“Soegija” Lahir dari Rahim Bernama Kolaborasi Lintas Tokoh (4)

MEMBICARAKAN Soegija, rasanya tak bisa melepaskan peran besar Studi Audio-Visual (SAV) Puskat Yogyakarta, sebuah medan karya kerasulan asuhan Ordo Serikat Yesus Provinsi Indonesia di bidang pelayanan komunikasi sosial melalui media elektronik. Seperti diakui sendiri oleh Romo Murti Hadi SJ dari SAV Puskat, lahirnya film Soegija ini berasal dari kerja keras sekalian penggiat kegiatan multi-media Puskat. […]

MEMBICARAKAN Soegija, rasanya tak bisa melepaskan peran besar Studi Audio-Visual (SAV) Puskat Yogyakarta, sebuah medan karya kerasulan asuhan Ordo Serikat Yesus Provinsi Indonesia di bidang pelayanan komunikasi sosial melalui media elektronik. Seperti diakui sendiri oleh Romo Murti Hadi SJ dari SAV Puskat, lahirnya film Soegija ini berasal dari kerja keras sekalian penggiat kegiatan multi-media Puskat.

SAV Puskat Yogyakarta itu sendiri sudah eksis sejak tahun 1970-an yang didesain sebagai laboratorium yang menyediakan sarana-sarana pengajaran bagi para calon kategis yang tengah menimba ilmu pedagogi pengajaran agama di Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik (STFKat) di Jl. Jazuli, Kotabaru, Yogyakarta. Persis samping-menyamping dengan Kolese St. Ignatius “Kolsani” di Jl. Abubakar Ali No. 1 Yogyakarta, SAV Puskat Yogyakarta sungguh hanya selemparan baru dari dari Gereja St. Antonius Kotabaru.

Mengutip paparan Romo Murti Hadi SJ dalam sebuah edaran berita internal, awalnya Soegija lahir melalui sebuah proses kreasi an panjang. Tahun 2004, tulis Romo Murti Hadi SJ, SAV Puskat  memroduksi video dokumenter tentang 100 Tahun Sendang Sono sebagai tempat bersejarah lahirnya kekatolikan di Tanah Jawa ini. Tahun 2006 bergulirlah video dokudrama Bethlehem van Java yang berkisah tentang Romo Van Lith sebagai tokoh penting dalam sejarah kekatolikan di Jawa ini.

Muncullah “Soegija”

Masih menurut Romo Murti Hadi SJ, sejak bergulir dua dokumen video itu lalu muncullah ide untuk memroduksi trilogi video tentang sejarah kekatolikan di Indonesia. Nah, pada tahapan ini muncullah nama Romo Kanjeng Mgr Albertus Soegijapranata SJ—salah satu murid generasi pertama hasil didikan Romo van Lith SJ selain IJ Kasimo—yang di kemudian  hari menjadi uskup Indonesia pribumi yang pertama.

Soegija menjadi menarik untuk dikemas dalam sebuah cerita multimedia dalam wujhud seloloid, karena Romo Kanjeng ini juga resmi menyandang predikat pahlawan nasional sejak tahun 1963.  Teman Romo Kanjeng yakni IJ Kasimo malah baru menyandang predikat pahlawan nasional ini tahun 2012. Menjadi makin menantang dan menarik, apalagi ada sesanti abadi  Romo Kanjeng yang hingga kini tetap berkumandang relevan: “Menjadi 100% Katolik, 100% Indonesia”.

Kerja kolegial lintas tokoh

SAV Puskat Yogyakarta menggandeng rekan imam yesuit lainnya yakni Romo Dr. Gregorius Budi Subanar SJ untuk menggarap tema besar ini.  Menurut Romo Murti Hadi SJ, pilihan memilih Romo Banar SJ menjadi sangat relevan, justru karena doktor bidang sejarah gereja alumnus Universitas Gregoriana di Roma ini menulis disertasinya tentang hal-ikhwal Romo Kanjeng. Barulah setelah konsep melahirkan “sejarah Romo Kanjeng” diretas, SAV Puskat mencari mitra kerja untuk mewujudkan projek besar ini. Garin Nugroho –alumnus SMA Loyola Semarang—lalu digandeng bekerja sama sebagai sutradara. Sementara musisi  Kua Etnika Djaduk Ferianto –putra seniman besar Bagong Kusudiardjo yang asli Yogyakarta—didapuk menjadi arranger untuk ilustrasi musiknya.

“Dari yang semula hanya ingin diproduksi menjadi cakram video, akhirnya Soegija berkembang menjadi jalinan cerita lebih komplet dalam bentuk film layar lebar,” tulis Romo Murti Hadi SJ dalam paparannya di sebuah edaran berita internal.

Memilih tepat

Romo Murti Hadi SJ menggarisbawahi komitmen SAV Puskat Yogyakarta selaku produser film Soegija ini. Menurut putra daerah asli kelahiran Panca Arga di Magelang ini, pemilihan mitra kerja hingga akhirnya menggandeng Garin Nugroho lebi dilandasi oleh persamaan visi yang sama akan pentingnya semangat dan gerakan multikulturalisme. “Meski Garin adalah seorang muslim, namun kami memiliki visi yang sama tentang concern yang sama pula,” tulis Romo Murti Hadi SJ.

Nah, apalagi politik kepentingan di Indonesia sekarang ini cenderung menguat. Padahal, zaman dulu ketika masih berkecamuk Perang Gerilya untuk merebut dan kemudian mempertahankan Kemerdekaan RI—yang ada hanyalah semangat bersama untuk senantiasa guyub memperjuangkan kepentingan nasional. “Pada masa itu, sebagai bangsa Indonesia yang baru lahir, semua golongan lintas sektarian jati diri agama malah bisa bersatu padu demi sebuah kepentingan bersama yakni Indonesia yang merdeka dan berdaulat,” tulis Romo Murti Hadi.

Proses panjang “melahirkan” Indonesia dan kemudian tahapan “menjadi Indonesia” telah melahirkan tokoh-tokoh nasional berjiwa nasionalis dan tiada semangat sektarian di dalamnya.  Film Soegija harus lahir untuk menjawab kerinduan seperti itu. “Kita rindu pemimpin yang berpikiran luas;  pemimpin nasional yang berani keluar dari pagar fanatisme golongannya;  pemimpin yang tidak hanya memikirkan kepentingan golongannya sendiri, tetapi berpikir luas untuk seluruh negeri, untuk kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia,” tulis Romo Murti Hadi SJ.

Seperti Soegija sendiri, kata Romo Murti Hadi SJ, film produksi SAV Puskat ini  meski berlatarbelakang katolik tetapi bukan sebuah film tentang dakwah keagamaan. “Kita ingin bicara tentang ke-Indonesia-an, tentang kemanusiaan universal, dan film ini memang sebuah persembahan untuk bangsa Indonesia,” tandasnya. (Bersambung).

Photo credit: Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta

Referensi: Perhati SJ Provindo

Artikel terkait:

“Soegija”, Sepenggal Kisah Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijapranata SJ (1)

Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegipranata SJ: Jejak Langkah Karya Romo Van Lith SJ (2)

Antara “Soegija” dan Soegijapranata SJ (3)

“Soegija”, Bukan Film Perang apalagi Film Agamis (5)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply