Singkat Seperti Wijayakusuma

Ayat bacaan: Yakobus 4:14
=======================
“sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”

wijayakusuma, hidup singkat, kesempatan terbatas

Gambar di samping kiri adalah gambar sebuah bunga yang menurut saya sangat unik. Bunga Wijayakusuma, begitu namanya, dulu ada tepat di depan kamar kos saya. Bunga ini termasuk jarang mekar. Kalaupun mekar, yang mungkin cuma sekali dua kali setahun, waktu mekarnya cukup unik. Menurut pengamatan saya, bunga akan mulai mekar sejak pukul 12 malam, dan mencapai puncaknya sekitar jam 2 pagi. Tidak seperti bunga-bunga lain yang bisa bertahan beberapa hari setelah mekar, bunga Wijayakusuma hanya beberapa jam saja umurnya. Ketika saya bangun pagi hari, bunga ini sudah layu. Waktu untuk melihat keindahan bunga ini terbatas sekali, maka biasanya saya akan meluangkan waktu menyaksikan ciptaan Tuhan yang luar biasa ini ketika kesempatan masih ada. Here tonight, gone in the morning.

Singkatnya waktu yang ada juga berlaku dalam hidup kita. Musa menyebutkan masa hidup manusia idealnya tujuh puluh tahun, jika kuat, delapan puluh tahun. Sesudah masa hidup yang singkat itu, manusiapun lenyap. (Mazmur 90:10). Disamping itu, pada suatu hari nanti langit dan bumi pun akan lenyap. Tidak seorang pun yang tahu kapan hari itu tiba. Malaikat-malaikat tidak, Anak pun tidak. Hanya Bapa yang tahu. (Matius 24:36). Kesempatan kita dalam menuruti perintah dan rencana Tuhan pun pada suatu waktu akan berlalu. Terkadang kita terlena dalam hidup, menunda-nunda untuk mengulurkan tangan buat membantu orang lain, atau merubah pola hidup kita agar sejalan dengan kehendak Tuhan. Kita sering menganggap bahwa masih ada banyak waktu untuk itu, bukan sekarang, dan saat ini kita hanya mau menikmati hidup saja sepuasnya. Yakobus mengingatkan mengenai hal ini. “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” (Yakobus 4:13-14). Yakobus meminta kita untuk tidak membuang-buang waktu untuk melibatkan Tuhan dalam perencanaan kita. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah kita masih diberi kesempatan untuk hidup atau sudah tidak ada lagi di dunia. Tidak ada yang tahu, kecuali Tuhan. Itulah hidup yang menurut Yakobus bagaikan uap, hanya sebentar saja kelihatan, kemudian lenyap. Bagaimana sikap kita seharusnya? Yakobus melanjutkan: “Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (ay 15). Itulah yang harus kita lakukan, menjalani hidup sepenuhnya sesuai kehendak Tuhan, mematuhi Tuhan secara serius dan sungguh-sungguh selama kesempatan itu masih kita miliki. Janganlah menggunakan hari-hari dengan sombong dan memegahkan diri, karena hal itu adalah salah. (ay 16). Yakobus menutup bagian ini dengan “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (ay 17).

Jika kesempatan masih ada saat ini, alangkah baiknya jika kita memakainya dengan baik. Menjalani hari demi hari mengikuti apa rencana Tuhan dalam hidup kita, dan hidup dengan mengikuti segala ketetapanNya. Memang Tuhan selalu memberi kesempatan bagi kita untuk merubah pola hidup kita yang salah, Tuhan selalu membuka tangan menerima pertobatan kita, Tuhan selalu menyambut kita yang memutuskan untuk memuliakanNya lewat pikiran, perkataan dan perbuatan kita. Tapi ingatlah bahwa kesempatan kita untuk melakukan itu terbatas. Terlena dalam kenikmatan hidup, menunda-nunda kesempatan, itu merupakan sifat negatif yang mungkin ada dalam diri setiap manusia. Karena itu Musa pun berdoa “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12). Adakah sesuatu yang Tuhan ingin anda lakukan saat ini dalam namaNya? Sudah berapa lama anda tunda hal itu sejak Tuhan menanamkannya dalam hati anda? Mungkin kita terlalu sibuk sehingga lupa untuk melakukan perintah Tuhan yang penting. Namun ingatlah bahwa waktunya akan tiba. Kesempatan kita sungguh terbatas. Seperti bunga Wijayakusuma yang singkat waktunya, demikian pula dengan hidup kita. Akan tiba saat dimana kita tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Karenanya, jika kita masih diberi kesempatan saat ini, pergunakanlah dengan baik. Mulailah menjalankan Amanat Agung, mewartakan Injil, menunjukkan perilaku yang mencerminkan terang Kristus dalam segenap aspek kehidupan dan mengulurkan tangan untuk membantu orang lain demi kemuliaanNya. Sekarang waktunya.

Lakukan sekarang, sesal kemudian tidak berguna

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply