Sikap Memberontak

Ayat bacaan: Yesaya 1:20
=======================
“Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.” Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.”

Agaknya sudah menjadi kebiasaan bagi kita untuk memberontak ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan kita. Ditegur sedikit kita gampang sakit hati, gampang tersinggung dan lain-lain, lantas dengan mudahnya kita pun memberontak. Mulai dari demonstrasi yang damai hingga anarkis, atau jika masalahnya di tempat kerja mulai dari uring-uringan dalam bekerja, sengaja menurunkan keseriusan kerja, bahkan ada juga yang melakukan sesuatu yang buruk sebagai upaya balas dendam sampai menghasut rekan-rekan untuk memberontak. Itu dilakukan oleh banyak orang yang merasa bahwa apa yang terjadi tidaklah sesuai dengan kemauan mereka. Pemain bola yang merasa tersinggung ditegur pelatihnya langsung memberontak tidak mau dilatih lagi oleh yang bersangkutan, atau memilih mengundurkan diri. Atau melawan ketika orang tua melarang sesuatu atau mengingatkan. Semua ini adalah berbagai bentuk sikap memberontak yang biasanya didasari oleh ego yang gampang tersulut emosi. Sedikit saja tersentil langsung terbakar, tidak mau berbesar hati untuk melakukan introspeksi terlebih dahulu, tapi langsung merasa paling benar dan melakukan tindakan melawan. Memang benar, ada kalanya kita diperlakukan tidak adil sehingga kita pun merasa harus melawan mempertahankan harga diri. Tapi ada baiknya jika kita mau berbesar hati terlebih dahulu untuk memeriksa diri kita sebelum kita langsung menentang tanpa pikir panjang.

Faktanya, manusia memiliki kecenderungan untuk memberontak. Jangankan kepada manusia, kepada Tuhan pun ada banyak orang yang berani memberontak. Begitu mudahnya kita menuduh Tuhan tidak peduli, pertolonganNya tidak cukup cepat sesuai keinginan kita, situasi yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan dan sebagainya, semua itu bisa menimbulkan keinginan untuk memberontak kepada Tuhan. Seharusnya kita merenungkan dan memeriksa diri kita terlebih dahulu, tapi bukannya melakukan itu kita malah dengan segera menyalahkan Tuhan lalu memberontak. Sikap seperti ini bukanlah gambaran dari orang percaya. Hari ini mari kita lihat bagaimana sikap seharusnya dalam kekristenan.

Firman Tuhan banyak berbicara mengenai pentingnya ketaatan. Tuhan tidak suka dengan sikap memberontak. Menyuarakan ketidakpuasan bukanlah dilakukan dengan melawan, berkata-kata kasar, atau dengan kekerasan. Ada yang namanya diskusi atau dialog, dibicarakan baik-baik. Kita juga perlu menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan, dan sementara itu tetap taat melakukan apa yang menjadi kewajiban kita kepadaNya. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Firman Tuhan jelas berkata “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:23). Segala ketidakadilan yang kita alami bukan harus dilawan dengan kekerasan, tetapi hendaknya diserahkan kepada Tuhan, karena Dia sudah berjanji untuk tidak akan pernah membiarkan kita goyah, selama kita tetap berpegang melakukan hal yang benar.

Di dalam alkitab kita bisa menjumpai banyak contoh orang dengan karakter pemberontak, yang dengan berani memberontak kepada Tuhan dan akibatnya harus menanggung konsekuensi. Mari kita ambil contoh Saul, raja Israel. Saul memulai segalanya dengan indah. Ia dikatakan sebagai orang yang penuh urapan, penuh Roh Allah seperti halnya nabi (1 Samuel 10:10). Tapi Saul tidaklah memiliki iman yang teguh. Kita bisa melihat ia hidup dalam ketidaktaatan, ia sering menyerah kedalam kecemasan, dan akhirnya roh pemberontakan pun tumbuh dalam dirinya. Saul memulai dengan gemilang, tetapi berakhir tragis, semua karena sikapnya sendiri. Tuhan pun menjatuhkan teguran lewat Samuel buat Saul. “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.” (1 Samuel 13:13-14). Pemberontakan yang ia lakukan merupakan sebuah kebodohan di mata Tuhan, dan itu membuat hidupnya berakhir mengenaskan.

Karakter pemberontak bukanlah karakter yang seharusnya ada dalam diri kita. Kekristenan mengajarkan kita mengenai ketaatan dan kelembutan hati, bukan pemberontakan dengan hati yang mudah terbakar emosi dan gemar melakukan kekerasan, apalagi orang dengan sikap gampang mendendam dan merasa punya hak untuk menghakimi orang lain.  Dari kehidupan Yesus pun kita bisa belajar mengenai ketaatan sejati, bagaimana Dia sanggup tunduk dan taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa meski harus melewati penderitaan yang luar biasa mengerikan. Dalam kitab Yesaya kita bisa membaca firman Tuhan berbunyi seperti ini: “Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.” Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.” (Yesaya 1:19-20). Dan lihatlah ketika janji berkat diberikan Tuhan dalam kitab Ulangan 28:1-14, Tuhan memulai firmanNya dengan: Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 28:1-2). Segala berkat akan hadir apabila kita mendengar suara Tuhan dengan seksama, lalu melakukan DENGAN SETIA segala perintahNya. Ini berbicara mengenai ketaatan, dan itulah yang akan mendatangkan berkat. Seperti itu pula bunyi dari firman Tuhan dalam Yesaya di atas.

Kepada Tuhan kita tidak boleh memberontak, dalam kehidupan kita di dunia pun kita tidak seharusnya melakukan hal itu. Prinsip ketaatan menjadi salah satu dasar Kekristenan, dan ini sudah selayaknya juga bisa ditampilkan oleh anak-anak Tuhan dalam kehidupannya. Kepada pemimpin kita diminta untuk taat, meski mungkin apa yang diputuskan pemimpin tidak sesuai dengan visi, kehendak atau keinginan kita. Penulis Ibrani berpesan: “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” (Ibrani 13:17). Kalau seorang pemimpin harus terus mengurus orang-orang yang melawan, memberontak dan membuat rusuh, kapan mereka bisa bekerja membangun bangsa? Pada akhirnya kita sendiri yang rugi. Selalu saja ada jalan dari Tuhan untuk memberkati kita dan melepaskan kita dari situasi yang menekan kita tanpa harus memberontak dan melawan. Seberat atau sesulit apapun anda mengalami ketidakadilan atau tekanan saat ini, jangan pernah memberontak, apalagi terhadap Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan sanggup melakukan segala hal bahkan yang tidak terselami oleh pikiran kita sekalipun pada waktunya. Tetaplah taat, tetaplah lakukan apa yang menjadi bagian kita, dan lihatlah kelak bagaimana luar biasanya ketika Tuhan melakukan bagianNya.

Taat, bukan memberontak, itulah karakter dan prinsip kekristenan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: