Ayat bacaan: Bilangan 26:10
=================
“tetapi bumi membuka mulutnya dan menelan mereka bersama-sama dengan Korah, ketika kumpulan itu mati, ketika kedua ratus lima puluh orang itu dimakan api, sehingga mereka menjadi peringatan.”

Salah satu album yang buat saya sangat berkesan saat masih duduk dibangku SMP adalah album Bon Jovi ketiga yang berjudul “Slippery When Wet”. Ada banyak lagu dari album ini yang tidak saja menjadi ‘signature songs’ grup rock tenar ini tapi juga menjadi klasik karena masih terus diingat orang sampai hari ini. Istilah Slippery When Wet alias ‘licin saat basah’ juga banyak dipakai tanda peringatan di jalan agar berhati-hati saat hujan atau pada musim salju karena jalanan biasanya menjadi licin. Tanda peringatan ini juga kerap kita temui di pusat-pusat perbelanjaan, mal, hotel dan sebagainya ketika ada yang tengah mengepel lantai. Kalau tidak hati-hati maka kita bisa celaka. Dalam kehidupan kita, seringkali kita bisa terpeleset, lupa terhadap peringatan Tuhan lewat sikap-sikap kita dan jatuh dalam dosa. Dan ini biasanya terjadi bukan di saat kita sedang dalam keadaan sulit atau biasa-biasa saja, tapi justru ketika kita sedang ‘basah’ oleh kesuksesan. Tidak jarang kita melihat banyak tokoh yang mati-matian berjuang untuk sukses, tetapi kemudian hancur dalam sekejap mata akibat terpeleset ke dalam dosa. Tidak jarang pula, konsekuensi yang harus ditanggung bisa berdampak lama, sulit untuk dibangun kembali atau bahkan secara fatal menjadi akhir perjalanan hidup tanpa bisa diperbaiki lagi.

Firman Tuhan sudah mengingatkan agar kita berhati-hati saat kita berada di atas. “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12). Setelah berjuang menapak naik dengan segala usaha yang kerap membutuhkan waktu yang tidak singkat, ada banyak faktor di dalam sebuah keberhasilan yang bisa membuat kita lupa diri. Ini adalah sesuatu yang biasanya tidak terjadi ketika kita sedang merintis atau membangun. Faktanya, kebanyakan orang tergelincir jatuh bukan ketika mereka berjuang, tapi justru ketika kesuksesan telah berhasil diraih. Maka tidaklah heran jika ketika kita sudah sukses, perjuangan bukan menjadi lebih mudah tapi malah akan menjadi jauh lebih berat lagi. Minimal, kita harus jauh lebih waspada karena akan ada banyak godaan yang bisa membuat segala yang dibangun selama ini menjadi sia-sia.

Hari ini mari kita belajar dari tragedi yang dialami Korah. Pada mulanya Korah berdiri sebagai seorang pemimpin yang cukup berpengaruh di masa ketika Israel keluar dari Mesir. Seperti halnya orang Lewi lainnya, Korah dipercaya untuk melakukan pekerjaan pada Kemah Suci Tuhan, bertugas melayani umat Tuhan. Dengan status seperti itu tentu Korah mendapat kepercayaan yang lebih tinggi di banding orang Israel lain. Sebagai pemimpin dan melayani, itu jelas merupakan sebuah kehormatan yang seharusnya disyukuri dan dipertanggungjawabkan dengan sungguh-sungguh. Tetapi nyatanya tidaklah demikian. Korah terperosok dalam dosa pemberontakan. Ia menjadi haus kekuasaan, lupa diri dan berubah menjadi sombong. Ia menghargai dirinya sendiri secara berlebihan dan kemudian gagal untuk mengenal batasan yang telah ditetapkan Tuhan baginya. Ia tidak lagi ingat tentang apa yang menjadi garis tugasnya. Korah merencanakan makar, “mengajak orang-orang untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan.” (Bilangan 16:1-2). Lihatlah pengaruh yang dimiliki Korah ternyata begitu besar sehingga sanggup mempengaruhi tidak kurang dari 250 orang yang semuanya dikatakan kenamaan alias berpengaruh. Seandainya kelebihan itu ia pakai untuk sesuatu yang positif, tentu itu akan jauh meringankan beban Musa mengepalai sebegitu banyak orang untuk keluar dari perbudakan dan masuk ke tanah yang dijanjikan Tuhan, dan tentu saja itu akan sangat bermanfaat bagi bangsanya sendiri.

Musa kemudian memberi teguran keras. “Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi? Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi?” (ay 9-10). “Belum puaskah kamu, Korah, bahwa kamu sudah dipilih secara khusus oleh Allah langsung untuk melayani umat? Kamu bahkan bisa mendekat kepadaNya, menjadi perantara antara Allah dan umat! Kurang apa lagi?” Kira-kira seperti itu bunyi teguran Musa kepada Korah. Tapi kesombongan Korah dan pengikut-pengikutnya membuat mereka lupa bahwa sesungguhnya yang mereka lawan bukanlah Musa dan Harun saja melainkan Tuhan dan berani menentang segala yang sudah ditetapkan Tuhan.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.