(sambungan)

Menyikapi hal ini, Musa mengajak bangsa Israel untuk melihat bukti siapa yang benar. “Sesudah itu berkatalah Musa: “Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN. Tetapi, jika TUHAN akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka, sehingga mereka hidup-hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang-orang ini telah menista TUHAN.” (ay 28-30). Dan yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang diluar dugaan, mengerikan dengan konsekuensi sangat fatal. Murka Tuhan turun atas mereka. “Baru saja ia selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah yang di bawah mereka, dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan dengan segala harta milik mereka. Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu.” (ay 31-33). Membayangkan bahwa tanah tiba-tiba terbelah dan menelan Korah beserta pengikutnya tentu mengerikan. Tragedi ini kemudian disinggung kembali dalam Bilangan 26. “tetapi bumi membuka mulutnya dan menelan mereka bersama-sama dengan Korah, ketika kumpulan itu mati, ketika kedua ratus lima puluh orang itu dimakan api, sehingga mereka menjadi peringatan.” (Bilangan 26:10). Korah dan orang-orangnya akhirnya binasa, turun hidup-hidup ke dunia orang mati. Lihatlah betapa seriusnya hukuman Tuhan yang jatuh atas orang-orang sombong yang melupakan hakekat dirinya lalu berani memberontak melawan Tuhan. Ayat ini berkata dengan tegas agar hendaknya kita menjadikannya peringatan, jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama dalam hidup kita.

Percaya diri dan tahu potensi diri itu baik. Menghargai diri sendiri itu juga baik. Mencapai sukses selama dilakukan lewat cara yang benar adalah sesuatu yang baik pula. Tapi kalau tidak hati-hati, disana ada banyak jebakan mengintip yang bisa membuat kita jatuh kepada berbagai dosa. Bukan saja itu akan membuat apa yang telah susah payah kita bangun menjadi hancur berantakan dalam sekejap mata, tetapi juga akan menggagalkan kita untuk menerima segala anugerah Tuhan termasuk keselamatan yang kekal.

Jalan yang ‘basah’ itu ‘licin’.  Ketika kita sudah berhasil, bersyukurlah kepada Tuhan yang telah memberikan itu semua. Langkah selanjutnya, pertahankanlah kesuksesan itu dan waspadai setiap langkah. Jauhilah segala hal yang bisa menjatuhkan kita. Jangan ikuti contoh buruk dari Korah. Jangan pernah lupa bahwa di luar Tuhan kita bukanlah apa-apa (Yohanes 15:5). Jangan lupa diri sehingga merasa bahwa kitalah yang terhebat kemudian melupakan lalu berani merebut kemuliaan yang menjadi hak Tuhan. Ketika kita menjadi sukses, jagalah prestasi itu dengan baik, teruslah bersikap rendah hati, berkati orang lain lebih lagi dan teruslah muliakan Tuhan.  Tetap jaga garis batas yang ditetapkan Tuhan bagi kita, dan waspadalah terhadap dosa kesombongan. Ada banyak godaan yang siap membuat kita terpeleset. Karenanya jalani setiap langkah dengan perhatian serius agar apa yang telah kita bangun tidak musnah tetapi akan terus mengarah kepada keberhasilan demi keberhasilan lainnya agar kita bisa menjadi saluran berkat yang terus lebih besar lagi.

Ketika basah dan licin, berhati-hatilah dijalan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.