perhatian dan kepedulian mereka atas pembuatan dan pemutaran film Soegija.

“Saya adalah seorang relawan dari Jakarta yang tidak tahu kenapa rela ikut terlibat mengorbankan waktu tenaga dan hal-hal lainnya demi film Soegija. Ini sekedar syering pribadi. Ketika mulai terlibat dalam penggalangan dana dengan cara berkeliling paroki dan menjual kupon tanda kasih sampai sekarang, seolah  ada kekuatan yang telah menggerakkan saya untuk terus terlibat tanpa pantang mundur dengan semangat yang luar biasa,” tulisnya dalam sebuah milis katolik.

Rupanya “gerakan roh” itu juga dirasakan teman teman relawan di Jakarta.

“Saya  yakin teman teman di daerah lain khususnya di  Semarang juga merasakan hal yang sama. Pernah ada yang menanyakan kenapa jadi begitu semangat, saya jawab tidak tahu. Tapi yang saya alami demikian: Selama kegiatan promosi ini,  jelas saya merasakan Tuhan turut memutuskan dan memberikan solusi atas persoalan atau hambatan hambatan yang kami alami,” sambung dia.

Menjawab pertanyaan

Menanggapi pertanyaan rekan-rekan OMK tentang aksi penggalangan dana tersebut, Zeno kemudian memberi keterangannya.  Menurut dia, pembuatan film Soegija telah melibatkan banyak donatur; apakah mereka hanya bisa memberi donasi sebesar Rp 10 ribu atau lebih –bahkan sampai jutaan—itu terkait pada komitmen masing-masing individu. “Sekali lagi itu merupakan bentuk kerelaan dan tanggungjawab moral masing-masing pribadi sebagai donatur,” kata Zeno,

Apakah besaran sumbangan itu “hanya” Rp 10 ribu atau sampai jutaan rupiah, itu bukan poin penting karena toh niatan tulusnya adalah membantu secara ihklas. “Jadi peran membantu dengan angka Rp 10 ribu dan mereka yang jutaan, esensinya tetap sama: berdonasi secara ihklas karena ingin berpartisipasi menbantu projek pembiyaan film ini,” terang Zeno,

Menyumbang dua kali?

Lalu ada pertanyaan lain: kalau sudah “ditodong” donasi lalu kemudian disuruh nonton dengan keharusan membeli tiket atau voucher, bukankah itu berarti disuruh  menyumbang dua kali? Menjawab hal ini, Zeno mengatakan, rasanya tidak pas juga menyebut ada “todongan” dua kali berdonasi.

Ajakan menonton,  seharusnya lebih dimaknai sebagai  imbauan menyaksikan “dokumentasi sejarah” dalam paparan media film tentang tokoh katolik sekaliber Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, uskup Indonesia pribumi pertama. Sebagai warga negara, kita diajak melihat kilas balik sejarah nasional bahwa ada tokoh katolik bergelar pahlawan nasional yang berjuang demi menggapai kemerdekaan dan keutuhan NKRI.

“Kami mendorong umat  menonton lebih karena umat bisa  mengetahui sejarah Indonesia yang belum pernah diungkapkan dan juga mendapatkan contoh teladan seorang pemimpin yang pantas menjadi panutan kita semua dalam hidup bernegara,” tulis Zeno.

“Sebagai umat katolik, kita patut berbangga bahwa Gereja Katolik Indonesia pun ikut andil dalam pembentukan dan perjuangan menggapi kemerdekaan RI,” tandasnya.

 “Kesimpulannya apa yang kita lakukan semua dari donasi Rp 10 ribu sampai milyaran, sumbangan tenaga pikiran atau cukup  nonton film di bioskop, semua adalah kerelaan kita sendiri tanpa paksaan,” paparnya kemudian. (Bersambung)

Photo credit: Puskat Yogyakarta, Ist

Artikel terkait:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply