“Soegija”, Meraup “Sejuta” Penonton untuk 4 Hari Tayang di Seluruh Indonesia (17)

SIMPANG-siur rumor yang menyebutkan Soegija harus bisa meraup jumlah penonton setidaknya satu juta orang telah melahirkan berbagai macam interpretasi. Ada yang mengatakan, targetnya pasti hanya “1.000” (seribu penonton) saja. Namun yang lain mengatakan, pastilah target yang ingin dicapai tetap pada angka “1.000.000” (sejuta penonton).

Logikanya, kalau tetap pada harapan bisa meraup target “sejuta” penonton, pertanyaannya adalah apakah angka itu bisa dicapai dalam kurun waktu masa tayang 4 hari? Harapan bisa meraup penonton dalam jumlah  “gemuk” ini juga tidak mungkin bisa diperoleh  hanya dari satu-dua gedung bioskop. Kalau angka “seribu” penonton, mungkin bisa dicapai, tentu dengan asumsi semua kursi penuh alias penonton rela duduk di bangku deretan terdepan.

Ah, tapi apa itu bisa? Menonton film layar lebar dengan rela duduk di jejeran bangku  deretan depan jelas bukan hal nyaman. Mata dipaksa melotot dan gerak kelopak mata akan dibuat “capai” mengikuti arah gerak para bintang di layar perak ini.

Lantas, bagaimana membuat logika “seribu” atau “sejuta” ini masuk dalam benak argumen kita?

Dari seluruh jaringan bioskop 21

Kepada Sesawi.Net semalam, Wiwiek D. Santoso –anggota tim promosi film Soegija—menjelaskan  “logika” seribu atau sejuta penonton tersebut. Dia menerangkan,  kalau hanya angka seribu  penonton –lagi-lagi ini interpretasi orang–  tentu target jumlah penonton  ini tidak masuk akal.

Film Soegija, kata penggiat Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) Indonesia ini,  akan naik tayang selama 4 hari mulai tanggal 7 Juni sampai tanggal 10 Juni 2012. Soegija akan bertengger di 49 bioskop di seluruh Indonesia –terutama di kota-kota besar–  selama 4 hari masa tayang.

Nah, mari sejenak kita berandai-andai sekarang. Dalam sehari, satu studio akan punya waktu “siaran” bisa menayangkan sebuah film paling banyak 4 kali. Kalau kapasitas tempat duduk di studio itu katakanlah punya 200-300 kursi dan kalau film Soegija laris manis hingga semua seat penuh, maka dengan sendirinya satu studio akan bisa menghasilkan kurang lebih 600-700 orang penonton.

Kalau studio jaringan bioskop 21 di 49 lokasi itu ternyata kebanjiran penonton, sudah pastilah Soegija akan meraup jumlah penonton yang sangat signifikan. Catatan atas jumlah penonton ini akan menjadi poin penting bagi jaringan bioskop 21 guna memastikan apakah masa tayang selama 4 hari itu perlu diperpanjang lagi atau tidak.

Kalau ternyata harapan bisa meraup target sebanyak sejuta penonton dalam masa tayang 4 hari itu misalnya tidak tercapai, tentu saja hitung-hitungan bisnis akan bicara. Sudah barang tentu, dalam setiap kali tayang, biaya yang mesti dikeluarkan mencakup pengeluaran untuk listrik, tenaga kebersihan, tenaga keamanan, dan tentu saja margin profit.

Kalau penonton hanya berjumlah satu-dua orang, tentu saja hitungan bisnis akan mengatakan: rugi dan tak layak ditayangkan melebihi jumlah hari sesuai kontrak bisnis yang telah disepakati kedua belah pihak. “Jadi, target harapan bisa meraup sebanyak mungkin penonton itu datang dari bioskop di  seluruh Indonesia dan dari masa tayang selama 4 hari ,” tandas Wiwiek D.Santoso ini menjawab pertanyaan Sesawi.Net semalam.

Hingga Jumat (25/5) pagi, tim promosi masih melakukan negosiasi agar Soegija juga bisa naik tayang di jaringan bioskop Blitz. “Harapan kami tentu saja, animo umat katolik menonton Soegija ini sangat besar hingga masa tayang yang tadinya hanya 4 hari bisa bertambah lagi menjadi 5 atau bahkan 10 hari  tayang,” jelas Wiwiek D. Santoso ini.

Menjawab polemik

Terhadap salah satu pertanyaan umat mengenai donasi untuk biaya produksi Soegija, Methodius Kusumahadi dari Yayasan Satu Nama di Yogyakarta punya pendapat demikian. Ia justru merespon positif setiap pertanyaan kritis dari umat.

Menurut Kusumahadi yang sejak puluhan tahun bergerak dalam dunia LSM, setiap lembaga yang mengumpulkan dana dari public  harus juga melaporkan perolehan sumbangan itu secara transparan. Ia lalu mencontohkan pengalamannya sebagai orang LSM dalam tata pengelolaan keuangan secara bertanggungjawab, akuntabel dan transparan.

Berikut ini syering pribadinya yang pernah muncul di sebuah milis katolik:

  • Yang namanya umat itu selalu anonim. Pernyataan yang menyebut umat membayar dua kali itu belum tentu benar. Itu karena  umat yang memberi donasinya belum tentu umat yang sama dengan mereka yang mau  menonton dan karena itu harus juga rela  membayar;
  • Menyangkut hal keihlasan. Jika ada umat merasa tidak ikhlas  namun  telanjur telah berdonasi, lalu diundang nonton dan lagi-lagi harus  membayar tiket tapi menolak membayar. Jawaban saya: sebaiknya umat ini tidak usah ikut nonton;
  • Kalau ada umat bertanya, maka pertanyaan bisa diajukan kepada panitia untuk semacam  klarifikasi.
  • Donasi kembali. Jika ada umat yang merasa keberatan dan tidak ikhlas atas donasi yang sudah diberikan, logikanya dia juga bisa  minta donasinya dikembalikan. Ini sah dan bisa  saja terjadi.
  • Super ikhlas. Ada umat yang sudah memberi donasi, mau nonton dengan membayar juga dengan semangat super ihklas dan malah mengajak umat lain untuk nonton sambil berdonasi membayar semua ongkos nonton bareng,  Nah, inilah jenis kelompok umat yang punya semangat super ikhlas dan orang-orang macam ini  diharapkan jumlah mereka banyak sekali.

Kesimpulannya satu, yakni mari beramai-ramai menonton Soegija ini sebagai upaya bercermin pada sejarah masa lampau. Selain mendukung Soegija dengan donasi dengan cara menonton film, sudah barang tentu kita akan dicerahkan lagi akan figur seorang pemimpin katolik yang punya tanggungjawab terhadap eksistensi bangsa ini ketika Indonesia masih usia balita.

 

Photo credit: Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta

Artikel terkait:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply