Sinode Luar Biasa Keluarga 2014: KWI Kirim Mgr. Ignatius Suharyo ke Vatikan

mgr suharyo 1JAUH sebelum Sinode Luar Biasa tentang Keluarga dimulai di Vatikan awal Oktober 2014, sudah ramai diberitakan adanya dua kubu berseberangan mengenai kebijakan pastoral Gereja dalam beberapa kasus pastoral. Di antaranya –kata Ketua Presidium KWI Mgr. Ignatius Suharyo dalam misa bersama lingkaran sahabat (PalingSah)—adalah isu mengenai perceraian, perkawinan katolik pasca perceraian, sanksi terhadap pelanggar prinsip perkawinan […]

mgr suharyo 1

JAUH sebelum Sinode Luar Biasa tentang Keluarga dimulai di Vatikan awal Oktober 2014, sudah ramai diberitakan adanya dua kubu berseberangan mengenai kebijakan pastoral Gereja dalam beberapa kasus pastoral. Di antaranya –kata Ketua Presidium KWI Mgr. Ignatius Suharyo dalam misa bersama lingkaran sahabat (PalingSah)—adalah isu mengenai perceraian, perkawinan katolik pasca perceraian, sanksi terhadap pelanggar prinsip perkawinan katolik yang tak terceraikan. Baca juga: Sungguh, Masihkah Tuhan Membutuhkan Gereja Katolik?

Isu hangat yang juga krusial adalah perkawinan sejenis.

“Dalam hal ini, sampai kapan pun, Gereja Katolik rasanya tidak akan pernah mengakui dan melegalkan perkawinan sejenis, sekalipun bahkan di beberapa negara Eropa dan Amerika, ikatan perkawinan sejenis sudah diakui secara hokum sipil. Namun, tidak demikian dengan magisterium Gereja Katolik,” papar Mgr. Ignatius Suharyo dalam keterangan singkatnya usai misa bersama lingkaran sahabat Mgr. Ignatius Suharyo (PalingSah) di Bintaro, Tangsel, Sabtu 27 September 2014 kemarin.

Baca juga: Semangat ‘Martir’ Pastor John Prior SVD, Kisah Tahun 1970an

Merespon pertanyaan beberapa anggota PalingSah mengenai adanya beberapa kubu menyikapi berbagai permasalahan tersebut, dengan enteng Mgr. Ignatius Suharyo mengatakan peta politik seperti itu sudah sejak dulu eksis di dalam Gereja Katolik.

Ada banyak teolog konservatif yang melulu baku berprinsip pada Hukum Gereja dan ajaran-ajaran magisterium. Namun ada pula beberapa teolog yang lebih moderat dengan prinsip lebih mengutamakan pendekatan pastoral.

Karena menjadi satu-satunya wakil KWI dalam Sinode Luar Biasa tentang Keluarga ini, maka dengan nada diplomatis sekaligus bernada canda, Uskup Agung Jakarta ini berujar pendek, “Nah, saya akan menjadi saksi dan penonton dari ajang perdebatan mengenai isu-isu sentral tersebut. Sekarang saya belum bisa bercerita banyak, karena belum ke Vatikan mengikuti Sinode Luar Biasa tentang Keluarga ini,” kata Mgr. Ignatius Suharyo.

Menurut rencana, Ketua Presidium KWI sekaligus Uskup Agung Jakarta ini akan bertolak menuju Vatikan pertengahan pekan ini.

Keluarga sebagai Injil
Menurut penuturan Mgr. Ignatius Suharyo, kali ini sinode ini berjudul “luar biasa”. Itu artinya di luar kebiasaan dimana hanya ada satu perwakilan datang mewakili konferensi para uskup di setiap negara.

Sinode ini juga diselenggarakan tidak mengikuti ‘kalender resmi’ penjadwalan sinode yang biasanya terjadi dalam kurun waktu tertentu. Paus menghendaki sinode luar biasa ini karena sekarang ini sudah terjadi sedemikian besar ‘jurang’ antara apa yang dulu pernah dipikirkan oleh para Bapa Gereja dengan apa yang sekarang ini ada dan terjadi di dalam masyarakat.

Dulu sekali, mana pernah kepikiran sekali waktu negara atau hukum sipil akan mengizinkan dan mengakui perkawinan sejenis. Tapi sekarang, hal itu nyata-nyata ada. Juga, bagaimana Gereja harus merespon situasi yang sekarang ini berkembang di masyarakat, semisal, kasus-kasus perceraian karena berbagai alasan sangat beragam sifatnya.

Kalau di Indonesia –semisal di Jawa—kata Mgr. Ignatius Suharyo—sudah amat lazim bahwa calon pengantin mau  sedikit ‘lebih sabar’ karena mesti mengikuti prosedur pengumuman public di paroki selama tiga kali dalam tiga pekan berturut-turut.

Namun, beda kasusnya misalnya di Sumatra yang kadang-kadang pastor paroki dibuat bingung oleh tuntutan calon pengantin yang minta segera dinikahkan, tanpa mau mempedulikan prosedur formal gerejani: pengumuman publik 3 kali dalam 3 pekan berturut-turut. “Baru kalau tidak ditemukan halangan, maka perkawinan boleh dilaksanakan,” kata Mgr. Suharyo memberi ilustrasi tentang persoalan riil tentang hidup berkeluarga.

Kalau di Papua misalnya, persoalan lain lagi. Anak menjadi ‘pengikat’ perkawinan. Tidak punya anak berarti perkawinan dianggap batal atau konsekuensinya boleh kawin lagi.

Inilah beberapa permasalahan riil di Indonesia mengenai hidup berkeluarga.

Namun intinya, Sinode Luar Biasa tentang Keluarga ini mengajak agar setiap keluarga kristiani menjadi ‘Injil”. Artinya menjadi terang dan warta gembira. Tidak hanya bagi lingkungan internal semata, tapi juga untuk masyarakat kebanyakan.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply