Sikap Terhadap Pendatang Baru

Ayat bacaan: Keluaran 23:9
====================
“Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.”

orang asing, pendatang

Saya termasuk beruntung ketika mulai mengajar di tempat yang baru beberapa waktu yang lalu. Para dosen, staf dan pimpinan disana sangat bersahabat dan ramah. Mereka menerima saya dengan baik dan sangat cepat pula akrabnya, sehingga saya tidak merasa canggung berada di tempat yang baru itu. Dengan mudah dan dalam waktu singkat saya menyesuaikan diri disana. Beruntung? Ya saya rasa begitu, karena kenyataannya ada banyak teman-teman saya yang mengalami kesulitan ketika berada di tempat kerja yang baru. Tidak jarang mereka disepelekan atau malah digencet di awal, diasingkan atau malah dianak tirikan. Dalam dunia pekerjaan, pendidikan dan lingkungan tempat tinggal kita akan selalu berhadapan dengan pendatang baru. Banyak di antara pendatang baru mendapatkan bentuk diskriminasi sampai intimidasi. Dunia memang seringkali melegalkan perlakuan-perlakuan buruk kepada seorang pendatang baru. Lihat apa yang dilakukan para senior kepada mahasiswa baru. Ospek atau apa pun namanya kerap dipakai untuk mempermalukan orang lain dengan alasan yang rasanya sangat aneh, yaitu untuk melatih mental. Sikap kasar, menghina, bahkan tidak jarang perilaku kekerasan fisik menjadi hal yang dianggap wajar di sana. Bagaimana kita seharusnya bersikap kepada pendatang menurut Firman Tuhan?

Kita sebagai orang percaya jangan sampai ikut-ikutan berperilaku seperti itu. Ketika orang masih merasa asing pada sebuah lingkungan, kita seharusnya mengulurkan tangan menyambut dan membuat mereka merasa nyaman. Seperti itulah sikap yang seharusnya dilakukan oleh anak-anak Tuhan di muka bumi ini. Musa dalam beberapa kesempatan mengingatkan kita akan hal tersebut yang berbunyi: “Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.” (Keluaran 23:9). Ayat ini adalah satu dari serangkaian peraturan hak manusia. Perintah yang sama bisa kita baca dalam Keluaran 22:21 mengenai peraturan menghadapi orang yang tidak mampu, juga dalam Imamat 19:33-34. Musa mengingatkan umat Israel pada waktu itu untuk tidak menindas, justru harus mengasihi orang asing. Mengapa? Karena mereka pun pernah merasakan bagaimana rasanya tertindas sebagai orang asing di Mesir. Dalam Imamat 19:33-34 tertulis “Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia.Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.” Ini sebuah peraturan yang mengharuskan kita untuk mengasihi dan memperlakukan orang asing sama seperti yang kita buat terhadap diri sendiri. Jika kita tidak suka diperlakukan tidak adil dan tidak nyaman, mengapa kita harus berbuat hal seperti itu kepada orang lain? Disamping itu, Kekristenan berbicara soal kasih sebagai inti dari segalanya. Dalam kasih hal-hal seperti diskriminasi atau tindakan-tindakan represif, tidak adil dan sebagainya jelas tidak termasuk disana.

Sebagaimana dua hukum terutama yang diajarkan Yesus, kita harus mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri, termasuk pada orang asing. Hindari pemikiran kaum mayoritas vs kaum minoritas, hindari bentuk-bentuk diskriminasi, hindari pemikiran bahwa kita berkuasa lebih atas mereka hanya karena mereka masih asing atau baru dalam lingkungan kita. Sebagaimana Yesus mengasihi kita, seperti itu pula kita harus mengasihi orang lain. “Dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5:2). Tuhan ingin anak-anakNya tampil beda,tidak serupa dengan dunia ini, dan hidup dengan kemampuan mengetahui apa yang baik dan berkenan di hadapan Allah. (Roma 12:2). Ketika ada orang asing atau pendatang baru yang masuk ke dalam kehidupan kita, jangan ikut-ikutan bersikap buruk terhadap mereka. Siapapun mereka dan apapun latar belakangnya, sapalah mereka terlebih dahulu. Jika dunia menimbang-nimbang atau malah melarang untuk mengucapkan salam bagi orang yang berbeda dengan mereka, Alkitab justru mengajarkan kita untuk terlebih dahulu menyapa dan memberi salam kepada mereka. “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” (Roma 12:10). Adakah orang baru yang masih merasa canggung atau asing di sekitar anda? Ucapkan selamat datang dan bantu mereka untuk bisa merasa nyaman.

Jangan menekan orang asing karena itu bukan merupakan bagian dari kasih sebagai esensi Kekristenan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: