Silence is Golden

 Ayat bacaan: Mazmur 46:11
=======================
“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”

diam

Mengalami tekanan beban masalah bertubi-tubi akan terasa sangat menyiksa, apalagi jika masalah itu seolah betah tinggal pada kita untuk jangka waktu lama. Belum beres satu masalah, masalah lain datang, perginya pun tidak cepat. Kita bisa gelagapan, kalang kabut, stres atau menjadi sangat labil. Lama kelamaan kita merasa muak dengan situasi yang sedang kita hadapi. Kita marah, kehilangan kontrol, mengamuk, meradang penuh emosi, rasanya ingin memberontak keluar dari keadaan yang sudah terlalu menyesakkan kita. Dalam keadaan seperti itu tenaga kita terkuras, mental kita pun bisa anjlok ke titik terendah. Jangankan masalah, pekerjaan yang menumpuk tak habis-habisnya saja bisa membuat kita kehlangan kontrol diri seperti ini. Ada kalanya saya pun merasakannya disaat tugas-tugas mengalir deras bak air bah menerpa saya. Ada kalanya saya ingin berteriak, “I’m fed up, I need a break!” Dalam banyak bentuk perasaan seperti ini bisa kita alami. Mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang lain, orang-orang yang menyebalkan yang bagai tak punya hati terus mengusik kita, orang-orang yang kita anggap dekat ternyata mengecewakan kita atau malah menusuk dari belakang dan banyak lagi. Di saat seperti ini, ketika anda merasa sangat marah terhadap kondisi yang anda rasakan saat ini kita rawan mengambil tindakan yang salah yang pada suatu ketika bisa kita sesali. Emosi yang tidak terkontrol bisa lepas menerkam orang yang tidak bersalah. Kita pun beresiko mengalami berbagai serangan penyakit jika dibiarkan terus menerus. Setidaknya, sukacita akan hilang dari diri kita. Tidak baik bagi kita sendiri, tidak baik juga buat orang di sekitar kita, padahal mereka tidak salah apa-apa. Ada kalanya pula tekanan-tekanan itu membuat kita tidak lagi sanggup berkata apa-apa. Lidah terasa kelu, kita hanya bisa terdiam membisu karena tidak tahu lagi harus bagaimana. Daud pernah mengalaminya, “Aku kelu, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang baik; tetapi penderitaanku makin berat.” (Mazmur 39:3). Jika hal-hal seperti ini yang tengah menimpa anda hari ini, mungkin inilah saat yang paling tepat untuk mengambil sebuah tindakan penting. Dari pada terus berteriak, mengeluh, mengaduh, menangis atau malah melakukan tindakan-tindakan yang didasari emosi hinga merugikan diri sendiri dan orang lain, ada baiknya kita memilih untuk melakukan sebaliknya, yaitu memilih untuk diam dan mengingat Bapa, Sang Pencipta yang begitu mengasihi kita.

Sebuah pepatah mengatakan diam itu emas. Silence is golden. Dengan diam itu bisa mencegah kita melakukan kesalahan-kesalahan yang hanya akan menambah masalah. Tuhan sendiri sudah mengingatkan kita lewat suaraNya sendiri. “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” (Mazmur 46:11). Let be and be still, and know that I am God. Ambil jeda, berhentilah sebentar, dan diamlah. Lalu ambil momen perenungan dan ajak pikiran dan hati anda kembali mengingat bahwa ada Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Masalah mungkin belum selesai, peperangan atau pergumulan masih akan terus berlangsung, tapi ada saatnya kita harus mengambil langkah tersebut sebelum kita mengambil tindakan yang tidak rasional dan hanya dilandasi oleh emosi belaka, dan itu akan lebih baik daripada kita terus merintih, meraung dan menangis tanpa henti.

Sebuah kisah mengenai kedatangan Yesus berkunjung ke rumah Maria dan Marta bisa kita jadikan sebagai sebuah pelajaran berharga. Mendapat kunjungan istimewa ini, Marta pun segera sibuk. Tapi Maria justru melakukan yang sebaliknya, yaitu duduk diam di dekat kaki Tuhan Yesus untuk terus mendengarkan perkataanNya. “Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya” (Lukas 10:39). Ketika Marta protes menganggap Maria seperti tidak peduli dan hanya diam saja, Yesus pun meresponnya dengan: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya. (ay 41-42). Kita pun cenderung berlaku seperti ini. Kita sibuk melakukan segala sesuatu semampu kita, dan terus merasa kesal apabila situasi tidak kunjung menjadi baik meski kita sudah mati-matian berusaha mengatasinya. Di saat seperti itu, kita seringkali lupa bahwa ada waktu dimana kita harus berhenti dan kemudian mendatangi Tuhan, berdiam di hadiratNya untuk mendengar suaraNya. Kita terlalu sibuk berusaha lalu kemudian lupa untuk duduk diam di kakiNya dan menikmati kedekatan terhadap Tuhan yang sangat mengasihi kita serta mendengarkan suaraNya. Kita lupa bahwa Tuhan sanggup menghadirkan kelegaan (Matius 11:28), bahkan menggendong, menanggung dan memikul dan menyelamatkan kita sampai kapanpun. “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” (Yesaya 46:4). We tend to forget those when we are too busy trying with everything we can. Kita lupa bahwa di atas segalanya, ada Tuhan yang berkuasa lebih dari apapun di dunia ini. Kita lupa bahwa ada Tuhan yang tak terbatas jauh yang lebih hebat dibanding kita yang terbatas.

Sekali lagi, pesan Tuhan hari ini sungguh jelas.“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” (Mazmur 46:11). Let be and be still, and know that I am God. Diamlah dan pandanglah Tuhan. Dalam situasi sulit, kita mungkin menganggap bahwa semua janji Tuhan dalam alkitab terasa sangat jauh dari jangkauan kita, atau sangat lambat datangnya. Tapi ingatlah bahwa meski saat ini kita mengalami kekecewaan dari harapan yang belum juga kunjung tercapai, ada saat dimana kita harus menunggu disertai harapan yang tetap menyala.Sementara menunggu, tetaplah pegang janji Tuhan, dan luangkan waktu lebih banyak bukan untuk terus berkeluh kesah dan meratap dalam doa-doa kita, tapi untuk diam dan mendengarkan suara Tuhan lebih lagi. Ingatlah bahwa sesungguhnya “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita..” (Ibrani 6:19) Percayakan kepadaNya dengan iman yang teguh, maka pertolongan Tuhan pun akan datang, cerah dan membahagiakan seperti melihat fajar menyingsing yang membawa terang dan sukacita ke muka bumi. Seruan ini pun pernah disampaikan melalui Hosea. “Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.” (Hosea 6:3). Mungkin jawaban Tuhan belum datang saat ini, tapi apa yang disediakan Tuhan adalah segala yang terbaik bagi kita dan akan tepat pada waktunya. Itu janji Tuhan yang sangat baik untuk kita imani. Sementara anda belum mendapatkannya tetaplah tenang dan jangan panik. Diamlah dan ketahuilah bahwa Dia adalah Tuhan yang setia terhadap janji-janjiNya. After all, “Salvation belongs to the Lord.” “Dari TUHAN datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu!”(Mazmur 3:9). Dari Tuhanlah datangnya pertolongan. Jadi, mengapa tidak mengarahkan pandangan kepadaNya? Ambil masa-masa untuk diam sejenak, dan datanglah kepadaNya serta pandanglah wajahNya. Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk melepaskan anda.

Tuhan adalah sumber pertolongan sejati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply