Sikap sebagai Pelayan Tuhan

Ayat bacaan: 1 Korintus 9:19
========================
“Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.”

“Saya beruntung punya pemimpin yang ramah terhadap bawahannya, senang bercanda dan kalaupun menegur caranya halus banget..” kata seorang teman saya yang baru saja pindah kerja ke sebuah perusahaan lain. Ia lega karena sebelumnya ia bekerja di bawah pimpinan yang otoriter, kasar, suka membentak dan gemar menyelewengkan uang perusahaan. Kalau ia bisa bertahan terhadap perilaku kasar pimpinannya, ia terpaksa harus keluar karena tidak mau ikut-ikutan korupsi ramai-ramai seperti beberapa rekan kerjanya yang lain. Sosok pemimpin seperti ini mewakili banyak pemimpin lainnya yang silau kekuasaan dan tidak tahu bagaimana harus bersikap. Lucunya, para hamba atau pelayan Tuhan pun banyak yang punya perilaku sama seperti ini. Lihatlah sebuah contoh dari teman saya lainnya yang tasnya digeser pakai kaki oleh salah seorang pengurus gereja. Saat ia berkata bahwa tindakan seperti itu tidak baik, ia malah dibentak. “Lalu kamu mau apa? Saya yang kepala di sini, tahu?!” Kalau kita bicara soal kasih yang menjadi inti dasar kekristenan, sikap seperti ini tentu sama sekali tidak layak untuk disandang orang percaya, apalagi pelayan Tuhan. Dan kalau bicara soal pelayan atau hamba, tentu hal ini pun sangat ironis. Namanya melayani dan hamba tentu harusnya rendah hati, sabar dan sopan, bukan angkuh, sok kuasa dan otoriter. Tidak bisa dipungkiri, di kalangan gereja sekalipun terjadi pergeseran nilai-nilai karena terpengaruh bentuk dunia. Namanya saja gereja, namanya saja pelayan, tapi sikapnya sama saja seperti preman di luar sana, atau malah lebih buruk dari itu.

Hari ini mari kita kembali melihat bagaimana sikap Paulus sebagai seorang hamba Tuhan. Meski ia berada pada sebuah posisi penting dalam pewartaan Injil ke seluruh belahan dunia, ia tidak menjadi lupa diri dan menganggap penting dirinya sendiri. Ia tahu bahwa ia hanyalah satu dari setiap orang percaya yang telah disematkan tugas untuk mengemban Amanat Agung. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20). Paulus tahu bahwa itu adalah landasan dari pelayanannya, karenanya tidak ada satupun yang layak untuk disombongkan. Ia tidak punya alasan agar bisa sombong dan membangggakan dirinya dalam menjalankan pelayanan. Karena itulah dalam berbagai kesempatan kita bisa melihat bagaimana Paulus menunjukkan keteladanan sebagai hamba Tuhan. Ia bisa mencerminkan pribadi Yesus sendiri yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani bahkan memberikan nyawaNya demi keselamatan semua orang.

Yesus berkata “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:26b-28). Bukan orang-orang sombong yang lupa diri atas kekuasaan atau otoritas yang mereka sandang, tapi orang-orang yang punya hati hamba, yang mau turun ke bawah melayani, seperti itulah yang Tuhan cari. Paulus melakukan hal itu dalam pelayanannya. Ada kalanya ia harus tegas dalam mewartakan injil, tapi tidak keras apalagi kasar dan sok kuasa. Ia selalu berusaha menyesuaikan diri agar dapat diterima dengan tangan terbuka dan dengan demikian terus memiliki kesempatan untuk dapat memberitakan Injil kemanapun ia pergi. Hal tersebut ia katakan dengan sangat jelas. “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.” (1 Korintus 9:19). Menjadikan dirinya hamba dari semua orang, ini menunjukkan keteladanan dari pengajaran Yesus. Dalam kesempatan lain Yesus pernah menengahi perdebatan di antara murid-muridNya mengenai siapa yang teresar diantara mereka lewat ucapan seperti ini: “Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” (Lukas 9:48b). Seperti halnya Paulus, Yohanes Pembaptis pun menerapkan hal yang sama. “Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya…Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:28,30). Di balik kerendahan hati kitalah kita bisa meninggikan kemuliaan Tuhan di muka bumi ini. Sikap arogan, cemburu, iri hati, kasar, angkuh dan sebagainya dari pelayan-pelayan Tuhan tidak akan membawa manfaat apapun. Tidak bagi orang lain, tidak pula bagi diri sendiri. Bukannya mewartakan kabar keselamatan, orang akan semakin keliru dalam mengenal Yesus dan kebenaran yang Dia bawa. Bukannya jadi terang dan garam tapi malah jadi batu sandungan. Alih-alih menyelamatkan banyak jiwa, jiwa sendiri justru terancam tidak selamat.

Paulus selalu membuka dirinya untuk berhubungan baik kepada setiap orang tanpa terkecuali. Tapi meskipun demikian, ia tidak berkompromi dengan cara-cara hidup yang mengarah pada dosa. Ia tidak mau terpengaruh kepada keinginan-keinginan daging melainkan terus mengarahkan pandangannya ke depan, untuk memperoleh panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Kepada Timotius ia pun berpesan: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2 Timotius 4:2). Inilah pesan penting yang harus selalu kita ingat pula. Dalam kondisi apapun, siap sedialah untuk mewartakan Firman Tuhan. Namun dalam melakukannya hendaklah kita memiliki kesabaran. Menjadikan diri sebagai hamba, memiliki sikap rendah hati dalam melayani akan menjadi awal yang sangat baik untuk melayani. Sebaliknya dengan silau akan kekuasaan dan jabatan, merasa berhak untuk sombong kalau sudah menyandang sebuah status, itu sama sekali bukan bentuk orang-orang yang melayani menurut sistem Kerajaan Allah.

Kerendahan hati, keramahan dan kesabaran merupakan sikap dasar yang harus dimiliki semua orang percaya termasuk yang melayani. Jauhkanlah diri kita dari berbagai sikap negatif. Jika anda punya posisi dalam struktural gereja, anda harus benar-benar mewaspadai setiap sikap buruk yang mungkin muncul karena semuanya akan terang benderang terlihat oleh orang. Lebih daripada itu, Tuhan yang selalu melihat hati pun akan tahu apa fokus dan motivasi kita dalam melakukannya. Kita tidak boleh terjatuh pada sikap tinggi hati atau sombong, melainkan teruslah hidup dengan melayani dengan hati hamba untuk Tuhan. Belajarlah dari cara Paulus dalam melakukan misi pelayanannya terutama teladani bagaimana sikap Yesus saat hadir di dunia ini. Selama para hamba dan pelayan Tuhan masih ada yang berperilaku buruk, jangan harap kita bisa melihat transformasi terjadi atas bangsa-bangsa.

Sikap sabar, rendah hati dan ramah merupakan kunci penting dalam memenangkan banyak jiwa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: