Single Mother dan Umat Beriman (4)

< ![endif]-->

LALU, bagaimana dengan peran serta umat? Apa yang perlu dilakukan untuk menunjukkan sikap berbela rasa pada sesama?

Secara gamblang FC 83 menyebutkannya:

“Hendaknya jemaat menunjukkan sikap hormat, solidaritas dan pengertian, serta memberi bantuan praktis, sehingga mereka (yang sudah bercerai dan tidak menikah lagi, dan kemungkinan dapat rukun kembali) mampu mempertahankan kesetiaan mereka dalam situasi mereka yang sulit itu.”

Bahkan bagi mereka yang bercerai dan tak berniat terlibat dalam persatuan baru, “Gereja lebih perlu lagi menyediakan cinta kasih dan bantuan terus-menerus, tanpa ada halangan apa pun untuk memperbolehkan mereka menerima sakramen-sakramen.”

Intinya, tegas Romo Madya, Gereja (kita semua, rohaniwan dan umat) perlu menyapa, memperhatikan dan menjadikan SM sebagai bagian integral dari Gereja tanpa penghakiman-penghakiman kultural. SM berhak mendapat pelayanan gerejawi yang penuh dari Gereja yang secara nyata mampu berbelas kasih.

Dengan begitu, pertanyaan mengenai pencantuman nama dalam pengisian Kartu Keluarga di lingkup paroki seperti yang ditanyakan salah seorang SM, terjawab sudah. Yakni, kepala keluarga tidak harus laki-laki, melainkan pribadi yang de facto memang menjadi kepala keluarga atau bertanggung jawab penuh atas keluarganya.

Gereja Kayu Tangan Malang depan

Uluran tangan kasih seyogianya tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Melainkan perlu terus mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan riil yang mendesak serta semakin mendorong para SM untuk bergabung dalam SMC. Di komunitas semacam ini, beban hidup para SM akan terasa jauh lebih ringan.

Setidaknya, mereka tidak akan merasa sendirian berjalan dalam kegelapan. Gereja pun perlu mencari dan melibatkan semakin banyak orang dan kalangan ahli yang peduli untuk meringankan beban hidup SM seperti yang disebut dalam FC 75. “Pertolongan cukup berarti dapat diberikan kepada keluarga-keluarga oleh para awam ahli (dokter, ahli hukum, psikolog, pekerja sosial, konsultan dan sebagainya), baik sebagai perorangan maupun anggota pelbagai perserikatan dan usaha menyampaikan kontribusi mereka berupa penyuluhan, nasihat, pengarahan dan dukungan.”

Yang tidak kalah penting, Romo Madya memandang perlunya pendidikan iman secara terencana di semua paroki. Tujuannya agar seluruh warga paroki (imam, religius dan awam) dapat melihat realitas SM dan tidak lagi memandangnya sebagai “penyandang kusta” yang harus disingkirkan. Melainkan justru  sebagai panggilan untuk beriman yang otentik, yakni mengembangkan sikap bela rasa sekaligus mampu menempatkan cinta kasih di atas hukum.

Masyarakat Gereja perlu memberikan bantuan integral (finansial, psikologis, spiritual, hukum) kepada SM dan anak-anak mereka. Khusus untuk membantu pendidikan anak-anak dari keluarga SM, sekolah-sekolah Katolik bahkan perlu mengubah pemahaman mengenai “nama baik sekolah”, merevisi kurikulum yang menyangkut tema-tema keluarga. Semangat yang perlu dimiliki tak lain adalah semangat dan sifat Allah sendiri sebagai Gembala yang baik, menjunjung tinggi  solidaritas, menunjukkan bela rasa dalam suka duka, serta penuh dengan kemurahan hati.

Dari para SM sendiri dituntut kesadaran untuk bangkit dari keterpurukan.

Mulailah merawat dan menghargai diri sendiri bahwa Anda sungguh pantas dicintai. Singkirkan perasaan tidak pantas karena penuh dosa di masa lalu. Bersandarlah pada hukum utama Gereja, yakni mencintai Tuhan dengan sepenuh hati dan mencintai sesama seperti diri sendiri (Mat 22:38-39).

Seperti yang pernah dikatakan pengamat sosial Dr. Ery Seda, butuh pertobatan semua pihak.    (Bersambung)

Photo credit:

  • Perempuan renta berdoa di Kompleks Keuskupan Hanoi, Vietnam (Mathias Hariyadi)
  • Gereja Kayutangan, Malang (Royani Lim)

Tautan:

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: