“SOEGIJA” atau “Soe-GARIN”? (2)

Bukan Biografi, Lalu Apa?

Kekecewaan dan keingintahuan saya akan film ini membuat saya mencoba berdiskusi dengan beberapa teman. Menurut beberapa teman memang film ini bukanlah film yang menceritakan otobiografi Romo Soegija, sehingga menjadi wajar bila karakter Soegija dalam film tidak terlalu kuat. Pertanyaan berikutnya yang muncul dalam benak saya , “lalu ini film tentang apa?”. Sungguh saya kurang menangkap maksud yang ingin disampaikan dalam film ini, karena aspek-aspek dalam film menurut saya tidak ada yang terlihat ditonjolkan. Dari aspek dialog, saya melihat bahwa dialog yang ada sebagian besar dinyatakan secara simbolik sesuai dengan gaya penyampaian Garin, sehingga sulit untuk dipahami secara langsung.

Mendengarkan dialog dalam film Soegija mengandaikan penonton untuk mencerna dialog yang terjadi dalam konteks di masa lalu  secara mendalam dan lalu dikaitkan pada kondisi kekinian, sehingga barulah dapat dipahami maknanya. Kesulitan lain pun dirasakan karena dialog tidaklah mengalir, namun cenderung patah-patah dan secara gamblang tidak nampak korelasinya secara langsung dari satu adegan ke adegan lain. Hanya saja bila saya boleh mengandaikan, mungkin saja pembuat film ini ingin menyadarkan penonton di zaman ini agar menghargai jasa pahlawan di masa lalu, karena banyak dialog yang menyampaikan agar suatu saat kita dapat menceritakan perjuangan di masa lalu (seperti dialog antara Hendrick  yang memberi foto pada Mariyem, atau monolog salah satu pejuang pemuda yang melihat  teman-temannya mati di medan perang). Namun sekali lagi karena tidak ada keruntutan alur, maka dialog-dialog yang inspiratif tersebut akan menjadi dangkal dan bukan tidak mungkin menguap seusai menonton film.

Penonton dan Soegija

Sementara dilihat dari aspek adegan atau scene, adegan dalam film ditampilkan secara terfragmentasi satu dengan yang lain, sehingga memang bukan alur atau kronologi runtut yang disajikan dan didapatkan, namun potongan-potongan/mosaik scene yang harus dirangkai penonton dengan logika yang cukup berat. Mekanisme penayangan semacam ini membuat penonton kebanyakan tidak dapat menghayati adegan, karena baru masuk ke dalam salah satu penceritaan dan belum klimaks, penonton sudah dialihkan ke scene lain. Ini mengandaikan penonton berpikir keras saat menonton agar mendapat maknanya. Penyajian yang demikian nampaknya kurang cocok diterapkan pada karakeristik penonton Indonesia.

Betul juga bila ada pendapat yang mengatakan penonton Indonesia sudah terlalu lama dijejali film Hollywood dengan alur linear, penuh heroisme, terlalu tokoh sentris sehingga sulit untuk memahami film Soegija. Namun demikian saya kira ini pendapat yang tidak fair. Apalah artinya sebuah film yang baik bila pesan terdalamnya,  keindahan dialognya, dan relevansinya sangat sulit dicerna oleh penonton begitu keluar dari gedung bioskop? Apakah film ini memang didesain agar penontonnya berpikir keras untuk mendapatkan sesuatu yang mendalam, lebih dari sekedar dari bayangan dan kesan atas gambar-gambar hidup? Beberapa penonton yang notabene beragama Katolik pun kesulitan untuk mencari pesan terbaik dari film ini, karena rasanya datar dan terkesan dangkal, kurang mendalam.

Dilihat dari segi sudut pandang penceritaan, saya merasa film ini terlalu luas mengambil sudut pandang penceritaan. Film ini berusaha menceritakan baik dari sudut pandang penjajah dengan adanya tokoh jurnalis dan tentara Belanda  bahkan tentara Jepang, namun juga menceritakan pribumi Indonesia melalui tokoh Mariyem, dkk. Penceritaan semacam ini sangatlah luas namun menjadi kurang mendalam .

Penokohan dalam film ini juga saya rasa kabur, karena tidak ada satu tokoh yang ditonjolkan. Satu-satunya tokoh yang menurut saya cukup kuat justru bukanlah tokoh Romo Soegija, melainkan tokoh Mariyem yang menjadi perawat korban perang. Penokohan dalam film, banyak yang saya rasa kurang signifikan, seperti tokoh Tionghoa yang diperankan Olga Lidya yang hanya muncul 2 kali, saya rasakan sangat kurang signifikan dimasukkan dalam film. Saya mencoba meraba, apakah mungkin maksud pembuat film adalah ingin menampakkan bahwa etnis Tionghoa di Indonesia juga turut merasakan dampak penjajahan dan perang, ataukah hanya sekedar “tokoh pemanis” dalam film.

Sekali lagi cukup sulit mengerti makna yang sesungguhnya karena keseluruhan aspek dalam film tersebut terlalu banyak dinyatakan melalui ranah simbolik dan terlebih terfragmentasi. Meski tidak dipungkiri sinematografi dan penataan musik dalam film sangatlah indah dengan menggandeng Djaduk Ferianto, namun tentu hal tersebut tidaklah cukup untuk mengemas sebuah film menjadi mudah diterima berbagai kalangan, mengingat yang menonton film ini tidak hanya penonton dewasa yang stock of knowledge-nya sudah tinggi, namun juga ditonton oleh khalayak ramai seperti anak-anak sekolah dan remaja. Tidak dapat disangkal, kultur Garin dalam film ini memang sangat kuat, terutama berkaitan dengan cara penyajian film berikut aspek-aspek yang ada di dalamnya, seperti ditemukan dalam film-film garapan Garin yang lain. Menonton Soegija tak ayal bagai menonton teater tentang zaman penjajahan dengan gaya bahasa, alur, dan penceritaan yang simbolik dan cenderung terfragmentasi, serta tidak menonjolkan karakter Soegija-nya. Oleh karenanya, secara anekdotal judul yang pas untuk film ini  mungkin bukanlah “ Soegija” namun “Soe-Garin”.

 

Leonella Petrina Massardi

Mahasiswi Sosiologi FISIP Universitas Indonesia,
alumnus SMA Kolese Loyola Semarang

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply