Sisi Indah Masa Tua (1)

Ayat bacaan: Mazmur 71:9==================”Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.”Ada banyak orang yang takut menjadi tua. Rambut memutih, wajah berkerut, kantong mata dobel dan tebal, tenaga menyus…

Ayat bacaan: Mazmur 71:9
==================
“Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.”

Ada banyak orang yang takut menjadi tua. Rambut memutih, wajah berkerut, kantong mata dobel dan tebal, tenaga menyusut dan lain-lain sehingga dianggap kehilangan daya tarik. Berbagai macam produk pun menawarkan krim-krim pencegah ketuaan atau anti-aging, minimal memperlambat atau menutupi kerut di wajah. Berbagai obat, jamu tradisional sampai operasi plastik, face lift dan lain-lain pun ada sebagai penawar efek ketuaan. Untuk uban, cat rambut menjadi solusi bagi sebagian orang. Mau dihambat seperti apapun, usia memang terus bertambah. Kita lahir, bertumbuh, dewasa, tua lalu kembali ke Sang Pencipta. Tapi tetap saja banyak orang yang kehilangan semangat seiring usianya bertambah. Menjadi tua identik dengan kelemahan, keterbatasan dan kehilangan banyak hal, termasuk yang paling ditakutkan kebanyakan dari mereka yaitu ditinggalkan oleh anak-menantu dan cucunya karena tidak dibutuhkan lagi atau malah dianggap menyusahkan. Perasaan sedih akan kita rasakan ketika melihat orang-orang lanjut usia tinggal sendirian tanpa ditemani siapapun.

Masa tua adalah masa yang menakutkan bagi banyak orang. Tidak jarang saya mendengar orang yang ingin dipanggil lebih cepat sebelum ia merepotkan anak-anaknya dan dibiarkan sendirian sampai ajalnya tiba. Pemazmur tampaknya mengalami ketakutan yang sama pada suatu kali. Tapi ketimbang ia mengeluh dan terus menghidupi rasa takut, Pemazmur memutuskan untuk berdoa kepada Tuhan untuk mengutarakan kekuatirannya. Mazmur 71:1-24 mencatat hal itu dengan judul perikop “Doa minta perlindungan di masa tua.” Selain minta perlindungan dari orang-orang fasik, lalim dan kejam, Pemazmur juga berdoa agar kiranya Tuhan tidak meninggalkannya saat kekuatannya memudar sampai habis. “Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.” (Mazmur 71:9).

Pemazmur punya pergumulan yang sama dengan kebanyakan orang sampai hari ini dalam menghadapi masa tuanya. Ia kuatir hidupnya menjadi hampa dalam kesunyian. Saat manusia lain sudah tidak ada lagi yang peduli, ia berharap bahwa Tuhan, Allah yang sama yang menjadi tumpuan harapannya sejak masa muda (ay 5) dan tempatnya bertopang mulai dari kandungan (ay 6), tidak ikut-ikutan meninggalkan atau membuangnya karena sudah tidak produktif lagi. Hidup di masa tua punya tantangannya sendiri, beda dengan usia produktif yang biasanya diisi dengan bekerja mencari nafkah. Saat tenaga melemah, tentu menggetarkan seandainya itu harus dijalani sendirian. Syukurlah, Pemazmur mendapati bahwa Tuhan tetap bersamanya sampai memutih rambutnya.

Hal ini tepat seperti apa yang dijanjikan Allah lewat nabi Yesaya. “Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim. Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” (Yesaya 46:3-4). Tuhan berkata, sejak dalam kandungan sampai seluruh rambut menjadi putih, Tuhan akan tetap berada bersama kita. Menggendong kita, menanggung kita, memikul dan menyelamatkan. He will carry us, bear and save us until the end. Itu janji Tuhan yang sudah diberikan kepada kita agar kiranya kita tidak perlu ketakutan saat bertambah tua.

Masih dari kitab Yesaya, Tuhan berfirman “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yesaya 49:16).  Keberadaan kita dilukiskan dalam telapak tanganNya dan tetap di ruang mataNya, dalam jarak pandangNya. Ini menunjukkan bahwa Dia tetap ada bersama kita dan memperhatikan keadaan kita tanpa henti. Lukisan kita dalam telapak tanganNya tidak akan terhapus oleh waktu. Tuhan punya rencana bagi setiap ciptaanNya, dan itu bukanlah rencana biasa melainkan rencana yang indah.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

1 Comment

Leave a Reply